Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Untuk bulan madu


__ADS_3

Pandangan Laras tetap ke belakang, melihat tukang cilok yang makin menjauh.


Ibra memutar kemudi, putar haluan untuk menyusul tukang cilok tersebut. Laras melihat Ibra sambil mesem. "Kenapa, senyum-senyum?" tanya Ibra dengan tetap fokus ke depan.


"Nggak, siapa yang senyum? gak juga ah." Elak Laras sambil melemparkan pandangan ke lain arah.


Ibra menyalakan klakson untuk memanggil si abang cilok. setelah semakin dekat. "Bang cilok, tunggu?"


Si abang pun berhenti di tepi jalan menoleh ke sumber suara. Dan menunggu yang mau beli. kepala Ibra nongol di jendela. "Cilok Bang, berapa satu porsinya?"


"Cilok kukus ini 15rb satu porsi, Tuan. Mau berapa porsi?" si abang mengangguk ramah.


Ibra menoleh istrinya yang sedang menatapnya. Kemudian Ibra menoleh kembali ke si abang. "Satu porsi aja Bang, buat yang ngidam."


"Oh, siap ..." sahut si abang sambil mengambil kantong plastik untuk wadahnya.


"Bumbu kacang, kan?" tanya Laras sari dalam mobil.


"Iya, bumbu kacang manis dan bumbu kacang pedas juga ada. Mau yang mana?" ujar si abang cilok menatap Laras.


"Em ... di campur saja Bang." Jawab Laras sambil senyum.


"Oh, siap ... sebentar ya, Abang bikinkan, tidak lama. Cuma sebentar dan bikin mulut bergetar, rasanya cukup pedas dan enak, apalagi bila makannya berdua sambil saling remas. Karena cilok nya dijamin empuk, seperti punya nya si Eneng yang sedang jadi pembeli." Celotehan si abang cilok. Bikin Laras tertawa.


Kening Ibra mengkerut, mulanya tidak mengerti, namun setelah ditelaah ia mengerti dan akhirnya tertawa. "Ha ha ha ... si Abang bisa aja?"


"Ini, cilok nya sudah siap santap. Semoga si Eneng cantik ketagihan, seperti ketagihan nya membuat baby. Ha ha ha ... canda Neng cantik, jangan diambil hati ya?" ucap si abang sambil nyengir.


"Kurang ajar si Abang." Ibra menggeleng sembari mesem juga.


Kemudian si abang memberikan cilok pada Ibra dan Ibra langsung memberikan bayarannya.


"Nih sayang, dimakan. Mumpung masih hangat," tangan Ibra memberikan pesanan Laras.


Ibra masih bersiap memutar kemudi untuk melanjutkan perjalanan.


Si abang membuka uang yang diberikan Ibra. Dan ternyata uang 100rb, jelas kelebihan, dia bergegas mendekat dan mengetuk kaca jendela pintu mobil Ibra. "Tunggu Tuan?"


Ibra menurunkan kacanya. "Ada apa Bang?"


"Ini uang nya kebanyakan, dan ini kembaliannya." Memberikan kembalian.


Laras yang di dalam hanya melihat dan mendengarkan perbincangan si abang cilok dan Ibra.


Ibra menatap si abang. seraya mendorong tangan si abang. "Ambil saja Bang, anggap saja bayaran celotehan si Abang. permisi Bang, semoga sukses."


Si abang bengong, sementara Mobil Ibra memutar arah kembali. Menjauh dari tempat semula.


"Ayo dong, dimakan sayang, mumpung masih panas. Apa ... nanti aja nunggu makannya berdua sambil ... seperti yang si abang bilang tadi?" ungkap Ibra sambil menyeringai dan mata tetap fokus ke jalanan.


"Apaan sih?" Laras senyum simpul. "Masih panas banget," sambil mengecek apa sudah dingin atau masih panas.


Setelah tidak terlalu panas, Laras langsung melahapnya. "Bismillah ... em ... enaknya?"


Ibra menoleh ke arah Laras lewat kaca spion, dan menarik bibirnya tersenyum.


Seperti tadi, Laras pun membagi Ibra untuk nyicipi apapun yang dia makan. "Aa ... gigit."


Namun Ibra bukan menggigit, melainkan masukan satu cilok ke mulutnya. Yang tersisa hanyalah tusukannya di tangan Laras.


"Iih ... kok semua? tinggal sedikit lagi nih." Keluh Laras sambil menatap kecewa tusuknya.


"Nanti aku gantiin. Tenang saja," sahut Ibra, setelah menelan cilok tersebut.


"Apaan yang di gantiin? sudah jauh juga." Gerutu Laras sambil memasukan cilok ke mulutnya.


"Tenang ... aku masih ada dua, kalau kamu mau boleh, buat kamu saja." sambung Ibra.


"Ah, apaan?" Laras tidak mengerti yang Ibra maksudkan.


"Kalau gak ngerti, ya Sudah ...."


"Yammy ... ah abis, cilok nya?" Laras lesu menatap kantong bekas cilok itu.


Sebentar Ibra melirik. "Namanya juga di makan, ya abis lah. Coba cuma di liatin? gak bakalan habis."


Laras melihat ke arah Ibra, dengan muka yang di tekuk.


"Biar aja, lain kali beli lagi, barusan itu coba dulu enak atau tidaknya," Lirik Ibra kembali.


Laras melepas pandangan keluar. Melihat es cendol. "Wah ... es cendol?" kepalanya memutar melihat itu. Kemudian Laras melihat ke arah Ibra dengan tatapan sendu. Berharap di tawarin sama Ibra, namun Ibra tidak ngeh ia tetap fokus nyetir.


Ibra, bukannya gak ngeh, cuma ia menunggu Laras minta di belikan, tapi yang ada Laras hanya menatap ke arahnya tanpa ekspresi.


Laras terus menatap Ibra yang sedang fokus nyetir. Bibirnya terasa kelu untuk bicara atau pun meminta, ia pengen sekali minum es cendol itu. Sampai-sampai ia menelan saliva nya berkali-kali.


Lama-lama Ibra merasa kasian juga, takut Laras pengen namun tak berani minta. Ia memberhentikan mobilnya. "Apa kamu ... mau makan cendol?" melirik Laras yang sedang menunduk dan memainkan jemarinya.


Laras mendongak dan mengangguk, tanda mengiyakan.


"Hem ... kalau mau, kenapa gak bilang?" mengelus pipi Laras dengan punggung jarinya.


"Nggak berani." Laras menatap sendu.


Ibra tersenyum. "Kenapa gak berani? tadi pengen apa-apa, ngomong." Menatap sangat lekat wajah Laras.


"Takut marah," sahut Laras kembali.


"Hem ... aku gak marah sayang. kalau mau apa-apa, bilang. Jangan diam seperti itu." Dengan tatapan sangat lekat. Tangan Ibra mengusap lembut pucuk kepala Laras. "Kita beli es cendol nya sekarang."

__ADS_1


Ibra menghela napas seraya memutar arah lagi. Laras hanya diam dan menatap Ibra yang memegang kemudi. Ia masih belum sadar kalau mobil yang dia tumpangi, bukanlah jalan arah pulang.


Sesampainya di depan penjual es cendol. Ibra turun sendiri dan membeli es cendol untuk Laras, setelah mendapatkannya. Ibra segera kembali mengitari mobilnya. Ia duduk dan memberikan es cendol pada Laras. "Nih, es nya diminum? lain kali kalau mau sesuatu ngomong." Mengusap kembali pucuk kepala sang istri.


Laras mengangguk dan menyendok kan es ke mulutnya. "Makasih?"


Ibra yang bersiap menyetir kembali, menoleh. "Hem."


Ibra kembali melajukan mobilnya meneruskan perjalanan yang sudah berapa kali terhambat dengan keinginan Laras.


Selang beberapa waktu, Mobil berhenti di sebuah hotel yang menghadap ke laut. Laras yang baru nyadar bahwa Ibra tidak membawanya pulang, melainkan ke sebuah hotel. Celingukan.


"Di mana nih, kok bukannya pulang?" tanya Laras heran, netra matanya terus mengitari tempat tersebut.


Ibra menempelkan punggungnya ke jok belakang. "Kamu tidak lihat kalau di depan itu sebuah hotel?"


"Ma-maksud aku ke--"


"Maksud kamu kenapa gak pulang?" ucapan Ibra memotong perkataan Laras.


"Iya. Kenapa ke sini?" sambung Laras menatap Ibra dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Untuk beberapa hari ini ... kita akan nginap di sini, apa kamu suka?"


"Nginep di sini?" netra mata Laras bergerak-gerak. "Berdua?"


"Iya, berdua. Dan sama anak kita." Ibra mengangguk. Kemudian turun dari mobil. Membukakan pintu untuk Laras juga.


Dengan hati masih bertanya-tanya. Laras pun turun, Ibra berbicara dengan penjaga hotel dan Ibra memberikan kunci mobilnya. "Yu, masuk?" meraih tangan Laras di tuntun nya masuk.


Laras menunjuk barang-barang di mobil. "Barang-barang?"


"Nanti juga ada yang ngantar ke kamar kita." Jawab Ibra sambil terus berjalan. Berhenti di lobby hotel di sambut oleh resepsionis yang ramah.


"Sore, Tuan. ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis.


"Sore juga, saya sudah pesan kamar no 034." Jawab Ibra.


"Oh, sebentar ya, Tuan. Saya cek dulu." Dengan cekatan dia mengecek laporan di sebuah komputer. "Baik, ini sebagai kunci nya. Semoga pelayanan kami memuaskan." memberikan sebuah kartu kart pada Ibra.


Ibra mengambil kunci, seraya berkata. "Makasih?"


Penjaga hotel yang tadi Ibra titipkan kunci mobil, datang membawa beberapa paper bag belanjaan Ibra tadi. Dan mengantarkan sampai depan pintu kamar.


Ibra menggesek kart sebagai kunci, dan pintu pun terbuka. Ibra menyeret Laras masuk ke dalam kamar.


Cekrek!


Lampu menyala dan ruangan terang beneran. Ibra membuka gorden menambah sinar di kamar itu, Laras mendekati jendela dan mendapati pemandangan yang indah. Pantai yang terbentang, dihiasi air laut dengan deburan ombak kecilnya.


"Wah ... indah sekali," gumamnya, Laras menghirup napas panjang ... rasanya tenang melihat itu, suasana yang tenang. Nyaman dan akan membuat siapa aja betah tinggal di sana, tiba-tiba ada tangan merangkul perutnya dari belakang.


Membuat dada Laras bergemuruh, jantung pun berdegup kencang. Pikirannya berimajinasi ke mana-mana, apa maksud Ibra mengajaknya ke sini? Laras berusaha meredam gemuruh di dalam dadanya. "Suka, tapi buat apa ke sini?"


"Untuk ... bulan madu, dan menenangkan pikiran. Biar kamu lebih tenang dan nyaman di sini." Dengan terus menyentuhkan bibir ke leher Laras.


Membuat Laras bergidik geli dan menghindar dari rangkulan Ibra. Tampak Ibra yang bertelanjang dada, netra mata Laras bergerak melihat Ibra yang sudah melepas kaosnya. "Kenapa dibuka baju mu?"


"Panas. Gerah, pengen di mandiin," sahut Ibra sambil duduk di sofa dekat jendela.


"Iih ..." Laras lagi-lagi bergidik, tak bisa membayangkannya.


Ibra menarik tangan Laras agar duduk di pangkuannya. Kemudian merangkul pinggang Laras sangat erat. "Di sini ... hanya ada kita berdua. Dan si baby kita yang akan menjadi saksi, kalau kita--"


"A-aku," Laras berusaha berdiri namun tangan Ibra terlalu kuat merangkul tubuhnya.


"Mau kemana sih? sudah, duduk dulu di sini," ucap Ibra menggenggam tangan Laras dan di ciumnya.


"Aku ... aku gak bawa baju ganti," keluh Laras sambil memutar otak agar lepas dari Ibra.


Ibra menaikan alisnya. "Baju ganti? sayang ... itu di paper bag, yang aku beli tadi, semua punya kamu, kau pikir itu punya siapa?"


"Ha, itu buat aku? bukannya semua itu buat--"


"Buat Dian? itu pikir kamu?" tanya Ibra memotong ucapan Laras.


Laras mengangguk, karena memang itu yang ia pikirkan. Ibra membeli itu semua buat Dian, bukan buat dirinya, karena jelas-jelas ia menolak waktu itu.


Ibra menjepit hidung Laras yang bangir itu. "Aku beli untuk kamu, pakailah."


"Em, sakit ..." pekik Laras dan mengusap hidungnya.


Senyum Ibra mengembang, lalu mengecup pipi Laras yang berada di depan matanya. "Mau pesan makanan apa, hem? biar sekalian aku pesankan.


"Pengen makan martabak," sahut Laras yang tiba-tiba kepengen makan martabak.


Ibra menggeleng, "Sayang ... mana ada di hotel gini ada martabak bumil ku ..." Ibra mengusap kasar rambutnya.


"Ya ... pesan gojek kek, ah, katanya kalau mau sesuatu harus bilang, tapi, bilang juga salah," rajuk Laras berdiri dan duduk di sofa yang lain. Dan memunggungi Ibra, dengan bibir cemberut, tangan menyangga kepalanya dengan siku ke bahu sofa.


Ibra diam sejenak, sisi lain dari Laras yang manja, keluar.


Dari kecil Laras tinggal di panti, mana pernah dia bermanja sama sosok orang yang dekat dengannya. Kecuali bu panti, itu pun tak sepenuhnya. Di sisi lain ia merindukan sosok laki-laki yang bisa menjaga dan memenja kan dirinya seperti sosok ayah. Namun selama ini tidak pernah ia dapatkan.


Ibra beranjak dan duduk dekat Laras. "Iya, aku pesan lewat gojek ya? sudah, jangan ngambek ah. Aku ada di sini hanya untuk mu, jadi jangan cemberut gitu." Ibra kembali memeluk Laras dari belakang, mencium pucuk kepalanya.


Lembutnya perlakuan Ibra membuat Laras rindu pada sosok ayah. "Ayah, jika saja kau masih ada, mungkin kau juga akan memanjakan ku, menyayangi ku. Ibu, aku kangen ibu dan ayah." Batin Laras. Dengan tak ia sadari air matanya jatuh ke punggung tangan Ibra.


Ibra terkejut, masa gara-gara martabak aja Laras nangis? Ibra memutar tubuh Laras agar berhadapan dengan dirinya. Punggung jari Ibra mengusap air mata Laras di pipi. "Kok nangis? aku, kan sudah bilang ... aku akan pesan martabaknya, sabar aja, nanti juga datang." Dengan suara lembut.

__ADS_1


Laras menundukkan kepalanya. sambil terisak pilu, ia berkata. "A-aku, kangen sama orang tua ku yang sudah tia--"


Ibra menempelkan telunjuknya di bibir Laras yang bergetar. "Sett ... jangan menangis. Ada aku di sini. Kalau kangen sama mereka, kirim doa aja, kalau kamu sedih. Mereka pasti ikut sedih juga."


Tubuh Laras, Ibra bawa ke dalam pelukannya. Ia belai mesra rambutnya, mengusap punggungnya. "Ada aku yang akan menjaga mu dan menyayangi mu. Jangan khawatirkan itu!"


Tangis Laras semakin menjadi, bahunya bergetar karena isak tangisnya. Hatinya semakin pilu dengan kata-kata Ibra yang akan menjaga dirinya. Sementara ada wanita lain diantara mereka.


Namun lama-lama tangis Laras berangsur berhenti dan tenang. Telapak tangan Ibra terus mengelus punggung Laras. Hembusan napas Laras terasa hangat di dada Ibra. Rupanya Laras tertidur dalam pelukan Ibra, mungkin karena kecapean.


Dengan perlahan. Ibra membawanya ke atas tempat tidur, pelan-pelan ia baringkan tubuh Laras di sana. Menyelimuti nya sampai menutupi perut, Di tatapnya lekat-lekat. Cup, mendaratkan kecupan mesra di kening Laras yang terlelap tidur.


Ibra turun dan meninggalkan nya, langkah Ibra tertuju ke kamar mandi. Mengisi air ke bahthub dan membubuhkan aroma terapi yang sudah tersedia di sana, kemudian berendam di sana untuk beberapa saat.


Sekitar pukul 19.00 Laras baru terbangun. Dengan masih memejamkan mata, ia menggeliat nikmat. Lalu memicingkan mata mengintip suasana di sana, sambil mengumpulkan kesadarannya. Dari mulai di mana ini, bersama siapa? sampai akhirnya. Mata Laras mendapati Ibra yang duduk di sofa tengah sibuk dengan laptopnya di pangkuan.


"Malam, sayang? nyenyak banget tidurnya, tapi bagus lah. Agar kita dapat lembur malam ini." Suara berat Ibra yang matanya tetap fokus ke layar laptop.


Laras terkesiap mendengarnya. menoleh jam dinding, sudah menunjukan pukul 19.10 wib. alangkah terkejutnya Laras, beberapa jam ia tertidur nyenyak sehingga melawati kewajibannya. Ia bergegas menyingkapkan selimut hendak turun menapaki lantai.


"Hati-hati, jangan tergesa-gesa. Santai aja." Suara Ibra lagi, tanpa menoleh sedikit pun.


Laras turun dan hampir terpeleset. "Aw!" namun beruntung segera menyeimbangkan tubuhnya sehingga langsung berdiri tegak lagi.


Ibra terkesiap dan hampir saja melompat dan melempar laptopnya. "Aduh Nona ... bisa gak? gak bikin aku jantungan ha?" menatap ke arah Laras. Yang malah nyengir.


"Maaf?" gumamnya Laras. Kemudian menghampiri paper bag, mencari pakaian malam. Namun yang ia dapat adalah lingerie bukan piyama. Kepala Laras berputar melihat Ibra. "Piyama ku?"


Ibra menoleh. "Itu, lingerie."


"Yang lainnya?" tanya Laras mengawut-ngawut mencari piyama. namun yang ada, pakaian tidur itu. Dua setel lingerie saja.


"Pakaian tidur mu, cuma lingerie saja." Jawab Ibra tanpa menoleh lagi.


"Piyama? aku gak biasa pake baju seperti itu, sama aja dengan nggak. Tipis gitu!" gerutu Laras.


"Tadi ... aku sudah suruh belanja, gak mau, aku belikan itu gak mau, salah siapa coba? sudah pakai aja yang ada," sambung Ibra lagi.


"Baju apaan gitu, tipis sama aja dengan boong," ucap Laras ngomel.


"Kalau gak mau pakai itu, sekalian aja gak usah pake baju. Gak pa-pa kok cuma ada aku ini, malah aku suka." Lanjut Ibra sambil menyeringai namun matanya tak lepas dari laptop.


"Iih ..." lagi-lagi bergidik. Pergi ke kamar mandi dengan niat mau ambil wudu dulu lantas salat. Setelah itu baru mau mandi.


Beberapa waktu kemudian, Ibra mendapati Laras yang sedang bersujud. Terus kembali menatap layar laptop dengan sangat serius.


Selepas salat, Laras kembali ke kamar mandi, dengan terpaksa membawa salah satu lingerie nya. "Nggak ada yang mendingan. Sama-sama kurang bahan dan sangat tipis." Gerutu Laras. Tidak lupa membawa handuk dan pakaian dalam juga.


Di kamar mandi, Laras sambil mandi mencuci pakaian, bekas Ibra dan pakaiannya juga. Setelah beres mandi mengenakan lingerie. "Iih ... apaan sih gini amat?" gumam Laras mengamati penampilannya di cermin, baju yang ia pakai sekarang sangat tipis dan menerawang yang ada di dalamnya.


Bikin risih, perasaannya ragu. Antara mau pakai atau tidak, tapi gak ada lagi. Daripada tidak memakai sama sekali, seperti yang Ibra bilang itu. Kerena merasa malu mau keluar, akhirnya Laras berlama-lama di kamar mandi. Sampai-sampai Ibra menggedor pintu kamar mandi.


"Nona, udah belum? aku kebelet nih, lagian ngapain lama-lama di kamar mandi? gak baik bumil lama-lama di air."


Dada Laras semakin berdebar. "Aduh gimana nih? mau keluar malu." gumamnya.


Ibra kembali menggedor daun pintu. "Sayang ... ayo dong. Pengen pipis nih, ayo dong buka."


Ibra sudah menyangka, kalau Laras pasti memakai lingerie itu, dan malu untuk memperlihatkan dirinya. Senyum Ibra mengembang, sudah terbayang bagaimana dia mengenakannya.


"I-iya, sebentar," suara Laras dari dalam. Laras segera melilitkan handuk ke tubuhnya, setelah itu barulah keluar.


Cekrek!


Suara kunci di buka. nampak Laras berdiri depan pintu. Dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


Ibra malah menatap Laras dengan heran. "Lama amat? aku mau masuk." Ia angsung masuk, kerena sudah tidak tahan ingin vevsi.


Laras keluar, mendekati meja rias. Dengan paper bag di tangan, memakai hand & body lotion, semprotkan minyak wangi dan menyisir rambut.


Tidak lama, Ibra kembali. Langsung mendekat, tanpa ragu menarik handuk Laras, tinggallah Laras yang mengenakan lingerie yang Laras bilang kurang bahan itu. Seketika tangan Laras menutup bagian atas dan bawah.


Sementara Ibra memandangi sampai tak berkedip dan menyingkirkan tangan yang menghalangi pemandangan indah tersebut.


Wajah Laras berubah merah. Merasa sangat malu. Sementara handuk sudah Ibra lempar jauh.


Berkali-kali Ibra menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Ia mencoba mengontrol perasaannya, seiring helaan napas dari hidungnya. Ibra menarik tangan Laras, diajaknya duduk di sofa.


"Buat apa pake handuk lagi? sudah gitu aja, yang lihat juga hanya aku." Dengan suara yang diusahakan sesantai mungkin.


Lain lagi dengan Laras yang tidak bisa mengendalikan ketegangan dan degup jantungnya, serta rasa yang belum terbiasa mengenakan baju seperti ini. Yang banyak mengekspos bagian tubuhnya.


"Makan yu? lapar nih," ajak Ibra sembari menunjuk makanan yang sudah siap di meja.


"Tapi, aku benar-benar gak nyaman pakai baju ini." Rajuk Laras.


"Iya, sesekali aja kok. Besok kita beli piyama yang seperti biasa kau pakai ya?" suara Ibra mulai bergetar, hampir tak tahan melihatnya.


Laras mengagguk, kemudian mereka makan malam dengan sangat lahap.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Suara ketukan pintu dari luar. Membuat Ibra dan Laras saling tatap ....


****

__ADS_1


Sett ... apa ada yang suka dengan kebersamaan Laras dan Ibra? atau sebaliknya? makasih banyak ya ... kalian semua masih setia membaca novel ku. Tanpa kalian, aku bukan apa-apa.🙏 kali ini up nya satu episd saja, tapi sama dengan tiga bab. Somoga pias!


__ADS_2