Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Ceweknya banyak


__ADS_3

"Apa benar kamu maunya di nikahi sama Irfan?" selidik Zayn tampak serius.


"Emangnya kenapa? itu urusan ku dan hak ku mau menikah dengan siapa juga," jawab Susi sambil membuang wajahnya.


"Kamu tahu kalau tuan Ibra itu ingin kita menikah, tapi kalau maunya kamu sama Irfan terserahlah." Ketus Zayn dengan muka gak bersahabat.


"Susi mau menikah sama siapa aja, itu bukan urusan Tuan Zayn ya? tuan Ibra pun gak ada masalah tuh, kenapa Tuan Zayn yang marah?" Lagi-lagi membuang pandangan ke lain arah.


"Siapa yang marah? saya cuma bertanya, bukan marah. Kalau mau menikah sama orang, aku sih gak ada masalah!" ungkap Zayn. Mengeratkan giginya, kesal dengan sikap Susi yang tak bisa diajak bicara serius.


''Tuan Zayn juga cewek nya banyak, Cantik-cantik lagi. Ngapain mau nikah sama Susi? ih ... sudah bosan sama mereka." Susi menatap tajam.


Zayn menoleh dan membalas tatapan tajam Susi. "Apa maksud mu, siapa yang mau menikah dengan mu, ogah. Cewek garang."


Mata Susi membulat dan giginya mengerat kesal. "Apa aku cewek garang?" sedikit mengangkat kepalanya menantang.


"Iya, garang. Galak, sementara aku sukanya wanita lemah lembut--"


"Siapa juga yang mau sama Tuan Zayn! laki-laki play boy, mainin cewek." Susi gak mau kalah.


"Masih mending, berarti saya laku. Gak seperti kamu yang gak la--"


"Itu murahan, namanya jangan sok laku." Nada bicara Susi makin tinggi.


"Apa? kau bilang sok laku, kau gak laku--"


"Biarin, berarti aku lebih terjaga ketimbang kamu yang nyosor sana sini." Susi memotong perkataan Zayn.


Kemudian keduanya terdiam. Merasa capek dengan ocehannya masing-masing. Sesekali saling curi pandang, buang muka lagi.


"Bereskan meja, cepetan. Kita akan berangkat ke mension," titah Zayn.


Susi berdiri, dan membereskan meja makan. "Jangan ngomong mulu, bantuin napa?"


Akhirnya Zayn memindahkan piring kotor ke wastafel dan mulai mencucinya, yang tadi saling memperlihatkan taringnya. Kali ini sama-sama beberes di dapur.


"Sayang, jagoan Papi. Kita akan berangkat ke mension." Ibra mengajak ngobrol baby Satria yang berada dalam gendongannya.


"Oya, sayang. Nanti malam aku ada meeting, tapi gak lama sih." Ibra menoleh Laras yang membereskan laptop sang suami.


"Ha? dimana meeting nya," tanya Laras. Menatap ke arah Ibra.


"Di Resto xx, kalau mau ikut juga boleh."

__ADS_1


"Kenapa gak di mension atau kantor saja meeting nya?" selidik Laras tambah lekat menatap sang suami.


"Di jadwalkan nya di sana sayang." Jawab Ibra kembali.


"Oh, iya. Semoga lancar aja."


"Hem, yu kita jalan?" ajak Ibra. "Biar barang yang bawa pak Barko. Yu sayang." Menggiring sang istri yang meraih tas kecilnya.


Terlihat Susi dan Zayn sedang menutup semua gorden. Dan saling membantu. Ibra dan Laras tersenyum melihatnya.


"Kelihatan akur sayang," ucap Ibra sambil menggendong baby boy yang terus menggerakkan matanya. Lirik kanan dan kiri.


"Semoga terus akurnya." Belum juga kering bibir Ibra dan Laras.


"Hati-hati dong, tuh gagang sapu kena kepala orang. Bisa-bisanya." gerutu Zayn sambil mengusap kepalanya.


"Maaf, gak sengaja Tuan, lagian ngapain berdiri di sana?" ucap Susi sambil memegangi sapu.


"Ck ck ck." Zayn menggeleng, kembai mengeratkan giginya. "Kan kamu sendiri yang minta saya bantu kamu," pekikan yang tertahan.


"Kan sudah bilang, gak sengaja!" kata Susi kekeh.


Kemudian keduanya menoleh ke arah Ibra dan Laras yang berdiri memperhatikannya. Susi mengangguk hormat. Zayn biasa aja. "Bisa gak kita kelihatan akur gitu?"


"Tuan yang bikin gara-gara."


"Kamu, nih lihat kepala ku benjol. Lihat nih." Zayn ngotot.


"Mana? aku lihat, gitu aja manja." Susi mendekat dan Zayn berjongkok. Tangan Susi meraba kepala Zayn. "Maaf, gak sengaja." Sesal Susi.


Lalu Susi mengambil es batu, dibungkus tisu. Di tempelkan ke benjolan Zayn biar cepat kempes.


Kini Ibra dan Laras di mobil BMW Laras yang di kemudikan Irfan. Bu Rahma dan suami di mobil yang dibawa Barko. Sementara Zayn dan Susi di mobil yang membawa barang baby boy.


"Nggak lama kan, nanti meeting nya?" Laras penasaran.


"Nggak sayang, paling satu jam." Jawab Ibra. Sambil memberi susu DOT pada baby boy yang tampak ngantuk.


"Kenapa sayang?" kalau mau ikut, ikut saja gak pa-pa!"


"Tidak ah, aku cuma bertanya aja." Menempelkan kepalanya di bahu sang suami.


Cuph! bibir Ibra mendarat di pucuk kepala Laras dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Oya, Mas gimana tadi lancar?" tanya Laras pada Irfan.


"Lancar Nona, mereka sangat berterima kasih, Dan ingin sekali bertemu dangan Nona."


"Syukurlah. Kalau lancar, iya nanti kalau ada waktu ke sana." Timpal Laras.


Selang sekian waktu, akhirnya mereka sampai dan memasuki halaman mension yang luas itu.


Pas datang di sambut hangat oleh para pekerja di sana termasuk bu Rika. Menyambut bahagia kedatangan majikannya, bahkan bertambah satu anggota keluarga. Ya itu baby boy. Putra dari Malik Ibrahim dan Larasati.


Putra yang ganteng, tampan. Putih. Lucu, gembul. Anak itu terbangun sebab mendengar suasana yang riuh dan ramai. Akhirnya babi boy jadi seperti bola lemar sana dan sini, pada ingin menggendong baby boy.


Senyum ceria yang terus terbit dari bibir Laras, ketika melihat putranya disambut hangat di mension ini. Terlihat dari wajahnya yang terus senyum mengembang.


Kemudian tangan Laras ditarik oleh Ibra tuk masuk ke lantai dimana kamarnya berada. "Tapi, baby boy!"


"Biar saja, gak akan hilang. Semua menjaga baby boy." Ibra terus mengajak Laras ke kamar pribadinya.


"Kita mau tidur di sini?" mata Laras mengamati kamar pribadi Ibra yang agak lama lumayan lama baru menginjakan kakinya di sini lagi.


"Iya, di sini aja tuh. Box baby nya dah siap." jari Ibra menunjuk box baby yang sudah terpasang dekat tempat tidur king size itu.


"Tapi, kan ini kamar pribadi yang gak boleh terganggu, kamar untuk bersama istri itu kamar istrinya masing-masing," ujar Laras sambil menarik gorden.


"Itukan dulu sayang, dimana aku butuh tempat untuk sendiri. Kalau sekarang gak mau sendiri, pengen terus sama istri ku selalu." Bisik Ibra. Tangannya melingkar di perut Laras dengan posisi memeluk dari belakang.


Menempelkan dagu di pucuk kepala Laras yang menghadap ke arah jendela. "Dulu, itu gak boleh tidur sama istri di sini. Padahal aku beberapa kali tertidur di sini he he he ..." tangan Laras mengeratkan tangan Ibra di perutnya.


"Masih ingat aja sayang," tangan Ibra memutar tubuh Laras agar menghadap padanya. Menaikan wajah Laras yang menunduk dengan jarinya. Ia tatap dengan sangat lekat.


"Kenapa sih, istri aku sering bersikap malu-malu di hadapanku hem? padahal kita bukan pengantin baru lagi. Sudah punya baby." Suara Ibra pelan.


"Nggak tahu nih," gumam Laras sambil mesem, senyum simpul.


Ibra menangkupkan kedua tangan di wajah Laras. Cuph! mendaratkan kecupannya hangat di kening sang istri. "Sayang tunggu di sini, aku akan mengambil baby boy dulu ya?"


Laras mengangguk, dan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur yang jarang di pake ini. Matanya terus mengamati kamar ini yang tak sedikitpun ada yang berubah.


Semua masih seperti yang dulu, di saat ia baru datang menginjakkan kaki di mension untuk pertama kali. Pikiran Laras melayang, mengenang kembali masa-masa itu ....


****


Terima kasih reader ku, semoga kabar kalian ada selalu dalam lindungan yang maha kuasa. Aamiin. Dukung juga novel ku yang ini ya "Bukan Suami Harapan"

__ADS_1


__ADS_2