
Mobil sudah terparkir manis di depan gerbang kediaman Jodi. Dan akhirnya scurity membukakan pintu pagar, menyuruhnya masuk.
Beberapa pasang mata itu menatap bangunan rumah mewah tersebut. Dengan pemikirannya masing-masing.
Masih lekat di ingatan Irfan, ketika ia menyusup memata-matai Dian waktu itu. Saat Dian mabuk dan menggoda Jodi kala itu.
Tampak pintu terbuka dan pria paruh baya yang berada di dalam kursi roda didorong ke teras, oleh seorang wanita muda yang memakai pakaian perawat. Wajahnya mengguratkan kebahagiaan. Dengan senyuman ramahnya menyambut kedatangan sang keponakan.
Ibra dan Laras turun, tangan Laras memeluk tangan Ibra. Berjalan menghampiri paman Mulyadi.
Assalamu'alaikum, Paman apa kabar?" Laras langsung mencium punggung tangan sang paman.
"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah baik. Gimana sebaliknya kabar kalian?" tanya balik pak Mulyadi ketika sudah berjabat tangan dengan Ibra.
Setelah saling berjabat tangan, pak Mulyadi mengajak Laras dan suami masuk. Duduk di ruang tamu. Jadi muncul dan duduk bergabung berbincang bersama.
Laras beranjak ingin jalan-jalan melihat-lihat keadaan rumah tersebut. Bertemu dengan Caca yang baru dari kamarnya.
"Mbak Caca perawat paman ya?" tegur Laras, tidak di kenalkan pun Laras sudah tahu wanita muda yang memakai pakaian perawat ini bernama Caca.
"I-iya, benar. Nyonya benar. Baru berapa hari di sini," balas Caca dengan sangat ramahnya.
Laras mengangguk. "Panggil aja aku Laras. Ponakan paman, aku juga baru main ke sini. Jadi belum tahu seluk beluk rumah ini."
"Oh, keponakan Tuan Mulyadi. Wah Mbak Laras cantik sekali." Puji Caca yang mengagumi kecantikan Laras yang tadinya ia kira siapa gitu.
"Ah, bisa aja. Mbak Caca juga masya Allah cantik sekali." Netra mata Laras mengamati Caca dari atas sampai bawah. Sangat cantik, manis.
"Aduh, jadi malu. Memuji malah kena puji, mana pujian yang tidak sesuai faktanya. He he he ..." ucap Caca sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ha ha ha ... Caca lucu juga ya?" Laras merasa baru kenal saja dengan Caca sudah merasa akrab. Berasa sudah lama bertemu.
"Oya, hamil berapa bulan? sudah nampak besar nih?" tangannya tak segan untuk menyentuh perut Laras.
"Oh, bulan ke 9 Mbak." Laras tersenyum.
"Wah ... bentar lagi keluar ya, lahiran. Semoga lancar, selamat juga ibu dan anaknya."
"Aamiin ya Allah ... makasih." Laras menunjukan senyum di bibirnya.
Laras berjalan-jalan melihat semua sudut rumah Jodi. Sampai terdengarnya sayup-sayup suara adzan magrib. Memanggil umat muslim untuk menunaikan kewajibannya.
Laras dan yang lain menunaikan dulu salat magrib, Laras dan Ibra di tempatkan di sebuah kamar yang lumayan mewah. Selepas salat, Ibra duduk di tepi tempat tidur.
Ibra menatap sang istri dengan intens. Laras masih melipat alat salatnya di bawah. "Sayang, gimana masih suka mulas perutnya?"
Laras menoleh ke arah Ibra. "Masih dan rasanya makin sering, tapi gak terlalu sakit sih," sahutnya Laras dengan nada sangat serius.
Kaki Ibra melangkah menghampiri sang istri dan membantunya berdiri. "Yakin gak mau ke rumah sakit sekarang?"
Netra mata Laras menatap kedua mata Ibra. "Nggak, nanti aja." Keduanya saling tatap. Kemudian tangan Ibra merengkuh bahu sang istri ke dalam pelukannya.
"Nanti cepat ngomong ya? kalau mau ke rumah sakit," lirihnya Ibra. Makin gak berani jauh-jauh dari Laras. Takut mendadak minta ke rumah sakit.
Kepala Laras mengangguk pelan. sambil sedikit meringis menahan sakit. Ibra mengusap-ngusap bokong sang istri.
Ibra gak tega melihatnya. "Gimana nanti kalau melahirkan? aku gak tega sayang." Cuph. Mengecup puncak kepala sang istri dengan mesra.
"Kita turun yu? gak enak sama tuan rumah kalau lama-lama di sini." Perlahan Laras melepaskan diri dari pelukan sang suami. merapikan dirinya yang agak berantakan.
Ibra mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu, ia baru sadar kalau kamar ini yang ada di video itu. Dimana Dian menggoda Jodi, bibirnya tersenyum tipis.
"Ayo, sayang?" ajak Ibra mengarahkan pandangan pada Laras dan mendekati sang istri yang berdiri di depan cermin.
Mata Laras tertuju ke Ibra lewat pantulan wajahnya di cermin. Bibinya mengukir sebuah senyum yang indah.
Ibra memeluknya dari belakang. "Sudah selesai belum bidadari ku ini hem?"
"Iya-iya ... ini juga sudah kok." Sedikit merapikan kerudungnya yang agak miring.
"Istri ku cantik banget." Gumamnya Ibra dengan bibir tertarik sempurna.
Tangan Ibra menuntun tangan Laras, keluar dari kamar tersebut. Menuruni anak tangga, di ruang keluarga pak Mulyadi sudah tampak bersama perawatnya. Sementara di meja makan, para asisten tengah menyiapkan untuk makan malam.
Ibra dan Laras duduk bersebrangan dengan pak Mulyadi dan Caca. Sedangkan Jodi belum nampak di sana.
"Paman. Apa Paman tahu di mana paman Rustam tinggal?" selidik Laras tentang Rustam pamannya.
__ADS_1
"Kurang tahu La ... dia itu suka pindah-pindah susah di urus. Apalagi Paman tinggal di Semarang, dia sering berada di kota besar," ujar pak Mulyadi sambil menggeleng.
"Oh, aku juga gak pernah tahu dia tinggal di mana, Paman. Terakhir ketemu hampir setahun lalu. Sampai sekarang gak belum ketemu lagi," sambung Laras.
"Sama, La ... paman juga lama belum ketemu lagi." Pak Mulyadi menghela napas dalam-dalam.
Jodi datang dengan penampilan yang segar dan rapi. "Ngobrolin apa nih? aku gak di ajak-ajak nih."
"Ini soal paman mu Rustam. Entah tinggal di mana dia." Pak Mulyadi menoleh sang putra.
Sementara itu, ada sepasang mata yang mengawasi orang-orang yang berada di ruang tengah tersebut.
"Caca, sudah berkeluarga?" tanya Laras mengalihkan pandangan pada sang perawat paman nya itu.
"Oh, belum Mbak Laras." Caca mengangguk.
Semua mata mengarah memandang nya. Seorang wanita cantik dan anggun itu. Namun Jodi segera menundukkan pandangannya.
"Oh, masih singel ya?" tambah Laras sambil mengulum senyumnya.
"Kenapa sayang?" tanya Ibra namun suaranya pelan.
"Nggak ... cuma nanya aja," balas Laras.
"Hem ..." netra mata Ibra sekilas melihat penampilan Caca. Kemudian matanya mengarah ke Jodi bergantian. Diam-diam Ibra tersenyum.
"Makan malam sudah siap Tuan." suara Mbok Darmi dari arah meja makan.
"Yo, kita makan. Sudah lapar nih." Jodi bangkit dan mendorong kursi sang ayah. Caca mengekor dari belakang.
Ibra pun berdiri, menarik tangan sang istri. "Pelan-pelan sayang."
Setelah semua sudah duduk memutari meja makan. Seperti biasa, sebelum mengambil untuknya sendiri. Laras menyiapkan buat sang suami lebih dulu.
Kemudian baru untuknya. Yang lain diambilkan oleh mbok Darmi termasuk Caca.
"Bismillah ... kita makan." Gumam pak Mulyadi.
Semuanya pun memulai makan malam dengan teratur. Di selang dengan obrolan ringan termasuk tentang kerjaan. Dan pak Mulyadi meminta Laras menginap di sana.
Namun dengan halus Laras menolak dengan alasan nanti-nanti aja. Kalau sudah lahiran biar lebih ramai katanya.
"Lah, kamu nginep juga. Di sini luas ada beberapa kamar yang masih kosong," timpal pak Mulyadi.
"Ini tidak seberapa Yah ... bila di bandingkan mension miliknya Ibra yang serba wah dan besar juga luas--"
"Oya?" pak Mulyadi melirik sang putra.
"Iya, yah. Aku sih belum masuk tapi dari luar aja sudah ketahuan dalamnya gimana? kalau Yah lihat pasti terkagum-kagum deh," sambung Jodi meyakinkan.
"Ah, biasa aja." Akunya Ibra sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Terus kenapa kalian gak tinggal di mension? siapa yang tinggal di sana? orang tua mu juga tinggal di rumah kemarin kan?" cecar pak Mulyadi. Menatap ke arah Ibra dan Laras.
"Bukannya aku gak mau menempatkan istriku di sana, tapi Laras yang keras kepala Om. Gak mau tinggal lagi di sana, lebih memilih tinggal di rumah yang sekarang, kalau papa sama mama. Jelas dia akan tinggal dimana sang mantu berada. Apalagi dalam keadaan hamil begini. Biasanya juga papa sama mama tinggal di luar Negeri," ujar Ibra menjelaskan.
"Kan, gak betah Abang ..." ucap Laras menoleh sang suami.
"Oh. Gitu ... kenapa gak mau?" tanya pak Mulyadi, matanya mengarah ke Laras yang sedang makan.
Laras mengangkat wajahnya. "Nggak tau, gak betah aja Paman," akunya Laras. "Lebih nyaman aja di rumah yang sekarang."
"Oh ... ya cari nyamannya aja lah. Dimana pun yang penting nyaman," timpal pak Mulyadi.
"Nah ... itu Paman benar. Dimana pun tinggal yang penting nyaman." Laras menoleh sang suami dengan menaik turunkan alisnya.
Ibra tersenyum ke arah sang istri dan mengusap pipinya sekilas.
"Mungkin mension nya, menyimpan kenangan yang kurang mengenakan kali." Celetuk Jodi.
"Nggak juga!" timpal Laras, menatap Jodi yang ia anggap sok tahu.
Manik mata Ibra menatap tajam pada Jodi. Namun ucapan Laras mengurangi rasa kesalnya.
"Sorry, sok tahu." Ralat Jodi tanpa mengangkat kepalanya itu dan fokus dengan makannya.
"Paman sih dukung aja, maunya Lala di mana? yang penting nyaman. Seandainya betah di sini, silahkan. Toh di sini rumah keluarga mu juga, mau di Semarang. Boleh juga, bagi Paman yang penting kamu bahagia La ...."
__ADS_1
"Iya, Paman." Laras mengangguk.
Acara makan pun selesai, mereka semua kembali ke ruang tengah kembali.
Jodi, pak Mulyadi. Laras dan Ibra meneruskan perbincangan di ruangan itu. Sebuah obrolan yang di harap semakin merekatkan tali ke keluargaan mereka.
"Assalamu'alaikum ... aku datang ..." suara Dian yang tiba-tiba muncul di temat tersebut, membawa sebuah paper bag di tangan.
Semua terkejut melihat kedatangan Dian yang secara tiba-tiba. Namun tak lupa menjawab salam dari Dian.
"Wa'alaikumus salam." Dengan serempak.
Dian pribadi sangat terkejut melihat Ibra dan istrinya berada di tempat Jodi. Ibra sih gak terkejut lagi melihat Dian di rumah Jodi. Sementara waktu netra mata Dian bertemu dengan netra mata Ibra. Mereka saling tatap.
"Kenapa Dian ke sini?" batin Laras sambil mengalihkan pandangannya ke lain arah. Pada tangannya yang Ibra pegang dengan erat.
"Maaf, aku ganggu acara kalian ya?" tanya Dian sedikit kikuk.
"Ah, biasa aja, duduk Nak Dian?" pak Mulyadi begitu menyambut ramah kedatangan Dian.
Jodi mengangguk dan menunjuk sofa yang yang kosong.
"Apa kabar Om? maaf bila aku datang malam-malam," ucap Dian yang menghampiri pak Mulyadi. "Oya. Aku bawakan sesuatu buat Om."
"Om, baik alhamdulillah. Wah ... jangan repot-repot Nak Dian." Mulyadi mengambil paper bag yang Dian berikan.
"Kenapa gak bilang kalau mau datang?" tanya Jodi ketika Dian sudah duduk di sofa yang ia tunjuk tadi.
"Em ... aku kebetulan aja, habis dari Mall mampir ke sini dulu," akunya Dian.
"Kak Dian sehat?" sapa Laras menatap ke arah Dian.
"Sehat ... seperti yang kamu lihat. wah ... perut mu makin buncit aja ya? pasti kalian sudah gak sabar menunggunya kan?" jelas Dian.
"Iya, itu benar sekali!" timpal Ibra, akhirnya membuka suaranya.
Dian menaikan alisnya. "Ngomong-ngomong kalian sedang apa di sini? urusan kerja kah? bisnis atau--"
"Pertemuan keluarga aja." Jodi menyela ucapan Dian.
"Pertemuan keluarga, maksudnya?" Mata Dian seolah melihat satu/satu orang yang berada di situ.
"Laras ini sepupu saya."
"Apa? dia sepupu kamu Jodi?" tanya Dian seakan tidak percaya dengan jawaban dari mulut Jodi.
"Itu benar, Laras ini ponakan Om. Sepupu Jodi." Pak Mulyadi menambahkan ungkapan dari Jodi, putranya.
Dian menjadi tertegun. Ia tak menyangka sama sekali kalau mereka sepupuan, padahal dulu Ia sering cerita tetang madunya yang satu ini pada Jodi. Dan ternyata mereka punya ikatan darah, kepalanya sedikit menggeleng tak percaya.
"Kok aku baru dengar sekarang, kalau kalian sepupu? dulu aku gak dengar itu. Kemana kalian? ketika Laras menikah dengan Ibra, tidak ada satupun yang aku kenal waktu. Atau yang mengaku sebagai keluarganya. Apa ... karena dia sudah terkenal? sehingga banyak yang mengaku saudara?" cecar Dian tanpa di tutupi. Sebab memang benar, ketika ia menikahkan Laras dengan mantan suaminya itu tidak satupun ada orang yang mengaku om nya atau sepupunya.
"Ini bukan main-main. Kami baru tahu itu belum lama ini, Ayah sudah dari dulu mencari keberadaan Laras. Namun baru ketemu," tambah Jodi.
Dian menatap Jodi penuh arti. "Oya. Malang amat nasib mu Laras, punya saudara kaya raya gini. Harus tinggal di panti tanpa ada yang perhatikan dulunya ya?" jelas Dian menoleh ke arah Laras yang menunduk. Tangannya di genggam erat oleh tangan Ibra.
Laras tak sedikitpun ada niat untuk menjawab sindiran Dian padanya. Biar saja, pikirnya.
Sementara Ibra bersiap untuk mengeluarkan suara, jika Dian kembali menyenggol tentang Laras. Ia menunggu ocehan selanjutnya.
"Itu, tidak di sengaja Nak Dian, Om sudah berusaha mencari dia. Tapi takdir berkata lain waktu itu. Sehingga sulit untuk di temui. Namun Alhamdulillah ... sekarang kami sudah bertemu dan menjadi lebih dekat." Kenang pak Mulyadi. Diakhiri dengan rasa syukur yang teramat.
"Oh, ceritanya mungkin anak yang terbuang ya?" sedikit menyunggingkan senyuman.
"Walau hidup di panti, justru membuat dirinya lebih dewasa, lebih mandiri kali." Timpal Ibra menatap tajam ke arah Dian.
"Eh, jangan marah loh ... sebab ini adalah kenyataan." Balas Dian tak kalah tajam pandangannya menatap Ibra.
"Siapa yang marah? saya juga cuma mengatakan hal yang benar kok!" ungkap Ibra yang tangannya di pegang Laras. Dia tak ingin terjadi percekcokan.
Namun pegangan tangan Laras berubah menjadi cengkraman yang hebat. Ia merasakan kontraksi yang cukup kuat, keringat dingin pun keluar dari sekujur tubuhnya. Membuat Ibra jadi panik. "Sayang?"
Kepala Laras menyusup ke dada sang suami. "Sakit ..." pekik Laras tertahan.
Pun yang lain tentunya ikut panik. "Laras kenapa, apa mau melahirkan?" pertanyaan yang berbarengan.
Ibra semakin panik. "Kita ke rumah sakit sekarang ya sayang?" Langsung berdiri menjauhkan tubuh sang istri yang tampak pucat. Dan Ibra menggendongnya dengan cepat. Tangan Laras melingkar ke leher Ibra sangat kuat ....
__ADS_1
****
Reader ku yang aku sayangi. Tolong kritik akunya? bila ada tulisan yang typo nya berantakan. Tulisan yang kacau. Agar segera perbaiki tulisan ku ini.