
"Aduh ... aduh sakit ...!" pekik Zayn, berpura-pura kesakitan berdiri depan pintu.
Susi panik mendengar Zayn memekik kesakitan. "Tuan Zayn, kenapa dia?" batinnya.
"Adduh ... sakit, Markonah, perutku sakit ..." pekik Zayn kembali.
"Tuan kenapa?" balas Susi dari dalam kamar mandi.
Bibir Zayn menyunggingkan senyuman. Sangat percaya diri kalau siasatnya pasti berhasil. "Perut ku sakit ... aku ada riwayat sakit lambung ... lambung ku sakit."
"Yang benar saja? kok saya baru dengar," ucap Susi penuh keraguan.
Zayn yakin kalau Susi akan membuka pintu kamar mandi tersebut.
Blak!
Pintu pun akhirnya Susi buka dan memunculkan kepalanya dengan ragu. Zayn buru-buru masuk ke kamar mandi terutama toilet. Ia sudah tidak kuat kebelet kencing dan tak segan-segan menurunkan celananya di depan Susi.
Membuat Susi segera memalingkan wajahnya dan menutup dengan kedua telapak tangan. "Dasar Zaylangkung. Sengaja ya menipu aku?" dengan nada suara yang keras.
"Siapa yang berniat menipu kamu Markonah? orang benar gak kuat pengen kencing kok." Zayn bergidik lega, lalu berbalik sambil menaikan celananya.
Susi semakin memunggungi Zayn. "Kenapa sih panggil aku dengan sebutan Markonah? sudah jelas nama ku Susi. Sudah lupa apa pikun!"
"Kau sendiri kenapa memanggilku Zaylangkung ha?" tanya Zayn sambil membuka celana panjangnya.
"Kau yang duluan memanggil ku dengan sebutan itu," sambung Susi.
"Nggak suka kah aku panggil dengan sebutan gitu?" Zayn menurunkan nada suaranya.
"Nggak suka lah, orang sudah ada namanya." Jawab Susi kesal.
"Hi ... Susi, kau ini sekarang sudah menjadi istri ku. Sini dong lihatnya." Zayn menarik bahu Susi agar berbalik menghadap ke arahnya.
Perlahan Susi membalikkan tubuhnya melihat Zayn dari kepala sampai ujung kaki yang cuma mengenakan kaus oblong dan celana pendek saja.
"Tuan Zayn ma-mau apa?" tanya Susi yang melihat Zayn mengunci dirinya ke dinding. Ia meremang ketakutan, tatapan Zayn tampak aneh pada dirinya.
"Aku mau menikmati kamu." Bisik Zayn di telinga Susi.
Susi makin ketakutan, tatapan Zayn begitu intens. Apalagi ketika tangan Zayn mengelus pipinya dengan halus dan lembut.
Kedua mata mereka saling tatap dengan sangat intens. Wajah Zayn menunduk mendekati wajah Susi yang masih malu-malu kucing dan lantas memejamkan matanya.
__ADS_1
Zayn mencoba menyentuh bibir Susi yang sepertinya masih suci belum ada yang menjamah sebelumnya. Ia m****** dengan sangat lembut, maklum Zayn sudah mahir dalam urusan menaklukkan wanita. Perlahan tapi pasti ia memaksa memasuki mulut Susi yang di terkunci.
Zayn terus bermain di sana, ia yakin kalau Susi akan menyukai setiap sentuhan yang ia berikan.
Walau ada rasa takut, namun Susi juga menikmati setiap sentuhan yang penuh kelembutan dari Zayn. Susi juga merasakan ada yang bergerak di bagian perutnya. Mundur gak bisa, ke samping terkunci. Sementara mulutnya pun terbungkam dengan bibir Zayn yang terus menyelinap ke dalam rongga mulutnya.
Susi merasakan tubuhnya bergetar hebat yang pertama kalinya ia rasakan. Tubuhnya melemas dan pasrah dengan yang akan Zayn lakukan selanjutnya, Tubuh Susi melayang dalam gendongan Zayn ke tempat tidur. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, tangan Susi memukul dada Zayn yang tak dihiraukannya. "Lep-lepas."
Apa yang terjadi selanjutnya skip aja ya, tapi ... kalau seandainya kalian suka cerita yang lebih hott. Nanti author ceritakan sih kalau mau!
****
Suatu pagi yang cerah. Langit begitu indah, bersih. biru membentang berhiaskan awan yang putih, burung-burung sudah mulai mengepakkan sayapnya. menari dan bernyanyi di angkasa.
Ibra dan Laras tengah berjalan-jalan menikmati indahnya laut di bibir pantai. Di bawah kolong langit nan indah itu, bibir Laras tak henti-hentinya tersenyum mengagumi indahnya ciptaan yang maha kuasa.
"Abang. Aku bahagia sekali," ungkap Laras sambil menatap wajah sang suami yang memandangi laut lepas.
Ibra menoleh dan merangkul bahu Laras yang sedang menggendong baby Satria. Memperlihatkan senyumnya seraya berkata. "Aku juga senang kalau kamu bahagia sayang."
"Suasananya sangat cantik ya?"
"Tentu sayang, dan kalau mau masih banyak tempat-tempat yang cantik lainnya. Atau sayang mau kalau kita tinggal di sini?"
"Emang kenapa?" tanya Laras sembari menatap serius pada Ibra.
Namun Laras malah menggeleng. "Nggak ah, gak mau dan sepertinya suasana di sini gak akan cocok buat aku deh." Seraya menghela napas panjang.
"Kenapa?" selidik Ibra heran.
"Iya. Nggak akan cocok saja dengan mayoritas yang seperti apa, kebiasaan yang bagaimana juga! takutnya aku gak bisa membawa diri. Bila harus menyesuaikan juga gak mungkin, kan?" wajah Laras sedikit mendongak.
Kepala Ibra mengangguk pelan. "Oke lah, jadi kita sekali-sekali aja ke sini ya? kapanpun kamu mau bilang saja. Sekalipun aku sibuk akan ... akan Abang usahakan asalkan istri ku ini bahagia." Cuph kecupan lembut mendarat di pucuk kepala Laras yang di balut kerudung tersebut.
Baby Satria yang berada dalam gendongan sang bunda begitu happy, anteng ... dengan matanya yang bening. Menikmati suasana di sana, angin yang sepoi-sepoi seakan menghanyutkan penikmatnya.
Keduanya jalan-jalan bertiga dengan baby Satria yang anteng dan kini berada dalam pangkuan sang ayah. Tangan Laras memeluk tangan Ibra. Menempel kaya perangko.
Kebahagiaan Ibra dan Laras kini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, walau asal mulanya cuma nikah kontrak. Namun keduanya kini saling mencintai dan hidup bahagia. Hari-hari Di Bali tak terbuang percuma buat Ibra dan Laras. Pak Marwan dan istri pun ikut menikmati hanymoon yang kesekian kalinya.
Apalagi buat si pengantin baru. Hari-hari lebih banyak dihabiskan di dalam kamar, jarang terlihat keluar. Sampai-sampai wajah Susi pucat seperti kurang tidur.
"Hei, kau tak lihat wajah istri mu pucat begitu? darahnya kau isap terus apa!" goda Ibra pada Zayn yang sedang duduk santai di kursi yang menghadap pantai. Menikmati deburan ombak.
__ADS_1
"Kau pikir aku vampir! menghisap darah orang? suka benar kalau ngomong ha ha ha ...."
Ibra pun ikut tergelak tawa. "Ngaku saja punya istri itu lebih enak broo bisa kapan saja kita mau. Coba jajan, ada waktunya." Lanjut Ibra.
"Benar, apalagi sedang liburan gini gas terus ..." ucap Zayn tersenyum senang.
"Gimana? masih virgin kan dia?" selidik Ibra seraya menatap penasaran.
"Uuh ... iya dong. Semuanya masih di segel, gak nyesel deh." Kenang Zayn senyuman di bibirnya tak pernah pudar.
"Saya ikut bahagia deh. Yang langgeng ya?" ungkap Ibra menepuk bahunya, lalu pergi meninggalkan Zayn.
Zayn yang terus tersenyum bahagia pun beranjak, mengikuti langkah Ibra dari belakang.
Mereka mau bergabung dengan yang lain yang sedang berkumpul di tempat yang tidak jauh dari tempat Ibra tadi bersantai.
"Sus, kamu terlihat pucat sekali. Kurang tidur ya?" selidik Laras. "Atau mungkin kecapean."
"Capek, Nyonya. Suami ku gak biarkan aku tidur nyenyak. Nggak siang gak malam sama aja," suara Susi pelan pada Laras.
Bu Rahma dan suami sedang mengajak baby boy bercanda dalam pangkuan mereka.
Suara Laras kini tak kalah pelan dari suara Susi. "Sama apanya, aku gak ngerti?"
"Itu lho Nya ... ngasih pisangnya, kini Susi tahu apa yang di maksud pisang waktu itu. Pisang hidup! dia terus ngasih itu bikin aku kewalahan Nya." Lagi-lagi suara Susi sangat pelan, malu kalau sampai di dengar yang lain.
"Oya? jangan di terima saja kalau kamu kewalahan," bisik Laras lagi seraya tersenyum lucu.
"Mana bisa Nyonya muda ... pakaian ku di lucutinya terus, kan aku juga jadi pengen," sambung Susi kembali dihiasi senyum simpul.
"Itu sih kamu mau juga namanya Sus. Ha ha ha ..." Laras tertawa.
"Nyonya, jangan kenceng-kenceng ketawanya, malu." Cegah Susi sambil matanya bergerak-gerak.
"Lagi ngomongin apa sih sayang?" sapa Ibra, dikecupnya kening sang istri.
"Mau tahu aja." Laras menatap wajah sang suami yang duduk di dekatnya.
"Kenapa sayang ku Markonah, wajah mu serius amat?" tanya Zayn dan tak segan-segan mengecup bibir Susi di hadapan Ibra dan Laras.
"Gila, aku aja gak berani mengecup bibir istri di hadapan orang. Ini santai aja melakukannya di hadapan kita sayang." Ibra menoleh sang istri dan Zayn bergantian.
Zayn duduk berdempetan dengan Susi. "Iri Bos? ikutin dong jejak kita." Dengan cuek nya mencumbu Susi. Walau Susi menolak sebab malu kalau di hadapan majikannya ....
__ADS_1
****
Makasih masih dukung aku🙏