
"Masih, tidak diangkat juga, Mah." Pak Marwan kembali menutup ponselnya.
Laras tambah cemas saja, begitu juga dengan bu Rahma yang nampak cemas atau khawatir.
Selang beberapa menit dari kepergiannya dokter itu, dia kembali lagi dengan sebuah alat di tangan. "Mulai sekarang aja ya? bisa, kan Nyonya."
Laras tak lantas menjawab, ia malah menatap bu Rahma dan pak Marwan bergantian. Seolah meminta pendapat.
Bu Rahma dan pak Marwan saling pandang. Kemudian mengangguk pelan.
"Baiklah dok," jawab Laras lesu dan menghampiri tempat yang di tunjuk oleh dokter.
Laras berbaring, dokter mulai menempelkan alat untuk mendeteksi janin yang aada di perut bumil. Dan tersambung ke komputer.
****
Ibra yang menaiki ojek terus meminta jalannya di percepat. Dan akhirnya motor yang Ibra tumpangi sampai juga di tempat yang jadi tujuan, ya itu klinik Harapan Bunda.
Setelah membayar Ibra langsung berlari. Tukang ojek malah bengong, sebab merasa kalau bayarannya kebesaran. Namun mau manggil juga, Ibra sudah masuk dan jauh.
Ibra terus berlari menuju ruangan yang sudah direkomendasikan. Hingga akhirnya nenemukan Susi yang duduk di ruang tunggu.
"Tuan, gak ke napa-napa?" tanya Susi, berdiri ketika melihat kedatangan Ibra di tempat itu.
Ibra hanya menatap sekilas, lalu masuk ke ruangan dan nampak Laras berbaring. "Maaf aku telat?" langsung mendekati sang istri.
"Sayang kau baik-baik saja?" sapa sang bunda cemas.
"Baik, Mah. Seperti yang kalian lihat," sahut Ibra. Hanya penampilannya saja yang kusut.
"Syukurlah, Papa berkali-kali telepon, gak di angkat juga," ungkap pak Marwan.
"Aku, naik motor, Pa ... macet total." Timpal Ibra, matanya menatap ke arah sang istri yang menatap lekat ke arahnya juga?
Laras tersenyum getir, hatinya yang sedari tadi gusar. Khawatir Ibra kenapa-kenapa akhirnya datang tanpa kurang sesuatu apapun, dan merasa lega. Tenang, orang yang ia khawatirkan sudah ada di sana.
"Gimana hasilnya dok?" selidik Ibra sudah tidak sabar ingin mendengar kabar tentang jenis kelamin janin yang Laras kandung.
"Sabar ya, Tuan ... baru mau mulai." Jawab dokter sambil menggerakkan alat yang ia tempelkan di permukaan perut Laras.
Senyum Ibra mengembang. Ternyata baru mau mulai.
Entah apa aja yang dokter lakukan sehingga di komputer menggambarkan janin yang menampakan sebuah kemungkinan besar adalah calon baby nya laki-laki.
"Selamat ya Tuan dan Nyonya, baby nya laki-laki," ucap dokter pada Laras dan Ibra.
"Hore ... Papa menang Mah, Papa menang. Yes!" teriak pak Marwan.
Membuat semua yang ada di sana menoleh. Ibra yang mengusap wajahnya sangat bahagia, sebuah kebahagian yang teramat sangat dan sulit di gambarkan dengan kata-kata. Laras terus menatap wajah Ibra yang nampak bahagia dan matanya berbinar-binar. Menandakan kebahagian yang teramat sangat itu.
Setelah prosesnya selesai. Laras bangun dan duduk. Ibra menghampiri, lalu menggandeng tangannya. Diajaknya duduk di kursi dekat bu Rahma.
"Selamat ya sayang ..." bu Rahma memeluk Laras sangat erat dan penuh kasih.
"Makasih, Ma. makasih!" Laras membalas pelukan bu Rahma, merasakan pelukannya yang penuh kasih sayang. Di kedua sudut mata Laras timbul buliran air bening dan mengalir ke pipi.
Terlepas dari pelukan bu Rahma, pak Marwan pun tak luput memeluknya. "Selamat ya sayang, semoga lahiarannya nanti lancar dan menjadi cucu Papa yang pinter, baik dan jadi kebanggaan kami.
Laras mengangguk dan menunjukan senyum getirnya. Terharu dengan ucapan dari mertua yang amat sayang padanya, kalau saja orang tua nya masih ada mungkin akan seperti ini juga. Menyambut hangat dan penuh bahagia calon baby nya ini.
"Sudah dong, Pa ... peluk mantunya, aku suaminya belum peluk nih," ungkap Ibra menunjukan kecemburuannya pada sang ayah.
Sambil tertawa, pak Marwan melepas pelukannya itu. Laras berdiri sambil mengusap air matanya.
Rasanya terharu banget, dulu sebelum hamil ia berani mengucapkan siap sedia, kalau hamil. Akan memberikannya pada Dian, namun setelah hamil. Apalagi makin ke sini tak akan rela untuk memberikannya.
Ibra berdiri di depan Laras. "Sayang, akhirnya kita tau jenis kalamin anak kita, ternyata dia laki-laki, yang akan kita beri nama. Akmal Setiya Ibrahim." Ibra membawa Laras ke pelukannya.
"Iya." Laras membenamkan wajahnya di dada Ibra. Tanpa diundang air matanya kembali menetes dan berjatuhan. Sekarang semua rasa bercampur jadi satu, bahagia dan sedih.
__ADS_1
Tangan Ibra memegang kedua bahu Laras, lantas menjauhkannya. Agar ia dapat leluasa memandanginya aang istri, ia tatap begitu dalam. "Kok nangis sayang? jangan nangis dong ... cantik nya hilang kalau nangis!" jari Ibra menyeka air mata Laras yang membasahi pipinya itu.
Kemudian, Laras menunjukkan senyum getirnya pada Ibra. Seketika ia memeluk tubuh tegap itu, mencurahkan rasa kekhawatirannya. "Tadi aku, khawatir banget. Aku takut Abang ke napa-napa, sebab di jalan itu tadi telah terjadi kecelakaan."
Ibra membalas dan memeluk sangat erat. Mengusap punggunganya. Ternyata Laras mengkhawatirkan dirinya. "Iya, sayang, taksi yang aku tumpangi memang terjebak macet yang disebabkan insiden itu. Tapi ... aku gak ke napa-napa sayang. Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
Ibra mencium pucuk kepala sang istri yang dibalut kerudung berkali-kali. Rasanya tak ingin ia tinggalkan lagi.
Pak Marwan dan bu Rahma berbincang dengan dokter sebentar. Kemudian mereka berjabat tangan, dan berterima kasih. Lalu keluar ruangan, Ibra menggandeng pinggang sang istri sangat mesra.
"Nyonya, selamat ya? Susi sangat senang mendengarnya, baby nya laki-laki, kan!"
"Iya, sama-sama Susi." Laras tersenyum.
Mereka berjalan pelan, Ibra tetap menggandeng pinggang Laras. Berjalan berdampingan.
Setelah sampai di mobil, pak Marwan meminta kunci pada Laras, biar dia saja yang nyetir. Bu Rahma dan Susi sudah masuk dan duduk manis di mobil.
Laras masih berdiri di luar, sebab Ibra menahannya agar tak segera masuk mobil.
"Sayang?" panggil Ibra.
Laras mendongak. "Apa?"
Ibra memeluk Laras, di dekapnya kuat. "Aku ... hari ini gak pulang ya? aku akan merindukan mu," bisik Ibra dengan lesu. Berat rasanya harua berpisah di sini.
Laras hanya membalas dengan anggukkan pelan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun kali ini tak ingin menunjukkan nya pada ibra, sebisa mungkin ia tahan agar tak lagi keluar dan jatuh.
"Besok, aku akan pulang. Tunggu aku ya? besok sore kita ke bandara. Mau, kan mengantarku?"
Lagi-lagi Laras menganggguk mau. Mengantar Ibra ke bandara, untuk terbang ke Balikpapan hari esok.
"Ya, sudah. Pulang sana, maaf aku gak bisa ngantar? sudah siang harus segera menyiapkan untuk rapat," ungkap Ibra. Melepas pelukannya. Ia bukakan pintu dan menutup kembali setelah Laras duduk manis di dalam mobil.
Ibra membungkuk kan badannya. "Pa, Ma ... titip Laras ya." Ibra penuh harap.
"Iya, dayang ... jangan khawatir, Laras itu aman bersama kami," Jawab Pak Marwan.
"Iya, Mah." Ibra membalas lambaian tangan sang bunda.
Mobil Laras yang di kemudikan pak Marwan melaju dengan cepat. Meninggalkan Ibra yang masih berdiri di tepi jalan. Laras memutar kepalanya melihat Ibra yang memandangi mobil yang ditumpangi oleh Laras dan keluarga.
Ibra mencari taksi untuk balik ke kantor. Hingga akhirnya Ibra menyetop taksi yang lewat, segera ia masuk dan bilang untuk membawanya ke jalan xx yeng terletak kantornya itu.
Ibra duduk bersandar ke belakang jok. Hatinya berbunga-bunga bak taman bunga yang sedang bermekaran. Ia membayangkan nanti bermain dengan bocah laki-laki kesayangannya.
Supir terheran-heran, melihat Penumpangnya mesem-mesem sendiri.
Ibra begitu anteng melamun. Sehingga ia tak menyadari kalau taksi sudah sampai di depan kantor yang tinggi menjulang itu.
"Pak, sudah sampai, ini bukan kantornya?" suara supir, membuyarkan lamunan Ibra.
"Oh," Ibra celingukan untuk memastikan kalau ini benar tempat tujuannya. "I-iya, Pak. Aduh makasih ya Pak? ini ongkosnya." Ibra bergegas turun dan meninggalkan tempat tersebut.
Scurity mengangguk hormat, Langkah Ibra terus berjalan dan semakin lebar. Menuju ruangan Zayn. Nampak ia sedang sibuk menghadapi tumpukan berkas. "Hi ...."
Zayn menoleh dan berkata. "Lama amat?"
"Tadi aku, kena macet. Ada insiden sehingga aku telat datang, untung saja di tunggu. Jadi nya aku bisa melihatnya sendiri.
"Terus gimana? hasilnya." Tanya Zayn penasaran.
"Alhamdulillah, baby yang Laras kandung itu anak laki-laki." Ibra tersenyum merekah.
"Apa, jagoan? wah ... ngajak aku main bola nih. Ah ... aku senang mendengarnya, keponakan ku si jagoan. Yang akan mengajak papanya berlomba memperbanyak istri. Ha ha ha ..." Zayn terkekeh sendiri.
"Hus, sembarangan kau ngomong, gak bakalan kaya gitu. Anak ku akan menjadi laki-laki sejati setia pada seorang wanita. Jangan seperti Papinya." Sambar Ibra.
"Oya, aku sudah siapkan semuanya. Sekarang sudah pukul 12 lewat. Gimana mau langsung ke mension atau--"
__ADS_1
"Saya mau ke ruangan ku dulu, ambil laptop juga." Ibra beranjak dari duduknya, lalu pergi menjauh dari ruang kerja Zayn dan mendatangi rungan kerjanya.
Ibra duduk dan membuka laptop nya yang berada di atas meja. Untuk sementara waktu ia kembali berkutat dengan kerjaannya, Hingga akhirnya. Zayn datang membawa berkas penting untuk keperluan rapat.
"Bos, ayo? siang nih," menunjuk jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.
Ibra melirik dan menutup laptop nya. Merapikan berkasnya, lalu beranjak, menenteng laptop. "Yo, berangkat." Keduanya berjalan beriringan.
"Oya, sudah siap untuk berangkat ke Balikpapan Bos?" tanya Zayn melirik Bos nya.
"Siap lah, urus saja semuanya. Sampai keberangkatan ke bandung juga. Terus ke kota lainya lagi, tapi kalau sudah mendekati Laras lahiran, mau tidak mau kamu yang harus gantikan saya ke luar kota. Biar saya yang di kantor pusat, sebab ... saya harus jadi suami siaga."
"Iya, Bos ... saya juga mengerti," sahut Zayn yang kini memasuki mobil Zayn yang dulu mobil Mery dan kini menjadi miliknya.
Ibra duduk di sampingnya kemudi. Dan yang pegang setir, tentunya Zayn. "Eeh, ini mobil--"
"Iya, ini mobil. Bukan motor." Timpal Zayn sambil tertawa kecil.
"Maksud saya, sudah balik nama apa? berani pakai," netra mata Ibra mengamati isi mobil tersebut.
"Sudah, Bos ... makasih banyak ya Bos?" ucap Zayn, melirik sekilas. Kemudian memfokuskan kembali pandangannya ke depan.
"Oke," Ibra mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bos, oya. Soal berkas yang asli itu sudah saya amankan, istri mu gak akan bisa menggugat madu nya."
Ibra menoleh. "Emang ada yang kopiannya?"
"Nggak tau juga sih, yang jelas. aslinya sudah di tangan ku." Zayn yakin.
"Bagus lah. Bila perlu hancurkan, karena saya tidak ingin terganggu dengan ini itu, Biarlah kami hidup bahagia," jelas Ibra dengan pandangan jauh ke depan.
"Baik, Bos. Saya akan hancurkan itu, tapi nanti lah. Biar kita hancurkan sama-sama, kalau ada waktu santai." Zayn tak ingin melakukannya sendiri. Setidaknya Ibra menyaksikan.
"Ya, terserah kamu saja. Yang penting surat itu tidak lagi di tangan pemiliknya. Bahaya, akan mengganggu rumah tangga ku nantinya." Tambah Ibra.
Tak selang lama mobil sudah memasuki pekarangan mension. Ibra turun, begitu pun Zayn. Ibra Bergegas masuk.
Bu Rika menyambut kedatangan tuannya. "Selamat siang tuan?"
"Siang juga, apa ibu sudah pulang?"
"Nyonya, sudah Sudah Tuan. Mungkin berada sedang di kamarnya." Jawab bu Rika sambil mengikuti langkah Ibra.
"Siapkan air untuk saya mandi, dan juga pakaian gantinya," tegas Ibra pada bu Rika.
"Baik, Tuan." Bu Rika mengangguk.
Zayn tidak lagi mengikuti mengikuti Ibra. melainkan ke ruang rapat. Membawa berkas-berkas dan laptop milik Ibra.
Ibra bergegas ke kamar Dian lebih dulu, sebelum ke kamar pribadinya.
"Sayang, aku ada kabar baik," ucap Ibra, setelah berada di kamar Dian. Dian sendiri sepertinya baru selesai mandi dan masih sibuk di depan cermin.
Dian, melihat Ibra dari pantulan cermin. "Ada apa sayang?"
"Tadi, Laras cek kehamilan. Kamu tau, apa jenis kelaminnya?"
Dian menoleh, menatap ke arah Ibra. Suaminya. "Perempuan?"
Ibra duduk di sofa, dengan wajah yang sumringah. Nampak bahagia sekali. "Bukan sayang, tapi anak laki-laki."
"Oh ... anak laki-laki?" Dian termangu ada rasa bahagia ada juga rasa yang entah apa itu. Dian sendiri bingung untuk mencabarkannya.
"Ya, sudah. Aku mau mandi dulu sebentar." Ibra beranjak dan mendekati Dian, mengecup kening sang istri dengan lembut.
Dian hanya terdiam dengan pikiran yang terus melayang terbang. Mengingat anak itu,-- dapatkah ia asuh? sementara ia sendiri sibuk dan mungkin benar kata orang, apa dia sanggup mengurus baby? sedangkan. Ia masih egois, suami aja jarang ia urus. Sibuk dengan diri sendiri ....
****
__ADS_1
Hi ... apa kabar reader ku hari ini? semoga ada dalam lindungan yang maha kuasa ya, terima kasih sudah setia menunggu.