
"Emangnya kenapa kalau emang itu benar? anggap saja seperti itu! sebab satu saat nanti anak itu akan menjadi milik saya. Dan kamu! bisa melanjutkan hidup mu dengan baik, mencari suami yang baik juga. Kamu itu beruntung mendapatkan uang yang banyak dari saya, ataupun dari suami saya!"
"Aku tidak membutuhkan uang itu Kak, dari Ibra juga sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup, sementara aku di sini apa sih yang harus aku beli? gak ada! semua tercukupi," sambung Laras lirih dan melirik amplop yang di atas meja. "Bila perlu uang yang sudah aku simpan pun akan aku kembalikan pada Kak Dian."
Dian memejamkan matanya sejenak menahan rasa marah. Tidak habis pikir kalau akan berubah konsep begini? kemudian ia duduk di tempat semula. "Sombong! oke, sekarang kamu tidak membutuhkannya, tapi nanti kau akan butuh itu. Jangan bilang kalau kamu berubah pikiran? tidak mau menyerahkan anak itu nantinya," mata Dian menatap tajam Ke arah Laras.
Laras menggeleng. "Sepertinya iya, aku berubah pikiran. Simpan saja uang itu buat Kak Dian sendiri, atau ... Kak Dian beli saja baby dari rumah sakit. Ini aku yang mengandung dan aku juga yang akan melahirkan, tentunya aku pun yang harus merawatnya! aku ... sudah berubah pikiran!"
Wajah Dian berubah merah padam, tangan mengepal sangat kuat. Mata melotot begitu sempurna pada Laras yang nampak tenang. "Kau ... dasar wanita tidak tahu diri, wanita gak tau di untung. Sudah diberi kemewahan, di beri hidup enak malah ngelunjak." menunjuk hidung Laras.
Laras mengangkat wajahnya yang semula menunduk. "Apa Kak Dian gak sadar? kalau Kak Dian lah yang menggiring aku ke istana ini, memintaku menjadi permaisuri dari suami mu, menyiapkan rahim untuk suami mu buahi! jadi jangan salahkan aku!"
"Tapi, itu anak dari suami ku, jadi itu hak aku," sergah Dian.
"Iya benar, anak ini adalah darah daging dari suamimu. Kak Dian lupa? aku ini istri dari suami Kak Dian juga." Laras balik menatap tajam.
"Perempuan gak tau di untung, murahan!"
"Kalau aku murahan? tentunya aku suka tidur dengan banyak orang Kak," sahut Laras dan lagi-lagi menatap Dian.
"Dengar, nanti kau bisa menikah lagi! dan kamu bisa punya anak lagi, sementara aku. Aku mandul gak bisa punya anak," suara Dian nadanya menurun.
"Tapi ... bukan berarti membeli dari seorang istrinya juga, kan? aku kau jadikan madu mu, namun kau hanya menganggap ku sebagai pencetak anak saja. Seharusnya tidak seperti itu! baiklah, aku akan menjual anak ku bila dia lahir nanti," menatap raut wajah Dian yang sedikit berubah sumringah, ketika mendengar perkataan Laras.
"Tapi ... dengan satu syarat."
"Apa itu?" tanya Dian sangat penasaran.
"Aku akan memberikan anak ku, asalkan!" ucap Laras menggantung perkataannya.
"Asalkan apa? kau membuat aku penasaran." sambung Dian.
"Serahkan, suami mu seutuhnya untuk ku--"
Brugh!
Dian memukul sofa. " kau benar-benar kurang-ajar. Tidak tahu di untung, murahan. Ingin merebut suami orang, sampai kapanpun tak akan aku biarkan suamiku di miliki orang, kecuali aku sendiri. Pergi ... pergi kau dari kamar ku! pergi ...."
Laras menghela napas panjang, mencoba sabar menahan rasa sakit di dadanya. Mata yang mulai berkaca-kaca ia usap dengan kasar, ia berdiri. "Aku ... permisi."
Laras mengayunkan langkahnya dengan gontai, hatinya terasa sesak. Sakit dengan hinaan Dian, namun Laras tidak bisa menyalahkan sepenuhnya Dian. Karena ia sendiri pun mungkin salah, kurang teliti dan mungkin posisi Dian pun sangat tersakiti dengan situasi dan kondisi.
Setelah berada dalam kamar, Laras mengambil air wudu. Kemudian menunaikan duha yang ia usahakan untuk selalu mengerjakannya.
__ADS_1
Selepas itu, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk itu, kepala sudah mulai pusing. Mual-mual dan badan terasa lemas.
Sambil tiduran ia berpikir, gimana caranya ia bisa keluar dari rumah ini? tapi dengan ijin Ibra, bukan kabur tanpa sepengetahuan nya. Bagaimanapun Ibra suami Laras yang harus ia hormati setiap keputusannya.
"Apa aku harus mencari dulu rumah yang kecil, yang cukup untuk berdua. Aku dan anak ku nanti, atau mungkin juga Ibra bila berkenan menginap. Sebelum menceraikan ku satu saat nanti."
Oo ... mual mulai menyerang. Laras sedikit melompat ke kamar mandi, oek, oek. Oek ... keluar semua yang ada dalam perutnya.
Kemudian Laras menarik napas dan membasuh mulut. Menatap wajahnya di cermin. "Aduh ... gimana bisa kerja kalau keadaan Begini?"
Menarik napas lesu. Lalu kembali ke kamar dan meringkuk di dalam selimut.
****
Di kantor Ibra. Ia sedang beres-beres di meja dan memutuskan untuk segera pulang, tuk menyiapkan diri atas keberangkatan nanti sore.
"Saya pulang duluan. Nanti sore kita bertemu di bandara," ucap Ibra sambil menggeser kursinya.
Zayn menoleh jam di tangannya." baru pukul sepuluh. Belum siang. Apalagi waktu makan siang, masih jauh."
"Emangnya kenapa? suka-suka aku lah, mau pulang sekarang. Mau nanti atau tidak masuk sama sekali juga," sambil nyengir.
"Oh ... aku tau, secara mau seminggu di luar Negeri. Jadi mau puas-puasin dulu sama istri muda, karena yang di bawa jalan itu istri tua." Zayn berasumsi sendiri sambil menyeringai.
"Eeh ... malah senyum-senyum? bukannya menjawab. Jangan-jangan pikirannya sudah di rumah ya?" sambung Zayn lagi.
Ibra yang duduk di atas meja dan menyilang kan tangan di dada menoleh Zayn. "Emang harus jawab apa?"
"Hadeh ..." gumam Zayn sambil menepuk jidatnya. "Sudah pulang sana, selamat bersenang-senang dengan istri muda mu itu.
Ibra menaikan tangan memberi hormat pada Zayn lalu pergi meninggalkan Zayn di ruangan Ibra.
Zayn merogoh saku nya. "Hi ... Tuan! kau pulang mau naik apa? kunci mobil mu ada di tanganku!"
Ibra yang sudah beberapa langkah memutar badan kembali menghampiri Zayn untuk mengambil kunci. "Ngomong, dari tadi."
"Ini juga ngomong."
Ibra bergegas meninggalkan kantor. Sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah, menghabiskan waktu yang tinggal menghitung jam. Setelah itu ia harus terbang untuk mengurus masalah pekerjaan.
Selang 30, menit Ibra sudah sampai di pekarangan. Memberi kunci pada security agar di parkir kan.
"Tumben sudah pulang Tuan?" tanya pak security sambil mengangguk hormat.
__ADS_1
"Iya, agar istirahat di rumah, nanti sore mau berangkat jaga rumah ini baik-baik ya,?" sahut Ibra sambil berpesan.
"Baik, Tuan." Jawab pak security sambil memasuki mobil Ibra.
Ibra langsung masuk dan naik mencari keberadaan Laras. ia tahu kalau Dian masih di kantor, katanya mau pulang nanti pukul satu saja.
Derap langkah Ibra menghiasi hening nya suasana. Sampai di tempat asisten berkumpul. Tidak ada Susi maupun bu Rika, lanjut ke dapur, ternyata asisten itu sedang ada di dapur menyiapkan bahan masakan.
Mendengar derap langkah, suara sepatu Ibra, bu Rika menoleh. Kaget kok tumben tuan nya sudah pulang. "Tu-Tuan, tumben sudah pulang? apa anda sedang sakit!"
"Tidak, saya pengen istirahat saja, sebelum berangkat nanti sore. Nyonya muda di mana?" tanya Ibra menatap bu Rika.
"Nyonya ... dari pagi juga setelah di panggil nyonya Dian, saya tidak melihatnya lagi." bu Rika menggeleng.
"Ada apa, Dian memanggil Laras?" batin Ibra. Mengernyitkan keningnya.
Tanpa bicara lagi, langkah Ibra langsung ke kamar Laras. Setelah lift terbuka kaki Ibra bergegas mendekati pintu kamar Laras yang tertutup.
Mau mengetuk namun ia urungkan, ia langsung memutar handle pintu dan membukanya. tampak Laras sedang meringkuk di atas tempat tidur.
Dengan perlahan Ibra menutup kembali pintunya, berjalan mengendap-ngendap agar tak mengganggu yang sedang lelap. Mendekati tempat tidur Laras. Ia berdiri di tepi tempat tidur memandangi wajah yang begitu pulas.
Bibir Ibra menyunggingkan sebuah senyuman. Membuka jas, menyimpannya di sofa. kemudian naik dan berbaring menghadap tubuh Laras yang menghadap dinding.
Dengan sangat pelan. Tangannya memeluk tubuh Laras dari belakang, tidak ada tanggapan sama sekali dari Laras. Ibra menarik dan menurunkan selimut sampai hanya menutupi pinggang saja.
Telapak tangan Ibra menempel di perut Laras. "Apa kabar sayang? baik-baik di sana, jangan buat mama repot ya? bila perlu. Biar Papa aja yang di bikin repot nya, kasian Mama. Papa gak tega bila melihat Mama yang muntah-muntah, pusing dan semacamnya," gumam Ibra yang meletakkan dagu di bahu Laras.
Laras tertidur begitu pulas, maklum lah semalam dia tidak tidur sama sekali.
Ibra semakin mengembangkan senyumnya melihat Laras yang tidur begitu pulas sampai tak bergeming. Walau terkadang menggeliat kecil, tanpa ragu. Ia mencium pipi Laras yang mulus berwarna kuning langsat itu. Tetap tak ada reaksi.
Semakin lama semakin keluar ide jahilnya. Tangan nakal itu dengan bebas menjamah milik Laras terutama gundukan kembar yang mulai mengembang. Akibat perubahan saat hamil, lama ... bermain di sana, tentunya dengan sangat hati-hati agar si empu tidak terganggu.
Akhirnya mata Ibra terpejam dan tidur dalam keadaan memeluk Laras, yang masih juga tidur nyenyak. Apalagi dalam pelukan hangat Ibra.
Tepat pukul 12.00 wib. Laras terbangun dengan suara dengkuran yang sangat mengganggu telinga. Ia menggeliat nikmat dan memicingkan mata pada sumber suara, ia terkejut langsung bangun duduk bersandar. "Sejak kapan orang ini tidur bersama ku? bukankah tadi pagi berangkat kerja?"
Sesaat ia mengumpulkan kesadarannya. Kemudian menempelkan punggung tangan di bawah telinga Ibra, khawatir kalau saja dia sakit, panas atau apa ....
,,,,
Untuk para reader ku yang selalu setia menunggu up nya novel ini, aku sangat-sangat ucapkan makasih banyak pada kalian semua. Semoga kalian tidak bosan dan terus menjadi pembaca setia, terus dukung aku ya🙏 agar tambah semangat untuk up nya.
__ADS_1