Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Betina liar


__ADS_3

Zayn yang berdiri belakang Ibra tertawa begitu nikmat ha ha ha ...


Ibra menoleh ke belakang menatap heran Zayn. Namun kemudian ia mengerti kenapa Zayn tertawa lepas. Ibra menggeleng dan segera masuk ke dalam mobil pribadinya.


Sambil menahan tawanya! Zayn pun masuk dan duduk di belakang setir, detik kemudian putar setir, melaju sangat cepat, secepat anak panah yang dilepaskan dari busurnya.


Yulia dan Mery melambaikan tangan. Setelah Ibra pergi bersama asistennya itu, mereka meninggalkan tempat itu.


"Kak Yulia jangan ganggu rencana ku dong. Aku ingin malam ini Ibra tidur bersamaku, jadi jangan ganggu dulu." ucap Mery sambil berjalan melirik Yulia.


"Enak saja, tidak mau tahu ya. Ibra harus bersama ku malam ini," tegas Yulia.


"Sudah lama Kak! dia gak tidur bersama ku," kata Mery pelan.


"Sama kali, dia juga gak mendatangi aku, jadi ... malam ini dia harus bersamaku. Oya kamu, kan yang ke tiga jadi, aku duluan. Kamu besok saja, oke?" menepuk pundak Mery.


Setelah Ibra pergi di buntuti kedua istrinya. Laras menanyakan rujak buah yang tadi pada Susi. Susi pun langsung menyediakan nya di meja. Laras langsung memakannya bareng-bareng dengan para asisten.


"Nyonya muda! jangan terlalu banyak makan yang asam-asam! nanti kena lambung! apalagi Nyonya muda seperti kurang sehat. Tuan berpesan kalau Nyonya harus periksakan kesehatan Nyonya ke dokter," ucap bu Rika menatap Laras yang begitu lahap makan rujak.


Laras membalas tatapan bu Rika. "Aku baik-baik saja kok BuRik."


"Apa Nyonya sadang ngidam?" tanya bu Rika curiga.


Laras terkesiap! dia mendongak. "Haa ...ngidam?" mengulang ucapan bu Rika.


Bu Rika mengangguk. "Iya. Apa Nyonya muda sedang ngidam?"


"Nggak tahu." Laras menggeleng.


"Ya sudah! Nyonya harus banyak istirahat." Menoleh Susi dan menyuruh mengantar Laras ke kamarnya.


****


Zayn masih mesem-mesem. Mengingat yang tadi. Ketika Ibra tampak kebingungan.


"Kau! terus saja tertawa, saya pecat juga nanti," ucap Ibra kesal.


"Ha ha ha ... kau itu pintar beradu argumen dengan kolega-kolega anda. Tapi tidak ada apa-apanya di hadapan dua betina itu." Zayn terkekeh. Namun matanya tetap fokus ke jalanan.


"Ah ... sudahlah! gimana sudah menemukan bukti yang satu lagi?" tanya Ibra sambil menyandarkan kepalanya ke jok.


"Sudah. Nanti kau bisa lihat gimana ulahnya di luar, tak ubahnya piala bergilir. Siapa saja bisa menikmati kecantikannya! saya heran. Dian dapat dari mana betina macam gitu?" ujar Zayn.


Ibra nampak kesal. Kok bisa jadi seperti ini, jadi permainan para wanita. Tapi mau menyalahkan siapa juga percuma!


Sesampainya di kantor! Ibra dan Zayn berbincang tentang masalah perusaan dan bukti-bukti baru dari dari salah seorang istrinya.

__ADS_1


"Yang baru! di pending saja dulu, kita fokus dengan masalah yang lama. Kita harus tuntaskan satu satu." Ibra menghela napas dalam-dalam kemudian dihembuskan dengan kasar.


"Oke. Kalau gitu ... saya balik ke ruangan dulu. Oh iya minggu depan, jangan lupa ke Jerman. Semua keperluan sudah saya siapkan, kau tinggal berangkat saja." Zayn mengingatkan.


"Berapa tiket?" tanya Ibra.


"Kau bisa membawa salah satu istrimu."


"Iyalah, tentu! buat apa saya punya istri banyak? kalau tidur sendiri! masa saya harus jajan di luar. Percuma ada istri di rumah." Mendelik kearah Zayn.


"Atau mungkin ... kamu akan mengajak betina liar mu, itu ha ha ha ...."


Ibra menggeleng. Tatapannya lepas keluar jendela.


"Saya tahu, siapa yang akan kau bawa! kalau bukan istri pertama, pasti istri muda yang kau ajak. Iya, kan?" Zayn menyeringai dan melihat Ibra tengah tersenyum di balik tangan yang berada dekat bibirnya.


"Eh, gimana rasanya istri muda mu, itu?" tanya Zayn.


"Maksud kau apa? jangan kurang ajar!" timpal Ibra.


"Ha ha ha ..." lagi-lagi Zayn tertawa sambil melenggang dari tempat tersebut.


Ibra membuka berkas yang menumpuk di meja.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Sayang, masih sibuk ya?" menghampiri Ibra lalu mencondongkan tubuhnya ke depan! mencium pipi kiri dan kanan Ibra.


"Iya, tumben datang?" tanya Ibra heran.


"Mau ngajak pulang bareng! lagian kangen juga," lirih Dian tak segan-segan, duduk di pangkuan Ibra.


"Aduh, sayang jangan gini dong! aku masih banyak kerjaan." Ibra sedikit mendorong tubuh istrinya.


Dian membelai kepala sampai pipi Ibra dengan sangat-sangat lembut. "Emangnya kamu tidak kangen aku sayang?"


"Semalam, kan kita bersama yang ..." Ibra menjauhkan tangan Dian dari pipinya.


"Iya sih, tapi, Kan malam ini giliran Kamu sama Yulia atau Mery. Jadi aku akan kangen kamu," suara manja Dian, melingkarkan tangan di leher Ibra.


"Biarkan aku selesaikan kerjaan ini dulu yang! nanti kita pulang bersama. Oke?" bujuk Ibra. "Kamu istirahat dulu di dalam. Nanti aku panggil."


:

__ADS_1


"Em ... sama kamu istirahatnya," merajuk manja.


"Sayang ...."


"Iya, iya ... aku masuk dulu, istirahat di dalam," dengan malasnya melengos ke dalam kamar.


Ibra menatap punggung Dian, kemudian melanjutkan kerjaannya yang masih banyak.


Hari sudah sore waktu pun menunjukan Pukul 17.00. Ibra menggeliat. "Aah ... sudah sore." Melirik kearah kamar di mana Dian istirahat di dalam.


Ia berdiri menghampiri tempat istirahat. Tampak Dian tengah lelap di tempat tidur. Ibra menutup pintu serta menguncinya.


Langkah Ibra berhenti di tepi tempat tidur. "Sayang bangun! sudah sore, katanya mau pulang bareng?" sedikit menggoyangkan bahu Dian. Namun Dian hanya menggeliat.


Ibra ikut membaringkan tubuhnya! miring memeluk bahu Dian yang masih terpejam. "Yang, bangun ... kita pulang."


"Hem ... masih ngantuk!" membalikkan badan dan memeluk Ibra sangat erat.


Ibra menggigit bahu Dian gemas, membuat Dian menggelinjang. Melotot pada Ibra yang menyeringai puas. "Apa-apaan sih?" memukulkan bantal pada Ibra. Ibra merebut bantal dari tangan Dian, dengan cepat Dian menggelitik pinggang Ibra. Sampai menggeliat geli.


Kemudian Ibra meraih tangan Dian dan memeluk tubuhnya sangat erat sehingga Dian kesusahan melepaskan diri. "Ampun gak? ampun gak!" ucap Ibra mengunci tangan dan tubuh istrinya. Dian.


"Iya, ampun sayang! ampun," ucap Dian menenggelamkan wajahnya di leher Ibra.


"Awas ya menggelitik lagi?"sambung Ibra, bibirnya menulusuri leher jenjang Dian yang mulus. Gaya rambutnya yang simpel, pendek sebahu.


Akhirnya pelukan itu berubah nyaman, terbayang dalam benaknya ibra. Kenangan masa lalu! di mana awal-awal menikah, keduanya mereguk bahagianya dalam berumah tangga. Namun seiring berjalannya waktu, perlahan semua berubah. Apalagi setelah tahu Dian mandul! semua berubah sampai 95% Dian lebih memilih sibuk di luar dan berkali-kali mencarikan dirinya menikah lagi.


Semata-mata untuk mendapatkan momongan, tanpa harus ada perceraian di antara mereka. Namun semua tidak tidak semulus atau sesuai rencana.


Terkadang hati Ibra menangis tak tega membagi cinta pada wanita lain. Hati Ibra menangis bila ingat kenyataan yang dialami Dian. Ibra tahu benar gimana perasaannya Dian selama ini, di balik ikhlas nya itu semua. Menahan rasa kecewa! kecewa? karena tak bisa memberikan keturunan pada dirinya. Terluka? karena harus berbagi suami.


Tangan Ibra membelai rambut pendek Dian dengan lembut. Tangan yang satu lagi mengusap punggungnya.


Dian begitu nyaman dalam pelukan suaminya, rasanya hanya ingin dia saja yang merasakan itu. Tidak perlu ada wanita lain merasakan hangat pelukan dari suaminya. Sakit, sedih, terluka. Kecewa dan entah perasaan apalagi namanya, bila membayangkan suaminya dalam pelukan wanita lain. Atau mencumbu wanita selain dirinya.


"Pulang sekarang? sudah sore," bisik Ibra tanpa melepas pelukan.


Dian malah semakin mengunci pelukannya! rasanya pelukan ini tidak perlu berakhir bila hanya untuk memeluk wanita lain. "Masih kangen!" membenamkan wajah di bahu suaminya.


Ibra mencium kepala Dian berkali-kali. "Hehehe ... kalau lama-lama gini! nanti ada yang bangun nih." Ibra mulai tegang.


Dian mendongak. Menatap netra mata Ibra sangat lekat, mendekatkan bibirnya ke bibir Ibra. Beberapa saat saling bertaut mengecup manisnya, Tangan Ibra pun bergerilya ke mana-mana.


Namun ketika saling menikmati permainannya, dering ponsel Ibra mengganggu. Membuat mereka terkesiap permainan pun terhenti ....


,,,,

__ADS_1


Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan komen ya 🙏 ini untuk penyemangat aku buat nulis.


__ADS_2