
Brak! brak! ckiiit ... "Suara apa tuh?" semua yang ada dalam mobil terkejut! dan mobil yang dikendarai pak Barko juga berhenti mendadak. Sehingga belakang mobil tersenggol mobil orang.
Laras yang pernah mengalami shock akibat kecelakaan di masa kecil begitu ketakutan. Biarpun saat ini mobil hanya kena sedikit goncangan.
"Mah, aku sangat takut," wajah Laras menyusup ke bahu bu Rahma. Badannya panas dingin menggigil ketakutan, matanya di pejamkan.
Bu Rahma membelai rambut Laras. "Tenang, tidak apa-apa. Yah coba lihat ke depan?" bu Rahma menoleh suaminya yang memang sudah membuka pintu untuk ke luar dan memeriksa. Ia pun merasa deg degan.
Marwan dan barko memeriksa mobil belakang yang benar saja penyok tersenggol mobil orang dari belakang. suasana riuh termasuk orang yang dibelakang menyalahkan mobil yang di depan.
Suara ambulan begitu menegangkan, pemadam kebakaran juga terlihat kearah depan.
"Astagfirullah ... ada apa ini?" gumam Laras sambil menutup kedua telinganya dan tidak berani menengok kanan dan kiri. Apalagi depan, hatinya terus berdebar dan terus gelisah.
Pak Marwan dan pak Barko masuk kembali ke dalam mobil, langsung di cecar pertanyaan oleh bu Rahma. "Ada apa? ada kecelakaan bukan? kok macet gini, terus kita gimana. Oya mobil belakang tidak ke napa-napa?" tanya Rahma pada dua laki-laki yang duduk di depan itu.
"Iya. Bu, di depan terjadi kecelakaan. Tabrakan beruntun kayanya," jawab Barko.
"Sepertinya kita harus balik arah, cari jalan lain saja." Marwan menoleh istri dan mantunya.
Wajah Laras pucat pasih. "Ini minum dulu sayang," bu Rahma memberikan air mineral pada Laras.
Laras mengambil dan meminumnya. "Makasih Mah."
Setelah jalanan agak mulai lengah, mobil pun berputar arah. Mencari jalan pintas lain, setelah jauh dari tempat tadi perasaan Laras mulai sedikit tenang.
Sesampainya di Mall langsung masuk dan berjalan-jalan melihat-lihat dulu.
"Sayang, kalau ada barang yang kamu suka, bilang saja. Nanti Mama belikan," ucap bu Rahma sambil melihat-lihat perhiasan.
"Em ... aku juga bawa ATM kok Mah." Laras tidak ingin merepotkan mertuanya kalau pengen sesuatu, makanya bawa ATM pemberian dari Ibra.
"Nggak, kali ini Mama dan Papa yang akan belikan kamu sayang! sebagai hadiah dari kami, sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah mengandung cucu kami," lirih bu Rahma sambil mengelus perut Laras yang masih rata. Wajahnya begitu sumringah.
Laras hanya diam mendengar itu, tapi dia merasa tidak butuh apa-apa, uang belanja yang setiap bulannya dari Ibra masih utuh. Paling-paling ia sumbangkan ke panti asuhan.
"Liontin ini bagus gak. Papa?" tanya Rahma pada suaminya.
"Bagus. Mama makin cantik kalau pakai itu," puji Marwan.
"Ah. Papa bisa saja, jadi malu." Rahma tersipu.
"Sayang! ayo pilih yang mana?" bu Rahma melirik mantu kesayangannya.
Namun Laras menggeleng. Ia bingung mau perhiasan yang mana? semuanya bagus-bagus. "Bingung. Mah, semua bagus-bagus dan apa ya? liontin yang aku pake juga masih baru, pemberian dari tuan," ujar Laras, menatap bingung.
Netra mata bu Rahma bergerak melihat liontin yang menghiasi leher Laras. Sebuah liontin yang sangat cantik dan mahal. "Dari siapa sayang?"
"Dari ... tuan, em ... maksud aku! dari abang Ibra." Laras malu-malu ketika menyebut Ibra dengan sebutan abang.
"Oh ... saya kira dari siapa? dari Ibra ya!" kata pak Marwan, dia kira bukan dari Ibra.
"Ternyata putra kita so sweet juga ya. Yah? memilihkan liontin yang sangat cantik buat istrinya." Rahma begitu terkagum-kagum.
__ADS_1
"Iya. Mah, siapa dulu Papa nya?" ucap Marwan dengan tertawa bangga.
Karena setiap kali di tanya. Laras selalu menggeleng dan bingung, akhirnya bu Rahma memilihkan cincin berlian yang indah untuk Laras. "Coba ini sayang, mana jarinya?" bu Rahma meminta Laras untuk mengulurkan jari tengahnya. Kemudian bu Rahma memasukan sebuah cincin berlian ke jari Laras. Sangat kebetulan sekali pas di jarinya.
"Mbak, saya ambil cincin yang ini juga. Berapa harganya?" menunjuk cincin yang melingkar di jari Laras.
"Oh, yang itu, harga 70,5jt Nyonya," sahut penjaga toko.
"Ha?" gumam Laras sambil melongo mendengar nominalnya. "Mahal sekali. Mah, ganti saja. Ini terlalu mahal. Mah." Laras berbisik pada ibu mertua nya.
Bu Rahma tertawa merasa lucu. "Tidak apa sayang, kan Mama yang bayar! kamu cukup terima saja. Sudah, jangan di buka lagi cincinnya."
"Tapi ... Mah, cari toko lain saja yang sama-sama bagus. namun harganya murah," bisik Laras lagi.
"Sudah! tidak apa-apa, harga cincin ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan liontin pemberian Ibra itu sayang," lirih bu Rahma.
Laras kembali bengong. "Emang liontin yang aku pakai berapa kira-kira?" jadi penasaran.
Bu Rahma menatap liontin Laras. "Itu ... bisa mencapai seratus juta lebih sayang."
"Ha ... sekecil ini. Mah?" tanya Laras kembali sambil memegangi dadanya menutupi liontin tersebut.
"Iya. Sayang," sambung bu Rahma.
"Masya Allah ... lain kali aku simpan saja ah, takut hilang. Kalau hilang, kan sayang," gumaman Laras yang terdengar oleh bu Rahma dan suaminya yang saling lempar senyuman.
Karena sudah terdengar suara adzan magrib. Laras dan mertuanya mencari mushola di Mall tersebut.
Sehabis salat mereka kembali berkeliling Mall, belanja pakaian buat Laras masih hadiah dari sang mertua.
"Gimana kalau kita cari makan dulu sebelum pulang?" bu Rahma melirik suami dan mantunya.
"Iya, dong makan dulu, sesekali makan di luar." Marwan mengiyakan ucapan istrinya.
Laras cuma mengikuti, walau hatinya sudah di mension. Ia ingat jam segini biasanya ia sedang menyiapkan makan malam dan Ibra selalu makan di rumah.
"Laras?" panggil bu Rahma menepuk bahu Laras yang sepertinya melamun.
"I-iya. Mah," menoleh ibu mertua yang mengagetkan lamunannya.
"Kita cari resto dulu, kok melamun? memikirkan apa?" tanya bu Rahma.
"Ah, ti-tidak memikirkan apa-apa kok," sahut Laras. "Iya, Laras ngikut saja gimana Mamah saja."
"Ya, sudah! yuk?" mereka berjalan mencari restoran cepat saji.
Di luar Mall. Ibra dan Zayn baru datang dan bergegas masuk mencari tempat yang sudah dijanjikan mamanya.
"Ngomong-ngomong, Dian diajak makan di luar juga?" tanya Zayn sambil terus berjalan.
"Tidak, aku sudah bilang kalau malam ini telat pulang. Lagian diajak sama Mama juga dianya gak mau," sahut Ibra.
Saat ini bu Rahma bersama suami dan Laras sudah duduk di meja makan dan sudah memesan apa yang mereka inginkan. Tidak lama menunggu, pesanan pun datang, langsung saja ketiganya menyantap makanan di meja dengan lahap.
__ADS_1
Biasanya kalau makan! Ibra selalu ada di depannya. Kadang jutek, terkadang juga sangat perhatian. Laras terus mengaduk makannya.
"Eh ... sayang! kamu baru datang di tunggu dari tadi," suara bu Rahma pada seseorang.
Membuat Laras mengangkat kepalanya dan menoleh yang datang dari arah belakang. Rupanya Ibra dan Zayn menghampiri meja itu. Laras terkesiap tidak menyangka kalau Ibra akan datang ke tempat tersebut.
"Maafkan aku. Mah jalanan macet," lantas duduk di dekatnya. sementara Zayn menarik kursi dari meja lain.
"Ooh ... tidak apa sih, baru mulai kok," kata bu Rahma lagi.
"Sudah lihat belum, mobil yang penyok?" tanya pak Marwan.
Ibra menoleh kearah ayahnya. "Belum sempet. Pah, gak apalah, yang penting kalian selamat," ucap Ibra sambil melirik Laras yang menunduk.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja," sahut bu Rahma.
Makanan buat Ibra dan Zayn sudah datang , keduanya langsung menyantap makan malamnya.
"Tadi, saat di lokasi kejadian. Mama sangat khawatir ... pada Laras, wajahnya sangat pucat ... ketakutan, panas dingin! pokonya bikin Mama khawatir loh sayang," bu Rahma melirik Ibra.
Ibra melirik Laras di sela makannya. Laras pun menoleh sesaat. Detik kemudian menunduk kembali, di balik meja tangan Ibra menggenggam tangan Laras, mengelus kulitnya yang halus.
Laras menatap tangan itu, perlahan menarik dari tangan Ibra, sambil bergumam. "Makan,"
"Oh, aku kira gak bisa ngomong," sahut Ibra pelan sambil menaikan tangan ke meja. Lantas ia gunakan untuk makan lagi.
Laras melotot dengan sempurna pada Ibra. "Apa maksud! bilang aku gak bisa ngomong?" setengah berbisik.
"Habis, dari tadi diam terus, aku kira kamu jadi bisu," ucap Ibra mendekatkan bibirnya ke telinga Laras.
"Ada apa sayang? bisik-bisik," tanya mamanya heran.
"Oh, tidak. Mah," elak Ibra dan Laras berbarengan, kemudian mereka saling lirik dan pandangan pun bertemu.
"Biasa. Mah bisik-bisik tetangga! jangan di ganggu, nanti indahnya berkurang," celetuk Zayn.
Ibra melempar tatapan nya pada Zayn. "Ngomong lagi, gua tampol juga."
"Sorry bos," sambil terkekeh
Begitupun orang tua Ibra saling lirik dan menahan tawa nya. Seolah melihat putra nya beberapa tahun silam! ketika dia sedang jatuh cinta pertama kalinya.
Buka chat!
Buka chat!
Buka chat!
Suara pesan WhatsApp dari ponsel Ibra, tadinya Ibra malas membukanya dengan alasan lagi makan. Namun bu Rahma mendesak agar Ibra membukanya takut ada penting ....
,,,,
Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.
__ADS_1
🤫Setttt kalau suka? mana vote dan rating nya? di tunggu ya!