
Ibra membuka mata, langsung mendapati wajah Laras yang sangat dekat. Malah bukan cuma itu saja, ada yang bergerak di bibirnya Ibra.
Ketika Laras membuka mata dan menjauh dari wajah Ibra, langsung matanya terbelalak. Melotot sempurna, terkesiap. Ia pikir Ibra belum bangun, ternyata netra mata Ibra tengah menatap ke arahnya.
Laras tersipu malu, mau duduk. Namun tangan Ibra merangkul punggungnya. Laras menumpukan kedua tangan di dada Ibra.
"Mau kemana? lanjutkan, aku suka," suara Berat Ibra, suara yang khas bangun tidur.
Laras menggeleng dan menundukkan pandangannya. Entah kenapa ia merasa malu banget sama Ibra.
"Sekarang, istri aku yang cantik ini ... sudah lebih berani, untuk menyentuh ku." Gumam suara berat Ibra lagi. Jari Tangannya mengelus pipi Laras lembut.
"Em ... a-aku, bangunkan ka-kamu saja!" jawab Laras dengan suara terbata-bata. Ia nampak jadi gugup dan tegang.
"Gimana? mau tanggung jawab sekarang," tanya Ibra dengan ekspresi wajah bantalnya.
"Gak mau, kamu sendiri yang mulai, kenapa aku yang harus tanggung jawab? kan aneh." Jawab Laras sambil menyampingkan duduknya.
Ibra menyunggingkan bibirnya tersenyum. "Tapi, kamu, kan istri aku. Masa aku harus minta sama Susi, gak mungkin kan sayang ...."
Bola mata Laras makin melotot sempurna pada Ibra. "Sudah ah ... bangun mandi sana, bicaranya ngelantur gitu?" mengambil guling dan di peluknya.
"Mandi, sudah tadi. Makanya bisa tidur." Elak Ibra dengan masih dengan suara seraknya.
"Ya, udah. Ambil air wudu, kita salat bareng," sambung Laras.
Kening Ibra mengerut. "Gimana caranya salat bareng?"
"Aduh ... sama-sama sayang, salatnya sama-sama!" lirih Laras.
"Apa sayang? coba satu kali lagi," Ibra memasang telinganya baik-baik kalau tidak salah barusan Laras memanggil dirinya sayang.
"Apa, maksud aku salat sama-sama," ralat Laras seakan tidak menyadari.
"Sayang, bukan cuma itu. Cobalah kau ingat-ingat kembali. Tadi bilang apa?" ucap Ibra merangkul tubuh Laras dari samping dan menempelkan dagu di bahunya.
"Nggak tau tadi aku bilang apa, cuma itu aja, kan?" akunya Laras.
"Nggak ... ada yang lain, tadi." Kata Ibra kembali. Hidungnya menyusuri permukaan leher belakang dan samping, serta kecupan kecil.
"Udah, ah mau mandi dulu," melepaskan diri dari rangkulan suaminya, bergegas ke kamar mandi.
Ibra menghela napas kecewa. "Gagal lagi.
Setelah Selesai salat bareng, tidak lupa mencium punggung tangan Ibra. Kemudian Ibra mencium pucuk kepala Laras, sungguh hati terasa tentram dan damai.
Setelah itu mereka mendatangi meja makan, di sana orang tua Ibra sudah bersiap makan siang. Ibra menggeser kan kursi buat Laras, baru kemudian ia duduk di sampingnya.
"Mau makan sama apa?" tanya Laras sambil mengambil piring.
"Semuanya juga boleh," sahut Ibra, netra matanya melihat semua hidangan yang ada di meja.
"Baiklah," Laras memasukan semua menu ke piring Ibra, dengan tulus.
__ADS_1
"Makasih sayang," gumam Ibra setelah Makan siangnya sudah di depan mata.
"Hem ... masakannya enak-enak loh, Papah jadi nambah nih." Celetuk Marwan sambil minta nambah sama istrinya.
"Nambah aja Pa, masih banyak." Timpal Ibra sambil memasukan makan ke mulutnya.
Laras tersenyum, dengan mulut penuh. Dia memilih makan sama lalapan dan sambal. Sudah lama sekali ia tidak makan lalapan dan sambal.
Sehingga pas makan, begitu lahap dan nikmat. Yang lain sudah selesai, Laras masih saja nambah, sesekali bersuara kepedasan mata pun berkaca-kaca.
"Sayang ... jangan kebanyakan makan pedasnya, nanti sakit perut, kasian juga anak kita kepanasan." cegah Ibra sambil mendekatkan air es ke dekat Laras.
"Hah ... nikmat banget, Abang ... lama sekali aku gak makan kaya gini, masya Allah ... nikmatnya tiada tandingan." Jawab Laras lalu minum.
Ibra menggeleng, suka juga melihat Laras makan banyak, tapi ngeri juga melihat makan sambelnya. Takut ke napa-napa.
"Sayang, kata orang tua, kalau habis makan pedas. perutnya di basuh air, udelnya. Biar janinnya kuat." Bu Rahma menambahkan petuah yang pernah ia dengar.
"Oya, gitu ya mah?" tanya Laras meliriknya ibu mertua.
Selesai makan, Laras mencuci tangan dengan bersih. Lalu membasuh perutnya, seperti yang ibu mertua bilang.
"Ibra, Papah sama mamah, mau ke tempat saudara sebentar. Pinjem mobil Laras ya? sore juga balik ke sini," ujar Marwan pada Ibra yang mengamati istrinya.
"Iya, Pa. Bawa saja." Jawab Ibra menoleh ke arah sang ayah.
"Alhamdulillah ... nikmat sekali, masya Allah," gumamnya Laras sambil mendudukkan tubuhnya di kursi semula.
Ibra mengelus tangan Laras. dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. "Aku suka, melihat kamu makannya banyak."
"Kan, di obat dari dokter juga ada penambah nafsu makannya juga." Timpal Ibra. terus mengelus punggung tangan Laras.
"Iya kali, hoaam ... ngantuk." tambah Laras. Membereskan piring kotor.
"Biar Susi saja Nyonya, anda istirahat saja." Susi mengambil alih yang Laras kerjakan.
"Bobo sana?" titah Ibra menunjuk kamar dengan dagunya.
Pak Marwan dan istri pamit untuk keluar dan membawa mobil Laras. "Sayang, kami pergi dulu ya, pinjem mobilnya." Kata bu Rahma dan Marwan mengangguk.
"Iya, Ma, Pa. Hati-hati," sahut Laras dan Ibra bergantian.
Mereka pun pergi. Berjalan bergandengan tangan, Ibra mengantar sampai ke teras sembari memberikan kunci mobil Laras.
"Hati-hati Pa, Ma." pesan Ibra sebelum Marwan melajukan mobilnya.
Setelah, ayah dan ibunya hilang dari pandangan. Ibra memutar badan melangkah masuk kembali ke dalam rumah, matanya tidak mendapati sang istri di tempat semula. Di sana hanya ada Susi seorang.
"Istri saya mana Sus?" tanya Ibra, mengambil segelas air putih dispenser, kemudian diminumnya.
"Ke kamar, Tuan. Katanya mau tidur, ngantuk." Jawab Susi yang menoleh sebentar ketika sedang sibuk mencuci piring.
Ibra membawa sisa minumnya ke kamar. Diletakkan di atas meja dekat tempat tidur.
__ADS_1
Di kamar, Laras sudah meringkuk di bawah selimut tebalnya. Mata sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka, saking ngantuk nya.
Ibra naik dan masuk ke dalam selimut Laras, cuph! mengecup kening sang istri yang tak memberi respon sedikitpun. "Hem ... pulas banget bobo nya sayang." Netra mata Ibra menatap wajah cantik itu.
Beberapa saat kemudian. senyum Ibra mengembang, otak nakalnya muncul begitu saja. Perlahan tangannya membuka kancing depan Laras, sesaat Ibra hentikan itu sebab Laras menggeliat kecil. Namun tetap terpejam dan bergumam. "Hem."
Setelah dirasa aman, Ibra melanjutkan lagi. aktifitas nakalnya itu. dengan sangat lembut dan lembut, Ibra memainkan sesuatu yang sangat ia paporitkan, meremas squishy kembar milik Laras. Ia tidak bisa tidur, sebab belum lama ini ia tidur siang.
Akhirnya Ibra puas juga memainkan squishy Laras. Ibra bangun dan mengambil laptop ia buka dan mulai sibuk dengan layar laptop miliknya. Namun beberapa saat kemudian, Ada seseorang telepon, Ibra pun berbincang untuk sesaat. Dan akhirnya Ibra menutup laptop. Menyimpan di tempat semula.
Netra mata Ibra bergerak melihat ke arah Laras yang begitu pulas. Ibra terburu keluar deri kamar tidak lupa menutup kembali.
"Sus, kalau Nyonya bertanya tentang saya, bilang saya keluar, ada urusan sebentar. Nyonya masih tidur pulas. Jadi ... dia tidak tahu saya keluar," ucap Ibra ketika berpapasan dengan Susi.
"Oh, baik Tuan. Nanti Susi sampaikan." Susi mengangguk hormat.
"Oke."
Ibra bergegas memasuki mobilnya yang terparkir di depan rumah Laras. Segera ia melajukan dengan kecepatan sedang, meluncur meninggalkan rumah kediaman Laras.
Bakda ashar, dan suara adzan pun masih terdengar sayup-sayup mengalun indah. Laras terbangun, menggeliat nikmat dan menyibakkan selimut, menguncir rambut. Bergegas turun menapaki lantai, menuju kamar mandi.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Laras sudah berada di luar kamar mandi. Mengambil alat salatnya lalu menunaikan kewajibannya.
Setelahnya, Laras keluar kamar. Dengan tujuan pertama, mencari keberadaan Ibra yang tidak nampak semenjak ia bangun dari tidur.
"Sus ... lihat Taun di mana?" tanya Laras, setelah bertemu dengan Susi yang sibuk di dapur.
"Oh, tuan ... tadi keluar, katanya ada urusan sebentar. Tadi dia pesan seperti itu. Nyonya." Jelas Susi, menatap majikannya itu.
Laras merasa lesu. Mendengar Ibra pergi tanpa bilang atau pamit terlebih dahulu padanya.
Laras menjatuhkan tubuhnya di sofa, kenapa Ibra tidak pamit dulu. Dia pergi disaat ia sedang tidur.
"Tadi, anda sangat pulas, tuan tidak tega kali membangunkan anda Nyonya." Tambah Susi kembali.
"Iya, Sus ... gak pa-pa," gumamnya Laras sambil bengong. Hatinya gusar, kesal. Marah. Kecewa, berbaur menjadi satu.
"Kok, anda nampak sedih Nyonya? tuan akan segera kembali kok, itu yang ia bilang sama Saya." Susi meyakinkan.
"Nggak ah, siapa yang sedih? biasa saja kok, lagian sudah tidak aneh, kan ... kalau tuan tidak berada di sini?" elak Laras sembari tersenyum samar.
Susi bengong, justru di matanya, Laras nampak sedih. "Oya, buat makan malam, Nyonya mau di masakin apa?"
Laras terdiam, mengingat sisa makan siang pun masih banyak. Kalau di tambah lagi? mendingan kalau orang-orang balik lagi dan makan malam di sini. Seandainya enggak, kan mubazir masakannya.
"Em ... jangan dulu masak deh Sus, kalau mereka gak makan di rumah gimana? masakannya akan mubazir, kan sayang." ucap Laras mencegah Susi untuk masak lagi.
"Oke, aku nurut saja." Susi mengangguk. Dan melanjutkan tugasnya yang kebetulan hendak mengangkat pakaian kering.
Laras masih termenung di sofa. Tiba-tiba suara mobil masuk ke halaman ....
****
__ADS_1
Reader ku, jangan bosan ya? kalau aku up terus, makasih aja bagi yang tetap setia menunggu.