Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Malam pertama


__ADS_3

Susi menatap majikannya bergantian. Susi ragu untuk menjawab mau atau tidak menikah sama Zayn.


"Kita baiknya makan dulu yu?" ajak pak Marwan. Kemudian mereka memasuki sebuah mobil yang cukup untuk mereka semua.


Setelah sampai di sebuah restoran. Semuanya duduk di kursi yang panjang, makan bersama. Baby boy di gendong sama bu Rahma bergantian dengan Susi.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya makanan pesanan pun datang. Ibra dan Laras makan saling bersuap-suapan, membuat Zayn iri melihatnya.


"Heran, bisa gak sih? gak mengumbar kemesraan di depan mataku!" ucap Zayn sambil memasukan sendok ke mulutnya.


Ibra menoleh ke arah Zayn. "Eeh ... iri aja kau ini? ikutin dong jejak ku ini. Ha ha ha ..."


"Ikutin-ikutin? sama kambing?" Zayn menatap ke arah Ibra.


Gelak tawa Ibra membahana di restoran tersebut. "Oo ... emang ada gitu kambing yang mau sama kamu? ha ha ha ...."


"Abang ... ketawanya gitu amat sih?" tutur Laras mendelik kepada suaminya.


"Lucu sayang ... apa ada gitu kambing yang mau sama Zayn? Susi saja gak mau sama dia." Lagi-lagi Ibra tertawa.


Irfan dan pak Marwan ikut tertawa. Zayn cemberut.


Susi pun menatap tajam ke arah Ibra sang majikan. "Tuan, kok tega sih? bilang gitu sama Tuan Zayn begitu." Susi sakit hati. Mendengar cibiran Ibra pada Zayn seperti itu.


"Kenapa kamu yang marah Sus? kan beneran kalau kamu saja gak mau sama Zayn." Timpal Ibra.


"Siapa bilang? aku mau kok!" tanpa sadar Susi mengucapkan kata itu.


Laras bertepuk tangan seraya berdiri. "Beneran kamu mau sama Zayn? jadi dong nikahnya di Bali."


Semua pandangan tertuju pada Susi. Mereka seakan ingin mendengar sekali lagi jawaban dari Susi.


"Coba sekali lagi Sus? sekali lagi aja. Benar kamu mau menikah sama Zayn?" selidik pak Marwan.


Susi menunduk malu, menjadi sasaran pandangan mata dari yang ada di sana. Namun pada akhirnya Susi mengangguk pelan.


"Alhamdulillah ..." gumam pak Marwan menoleh sang istri yang juga menatapnya.


Zayn jelas hatinya berbunga-bunga bak taman yang di tumbuhi beribu bunga yang bermekaran dan wanginya begitu semerbak.


Tatapannya tertuju pada Susi yang menunduk dalam. Makannya terhenti terlihat sangat kikuk dan serba salah.


"Oke, kita obrolkan hal ini di hotel." Ibra berdiri setelah selesai makan. Mengambil baby Satria dari keretanya.


Laras pun selesai makan lantas berdiri menghampiri sang suami yang sudah mulai berjalan. Sementara yang lain mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Sesampainya di hotel. Mereka memasuki kamarnya masing-masing.


Begitupun Ibra dan Laras memasuki kamar yang begitu mewah dengan segala fasilitasnya. Ibra berdiri di depan jendela kaca besar menikmati pemandangan yang indah itu. Sebuah kamar yang menghadap ke arah pantai, walau gelap terlihat jelas ombak beriringan ke bibir pantai. Langit yang terbentang luas bertaburkan cahaya bintang, bibirnya tak henti tersenyum mengagumi ke indahan alam ini.


Laras yang baru saja menidurkan baby boy, hendak ke kamar mandi mau bersih-bersih badan terasa lengket banget.


"Sayang. Abang Sangat bahagia akhirnya kita bulan madu juga." Ibra memeluk Laras dari belakang dan mengecup pucuk kepalanya.


"Aku mau mandi dulu, Abang juga keringetan tuh." Laras membalikkan badan nya. Berhadapan dengan Ibra.


"Sebentar sayang ... coba lihat debur ombak itu, sangat indah." Menunjuk laut yang terlihat membentang itu.


Bibir Laras tersenyum merekah memandangi keluar jendela besar. Pemandangan yang indah terbentang luas tersebut. Langit berhias bintang yang saling berkedip. Ibra yang masih merangkul pinggang Laras menarik bibirnya tersenyum. Cuph kecupan mesra mendarat di bibir Laras yang sebelumnya ia angkat wajahnya mendongak sempurna.


"Indah bukan sayang? Kita nikmati suasana ini sampai puas." Bisik Ibra. Mendekap erat.


Laras mengangguk dan membalas pelukan sang suami, menenggelamkan wajah di dada bidang sang suami yang kini ia cintai. "Aku mencintai mu." Pelan.


"Abang juga sangat mencintai mu sayang. Namun Cinta ku cuma seujung kuku. Tapi ketika kuku itu di potong, kuku itu akan selalu tumbuh dengan sempurna dan tidak akan ada habisnya.


Di balik pelukannya bibir Laras mengulas senyum bahagianya. Semakin mengeratkan pelukan di tubuh Ibra. "Jangan sakiti aku!"


Ibra menempelkan dagunya ke pucuk kepala Laras. "Siapa yang akan menyakiti mu sayang? Aku gak akan pernah menyakiti mu. Aku akan selalu menyayangi keluarga kecil kita."


"Mandi bareng yu? sudah lama kita tidak pernah mandi bareng. Aku rindu suasana itu." Bisik Ibra tepat ditelinga Laras dan menghembuskan napasnya. Hingga menyapu permukaan kulit Laras.


"Putra kita pasti anteng sayang. Dia sangat pengertian sama Mammy dan papi nya," lagi-lagi Ibra berbisik lembut.


Tanpa aba-aba, Ibra menggendong tubuh sang istri ala bridal style ke kamar mandi dan sengaja tidak menutupnya dengan rapat. Biar kalau baby boy bangun langsung ketahuan.


Ibra langsung membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya sampai polos. Laras hanya bisa memalingkan mukanya ketika melihat ulah sang suami. Ibra pun meminta sang istri untuk segera mengikuti jejaknya yang sudah siap masuk bathtub.


Dengan malu-malu Laras menuruti kehendak sang suami, ia masuk ke dalam bathtub setelah melepas semuanya. Ibra yang menunggu dari tadi langsung menyambut tangan sang istri. Dan waktu ini tentunya tak di sia-siakan oleh Ibra untuk memadu kasih dengan sang istri. Serta melepas kerinduan yang selalu hadir dalam benaknya.


Napas keduanya mulai bergemuruh menandakan gairah mereka mulai naik. Selanjutnya terjadilah pergulatan yang sangat menguras keringat, dari mulai kamar mandi sampai Tempat tidur di jelajahnya penuh kemesraan. Tapi ngomong-ngomong, itu pergulatan mesra apa main kucing-kucingan ya? hi hi hi.


Ke esok harinya, langsung Ibra menyiapkan pernikahan Susi dan Zayn. Di kantor urusan agama setempat, meskipun yang hadir hanya diantara mereka saja. Namun itu cuma mengesahkan saja, nanti resepsi akan di adakan ketika pulang dari Bali, walinya pun melalu sambungan telepon. Dan walau begitu pernikahan Susi dan Zayn begitu terasa sakralnya. Susi yang memakai kebaya putih tampak malu-malu, begitupun Zayn bersikap sok gak butuh gitu.


Selesai ijab kabul. Mereka semuanya makan-makan di restoran mewah. Itung-itung merayakan pernikahan Zayn dan Susi.


"Kami bahagia menjadi saksi pernikahan kalian berdua dan sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga bahagia," tutur Bu Rahma dengan senyuman yang terus terlukis dari wajahnya.


"Aku juga, senang akhirnya kalian bersatu juga. Ingat jangan jadi kucing dan gugug lagi ya? yang akur, saling sayang juga," sambung Laras. Menunjukkan senyumnya pada Susi.


"Sekarang, kamu sudah punya lawan main. Jadi gak usah iri lagi kalau kita sedang romantis. Nikmati saja pasangan mu, jangan pula jajan di luar. Cukup satu di rumah." Ibra menepuk bahu Zayn.

__ADS_1


"Terima kasih Bos dan juga semua yang sudah mendukung ku dan membantu pernikahan ini berjalan lancar?" ungkap Zayn dengan wajah merona bahagia sorot mata pun tampak berbinar.


"Lawan main? apaan tuh! jajan, nikmati. Susi gak ngerti! makanan atau apa sih?" Susi tampak kebingungan.


"Sudahlah. Kalau gak ngerti, diam sajalah." Zayn menoleh Susi istrinya. "Nanti kalau di kamar kau pasti tahu."


"Nak Zayn. Jangan kasar sama istrinya, bicaralah yang lemah lembut," lirih bu Rahma.


"Dia memang kaya gitu sama Susi Mah ... tapi kalau sama wanita lain nggak juga, manis malah." Timpal Ibra diakhiri tertawa kecil.


Pak Marwan mengangguk. "Benar itu Sus. Nanti kalau sudah ngamar berdua pasti kamu mengerti maksud tadi semua. Ha ha ha ...."


Susi mengerucutkan bibirnya sambil menggendong baby boy. "Aku gak mau tidur sama Tuan, ogah."


"Terserah kalau gak mau juga. Tapi bayar sendiri tuh kamar." Balas Zayn.


"Kamar ku, Tuan Ibra yang bayar." Tambah Susi.


"Iya, tapi sebelum kamu jadi istri ku, sekarang kamu sudah jadi istri saya. Jadi saya yang bertanggung jawab terhadap kamu Markonah ... jadi kalau gak mau satu kamar denganku silahkan bayar sendiri. Masa bodoh." Zayn acuh.


"Huuh ... dasar Zaylangkung." gerutu Susi. Lagi-lagi manyun kesal pada Zayn.


"Sudah. Kita pulang ke hotel, istirahat kebetulan perut pun sudah terisi penuh. Tinggal tidur dan besok barulah kita menikmati alam, jalan-jalan," ujar pak Marwan.


Irfan yang sedari tadi diam paling sesekali tersenyum, tak satu patah katapun yang ia keluarkan dari mulutnya. Dia tetap waspada menjaga majikannya.


Mereka pun bubar meninggalkan restoran barusan. Menuju hotel tempatnya menginap, mereka terus berjalan di lorong yang akan menemukannya dengan tempat tidurnya masing-masing.


Zayn mengajak Susi tuk tidur di kamarnya. Namun sebelum itu mengambil barang Susi dari tempat semula, toh mereka sudah sah jadi suami istri jadi apa salah nya tinggal satu kamar? namun setelah masuk kamar, Susi malah masuk kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Zayn membaringkan tubuhnya di sofa sembari menunggu Susi keluar.


Karena Susi tidak keluar juga setelah hampir dua puluh menit. Akhirnya Zayn mendekati pintu dan memanggil Susi. "Sus, sudah belum saya mahu mandi."


"Mandi saja di situ, saya mau tidur di sini saja." Pekiknya dari dalam.


"Apa? mandi di sini, gak ada air Markonah ... yang bener saja." Balas Zayn terus mengetuk pintu kamar mandi.


"Susi gak perduli, nanti kalau Susi keluar di makan Tuan Zaylangkung. Takut," sambung Susi.


"Aish ... Markonah, emangnya kau mau tidur di sana ada bantal, kasur? juga selimut, kan gak ada! Mau kamu kedinginan di sana ha?" Zayn mulai kesal. "Saya mau buang air kecil. Keluarlah."


"Nggak mau. Susi mau di sini saja." Pekik Susi sambil duduk di bathtub kosong.


Matanya mengitari ruang tersebut. "Tapi iya juga sih di sini gak ada yang empuk buat bantal. Kenapa tadi gak bawa bantal saja satu ya? ah bodoh banget aku ini, bawa selimut kek." Gerutunya pelan.


Tangan Zayn meremas rambutnya frustasi. "Dasar Markonah ada-ada saja kelakuannya, masa malam pertama sendiri juga?" Ia mondar mandir mencari akal untuk membujuk Susi yang keras kepala. Zayn senyum-senyum sendiri, rupanya ia mendapatkan ide untuk membujuk Susi ....

__ADS_1


****


Apa kabar reader ku semua? mohon dukungannya pada "Bukan Suami Harapan" masih sepi tuh. Aku pastikan kalian akan menyukainya kok🙏


__ADS_2