
"Mas, mau ke mana lagi?" tanya Susi ketika Irfan mau pergi setelah menyimpan cangkirnya.
"Saya mau nguras kolam renang, Neng Susi." Irfan menjawab sambil terus berjalan.
"Oh, nanti Susi bikinkan jus." Pekik Susi sambil terus mengurak-arik masakannya.
"Sus, kamu bicara sama siapa barusan?" selidik bu Rahma.
"Oh, itu mas Irfan. Mau nguras kolam katanya." Jawab Susi.
"Oh ..." bu Rahma langsung terjun memotong sayuran yang sudah Susi siapkan.
Susi mengupas buah, lalu di bikin jus buat Irfan seperti yang ia janjikan. Kemudian ia bawakan pada Irfan yang sedang menguras kolam renang.
"Mas, ini minumnya." Susi simpan di dekat Irfan yang duduk dengan sebatang rokoknya.
"Makasih Sus sepertinya manis dan seger tuh." Netra mata Irfan melihat segelas besar jus.
"Pasti, Mas. Apalagi kalau minumnya sambil melihat aku, Mas. Pasti tambah manis dan segar. Hi hi hi ..." Susi terkikik.
"Bisa aja, Neng Susi." Irfan pun tersenyum.
Susi masuk kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan masak nya. Yang di teruskan oleh bu Rahma.
Tangan Susi langsung menata masakan nya di meja dengan rapi.
Laras yang berada di kamar, mencium wangi masakan yang semerbak. Membuat tergugah selera makannya, sehingga ia keluar dari kamarnya.
Pak Marwan dan bu Rahma, Susi juga Laras sudah siap makan siang. Irfan pun Susi panggil untuk makan siang bersama. Tidak membuang waktu lama, merekapun makan dengan lahapnya.
****
Di tempat ibu panti. Jodi sedang duduk mengobrol dengan bu panti, anak-anak pun sedang bermain di depan membuat ramai suasana.
Manik mata Jodi tertuju ke sebuah album foto yang ada di bawah meja.Tangan Jodi pun mengambil, perlahan ia buka.
"Itu, foto-foto lama. Anak-anak panti yang sekarang ini sudah dewasa dan sudah berumah tangga. Ada yang sukses, ada yang biasa-biasa saja." Suara bu panti ketika Jodi mengambil album tersebut.
"Oh, iya kah. Berarti termasuk Laras ya, Bu?" Jodi melirik sekilas. Kemudian melanjutkan niatnya untuk melihat-lihat album tersebut.
Dengan serius Jodi mengamati satu satu gambar tersebut. Hingga akhirnya ia menemukan foto yang pernah sekilas ia lihat.
Foto itu Jodi ambil, ia teliti dengan seksama. Ia pandang bolak balik dan ia amati sampai Jodi merasa yakin, kalau foto itu sesuai dengan foto yang ia miliki.
Kemudian ia sandingkan dengan foto yang ada di dompetnya. Sebuah foto anak perempuan sekitar 5 tahun. Berbaju abu dan ping, rambut di kuncir dua. Pipi cabie, lucu.
"Kenapa, Nak Jodi?" tanya bu panti yang yang baru mengambil minum buat Jodi.
Jodi menoleh pada bu panti lalu kembali pada gambar yang ada di tangannya. "Ini siapa, Bu?" selidik Jodi menunjuk anak yang ada di gambar itu
"Itu, Laras kalau gak salah. Iya benar, itu Laras. Kenapa?" bu panti penasaran. Dengan kemiripan gambar tersebut.
Jodi semakin penasaran. "Yakin, Bu? dia Laras." Mengerutkan keningnya.
Bu panti mengambil kedua gambar tersebut. "Iya, Nak Jodi itu Laras ketika masih kecil. Kalau gak salah baru masuk panti ini. Setelah pamannya menyerahkan ke panti ini."
"Oleh, siapa Bu?" tanya Jodi makin penasaran.
"Pamannya yang bernama Rustam, menyerahkan Laras ke Ibu. Katanya orang tua nya kecelakaan. Dan memang Laras pun waktu itu cerita, kalau orang tua nya mengalami kemalangan. Pak Rustam menitipkan Laras di sini, janjinya mau di kirimi uang tiap bulan. Di jenguk juga. Namun nyatanya cuma satu dua bulan saja di kirim uangnya. Di tengok pun cuma satu kali," ujar bu panti.
"Terus?" Jodi menatap penasaran pada bu panti.
"Padahal kalau memang dia pamannya, kenapa Laras gak di rawat saja sendiri. Cuman satu Laras. Dari waktu itu sampai sekarang, seingat Ibu gak tuh orang pernah menjenguk di bulan berikutnya sekali aja, iya benar orang yang bernama Rustam datang mencari Laras. Oh iya pernah ada lagi orang itu ke sini. Itupun ketika Laras sudah dewasa dan bekerja di BANK kalau gak salah."
"Nggak pernah ada lagi?" tanya Jodi lagi.
"Tidak, kalau gak salah cuma satu dua kali aja. Itupun minta uang pada Laras, Ibu pikir. Kalau jelas, keluarganya masih ada. Kenapa Laras harus di titipkan di panti sih? Laras anak yang baik dan bertanggung jawab pula."
Jodi terdiam, ia mengingat seorang pamannya yang bernama Rustam. "Oh ... jadi Rustam meninggalkan Laras di sini? dan menjanjikan akan selalu mengirim uang," selidik Jodi menatap ke arah bu panti berharap jawaban.
"Iya, di sini. Apa Nak Jodi kenal dengan Rustam?" bu panti balik nanya.
Tangan Jodi meraih secangkir kopi, lalu ia seruput perlahan. "Rustam itu paman ku, dia yang membawa kabur harta orang tua anak itu. Orang tua anak itu meninggalkan harta yang lumayan lah buat kehidupan sehari-hari anak itu. Kalau sampai kuliah sih mungkin gak habis kalau seandainya di kelola dengan baik, tapi sayang harta itu habis oleh Rustam."
Bu panti menatap datar Jodi dan heran kok Jodi tahu cerita Rustam. Kemudian Jodi menyodorkan foto seorang laki-laki yang Jodi panggil Rustam. Bu panti mengangguk, karena memang sesuai orangnya itu-itu juga.
__ADS_1
"Keluarga suka bertanya pada Rustam. Di mana anak itu. Dia bilang ia titipkan di panti. Tapi selalu bungkam kalau di tanya panti yang mana? bahkan dia kadang bilang kalau anak itu sudah meninggal."
"Saya sudah mencari anak ini dari beberapa tahun lalu. Ayah saya mewanti-wanti agar saya mencari sampai ketemu. Ayah saya menyesal waktu itu tidak bisa merawat anak itu, sebab Rustam sudah lebih dulu membawanya kabur. Ayah sampai sakit memikirkan anak itu. Kini beliau pasti bahagia mendengarnya."
"Tapi, Nak Jodi. Ibu jujur masih bingung, jadi intinya. Nak jodi ini siapa Laras?" selidik bu panti yang merasa kebingungan.
"Ayah saya ... adik dari ayah anak itu, Bu. Terus ayah punya kakak namanya itu Rustam. Orang yang membawa kabur Laras setelah orang tuanya kecelakaan. Jadi intinya kami ... berarti sepu-puan."
"Ya, ampun ... ternyata kalian itu saudara?" wajah bu panti sumringah, hatinya bahagia. sorot matanya berbinar. Sungguh ikut bahagia, akhirnya Laras menemukan keluarganya.
Jodi mengangguk. Ternyata wanita yang ia kagumi bahkan ia taksir itu, sepupunya sendiri. Ada rasa bahagia dan sedih. Bahagia? pencariannya berakhir, sedih? ternyata dia Laras. Sosok wanita yang ia rindukan.
"Laras pasti bahagia kalau tau, kamu sepupunya Laras, Ibu aja sangat bahagia mendengarnya. Apalagi Laras," ujar bu panti dengan wajah yang melukiskan kebahagiaan.
"Ayah saya, sakit struk. Jadi beliau gak bisa bertemu secepatnya dengan Laras. Tapi pasti akan secepatnya bertemu." gumamnya Jodi sambil menutup buku album tersebut.
"Oh, semoga cepat sembuh ya, ayah, Nak Jodi? terus kapan Nak Jodi akan menemui Laras? Ibu ikut, lama juga gak ke sana. Tidak bertemu dengan Laras."
"Secepatnya. Hati saya sudah tenang, Bu. Pencarian saya berakhir dan ternyata dia orang sering saya temui." Bibir Jodi menunjukkan senyumnya yang merekah.
"Iya, pasti, Nak Jodi pasti bahagia. Akhirnya bertemu saudara juga." Timpal bu panti.
"Bu, apa Ibu tahu asal mula Laras bertemu dan menikah dengan seorang Malik Ibrahim?" selidik Jodi.
Bu panti menggeleng. "Tidak, Ibu tidak tahu, sebab Laras sudah tidak tinggal lagi di sini, Nak Jodi. Laras sudah tinggal sendiri."
"Oh, ya ... sudah. Saya pulang dulu. Mau balik ke kantor. Oya, Bu ... jangan bilang dulu kalau aku sepupunya Laras. Biar nanti saja kita sengaja datang ke rumahnya bareng-bareng." Pinta Jodi pada bu panti.
"Iya, Nak Jodi. Ibu gak akan bilang dulu. Sampai Nak Jodi sendiri yang menyampaikan nya." Bu panti mengangguk.
"Makasih, Bu saya mewakili keluarga. Banyak-banyak berterima kasih yang sebanyak-banyaknya. Ibu sudah merawat dan membesarkan Laras sampai dia seperti saat ini," ungkap Jodi memegang tangan bu panti.
"Itu, sudah kewajiban ibu di sini merawat, menjaga dan membesarkan anak-anak panti ini. Lagi pula, Laras itu banyak di sayangi orang, dan Laras itu orangnya mandiri juga. Ibu bangga pada Laras." Kenang bu panti.
"Sekali lagi makasih ya, Bu?" lantas Jodi memeluk bu panti sebagai ungkapan terima kasih. Jodi sebagai keluarga Laras. Sebab bu panti tulus menyayangi Laras.
"Sama-sama, Nak Jodi. Makasih juga atas kebaikan, Nak Jodi ke panti ini. Banyak jasa yang kau berikan pada kami semua," balas bu panti.
"Sama-sama, Bu. Semoga kebaikan Ibu Allah balas dengan yang lebih segalanya."Jodi mengusap punggung bu panti.
Mobilnya terus melaju. Meninggalkan panti asuhan. Yang Jodi dapatkan sesuatu yang hilang dari puluhan tahun ini. Jodi mengembangkan senyumnya, tidak terduga sebelumnya. Akan terungkap hari ini juga.
Mobil Jodi membelah ramainya jalanan, saking cepatnya laju mobil. Sehingga kini sudah berada di halaman kantornya. Jodi masuk ke ruangan yang sebelumnya di beri anggukkan hormat dari scurity.
Pas masuk ruangan pribadi. Di dalam sudah ada seorang wanita cantik menunggu. "Kau."
"Iya, dari mana? saya menunggu di sini," ucap wanita itu.
"Ada apa? perasaan gak ada jadwal meeting siang atau sore ini." Tanya Jodi sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Iya sih, mau ngajak makan malam aja. Gak ada kawan nih, mau, kan?" tanya Dian seolah memohon.
"Acara sih gak ada, tapi mau ke Semarang. Pulang." Jelas Jodi.
"Mau, ke Semarang?" balas Dian menatap ke arah Jodi.
"Apakah mau lama di sana?" menatap sayu.
"Lama ... gak tau juga sih, tergantung kebutuhan kali." Tambah Jodi.
Entah kenapa ada rasa yang aneh. Ketika mendengar Jodi mau pergi. Rasanya takut kehilangan, entah perasaan apa lagi lah yang jelas Dian merasa gundah.
"Kenapa melamun?" selidik Jodi.
"Ha, nggak sih. Kapan berangkatnya? aku antar."
"Nggak usah, jangan merepotkan. Aku bisa sendiri." Tolak Jodi. "Aku belum beli tiket sih. Gak tahu malam ini atau besok pagi, emang mau kemana kamu ajak aku segala?"
"Oh, ya ... sekedar makan malam mungkin." Suara Dian lesu.
"Boleh aja," ungkap Jodi.
"Beneran?" wajah Dian sumringah.
"Iya, aku akan menemani mu malam ini." Jodi tampak serius.
__ADS_1
"Makasih?" ucap Dian, dengan refleks ia mencium pipi Jodi.
Jodi bengong menerima ciuman dari Dian seketika.
"Tapi, sorry. Masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan, jadi harap menunggu sebentar." Jodi mulai menyibukkan tangannya dengan kerjaan.
"Oke, aku mau jalan-jalan di luar. Sambil menunggu jam pulang kamu," ucap Dian sedikit mencebikkan bibirnya ke depan.
"Terserah." Jodi fokus ke kerjaannya. Tidak lama datang sekertaris nya datang, berbarengan dengan dengan keluarnya Dian meninggalkan tempat tersebut.
Dian. Keliling kantor, untuk mengisi waktu dalam menunggu jam pulangnya Jodi. Dian berdiri dengan pandangan lepas ke sekitar. Ia melamun di sana, ingat dengan kata-kata bu Rahma yang bilang. Semoga di balik perceraiannya akan ada hikmahnya.
"Apa hikmahnya? pusing ah." Dian menggeleng.
Jodi keluar dari ruangannya. Matanya mencari keberadaan Dian yang katanya mau menunggunya.
"Hi ..." sapa Dian dari belakang Jodi.
"Hi ... juga." Menoleh ke arah Dian yang berdiri menenteng tas nya.
"Jalan sekarang?" tanya Dian sambil mendekat dan berjalan berbarengan.
"Oke," ucap Jodi sambil membuka jas nya. Keduanya berjalan berbarengan, sambil ngobrol.
****
Di sebuah Mall Laras dan keluarga sedang memilih-milih semua keperluan baby nya Laras nanti. Bu Rahma apalagi, dia sangat antusias memilih popok baby yang lucu-lucu.
"Aduh ... Mama rasanya gak pengen berhenti mengambil nih sayang, bagus-bagus dan lucu-lucu." Gumam bu Rahma dengan mata terus perhatikan semua pernak pernik baby.
"Ih Papa, lucu-lucu coba lihat." menunjukkan semuanya pada sang suami.
"Beli yang seperlunya. Jangan sampai nanti mubazir, tak kepakai, kan sayang." Balas pak Marwan yang tangannya di pegang sang istri.
"Habis, lucu-lucu sayang. ih ... gereget nya ... apalagi kalau baby nya perempuan. Ya Allah, pakaiannya lucu-lucu sekali." Sambung bu Rahma.
Begitupun Laras ia pun sangat antusias dan sangat gereget melihat pakaian baby yang aduh bikin hati terus meleleh. Ini mau itu juga mau, lihat yang baru pun mau ambil. Gak ada ujungnya.
Laras anteng melihat-lihat peralatan baby, tak tahu ada seseorang tengah mengintai. Orang yang dari tadi mencurigakan dan menyita pengawasan Irfan. Namun sebelum orang itu bertindak. Irfan sudah duluan mencegah. Dengan cara menghampiri dan memberi peringatan kecil.
Dari jauh, Irfan beradu mulut degan seseorang. Pak Marwan tidak berani mendekat, melainkan merangkul dua wanita yang sepantasnya ia lindungi.
Akhirnya bukan cuma adu mulut saja yang mereka lakukan. Namun terjadi pula adu jotos, hingga orang itu kabur tunggang langgang.
Irfan merapikan pakaiannya yang kusut. Akibat masalah kecil barusan. "Aman sekarang."
"Kenapa tadi?" selidik pak Marwan.
Yang lain merasa deg deg degan. Khawatir. Was-was. Gitu.
"Dia ingin mencelakai Nona muda. Hampir saja ingin mendorong Nona muda, untung saja bisa diatasi segera." Ujar Irfan.
"Alhamdulillah ..." gumam Laras. Hatinya menjadi lega.
"Motif nya apa sih?" selidik pak Marwan pada Irfan.
"Saya kurang tahu Pak, dan tugas saja yang penting adalah menjaga kalian. Jangan sampai terjadi sesuatu apapun, itu saja." Jelas Irfan.
"Kok putra kita jadi banyak musuh ya Pah ..." bu Rahma melirik suaminya. Dengan rasa cemas.
"Entahlah, Bu. Papa juga gak ngerti," sahut pak Marwan sambil menggeleng.
Semua belanjaan sudah di bayar dan tinggal membawanya ke mobil. Irfan membawanya ke mobil dengan mata dan hati selalu waspada akan keselamatan majikannya.
Bu Rahma menggandeng tangan Laras. "Kita cari makan dulu di sini sayang, Mama sudah lapar nih."
"Ya, udah ... kita makan dulu. Susi barangnya simpan dulu ke mobil. Setelah itu, kita cari makan dulu, bilang juga sama Mas Irfan," suruh Laras.
"Siap, Nya." Susi menjinjing paper bag besar-besar yang berisi peralatan baby.
Kemudian Susi dan Irfan kembali berkumpul dengan Laras kembali. Lalu mencari resto yang ada Mall tersebut. Setelah menemukan resto dan tempat duduk yang nyaman. Semuanya memesan makanan sesuai yang di sukai.
Tatapan mata Irfan yang tajam, mengamati ke salah satu tempat, orangnya terkadang memperhatikan ke arah Laras ....
****
__ADS_1
Makasih pada yang masih setia dengan SKM. Doakan aku ya🙏