
Pak Marwan pun datang menghampiri mereka dan akhirnya mereka pun berbincang. Tentang niat Dian dan Firman yang akan segera melangsungkan pernikahan.
Sebagai mertua pak Marwan turut sangat bahagia mendengarnya dan memberi wejangan pada Dian khususunya. Bahwa yang sudah-sudah itu dijadikan sebuah pengajaran untuk ke depannya. Jangan sampai terulang lagi, apalagi sampai menghancurkan rumah tangga yang teah di bina bersama.
Harus saling menerima, saling menghargai satu sama lain dan saling menyayangi. Jadilah istri yang lebih baik dari sebelumnya, wanita yang penyayang dan bersyukur selalu. Dian mendengarkan sambil menunduk dan tidak terasa sampai-samai dia menitikkan air mata.
Dian mengusap pipinya yang basah, ia mengakui setiap kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu yang membuat hancurnya biduk rumah tangga yang mereka bina. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Kemudian Dian mengangkat wajahnya perlahan. "Aku akan selalu, em insyaAllah akan mengingat wejangan papa, Dian juga minta maaf bila selama menjadi mantu Papa dan Mama aku tidak pernah menjadi mantu harapan. Dian selalu membangkang. Tidak hormat sama kalian berdua, aku yang sudah membuat kebodohan atau kesalahan yang fatal. Namun sekarang aku sudah ikhlaskan semuanya." Mata Dian menatap bu Rahma dan pak Marwan bergantian.
"Sudah kami maafkan, dan sampai detik ini juga. Bahkan sampai kapanpun, kamu akan tetap menjadi menantu kami berdua. Dalam islam itu gak ada namanya mantan mantu! sebab menantu dan mertua tak ada putusnya," ujar pak Marwan. Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya masing-masing.
"Makasih, Mama dan Papa yang selalu menyayangi Dian yang keras kepala yang menerima Dian apa adanya." Timpal Dian kembali.
"Iya, sama-sama sayang. Kamu itu sesungguhnya wanita baik cuma kadang kamu itu egois. Gitu saja kalau menurut Mama, tapi itu bisa di rubah dengan niat yang kuat ya Pah?" ucap bu Rahma melirik sang suami.
"Nak, Firman ... kamu yang harus membimbing Dian ke depannya. Jadikan dia wanita solehah. Wanita yang berbakti pada suami dan orang tua." Tambah pak Marwan kembali.
"Anak kami telah gagal membimbing Dian di masa lalu, sekarang tugas Nak Firman untuk membimbingnya," sambung bu Rahma. Menatap ke arah Firman.
Firman mengangguk pelan, matanya menatap Dian yang juga menatap ke arahnya. "InsyaAllah. Tante dan Om."
"Mammy juga, titip Dian ya Nak Firman?" bu Lodia merasa terharu. Mendengar Dian dinasehati olen mertuanya.
"Iya, Mam, Firman akan jaga Dian seperti saya menjaga diri dan anak saya," sahut Firman meyakinkan.
Ibra yang baru memasuki ruang keluarga merasa heran. Dengan ramainya di rumah, bahkan ada orang baru yang ia tak kenal, duduk bersama Dian.
Semua mata memandangi ke arah Ibra, setelah dia mengucapkan salam.
"Ada apa nih ramai-ramai?" tanya Dian sambil menyimpan tas laptop nya di meja.
"Ini, Abang ... Dian ke sini selain bersilaturahmi. Dia juga mengundang kita untuk hadir di pernikahannya nanti." Jawab bu Rahma.
Ibra mengerutkan keningnya. "Menikah? batinnya. Netra mata Ibra melihat ke arah Dian dan pria asing itu.
"Kenalkan, ini calon suami aku. Namanya Firman," akhirnya Dian mengenalkan Firman pada Ibra yang tampak bengong.
"Malik Ibrahim!" kata Ibra mengulurkan tangannya pada Firman.
"Permana Firmansyah," sahut Firman sambil menyambut tangan Ibra. Keduanya duduk kembali di tempatnya masing-masing.
__ADS_1
Kemudian tangan Dian mengambil kartu undangan yang ada di meja. "Kamu datang ya?"
Ibra menghela napas dalam-dalam, ia mengambil kartu tersebut lantas ia buka dan di baca dalam hati. Menatap datar ke arah Dian dan Firman bergantian seraya berkata. "Selamat ya? semoga berbahagia, jadi rumah tangga yang sakinah dan mawadah warahmah." Gumamnya Ibra dengan tulus.
"Makasih," ucap Firman sambil memangku Ferdi yang baru datang membawa mainan.
"Dia siapa anak mu bukan?" tanya Ibra menatap lekat ke arah Ferdi.
"Iya, benar. Dia Ferdi, anak kami." Balas Firman. "Salam sama Om, Om ini ayahnya baby boy barusan."
Anak itu menurut, lantas menghampiri, meraih tangan Ibra diciumnya. Ibra merasa kagum dan mengusap kepalanya.
"Anak pintar, sudah bertemu baby boy belum?" ucap Ibra pada anak itu.
"Sudah, Om. Baby boy nya bobo, barusan di kasi mimi sama tante. Terus bobo, ngantuk." Jawabnya sambil menggerakkan tangan nya dengan aktif.
"Oh, bobo ya." Kemudian Ibra berdiri dan pamit untuk ke kamar. Tangannya menyambar tas laptop di meja.
Langkah Ibra berjalan menuju kamarnya, sesampainya di kamar tidak lupa menutup pintu kembali. Mendapati sang istri sedang menutup jendela atau gorden, melirik ke arah sang suami yang tampak lelah.
"Kok main masuk aja? gak ucap salam juga," gerutu Laras sambil menghampiri.
Ibra tersenyum. "Assalamu'alaikum?"
Ibra pun memegangi kepala sang istri, mendaratkan kecupan di keningnya begitu mesra. "Di luar ada Dian dan Mammy."
"Iya, kalau Mammy sih dari aku pulang dari luar juga sudah ada. Mengasuh baby boy, kalau Dian belum lama ini datangnya." Tangan Laras membuka dasi Ibra dan jas nya. "Mammy tampak kesepian ya, kasian!
"Hem," gumamnya Ibra, ia menarik bahu Laras agar bersandar di bahunya bagian depan.
"Mandi dulu sana, bau keringat nah."
Ibra mendengus mencium badannya sendiri. "Nggak ah, siapa bilang bau? wangi gini. Alasan saja istri ku ini."
"Hem," Laras menarik bibirnya tersenyum iseng. "Dian mau menikah, semoga mendapat suami yang lebih baik dari Abang ya?"
Ibra menaikan alisnya. "Emangnya aku kurang baik apa?"
Laras mengangkat wajahnya. "Baik, tapi baik yang mempunyai istri yang banyak bukan ukuran. Di mata orang tetap aja kurang baik, masa baik istrinya banyak."
Jari Ibra menjepit hidung sang istri dengan gemas. "Itu dulu sayang ... dan itu maunya dia bukan mau ku, tapi beruntung juga, dapat istri kaya kamu. Coba kalau istrinya seperti yang lain mungkin di tambah lagi di tambah lagi, sampai segudang ha ha ha ...."
__ADS_1
Laras mencibirkan bibirnya. Melihat Ibra terkekeh. "Segudang? barang bekas segudang? dasar laki-laki mulanya gak mau, alasan dipaksa, eh lama-lama mau juga dinikmati juga--"
"Sayang ... ngomongin diri sendiri apa? nyadar? dianya harus aku paksa dulu baru mau. Kalau gak dipaksa mana mau, boro-boro nawarin. Ha ha ha ..." makin tertawa lebar.
"Abang juga, katanya menikah terpaksa tapi nyosor mulu, maksa-maksa mulu," ungkap Laras tak mau kalah.
"Kan, kalau sudah jadi suami istri, itu kewajiban sayang. Kalau dulu gak aku paksa mana mungkin cepat-cepat punya baby boy sayang," kenang Ibra sambil mengelus pipi Laras. "Dan aku jadi jatuh cinta sama istri ku ini." Suaranya pelan.
Kedua netra mata Laras menatap kedua manik mata Ibra, keduanya saling menatap dengan mesra. Dalam beberapa saat.
"Abang jatuh cinta sama aku, sehingga melupakan cinta lama Abang." Kemudian Laras menunduk dalam.
Ibra pun terdiam sementara waktu mencerna omongan Laras barusan. "Sayang, ngapain bahas itu ah? semuanya sudah berlalu sayang ... tinggal kita menjalani dengan bahagia. Buktinya Dian pun sekarang sudah menemukan tambatan hatinya +dengan putra yang ganteng dan pintar tinggal dia juga menikmati dan mengsyukuri nya. Begitupun kita."
Laras kembali menatap sang suami. "Abang mau kan datang ke acaranya Dian?"
"Tentu sayang, mau. Asal sama istri ku yang cantik ini." Lagi-lagi menjepit hidung sang istri.
Laras menepis tangan Ibra. "Iih ... sakit, suka amat jepit hidung aku!"
Kedua tangan Ibra membingkai wajah Laras. Ia tatap sangat lekat. Kedua pasang mata mereka bertemu, saling pandang diiringi suara jantung keduanya yang berdegup kencang. Dadanya yang dag dig dug tak menentu. Perlahan wajah Ibra mendekati landasan tempatnya ia mendaratkan kecupan hangat nan mesra.
Beberapa waktu keduanya menikmati sentuhan nya masing-masing. Seakan lupa kalau ada tamu di luar dan fokus dengan kegiatannya yang penuh gairah itu.
Tangan Ibra bergerilya ke mana-mana, tempat yang selalu jadi favoritnya. Membuat Laras menggigit bibirnya. Menghindari suara me****** nya, sebab Laras tahu bila suaranya lolos akan menambah hasrat Ibra membuncah. Makanya Laras tahan sekuat tenaga agar suaranya tak keluar.
Setelah puas bermain di tubuh bagian atas sang istri, sampai bibirnya belepotan dengan asi. Ibra beranjak, mendekati baby boy yang sedang tidur nyenyak. Kemudian mencium pipinya lembut. Sebelumnya mengusap bibir ia yang belepotan itu.
Laras masih duduk di sofa sambil merapikan penampilan nya yang bukan berantakan lagi, namun kacau seperti kapal pecah saja tak beraturan.
Ibra menuntun langkahnya ke kamar mandi. Dan membiarkan pintunya terbuka. Manik matanya melihat ke arah Laras yang selalu bikin hasratnya naik ke ubun-ubun, hampir saja tak bisa menahan. Dengan dorongan dari dalam yang meronta-ronta.
Mengisi air dan wangi terapi di bahthub. Lalu masuk dan berendam, Setelah sebelumnya melempar pakaiannya bekas ke tempatnya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Laras menoleh ke sumber suara, kebetulan penampilannya sudah rapi kembali. Ia berdiri dan hendak membuka pintu, namun terlebih dulu menutup pintu kamar mandi yang di dalamnya Ibra tengah berendam ....
__ADS_1
****
Hai ... reader ku makasih ya atas dukungannya. Aku gak akan bosan mengucapkan terima kasih pada kalian semua. Ayo fav juga "Bukan Suami harapan" semoga suka.