
"Sayang ... menantu kesayangan Mama, calon cucu Oma. Aku kangen kalian!" suara Rahma tibi-tiba muncul di sana, membuat semua yang ada di sana terkejut bukan main dengan kedatangan bu Rahma dan pak Marwan.
Datang-datang Rahma merangkul Laras menumpahkan rasa rindunya. Beberapa waktu kemudian melepas rangkulannya, menoleh ke arah Dian. "Menantu kesayangan Mama juga, apa kabar sayang," memeluk Dian erat.
"Mama kapan datang? langsung ke sini apa," tanya Dian sambil celingukan melihat koper yang di bawa mertuanya.
Laras dirangkul pak Marwan. "Apa kabar sayang?"
"Baik Pa, kalian dari bandara langsung ke sini bukan." Tanya Laras pada pak Marwan.
"Iya, dari bandara," sahut pak Marwan.
"Iya sayang, kami langsung ke sini. Kamu kok ada di sini sih? tidak ngantor ya?" Rahma balik nanya sama Dian.
"A-aku ... iya baru saja datang. Pengen tahu kabar Laras, sebab lama Laras gak ada ke mension Ma," jawab Dian sambil melirik ke arah Laras.
"Oh ... bagus lah, kalian harus rukun ya jadilah ade kaka yang baik." Sambung Rahma, mendudukkan dirinya dekat sang suami.
"Oya, kok Mama tau kalau aku tinggal di sini? tahu dari siapa," netra mata Laras menatap keduanya.
"Dari putra Mama dong sayang ..." lirih bu Rahma.
"Oh, Sus. Bikinkan minuman buat Papa dan Mama." Titah Laras pada Susi yang bengong melihat semuanya ada.
"Iya, Nyonya muda." Susi segera pergi bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Wah, Pa ... enak ya? tempatnya nyaman. Tenang ... asri juga lokasinya. bikin betah nih, Pa!" Rahma melihat-lihat ke jendela.
"Iya, Mah. Nyaman nih." Jawab Marwan sambil melihat-lihat sekitar.
Sesaat kemudian Susi kembali. "Silakan, Tuan besar dan Nyonya besar? wah ... kalau kalian nginep di sini, jadi ramai dong rumah ini. Tapi Nyonya besar, di sini tempatnya sempit, gak pa-pa?" celoteh Susi.
"Tak apa Sus, mau besar mau kecil. Sama aja, iya, kan Pa?" bu Rahma menoleh suaminya.
"Bener, Mah. Di sini ataupun di mension sama aja," sahut Marwan.
"Jadi, Papa sama Mama belum ke mension nih?" tanya Dian menatap keduanya.
"Untuk hari ini, kami nginep di sini dulu kah, mungkin besok kami ke sana," ujar Marwan.
"Oh, baiklah, aku mau ke kantor lagi, oya Sus. Di bagasi ada susu bumil, ambil sana?" ucap Dian menoleh ke arah Susi.
"Baik Nyonya," Susi berdiri dan bergegas keluar mau mengambil susu bumil yang katanya di mobil.
"Makasih, ya? padahal jangan repot-repot deh Kak Dian," ucap Laras, melirik Dian yang soren tas nya.
"Nggak pa-pa, lagian gak repot kok. Buat kesehatan kalian juga." jelas Dian. Ia berdiri dan mendekati sang Mertua.
Akhirnya, Dian berpamitan. Kemudian pergi, sebelumnya berpelukan sama kedua mertuanya dan dan Laras.
Dian pun meninggalkan rumah Laras, dengan tujuan ke kantor lagi. Di Teras berpapasan dengan Susi yang menjinjing paper bag. "Jagain anak saya ya Sus?" ucap Dian sembari berlalu.
"I-iya Nyonya," Susi mengangguk. "Anak mu, anak Nyonya muda kali ah, orang dia yang mengandung." Batin Susi sembari ke dapur menyimpan susu ke lemari.
Laras mengantar bu Rahma dan suami ke kamar, barangkali mau istirahat capek. Baru datang banget soalnya. "Nah ... cuma ada kamar ini Ma, Pa. gak pa-pa, kan? maklum di sini tidak seperti di mension."
"Iya, sayang ... gak apa-apa, ini juga sudah cukup nyaman kok. Cukup luas juga, tempat tidurnya besar. Kami juga pasti betah di sini loh," ujar bu Rahma sambil mendekati Jendela.
"Ya ... syukurlah kalau kalian betah dan nyaman di sini." Laras mengukir senyumnya.
Marwan duduk si sofa. "Wah ... adem Ma," duduk bersandar.
"Ya sudah, Laras mau keluar, Kalian istirahat aja, pasti capek. Aku mau bantu Susi memasak." Laras keluar kamar. Meninggalkan kedua orang tua Ibra.
__ADS_1
"Susi, sebaiknya kamu belanja, ke warung ... atau swalayan terdekat aja lah. Di lemari gak ada lauk, yang ada sayur dan telor. Beli ayam atau ikan. Uang nya ngambil di laci dekat kecantikan. Ada 200.0000 untuk hari ini saja dan pagi, kalau buat besok, besok aja belanja lagi." Suruh Laras sambil mengintip isi lemari pendingin.
"Oh, ya sudah. Susi mau belanja dulu," sahut Susi sambil berlalu.
Laras, menyiapkan sayuran dan telor untuk ia masak sambil menunggu Susi nanti pulang bawa belanjaan.
****
Ibra, mengangkat telepon dari Susi. "Halo?"
Hening!
"Ada apa Susi telepon aku? tumben. Kenapa gak Laras aja yang telepon." Gumamnya, hati mulai gusar. Kepikiran ada apa? tidak lama kemudian, ada suara Dian.
"Dian? dari mana dia tahu tempat tinggal Laras," Ibra heran. Obrolan Dian dan Laras yang bikin tegang. Ingin sekali ia pulang saat ini juga, namun kerjaan hari ini sulit untuk di tinggalkan, tapi kalau ke pepet. Ya ... apa boleh buat ia harus tinggalkan juga.
Dengan tangan yang berkutat dengan berkas dan laptop di depannya, telinga dipasang baik-baik agar tak ketinggalan satu kata pun obrolan mereka berdua. Tidak terasa, mata Ibra berkaca-kaca. Mendengar ungkapan hati Laras yang tetap akan mempertahankan haknya.
Bukan tak tega dengan Dian. Tapi memang benar, Laras lebih mempunyai hak asuh atas anak mereka. "Maafkan aku Dian? ini bukan niat ku untuk menyakiti batin mu, namun semuanya terlanjur. Terlanjur terikat pernikahan, terlanjur mempunyai anak dan terlanjur hati ini menyayangi Laras." Gumamnya sembari memainkan ponselnya.
Ibra yakin, kalau Dian gak akan berani menyakiti Laras, jadi dia tenang saja di kantor dengan segala aktifitasnya. Sebentar lagi akan meninjau lapangan pula, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam meronta meminta pulang Tidak lama.
Terdengar suara sang bunda yang baru datang dari luar Negeri. Hati Ibra semakin tenang, setidaknya ada orang tua yang akan menjaga Laras. Ia mematikan ponselnya dan memasukannya ke saku, lalu bergegas menuju ruangan Zayn untuk meninjau lapangan.
Blak!
Ibra membuka pintu ruangan Zayn. "Yu, berangkat?" ajak Ibra pada Zayn yang nampak sibuk.
"Oke." Zayn berdiri dan mengikuti langkah Ibra yang lebih dulu berjalan.
"Om, dan Tante, sudah datang. Dan sepertinya langsung ke rumah Laras tuh," ucap Zayn membuka suaranya sambil sesekali mengangguk pada karyawan yang mengangguk hormat.
"Saya tahu itu, saat ini sudah sampai di kediaman Laras." Jawab Ibra sambil terus berjalan.
Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil. Dan Zayn mengemudikan mobilnya ke lokasi.
"Oya, acara empat bulanan nanti mau di mana? di mension." Tanya Zayn sambil fokus pandangannya ke depan.
"Terserah, maunya Laras saja. Aku nurut saja." Jawab Ibra yang menyandarkan punggungnya ke belakang jok.
"Oh, gitu? pasti maunya di rumah nya saja." Sambung Zayn.
"Tidak apa, yang penting selamat, mau di manapun. Aku gak bisa memaksakan kehendak untuk digelar di mension, gimana maunya Laras aja," ungkap Ibra, melepas pandangan keluar jendela.
"Sepertinya, Bos juga lebih betah di sana tuh." Zayn nyengir.
"Betah lah, pasti." Jawab Ibra singkat.
"Sepertinya dia lebih memuaskan mu ya?" tanya Zayn menyeringai.
"Maksud? jangan macam-macam kau ini. Sama aja," elak Ibra, padahal dalam hati memang mengakui kalau entah kenapa Laras lah menjadi candu yang memabukkan buat Ibra.
"Masa sih, sama? kok aku melihat berbeda ya. Aura Bos habis bersama Laras dan aura Bos kalau dari Dian, kurang bergairah. Beda dengan habis menyambangi Laras, aura bahagianya keluar gitu?" ujar Zayn dengan mata tetap fokus ke depan.
Ibra menggeleng. "Bisa aja."
"Beneran! punya apa sih Nyonya muda itu? punya sesuatu yang tidak ada di Dian apa," tanya Zayn dengan beraninya.
"Nggak tahu," jawab Ibra sambil mengulum senyumnya. Sekilas otaknya trafeling ke mana.
"Ah ... si Bos gak asik nih," lanjut Zayn.
"Sudah, jangan ngelantur. Nyetir yang bener." Sesekali menggeleng.
__ADS_1
"Ini bener kok, kau pikir gak bener apa? kalau gak bener ... mobilnya senggol sana sini, Bos." Zayn menjawab yang Ibra katakan.
Ibra pejamkan mata, namun makin jelas Laras menari-nari di kelopak matanya. "Aduh ... gimana ini? sabar-sabar. Nanti malam juga akan bertemu." Gumam Ibra dalam hati.
"Wah, sepertinya ada yang rindu tuh," celetuk Zayn, sebab melihat wajah Ibra yang gelisah. Terpantul jelas dari kaca spion.
"Nggak usah banyak ngomong napa sih? berisik tau gak." Ketus Ibra.
"Ha ha ha ... ya, sudah aku diem nih." Sambung Zayn sambil terkekeh.
Setelah dari lokasi, Ibra ke kantor sebentar. Kemudian ia pulang ke mension, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.30 wib.
Mobil Ibra merayap diantara kendaraan lainnya. Maklum kebanyakan waktunya jam pulang kerja. Jadi di jalanan ramai. Walau telat akhirnya mobil Ibra sampai di depan mension. Dengan gontai Ibra berjalan langsung menuju kamar pribadinya. "Bu, bikinkan saya minuman hangat ya, antar ke kamar saya," pinta Ibra pad bu Rika.
"Baik, Tuan." Bu rika mengangguk. Kemudian pergi ke dapur.
Ibra melanjutkan langkahnya ke kamar. Setelah melewati lift Ibra sampai di kamar, langsung bersih-bersih. mencari pakaian ganti di Wardrobe, celana santai dan kaos pendek saja biar simpel. Sesudah rapi dan wangi Ibra tidak lupa menunaikan salat magrib.
"Dian sudah, pulang belum ya?" hatinya bertanya-tanya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Tuan, ini minuman hangatnya." suara pekikan bu Rika dari balik pintu.
"Masuk," balas Ibra sambil duduk di sofa.
Rekettt, pintu terbuka. Bu Dian masuk membawa nampan berisi secangkir minuman jahe, menyimpannya di meja tepat depan Ibra.
"Makasih, Bu. Oya, Dian sudah pulang belum?" tanya Ibra menatap bu Rika.
"Nyonya, Dian ... sudah ada di kamarnya." Jawab bu Rika seakan menunjuk arah kamar Dian.
Wajah Ibra masam. "Di sini saya berasa tidak punya istri, apa-apa paling di layani asisten." Keluh Ibra.
Bu rika yang sedang mengumpulkan pakaian kotor, langsung mendongak. Mendengar keluhan Ibra, majikannya. "Mungkin Nyonya, capek, Tuan." ucap bu Rika. sedikit menghibur.
"Makanya, saya tidak ingin kalau Laras bekerja! nanti saya tidak ke urus." sambung Ibra.
"Oya, Emang nyonya muda minta bekerja ya, Tuan?" selidik bu Rika.
"Iya, maunya. Namun tidak saya ijinkan, takut tidak ada waktu tuk melayani saya." lanjut Ibra.
"Oh ... lagian. Apa sih yang di cari uang dari Tuan juga pasti cukup. Lagian nyonya muda sedang hamil, sudah ... di rumah saja. Ngomong-ngomong, saya juga kangen sama nyonya muda. Setelah pindah. belum pernah bertemu." Ujar bu Rika mengenang Laras.
Ibra, menoleh. "Main aja ke sana, Bu. Sekalian bawakan barangnya yang masih di kamar," sambung Ibra. Meneguk minuman jahe nya.
"Baiklah, Tuan. Saya pamit dulu." Bu Rika mundur, kemudian memutar badannya melintasi pintu.
Ibra hanya mengangguk dan menarik napas dengan kasar. Kemudian terburu-buru ke kamar sang istri, Dian.
Ibra langsung membuka pintu kamar Dian dan nampak Dian baru selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi cuma mengenakan handuk saja.
Dian terkesiap melihat Ibra sudah berdiri dekat pintu. "Sayang?"
Ibra menghampiri dan duduk di tepi tempat tidur. Dian mendekat dan mengalungkan kedua tangan di leher Ibra ....
****
Selamat membaca reader yang sangat aku sayangi. Terima kasih tetap setia ya? terus dukung aku dengan cara like, komen. Vote juga rating nya. Makasih banyak.
__ADS_1