Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Talak satu


__ADS_3

Dengan tatapan tajam. Ibra membungkuk mengangkat kedua bahu Dian, agar berdiri. "Bangun."


Dian mengusap air mata yang membasahi pipi dengan kasar. Kemudian berdiri dan berjalan, sebelumnya menyambar tas miliknya. Diikuti oleh Ibra dari belakang membawa koper.


Selama perjalanan pulang, tak satupun ada yang membuka suaranya. Cuma perasaan yang bergemuruh tak tentu rasa, terkadang, sesekali Dian mengusap pipinya yang basah. Kalut, kacau. Sedih, terluka. Semua bercampur menjadi satu.


Ibra fokus nyetir, dengan perasaan yang campur aduk pula. Pikiran yang kalut. Bingung dengan jalan yang akan di tempuh ke depannya, rumah tangganya dengan Dian yang sedang di hujung tanduk.


Tidak lama di jalan, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Mobil pun memasuki pekarangan mension, keduanya keluar dan memasuki mension.


"Selamat datang Nyonya Dian?" sapa bu Rika sambil membungkuk hormat.


Dian tidak menjawab, melainkan terus berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Ibra pun mengikuti langkah Dian yang sedikit tergesa-gesa.


Kini keduanya sudah berada di dalam kamar Dian yang super mewah itu, Ibra duduk di sofa dengan merentangkan tangan. Sementara Dian duduk di tepi tempat tidur, keduanya saling terpaku tanpa suara.


Pikiran Ibra berputar, berpikir gimana memulai pembicaraan dengan Dian. "Saya ... sudah buat keputusan." Akhirnya Ibra memulai membuka suara juga.


Dian mendongak, dan menatap lekat ke arah Ibra. "Aku minta maaf, aku khilaf," ucap Dian lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Aku gak akan bahas itu, aku ingin mulai sekarang. Kamu mulai hidup baru, rubah dirimu agar menjadi orang yang lebih baik. Kamu mau tinggal di sini silakan, atau mau di bunga low yang di jalan xx boleh, terserah kamu mau di mana? yang jelas--"


"Maksud kamu apa sayang? aku gak mengerti," tanya Dian menatap penuh rasa penasaran.


Ibra sekilas membalas tatapan sang istri. Kemudian mengalihkan pandangan ke lain arah. "Aku jatuhkan talak 1 padamu, tolong hargai keputusan ku ini." Jelas Ibra sejelas-jelasnya.


Telinga Dian bagaikan mendengar guntur di siang bolong, sangat menegangkan. Hatinya hancur luluh lantah, ketika ucapan talak terucap dari bibir Ibra. Tak pernah terbayangkan kalau dirinya akan menerima ucapan cerai dari Ibra, padahal sebelumnya ia begitu percaya diri. Kalau Ibra sangat mencintainya dan tak mungkin menceraikannya.


Dian mendekat dan duduk di sofa yang sama dengan Ibra. "Katakan? kalau aku salah dengar. Kamu gak serius kan? katakan, kalau kamu cuma bercanda?" suara Dian begitu lirih. Dengan susah payah ia menelan saliva nya. Tangannya memegang tangan Ibra yang berusaha Ibra tepis.


"Kata-kata itu tak bisa dibuat bercanda. Aku serius dan aku sadar mengucapkan itu," tegas Ibra.


"Kau, tega. A-apa kamu lupa? du-dulu aku wanita satu-satunya yang kamu cinta, kenapa sekarang berubah?" suara Dian dengan terbata-bata.


"Aku tidak lupa, dan sampai sekarang. Aku masih cinta sama kamu, bukankah kamu selalu menuntut ku adil? ini bentuk dari rasa adil ku terhadap kamu, aku gak mau dengar alasan apapun lagi. Maafkan aku atas segala kekurangan ku selama ini yang menjadikan mu seperti ini juga. Maaf." Suara Ibra pelan seolah tersekat di tenggorokan.


Tangis pun Dian pecah, dia tak bisa berkata-kata lagi selain meratapi nasib. Penyesalannya seakan tiada guna, kata maaf pun tak mampu merubah keputusan Ibra. Dian tahu kalau kata talak tak bisa dipermainkan.


Ibra menatap Dian yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar hebat, tangisnya semakin kuat. Bukan hati Ibra sudah membatu atau tak terenyuh sedikitpun, namun ini tetap harus ia tempuh untuk menyadarkan Dian agar menjadi orang yang lebih baik lagi. Itu harapan dari Ibra.


"Kamu lupa akan pengorbanan ku, kamu sadar! kini kamu bahagia dengan Laras karena aku juga, sekarang kamu tendang aku hanya karena satu kesalahan," teriak Dian sambil terisak.


"Bukan cuma satu kesalahan, Dian. Tapi ... apa kau juga lupa bahwa kamu pernah mendatangi kediaman Jodi. Dan kamu seolah minta di layani, sangat menjijikan. Untung waktu itu Jodi menolak. Apa kau lupa itu?" ujar Ibra, sebenarnya ia tak ingin membahas itu. Namun terpaksa ia ungkapkan agar Dian sadar.


Dian bengong, hatinya bertanya-tanya. Dari mana Ibra tahu, gak mungkin juga Jodi bercerita. Sambil mengusap air matanya kasar. "Itu tidak benar," elak Dian.


"Apa yang tidak benar? waktu itu aku kirim orang juga untuk memata-matai dirimu. Masih bisa menyangkal?" sambung Ibra.


Dian terdiam sejenak. Mengingat waktu itu, yang ia anggap tak sengaja. Karena di bawah minuman. "Kamu tau, itu gara-gara kamu yang selalu lebih perhatian sama si wanita itu? makanya aku seperti ini," bela Dian lagi.


"Kamu juga tahu, kalau Laras tengah hamil. Dan tentunya memerlukan perhatian yang lebih. Kenapa kamu gak mengerti? kamu yang pertemukan kami dan kamu yang menikahkan juga kami. Kenapa kamu juga yang egois? seharusnya kamu juga mendukung itu, ingat baik-baik Dian. Aku gak pernah mencari wanita lain ataupun kepikiran menikah lagi, itu semua atas pemintaan mu Dian--"


"Iya, tapi kenyataannya kamu menikmati juga, kan?" sergah Dian sambil berdiri mondar mandir dan menunjuk ke wajah Ibra.


"Aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai suami. Dan itu mau kamu, pada kenyataannya. Yulia dan Mery malah menolak hamil, sebagai orang yang membawa mereka berdua. Kamu tak bisa bertindak apa pun," ungkap Ibra seraya menggeleng pelan.

__ADS_1


Dian duduk kembali di sisi Ibra dengan posisi sedikit menghadap ke arah Ibra. Ia menangkupkan tangan di depan dagu, seolah memohon. "Aku mohon, maafkan aku! dan ruju--"


"Sudah aku maafkan, tapi untuk rujuk. Apalagi saat ini, aku gak bisa." Ibra menunduk. Sesungguhnya hati Ibra pun hancur saat ini.


Manik mata Dian sedikit berbinar. "Jadi, artinya masih ada harapan buat aku untuk kembali?" tanya Dian sambil menatap lekat.


Ibra menggeleng. "Aku tidak tahu."


Hati Dian mencelos kembali. Namun ada keyakinan dan harapan, kalau-kalau satu hari nanti Ibra akan kembali padanya. Lagi pula ... talak yang Ibra jatuhkan cuma satu. Dan besar kemungkinan mereka bisa rujuk kembali.


"Aku akan bicarakan ini pada mama dan papa mu, tentang hal ini," ungkap Ibra melanjutkan pembicaraannya.


Dian terdiam sesaat. Kemudian ia menghela napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan dangan sangat panjang. "Baiklah. Aku terima keputusan mu, sebab aku yakin kamu akan kembali padaku." Dengan senyum getirnya.


Ibra tak menjawab. Ia hanya merapikan jas nya dan hendak pergi. Kepalanya mumet kalau terus berada di situ.


"Ada satu permintaan ku saat ini," lirihnya Dian, netra matanya menatap penuh harap.


"Apa?"


"Aku ingin memelukmu, sebentar ... aja. Anggap saja sebagai pelukan terkhir," pinta Dian sambil merengek kecil.


Tanpa pikir panjang, Ibra mengiyakan permintaan Dian itu. Ibra berdiri seraya mengangguk


Dian tersenyum. "Makasih?" ucap Dian, ia pun berdiri dan mendekat pada Ibra.


Dian langsung memeluk Ibra dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Ibra, air mata pun jatuh kembali. Dengan suara seraknya Dian berkata. "Aku minta maaf, bila selama ini aku tidak menjadi istri yang baik untuk mu. Aku selalu lalai, tidak menurut dengan kata-kata mu. Aku yang egois yang selalu maunya menang sendiri. Tapi ... percayalah, cinta ku hanya untuk mu seorang. Tak ada yang berubah sedikitpun." Lirihnya lagi.


Mulanya Ibra diam saja, namun pada akhirnya tangan Ibra mengusap punggung Dian dengan sangat lembut.


Dian mendongak. Kedua tangannya membelai rahang Ibra yang sedikit berbulu itu. Tatapan merekapun bertemu sesaat. "Boleh, aku mencium mu yang terakhir kalinya?" dengan tatapan mata yang begitu lekat.


Dian kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Ibra yang ia anggap tidak ada penolakan itu. Lama mendarat di sana, sementara jemari lentiknya membuka kancing kemeja Ibra satu demi satu.


Ibra yang sudah membaca ke mana arah tujuan Dian. Namun untuk sementara waktu ia diamkan dulu. Sampai benar-benar ketahuan arahnya.


Blak!


Dada Ibra Dian dorong hingga terduduk di sofa. Langsung Dian duduk di pahanya Ibra dan tangannya mengusap sesuatu yang ia harap bisa segera bangun. Namun apa yang dipikirkan Dian tidak sesuai kenyataan.


Kenyataannya, Ibra menggelinjang bangun dan mendorong Dian kasar. "Lapas. Kita bukan suami istri lagi, sadar itu Dian?"


"Kamu jahat, kamu mendorongku," teriak Dian yang memang terduduk di lantai akibat dorongan tangan Ibra barusan.


"Kita bukan pasangan suami istri lagi, jadi jangan macam-macam lagi," ucap Ibra menatap tajam ke arah Dian yang susah payah untuk bangun karena terjepit antara kursi dan meja. Bukannya di bantu berdiri, malah di lihatin.


"Tapi apa salahnya sayang? sekali aja, untuk terakhir kalinya, aku mohon." Rayu Dian sambil membuka bagian tubuh atasnya.


Ibra menggelengkan kepalanya kasar. "Kamu sudah gila Dian. Sudah gila."


"Iya, aku sudah gila dan kamu yang buat aku gila," teriak Dian sambil kembali merengkuh tubuh Ibra. Ia sentuh lehernya, telinganya. Bahkan lagi-lagi bibirnya, Ibra kembali mendorong Dian dengan kuat. Namun kali ini ke atas tempat tidurnya.


"Kita tidak boleh melakukan itu," ucap Ibra sambil berjalan mendekati pintu.


Dengan cepat, Dian turun dan mengejar langkah Ibra. Kemudian Dian berlutut memeluk kaki Ibra dari belakang. Ibra memejamkan mata kuat-kuat dan menghela nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Aku mohon dengan segala kerendahan hati, maafkan aku dan beri aku kesempatan satu kali lagi. Setidaknya, berikan kewajiban mu untuk yang terakhir kalinya," rajuk Dian sambil kembali terisak tangisnya.


Mendengar ucapan itu, Ibra lagi-lagi menggeleng. Ia pikir Dian ini benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Tanpa sepatah katapun, Ibra melepas pelukan tangan Dian di kakinya. Kemudian bergegas meninggalkan Dian yang akhirnya duduk bersimpuh di lantai.


Tak perduli dengan Dian yang teriak-teriak memanggil namanya. Dian terus memekik, berteriak meminta Ibra kembali.


Brugh!


Pintu Ibra sedikit di banting seraya menutupnya. Langkah Ibra terhenti ketika melihat bu Rika mematung tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Besok, kalau Dian sudah pindah, tolong bersihkan bekas kamarnya, sterilkan. Saya akan jarang datang ke sini. Kecuali ada penting termasuk pertemuan dan rapat. Kalau ada apa-apa langsung saja hubungi saya atau istri saya, Laras." Jelas Ibra.


Bu Rika bengong, dia bingung. Apa maksud dari semua itu. "Dian pindah, bararti tak tinggal lagi di sini?" pikirnya bu Rika. "Eh ... Tapi, Tuan--"


"Saya pergi dulu, ingat pesan saya," tegas Ibra memotong ucapan bu Rika.


Bu Rika menggaruk tengkuknya, kebingungan dengan semua ini. Matanya terus menatapi punggung sang majikan sampai tak terlihat lagi bayanganya.


Setelah berada dekat dengan mobil kesayangannya. Ibra merogoh saku untuk mengambil remot mobil, lalu mengklik hingga pintunya terbuka.


Diuss ....


Suara mesin Ibra yang halus meninggalkan lokasi mension. Waktu sudah menunjukkan puluk sepuluh malam, boro-boro ingat makan. Yang ada perut berasa kenyang tanpa ada asupan yang masuk sedikitpun.


Mobilnya Ibra terus membelah jalanan yang gelap yang berhiaskan lampu-lampu di pinggirnya. Berpacu dengan kendaraan lain yang kebetulan masih berlalu lalang.


Selama perjalanan ia pun terus mengingat keputusan yang sudah ia ambil terhadap Dian. Namun walau sambil melamun matanya tetap fokus ke depan, menyetir dengan baik. Selang beberapa waktu. Mobil pun sampai dan Susi langsung membukakan pintu pagar.


"Malam, Tuan?" mengagguk hormat. Ingin rasanya ia bilang kalau Laras demam dari pagi, dan sore panasnya baru turun. Namun melihat wajah Ibra yang kusut, niat itu Susi urungkan.


Langkah Ibra dipercepat memasuki rumah tersebut. Di ruang keluarga, Ibra mendapati ayah dan bundanya tengah duduk santai menonton televisi.


"Assalmu'alaikum, belum tidur, Pah, Mah?" sapa Ibra sambil mendekat dan mencium tangan keduanya.


"Wa'alaikumus salam, kami kira kamu gak pulang malam ini?" sahut bu Rahma menatap putranya yang berwajah kusut.


"Iya, Papa kira kamu bermalam di mension malam ini," tambah pak Marwan. Menambahkan ucapan sang istri.


"Oh, nggak Pah, Mah. Aku masuk dulu ya?" Ibra ngeloyor menuju kamarnya.


Bu Rahma dan suami saling bertukar pandangan, di matanya tersirat sebuah pertanyaan atau rasa heran. Akan sikap sang putra yang tampak kacau.


"Wah, kayanya sudah terjadi sesuatu nih," gumam Marwan sambil nyuruput kopinya.


"Apa ya, Pah?" tanya bu Rahma dengan sangat pelan.


"Nggak tahu, Mah!" sahut pak Marwan sambil menggeleng.


Kreett ....


Ibra mrmutar handle pintu ia dorong ke dalam dengan sangat pelan. Tak ingin menggangu yang sudah tidur, pikirnya. Ia masuk setelah mengunci pintu kembali, dilihatnya sang istri tengah tidur nyenyak. Ibra membuka jas dan menggantungnya di tempat. Ia naik mendekati sang istri. "Met bobo sayang."


Ibra hendak mendaratkan kecupan di kening Laras namun ia urungkan. Seingatnya Laras suka menolak di sentuh kalau dirinya pulang dari mension dan minta bersih-bersih terlebih dahulu. Akhirnya Ibra hanya menatap wajah cantik itu, lalu turun ke perutnya. Ingin sekali ia mengusapnya saat ini juga, kemudian kaki Ibra turun menapaki lantai. Langkahnya tertuju ke kamar mandi, mau berendam dengan air hangat. Kali aja bisa menurunkan rasa pusing di kepala akibat masalah hari ini.


Setelah berada di dalam kamar mandi, ia segera masuk ke dalam bahthub yang sebelumnya ia isi dengan air hangat. Ia mendongakkan kepalanya dan memejamkan mata, terbayang semua kejadian tadi di mension ....

__ADS_1


****


Reader ku semua, hari ini aku masih bisa paksakan menulis dan up. Walau rasanya kepala tambah pusing, semoga kalian semua puas🙏


__ADS_2