Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Pintu terbuka


__ADS_3

"Sayang?" panggil Dian setengah mengejar Ibra yang sudah berada di depan pintu.


Langkah Ibra terhenti. Menoleh ke arah Dian yang mengejarnya. "Ada apa?"


"Nggak, nganterin aja," sahut Dian dan mengantar Ibra ke teras.


Setelah berada di teras. "Ya, sudah. Aku berangkat dulu." Ibra melangkahkan kakinya menuju mesjid kompleks, pak Marwan sudah menunggu di depan.


Dian, kembali ke dalam menghampiri mama mertua. "Ma, kapan Mama mau ke mension?"


"Nggak tau, kami beberapa hari lagi mau balik ke Belanda. Lagian kita juga sering bertemu di sini," sahut bu Rahma.


"Iya, sih ... tapi kan dah lama gak nginep di sana." Dian duduk di samping bu Rahma.


"Iya, lain kali aja." Bu Rahma mengangguk pelan.


Setelah Ibra pergi, Laras menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Menatap langit dan tangan mengusap perutnya lembut.


Kemudian bangun dan duduk di depan meja rias. Menatap dirinya yang masih di balut pakaian yang ia gunakan dalam tasyakuran. "Ya Allah ... selesai sudah acara empat bulanan calon beby ku. Semoga kelak ia menjadi anak yang saleh dan saleha. Aamiin."


Bu Rika dan Susi menata kembali rumah itu seperti semula. Khususnya di ruang tamu dan keluarga, sementara dekor nya biar yang pihak dekor langsung yang membereskannya.


Pihak catering pun sudah mulai beres-beres. Dan mengangkut yang memang seharusnya mereka bawa.


"Makasih ya Mas? atas semuanya." Ucap Laras pada pegawai catering.


"Oya, Bu. Sama-sama."


"Gimana semalam, apa bisa tidur nyenyak? tanpa suami ku," suara Dian dari belakang Laras.


Laras membalikkan badan. Menoleh ke arah Dian berdiri. "Nyenyak lah, emangnya kenapa?"


"Nggak, secara gak ada yang ngelonin." Tambah Dian dengan nada dingin.


Bibir Laras tertarik. Tersenyum dan berkata. "Bagi aku sudah biasa kok, kalau aku ngantuk ya tidur, ngapain mikirin apa-apa apalagi berharap ada suami. Nggak juga." elak Laras.


"Hem, kamu gak usah sok perhatian sama Ibra. Justru kamu itu harus bersikap cuek, dingin. Sama dia itu, agar dia ... tidak merasa simpati, begitupun dirimu tak kan merasa sepi atau kehilangan ketika dia bersama ku." Sinis Dian kembali.


Laras melirik. "Kalau dia sedang di sini, gak mungkin aku biarkan nya. Sebab, aku juga yang akan berdosa bila membiarkan suami begitu saja. Bagaimanapun aku istrinya juga, bukankah sudah sewajarnya bila aku melayaninya dengan baik. Kecuali ... bila Abang tidak bersamaku, jelas aku tidak akan perduli."


"Ya, baguslah. Kalau kamu gak perduli sama dia, karena dia hanya akan menjadi milik ku selamanya, dan lebih banyak bersama ku." timpal Dian sangat percaya diri.


"Ehem, aku tidak perduli bila dia lebih betah di sana bersama mu. Tapi bila dia lebih banyak dengan ku sebaiknya kau juga tak mengganggu kami. Sebab dia juga lebih tau siapa kiranya yang buat dia lebih nyaman dan puas--"


Lengan Dian sontak melayang di udara dengan niat menampar pipi mulus Laras. Namun sekilas Tangan Laras menangkap tangan itu dan sedikit melintir sehingga Dian nyengir. Laras pun menghempaskan tangan itu.


"Jangan pernah, mengotori tangan mu yang halus ini. Kerena tindakan yang tanpa pikir panjang, akan berakibat fatal. Bila kamu menyakiti ku, sedikit saja, bukan simpati yang akan kau dapat dari suami mu, tapi justru kebencian yang akan kau terima. Dan itu karena ulah mu juga." Laras menatap tajam dan menghempaskan tangan Dian.


"Sial, dasar wanita tidak punya malu! tak tau diri sudah merebut suami orang. Masih berani membantah aku. Jika waktu itu kau tidak aku angkat dan di jadikan istri! kamu tak mungkin berada di sini Menjadi Nyonya muda. Jadi seharusnya kamu itu berterima kasih pada ku," ujar Dian dengan nada angkuh.


"Aku, sangat berterima kasih. tapi bukan berarti aku harus diam ketika di caci, di hina. Dan aku juga punya hak untuk mempertahankan Abang, sebagai suami ku," sambung Laras. dangan tatapan terus tajam pada Dian. Hatinya terasa sakit.


"Kamu, jangan GR bila suami ku perhatian sama kamu. Karena semata-mata untuk anak yang sedang kamu kandung itu." Dian yakin itu.


"Em ... seandainya perhatiannya semata-mata pada anak ku saja, kenapa ketika tidur bersama dirimu pun masih sempat-sempatnya pindah ke tempat ku? apa bisa kamu jelaskan hal itu," ucap Laras tak mau kalah dari Dian.


Dian terdiam, mencerna maksud dari omongan Laras. Terus mengingat semalam itu ... Ibra bersamanya. Apa mungkin Ibra ngelayap ke kamar lain? dan ketika dirinya bangun Ibra sudah berada di dekatnya sudah segar lagi. Pikiran Dian menjadi traveling, apa semalam juga dia melakukan hubungan intim sama Laras? sementara dirinya yang minta jatah malah Ibra biarkan begitu saja. Sungguh keterlaluan!

__ADS_1


Dian mengeratkan giginya kesal. Marah. Ternyata dia sudah di bohongi oleh Ibra, suaminya. ia kira semalam Ibra benar-benar tidur dengannya. Ternyata ... di kibulin!


Netra mata Dian kembali menatap tajam ke arah Laras. Laras pun membalas tatapannya. Sementara waktu mereka saling bertukar pandangan.


Ibra dan lainnya pun, sudah pulang dari salat jumat. Mendapati Dian dan Laras berada di teras saling pandang dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


"Assalamua'laikum ... lagi apa di sini?" selidik Ibra menatap kedua bidadari nya.


"Wa'alaikumus salam ... aku sedang berbincang sama yang lagi kerja," sahut Laras menunjuk orang yang bongkar tenda.


Manik mata Ibra bergerak melihat yang sedang bongkar tenda. Laras meraih tangan Ibra, lantas ia cium punggungnya.


Kemudian Ibra memegang kepala Laras, dan mencium keningnya sangat mesra. Tentunya membuat hati Dian meradang seketika.


Jodi yang menyaksikan adegan itu sungguh terkesiap dan menundukkan pandangannya. Ada rasa yang berbeda menyelinap ke sanubarinya, sebuah rasa yang sulit diungkapkan. Ia segera menemui bu panti dan anak-anak yang terdengar suaranya dari belakang, ya itu dari kolam renang.


Dengan ekor mata, Ibra menangkap sikap yang ia rasa cukup lucu. Ia menyunggingkan bibirnya senyum pada Jodi yang melangkah pergi.


"Sayang, masuk yu?" Dian menggandeng tangan Ibra, diajaknya masuk.


Laras mengikutinya dari belakang. "Kapan sih dia pulangnya? bikin aku kesal, astagfirullah ... ya Allah jauhkan hati aku dari iri dan dengki." Ia mengusap wajahnya.


Langkah Ibra berhenti ketika berpapasan dengan bu panti yang akan pamit pada Laras dan keluarga.


"Nak, Ibu dan anak-anak mau pulang dulu ya? semoga kamu di sini baik-baik saja. Kandungan mu juga, Nak Ibra Ibu titip laras ya?" bu panti melirik Ibra yang berdiri dekat Dian.


Ibra membalas dengan anggukan saja.


"Oh, padahal nanti aja, Bu ... anak-anak juga sepertinya masih betah di sini," ucap Laras dan memeluk bu panti. "Aku juga masih kangen."


"Lain kali kami ke sini lagi. Itu pun kalau kalian gak keberatan," sahutnya bu panti sambil mengulas senyumnya.


"Untung di sini, kalau di mension hah ... bikin riuh dan kotor. Berantakan juga," ucap Dian sedikit mencibir bibirnya.


"Sayang, jaga etika mu, gak sopan bilang begitu." Tegur Ibra pada Dian yang berpangku tangan.


"Apaan sih?" kemudian Dian melengos. pergi.


Laras melepas pelukannya dan menoleh ke arah Dian. Ia tatap penuh arti, kemudian kembali melihat bu panti. "Sering-sering lah datang, aku akan senang bila kalian sering kunjungi aku di sini."


Bu Rahma menghampiri. "Eh ... mau ke mana nih masih siang loh?"


"Mau pulang, sekali-sekali main lah ke panti, Bu Rahma." Bu panti menoleh bu Rahma dan mengulurkan tangannya.


"Kok buru-buru, oya sering-sering lah kunjungi Laras ya? biar Laras ada temannya. Lagi pula saya akan bilik ke Belanda, jadi Laras sendirian," ujar bu Rahma, penuh harap agar bu panti sering-sering datang.


"Insya Allah, Bu ... saya akan sering datang." Mereka berpelukan sebentar.


Bu panti, menghampiri dan berjabat tangan dengan Ibra yang beberapa langkah dari tempatnya berdiri bersama Laras dan bu Rahma.


"Nak Ibra, Ibu titip Laras ya. sayangi dia, dari kecil dia merindukan sosok ayah. Kurang kasih sayang, sayangilah dia." Bisik bu panti sambil memeluk Ibra.


"Iya, Bu. Insya Allah, tapi jangan jodohkan Laras dengan Jodi. Dia istri ku," ungkap Ibra.


Membuat wajah bu panti memerah. "Maafkan Ibu, Nak kemarin Ibu khilaf," sambung bu panti jadi ingat waktu itu, ketika menyampaikan salam dari Jodi pada Laras. Dan memang pernah terbesit di pikirannya untuk mendekatkan Laras dengan Jodi.


"Tidak apa-apa, Bu. Asal jangan diulang ya? karena saya tidak akan melepaskan Laras. Apapun alasannya."

__ADS_1


Laras heran, kok bu panti dan Ibra pelukan lama dan berbincang yang tidak dapat ia dengar. Laras menatap ke arah keduanya.


Jodi muncul dan anak-anak panti. "Saya pamit dulu ya? sampai jumpa lagi di lain waktu dan semoga menjadi wanita yang kuat, kuat dalam segala hal. Tapi ... bila sudah gak kuat, datanglah padaku, semua penjuru pintuku akan terbuka untukmu."


"Apa maksudnya nih? apa yang gak kuat?" tanya Ibra mengerutkan keningnya. Menatap tajam ke arah Jodi.


Jodi menyeringai. "Maksud saya ... kalau mau lahiran mungkin, merasa gak kuat. Bisa cal saya untuk mengantar."


"Sebelum minta tolong sama orang lain! saya duluan sebagai suaminya," jelas Ibra dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Ya ... kali saja, suaminya sedang sibuk dengan madunya. Jadi lupa sama istri yang sedang hamil," suara Jodi setengah berbisik dan mencondongkan wajahnya ke telinga Ibra.


Wajah Ibra nampak marah, rahangnya mengeras. Tangan yang menggantung pun mengepal kuat. "Saya pastikan. Kalau saya akan selalu ada di sampingnya." Tegas Ibra.


Laras khawatir, kedua pria itu bertengkar atau beradu mulut. Tangan Laras bergerak memegang lengan Ibra. "Abang," dengan sangat Lirih.


Ibra menggerakkan netra matanya pada tangan Laras yang menggenggam erat lengannya. Kemudian kedua netra mata mereka bertemu, kepala Laras sedikit menggeleng. Ibra menghela napas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan panjang.


Akhirnya bu panti, Jodi dan anak-anak pulang. Membawa bingkisan, masing-masing. Laras dan Ibra mengantar mereka sampai teras.


"Abang, mau ngantor gak?" tanya Laras setelah mobil Jodi menghilang dan keduanya mau memasuk pintu.


"Nggak, malas," sahut Ibra.


Laras tertegun sementara waktu. Di teras. Ibra yang sudah masuk balik lagi dan menyembulkan kepalanya di pintu. "Sayang, ayo masuk."


Laras menoleh dan menuruti kata Ibra. Keduanya berjalan beriringan.


"Lapar, sayang. Bisa bikinkan aku nasi goreng ayam suwir?" pinta Ibra sambil membuka pecinya.


"Boleh, aku bikinkan," sahut Laras, berjalan menuju tempat masak.


Ibra sebentar ke kamar untuk ganti kostum. Sesaat kemudian Ibra kembali dan duduk manis, menunggui sang istri yang sedang bikin nasi goreng.


Sejenak Ibra menatap punggung sang istri yang sedang memasak. Namun lama-lama Ibra merasa tidak tahan untuk memeluknya.


Ia berdiri menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. Mencium pucuk kepalanya berkali-kali.


"Abang ... lepas ih? nanti di lihat Kak Dian, gak enak." Suara Laras dengan lirih.


Namun sementara waktu, Ibra tidak mengabulkan permintaan Laras. Ia malah makin mengeratkan pelukannya.


Laras mematikan kompor dan memutar badan agar berhadapan dengan sang suami. "Dengar aku, lepaskan tangan mu, nanti Dian lihat kita, gak enak, kan kalau sampai dia lihat?" telapak tangannya mengusap dada bidang sang suami.


"Biar saja, kamu juga istri ku," gumamnya sembari menempelkan hidungnya dengan pipi Laras.


"Lepas sayang ... gak enak di lihat orang," rajuk Laras sambil berusaha melepaskan tangan Ibra yang kuat itu.


"Apa, bilang apa barusan?" selidik Ibra sambil memasang telinga kirinya.


"Nggak bilang apa-apa!" elak Laras.


"Apa, barusan bilang sayang. Coba ulang? kalau gak mau ulang aku gak akan mau melepasnya. Biar saja." kekeh Ibra.


"Iih ..." dengus Laras. "Sayang ... lepas," malu dilihat orang," makin merajuk.


"Hem ..." deheman seseorang membuat Laras dan Ibra terkejut ....

__ADS_1


****


Ayo mana jempolnya yang suka dengan SKM. Jangan lupa juga komentarnya, makasih sudah setia menunggu🙏


__ADS_2