
Sementara waktu keduanya saling tatap mesra. Hasrat Ibra yang selalu tidak tahan apabila berdekatan dengan sang istri, Laras. Menjadikannya sebagai candu untuknya. Segera Ibra menangkap bibir ranum Laras, tangannya dengan lembut menelusuri tengkuk sang istri dan menarik.
Ibra m****** nya lembut, semakin lama semakin diperdalam. Terus ******** nya penuh gairah, Laras mendesah. "Uh ..." di sela sentuhan Ibra yang terjeda.
Laras tersenyum, dengan mudahnya ia meluluhkan kemarahan Ibra. Kemudian kecupan-kecupan kecil mendarat di leher dan dada Laras. Hingga meninggalkan bekas yang memar.
Beberapa saat keduanya menikmati kegiatan panas itu. "Aku kangen sayang, aku ingin sekali menikmati seutuhnya. Tubuhmu benar-benar membuat candu dan membuatku selalu tak sanggup menahan diri." Racau Ibra di sela kegiatannya.
Sebagai istri Laras merasa kasihan mendengarnya. Mata Laras terpejam, jemarinya meremas rambut Ibra. Dan menggigit bibir bawahnya.
Oak ... oak ... oak ....
Keduanya terperangah, terkejut mendengar suara baby boy. Laras buru-buru beranjak dan menutupi bagian dadanya yang terekspos sempurna.
Kecewa lagi. "Ah," nada kesal. Ibra menyandarkan punggungnya dengan napas masih naik turun dan ia coba menormalkan nya.
Laras kini duduk di sofa dekat jendela, menggendong baby boy dan memberinya asi. Perasaannya masih tak karuan, melirik sang suami yang duduk bersandar dengan tangan di rentangkan. Kemudian Ibra bangkit, setelah melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.15 wib.
''Sayang, aku sarapan dulu ya?" cuph! mengecup kening sang istri sangat mesra. "Duluan."
"Iya, duluan aja nanti aku nyusul." Laras menatap sang suami.
"Maaf ya. Kalau tadi aku marah? maaf ya!" jari Ibra mengusap pipi Laras lembut.
"Nggak pa-pa, aku ngerti kok. Sarapan sana! aku nyusul nanti kalau baby bobo lagi."
"Baiklah. I love you," lagi-lagi mengecup pipi sang istri kanan dan kiri. Ibra memutar badannya lalu berjalan keluar kamarnya.
Mata Laras menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu, menarik bibirnya tersenyum. Kemudian netra matanya bergerak melihat baby boy yang begitu kuat mimi nya.
Ibra duduk di meja makan, dan mengambil sendiri sarapannya. Melirik ke arah Irfan. "Fan. Nanti antar istri saya keluar, dan titip dia."
"Baik Tuan," sahut Irfan mengangguk pelan.
"Mama sudah cantik dan rapi, mau ke mana nih?" tanya Ibra menatap sang bunda yang tampak sudah siap untuk pergi.
"Mau jemput Papa ke bandara," sahut bu Rahma sambil menuangkan nasi goreng ke piringnya.
"Oh, jadi mau pulang hari ini? kemarin katanya gak jadi."
"Jadi, hari ini pulang." Bu Rahma mengangguk.
"Sama pak Barko?" tanya Ibra kembali.
"Iya, sebentar lagi mau ke sini." Jawab bu Rahma.
Ibra menyuapkan sarapan ke mulutnya. Meskipun kurang berselera, Apalagi tanpa adanya sang yang menemani.
Dari arah kamar, Laras datang membawa baby boy yang tidak tidur kembali. Ia gendong diajaknya makan.
"Baby boy ga bobo lagi kah sayang?" tanya Ibra menatap sang istri yang terus menggendong baby boy.
"Nggak nih," sahut Laras sambil melirik putranya yang menggerakkan matanya.
"Hualah ... Oma sampai lupa sama cucu Oma ini." Bu Rahma memandangi baby boy terus menggerakkan matanya seolah mendengar suara oma nya.
"Sus. Kamu sudah sarapan?" panggil bu Rahma pada Susi yang sedang menyapu.
"Iya, Nyonya. Sudah." Susi segera menghampiri sang majikan.
"Nyonya muda, mau makan. Ambil baby boy nya dulu, jangan dibiasakan dibawa makan. Nanti kebiasaan. Setiap mau makan bangun tau rewel," ujar bu Rahma. Menyuruh Susi membawa baby Satria.
"Oh, Iya Nyah. Yu sama Susi? kita jalan-jalan ke taman sambil jemur." Susi mengambil baby Satria.
"Tapi, kamu juga sedang menyapu Sus?" ucap Laras menatap ke arah Susi.
"Gampang, lagian sebenarnya sudah nyapu kok tadi, cuma mengisi waktu saja." Susi membawa baby Satria ke taman.
"Ok, hati-hati Sus." Pesan Laras melihat punggung Susi yang menggendong baby boy keluar.
Laras mengambil piring nya. Kemudian mengambil nasi goreng serta ayam goreng. Ia mulai menyuapkan makan ke mulutnya. "Mamah mau ke bandara sama siapa?"
"Sama pak Barko, sayang."
"Keburu pulang gak ya? Aku mau keluar sebentar, dan tak mungkin membawa baby ke Rumah sakit." Gumamnya Laras.
"Kapan emang?" tanya bu Rahma di sela makannya.
"Nanti siang sih, sekitar pukul 11, perginya," sahut Laras.
__ADS_1
"Oh ... keburu pulang. Mama gak akan lama, pasti cepat pulang kok sayang, tenang aja."
"Syukurlah kalau gitu, Mah." Laras merasa lega. Menoleh ke arah suaminya. "Abang mau nambah?"
"Nggak, kurang berselera sayang. Aku mau berangkat sekarang," ucap Ibra berdiri, setelah sebelumnya meneguk minuman yang tinggal setengahnya itu.
Laras berdiri. "Biar ku antar."
Ibra menggandeng pinggang Laras, berjalan menuju teras. "Ya, sudah. Aku pergi dulu ya, baik-baik di rumah."
"Hem, Abang juga hati-hati bawa mobilnya." Laras memeluk Ibra erat. Kemudian meraih tangan Ibra tuk ia cium punggung.
Begitupun Ibra menarik kepala sang istri, ia kecup keningnya penuh kasih sayang. "Pergi dulu ya." Ibra mengusap pipi sang istri dengan sangat lembut. Lalu dia pergi setelah mengucap salam.
"Wa'alaikumus salam." Laras melambaikan tangan pada Ibra yang sudah mulai memutar kemudinya.
Laras melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Menghampiri Susi yang sedang menggendong baby boy di taman.
"Sayang, belum mandi. Mandi dulu yu?" Laras meminta baby boy dari Susi.
"Kembali sama Mammy ya!" ucap Susi sambil menyerahkan baby Satria pada sang bunda. Susi kembali dengan aktifitasnya yang tadi tertinggal.
Laras membawa baby boy kembali ke dalam rumah berniat mau dimandikan.
Bu Rahma menghampiri. Mencium pucuk kepala baby boy. "Sayang. Oma tinggal dulu ya? mau jemput Opa. Nanti akan secepatnya pulang untuk menjaga mu ya? nanti ketemu Oma lagi ya!"
"Pak Barko nya sudah datang ya Mah?" tanya Laras menatap sang mertua.
"Iya, sudah menunggu di luar. Mama pergi dulu ya sayang?" bu Rahma ngeloyor pergi.
"Hati-hati, Mah." Laras mengantar bu Rahma dengan doa nya.
"Iya," sahutnya sambil terus berjalan. Meninggalkan Laras dan baby Satria.
Setelah mandi baby boy langsung tidur kembali, mungkin merasa segar dan nyaman sebab sudah dimandikan sama Mammy nya. Setelah baby boy tertidur Laras bersiap membersihkan dirinya, bersiap untuk pergi nanti agak siang ke Rumah sakit bersama Irfan dan rekan lainnya yang sama-sama dalam naungan "Yu bantu"
Beberapa waktu kemudian, Laras sedang bermain dengan baby boy di teras kamar. Mengajak putranya berceloteh.
Tiba-tiba suara Susi memecah suasana. "Nyonya. Ada tuan Ruswan, katanya mau jemput Nyonya."
Laras terdiam sambil berpikir. "Jemput? siapa suruh, orang biasa bertemu di Rumah sakit kok." Batin Laras.
Kemudian ia beranjak mendekati pintu, di mana Susi masih berdiri menunggu jawaban dari dirinya. "Sus. Bilang aja. Aku ada supir kok, gak perlu jemput dan gak perlu nunggu juga."
"Iya, bilang aja begitu. Aku mau nunggu Oma nya baby boy dulu lagian," sambung Laras kembali.
"Kalau gitu, Susi bilang lagi ya?" pamit Susi sambil memutar badannya.
Laras kembali menutup pintu. Masuk mendekati sofa dengan tangan yang memeluk baby Satria. "Ngapain sih datang? cari masalah aja tuh orang."
Ruswan, adalah salah satu anggota program "Yu bantu" jadi otomatis kini dia sering bertemu dengan Laras. Dalam setiap kegiatannya, Seperti hari ini ada kegiatan menemui pasien yang akan menjalani operasi di Rumah sakit.
Laras sedang memompa asi nya buat stok mimi baby Boy, dan di simpan di botol khusus. Buat selama ia tak ada di rumah. Walaupun kepergian Laras itu gak akan lama. Paling lamanya juga satu jam saja, Lagian, sebagai ketua. Laras gak terlalu banyak turun ke lapangan, cukup yang lain dan Irfan saja. Apalagi mengingat ia punya baby yang membutuhkan di rumah.
Setelah menyimpan botol, dan merapikan alatnya. Laras merapikan diri, Kebetulan baby boy sudah kembali tidur. "Sudah berangkat belum ya Ruswan itu? percuma di tunggu juga. Lagian aku ada supir sendiri kok."
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara ketukan pintu. "Nya ...."
Laras menoleh ke arah pintu, yang jelas itu suara Susi. "Masuk Susi."
Krett ....
Pintu Susi dorong dari luar, munculah Susi masuk menghampiri. "Nya. Sudah aku bilang seperti yang Nyonya bilang, tapi tuan Ruswan gak mau pergi. Katanya mau nunggu aja."
"Oya?"
Susi mengangguk. Ia duduk di sofa yang berada tepat belakang nya Laras yang menghadap cermin.
"Gak pa-pa biar saja Susi. Oya, mama belum pulang ya?" tanya Laras sambil melirik jam tangannya.
"Belum, katanya sekitar sepuluh menit lagi sampai. Macet katanya."
"Oh, iya. Semoga lancar perjalanannya." Gumam Laras sambil menyemprotkan minyak wangi ke bajunya.
__ADS_1
Susi beranjak mengambil cucian baby boy, dibawanya keluar. Laras pun berdiri, merapikan meja riasnya sesaat. Kemudian mendekati pintu. Ia berjalan keluar kamar.
Derap langkah Laras yang berhenti di depan pintu. Netra matanya bergerak melihat ke arah teras yang berada Irfan dan Ruswan di sana. Irfan sibuk dengan ponselnya. Ruswan sibuk dengan laptopnya.
"Pak, Ruswan. Sebaiknya anda jangan repot-repot menunggu, saya bisa pergi dengan mas Irfan," ungkap Laras.
"Oh, tak apa-apa. Kebetulan gak sibuk kok, tidak apa! kita kan bisa pergi beriringan," sahut Ruswan kekeh.
Diam-diam Laras memutar bola matanya, kesal. "Nih orang, ngotot amat," gumam Laras dalam hati, kemudian masuk kembali.
Ruswan melepas tatapannya ke arah rumah. Memandangi Laras yang tampak cantik dengan kerudung pasmina nya. Berwarna kream, senada dengan warna pakaian panjangnya. Ruswan tersenyum. Dan menggeleng pelan.
"Hati-hati Tuan, wanita itu bersuami. Tak pantas dikagumi. Apalagi di harapkan. Pamali," gumamnya irfan dengan jelas.
Irfan sudah mencium gelagat-gelagat aneh dari sikap Ruswan. Ia pun gak suka kalau melihat sikap Ruswan yang agak aneh. Makanya Irfan, kalau pas keluar sama Laras, suka lebih hati-hati dan waspada.
Ruswan terdiam. "Tajam juga mulut nih orang. Mentang-mentang orang kepercayaan." Gumamnya. "Lihat saja nanti!" tatapan Ruswan pada Irfan mengandung arti.
Irfan membalas tatapan Ruswan. Kemudian Ruswan memalingkan mukanya. "Anda, sebaiknya pergi duluan. Gak enak kalau ketauan tuan Ibra. Karena bagaimanapun Nyonya Laras adalah tanggung jawab saya." Tegas Irfan. Menyilakan Ruswan pergi duluan.
"Kau mengusir saya? oke. Saya akan pergi sampai jumpa di lokasi nanti." Ruswan, pada akhirnya menutup laptopnya dan berdiri, meninggalkan Teras tersebut.
Mobil Ruswan mundur. Mobil yang dikendarai pak Barko yang membawa pak Marwan dan bu Rahma masuk ke halaman.
"Mobil siapa tuh?" tanya pak Marwan setelah turun. Matanya memandangi ke arah mobil tadi.
"Oh, itu. Ruswan ya Fan?" sahut bu Rahma sambil melirik ke arah Irfan. Irfan pun mengangguk pelan sambil bersikap hormat juga pada keduanya.
"Ruswan? siapa dia, Mah ..." tanya kembali pak Marwan.
"Itu loh Pah ... kawan kuliah Ibra dulu, masa Papah lupa?" jawab bu Rahma sambil melangkahkan kakinya ke teras.
"Sebentar!" pak Marwan terdiam. Keningnya mengerut. "Oh, iya ingat Papa sekarang. Ruswan itu? ya-ya ingat."
Keduanya masuk beriringan, sementara pak Barko mengekor di belakang, membawakan koper tas milik pak Marwan ke dalam.
Setelah semua masuk. Irfan memilih mendekati tanaman bawang daun yang sudah terlihat tunas nya. Irfan mengambil selang, lantas menyiramnya.
Setelah mengucap salam, Bu Rahma dan pak Marwan langsung menemui cucunya yang masih tertidur di kamarnya.
"Aduh ... Opa kangen nih sama cucu Opa yang guanteng, wah ... tambah gemuk. Pipinya seperti bak pau nih." jemari pak Marwan mengusap kepalanya baby boy.
"Papa sudah. Biar saja dulu kasian, lagi bobo. Papa istirahat aja dulu," ucap bu Rahma melihat sang suami yang duduk di sofa. Di dalam kamar Ibra dan Laras.
"Apa kabar Papa?" Laras meraih tangan papa mertua.
"Oh, iya, baik sayang, gimana kabar kamu di sini?" balik tanya.
"Aku baik, yang lain juga baik. Alhamdulillah," ungkap Laras sembari mengulas senyumnya.
"Ya, sudah Mah, aku berangkat dulu sudah siang, takut macet juga. Oya, mimi sudah aku siapkan beberapa botol Mah ..." ucap Laras sekalian pamit.
"Hati-hati sayang. Jangan khawatir, baby Satria ada Mama dan Papa yang akan menjaganya. Kamu yang tenang saja." tangan bu Rahma mengusap bahu Laras.
"Iya, makasih? maaf merepotkan Mama, baru saja datang sudah harus menjaga baby. Papa juga baru pulang. Papa istirahat di kamar." Laras melirik papa mertuanya.
"Gampang, itu ... kau jangan khawatir, anak mu akan aman bersama kami," sambung pak Marwan.
"Iya, makasih Pa?" Laras mengangguk hormat. Kemudian bersalaman dengan kedua orang tersebut, Lalu Laras berangkat. meninggalkan kamar, Sebelumnya Laras mencium pucuk kepala dan pipi baby boy yang tidur begitu nyenyak nya.
"Hati-hati saja." Bu Rahma melambaikan tangan pada Laras.
Kini Laras sudah berada dalam mobilnya. Setelah mengenakan sabuk pengaman. "Jalan Mas?" menepuk jok yang berada di depannya itu.
"Baik. Nya."
"Oya, Ruswan suda--"
"Sudah pergi duluan. Saya yang nyuruh duluan, gak enak sama tuan. Kalau dia duduk-duduk di sini." Irfan menjelaskan pada Laras.
"Baguslah, kalau kata-kata kamu yang di dengar." Gumamnya Laras sambil melihat jendela di sampingnya.
Mobil yang terus melesat. membelah jalanan. Membawa Laras ke sebuah Rumah sakit ya ia rekomendasikan untuk pengobatan pasien yang membutuhkan bantuan dari Laras.
Selang beberapa saat. Mobil Laras sudah mulai merayap di area Rumah sakit, Irfan segera memarkirkan mobilnya dengan manis di sana.
Di sebuah lorong, tengah berdiri berpangku tangan dan melihat lekat, pada wanita yang tinggi semampai dan penampilan nya yang sederhana tapi sungguh menawan itu.
Pria itu terus mesem-mesem seolah tengah memikirkan sesuatu. Tentang Laras yang kini tengah ia pandangi ....
__ADS_1
****
Hai ... terima kasih banyak. Masih setia menunggu SKM ini up. Semoga kabar kalian pun terlindungi oleh Allah subhanahuata'ala. Aamiin🤲🤲