Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Cantik sekali


__ADS_3

Pandangan Ibra mengarah pada orang yang berjalan dan memilih tempat yang nyaman untuk bersama keluarganya. Dengan mata yang tertuju dan perlahan bibir pun senyum mengembang.


Sampai-sampai Dian yang bicara pun tak kedengaran oleh Ibra.


"Sayang ... dengar gak sih?" suara Dian menatap suaminya yang tidak merespon apa yang ia bicarakan.


"Ha, apa? bicara apa!" tanya Ibra menoleh ke arah sang istri. Dian.


"Kamu lihat apa sih?" Dian balik tanya dengan rasa heran.


Ibra menunduk. "Kira-kira ajak bergabung gak ya?" batin Ibra, bingung antara mau menghampiri dan bergabung atau tetap duduk di tempat.


"Em, nggak. Nah ... sudah datang pesanannya makan?" ucap Ibra sambil mendekatkan piringnya. Bersiap makan.


Dian pun tak banyak bicara, langsung aja melahap makan malamnya.


Di meja yang lain dan tempat yang sama, Laras sengaja di ajak mertua untuk makan malam di luar. Sesekali makan di luar dan sekalian jalan-jalan dan cuci mata.


"Sayang, mau makan apa?" tanya bu Rahma sambil melihat-lihat menu.


"Em ... ikan gurame bakar, ayam pedas." pilih Laras. "Dan ... minumnya, lemon teh."


"Ya, udah menunya samakan aja semuanya Mas?" ucap bu Rahma pada pelayan itu.


"Papa minumnya beda, Mah. teh botol saja," sambung pak Marwan.


Pelayan mengangguk dan siap memutar badannya.


"Tunggu Mas. Ada menu jus, kan?" tanya Laras menatap Mas nya yang menoleh pada Laras.


"Ada, Mbak."


"Jus buah naga ya satu." Pinta Laras pada Mas nya.


"Di tunggu ya Mbak?" si Mas mengangguk hormat dan kemudian memutar badan melanjutkan langkahnya.


Netra mata Laras mengamati tempat tersebut, dan pandangannya menyapu setiap sudut. Hingga akhirnya kedua manik mata Laras, menemukan seseorang sedang makan bersama seorang wanita. Ya ... dia Ibra, pria yang status nya suami. Bersama madunya makan di tempat yang sama.


Mata Laras menatap ke arah Ibra yang kebetulan mendongak menoleh ke arahnya. Sekilas bibirnya mengulas senyuman, Laras pun membalasnya. Yang membuat Laras terkagum-kagum, penampilan outfit Ibra yang beda dari biasanya. Biasa formal sekarang santai, penampilan yang jarang-jarang dia tampilkan.


Bu Rahma melihat Laras yang anteng dengan pandangannya. Membuat Ia bertanya. "Kenapa sayang?"


Laras menunduk, menarik napasnya dalam-dalam. Kemudian melirik mama mertua. "Itu, di sebelah sana ada Abang sama Dian."


Mata bu Rahma bergerak melihat tempat yang Laras bilang, untuk memastikan benar apa tidak. Begitupun pak Marwan dan Susi sama-sama menoleh ke arah Ibra dan Dian.


Bu Rahma sudah membuka mulutnya untuk memanggil sang putra, namun dicegah oleh pak Marwan. "Jangan, Mah ... jangan di panggil. Biarkan saja, nanti Dian nya terganggu sama kehadiran kita."


"Tapi, Pa ... apa salahnya kalau kita gabung? kita keluarganya loh Pa ..." bu Rahma tidak mengerti.


"Sayang, Ibra pasti senang gabung sama kita. Tapi Dian? belum tentu, lagian ini, kan mungkin waktunya Ibra bersama Dian. Biarlah, kita pura-pura gak lihat aja," ujar pak Marwan sambil menerima pesanan yang kebetulan sudah datang.


"Oh ... baiklah." Bu Rahma mengangguk.


Laras, terdiam mendengarkan ucapan papa mertua sambil mengangguk faham. Namun sesekali ia melirik ke arah Ibra yang memang dia juga sering mencuri pandang ke arah istri mudanya itu.


Di tempat yang sama dan meja berbeda, semuanya makan dengan sangat lahapnya.


Sesekali pula netra mata Ibra tertuju pada segelas jus buah naga di meja Laras. Diam-diam ia tersenyum, mengingat pernah ada kenangan tentang jus buah naga tersebut bersama Laras.

__ADS_1


Ketika sedang asik makan, ada seorang pemuda tampan kalau menurut Susi sih opa-opa. Siapa lagi kalau bukan Jodi.


"Assalamu'alaikum? wah ketemu lagi ..." sapa Jodi dengan raut wajah yang sumringah dan ramah.


"Wa'alaikumus salam, Nak Jodi di sini juga! kebetulan kita bertemu lagi," ucap bu Rahma dan pak Marwan juga tak kalah ramahnya.


"Boleh saya gabung?" tanya Jodi menatap semuanya dan menunggu jawaban.


"Oh, silakan, Nak jodi. Silakan?" jawab pak Marwan. Dengan menunjuk kursi yang Jodi tarik dan duduk di sebelah Laras.


Jodi memanggil pelayan, dan memesan makan. Setelah pelayan pergi untuk membawakan pesanan Jodi. Jodi melirik Laras yang asyik dengan makannya.


Jodi menyandarkan punggung nya. Ke belakang seraya berkata dengan sangat pelan pada Laras. "Cantik sekali malam ini."


Laras jadi salah tingkah mendengarnya. Gak enak kalau di dengar orang, apalagi mertuanya. "Aduh ... bisa gawat nih, kalau abang lihat Jodi di sini. Giman kalau dia curiga dan mengira yang bukan-bukan, ya Allah ... gimana nih?"


Makan yang tadinya nikmat pun jadi berubah rasa. Hati Laras jadi gusar, gelisah. Khawatir, ia tahu kalau Ibra itu cemburuan padanya. Diam-diam Laras menoleh ke arah Ibra yang kebetulan sedang mengobrol dengan istrinya, Dian.


"Nak Jodi sendirian aja nih?" tanya bu Rahma di sela makannya.


"Iya, Tante. Sendirian gak ada kawan, makanya gabung nih. Tidak keberatan, kan?" tanya Jodi.


"Oh ... tidak, malah senang bisa makan sama-sama itu menyenangkan. Iya, kan Pah ...."


"Iya, Mah ... Jodi ini usaha di bidang apa?" selidik pak Marwan.


"Saya bisnis kecil-kecilan aja om," sahut Jodi merendahkan diri.


"Tak apa, nanti juga jadi besar," timpal pak Marwan kembali.


Pesanan Jodi datang. Kemudian ia langsung mulai makan, sebelumnya ia berkata pada yang di meja itu. "Makan?"


Semua mengangguk. Susi sesekali menatap Jodi sampai tak berkedip saking terpesonanya. "Opa, ganteng sekali!"


Susi tersipu malu. "Habis ganteng sekali Nyonya muda. cakep nya kebangetan."


Di meja Ibra. Ketika Ibra melihat ke meja Laras, ia sangat terkejut kok tiba-tiba ada Jodi di sebelah Laras duduk? ada apa nih. Janjian apa secara kebetulan? hati Ibra mulai terbakar lagi nih.


Dian curiga. Lalu melihat ke arah yang Ibra pandangi, Dian terkesiap. Ternyata di meja itu ada mertua dan madunya, pantas saja Ibra melihat ke arah itu terus. Rupanya ada Laras.


Kedua netra mata Dian bergerak melihat ke arah sana dan Ibra bergantian. "Kenapa tidak bergabung dengan mereka saja? Tapi baguslah. Agar tidak mengganggu acara berduaan nya kita." pikirnya.


Tapi ad ayang membuat menarik pandangannya, ya itu ... di sana bersama Jodi. "Kenapa mereka bersama Jodi? apa mereka janjian."


"Sayang, kenapa gak gabung sama mama dan papa?" selidik nya Dian menatap lekat wajah Ibra.


"Aku gak tahu sebelumnya kalau mereka mau ke sini!" akunya Ibra dengan santainya.


"Terus, kenapa ada Jodi ya? atau mungkin ... mereka janjian!" tanya Dian lagi seolah terus mengorek isi hati Ibra.


"Mana, aku tahu sayang!" timpal Ibra, menyudahi makannya dengan segelas air putih.


"Jangan-jangan, Jodi manatan kekasih Laras ya? atau juga kekasih Laras. Calon--"


"Habiskan makannya, kita mau kemana lagi atau kita mau langsung pulang?" tanya Ibra memotong perkataan Dian yang bikin hatinya tambah panas.


"Kok pulang sayang? masih sore, kita jalan lagi. Siapa tahu ada barang baby yang bagus untuk keperluan si baby. Gimana?"


"Kalau menurut kami, jangan dulu belanja keperluannya si baby. Nanti aja kalau sudah mendekati waktu melahirkan, sekarang masih lama sayang," ucap Ibra. Sesekali melihat ke arah sana.

__ADS_1


Dian menaikan alisnya. "Baiklah kalau begitu, ya ... nanti saja kalau sudah tujuh atau delapan bulan kali ya?"


"Hem ..." gumam Ibra.


"Gimana, kita mau nyamperin mereka atau kita jalan aja lagi?" tanya Dian, penuh harap kalau jawaban Ibra tidak.


"Ya, udah kalau mau jalan ya jalan, seandainya mau pulang? ya pulang."


Sesaat mata Ibra saling bertukar pandangan dengan manik mata Laras. Tatapan Ibra walau jauh dan sekilas-sekilas, tampak jelas penuh curiga akan kehadiran Jodi di sana.


Senyum Dian merekah mendengar jawaban Ibra seperti itu. "Oke sayang, kita jalan lagi aja."


Setelah membayar. Keduanya beranjak dari kursi, lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Tangan Dian tak pernah lepas dari lengan Ibra.


Laras yang melihat kepergian Ibra dan Dian. Hanya tertegun, benar. Ibra dan Dian tidak ingin terganggu rupanya, maka dari itu pura-pura gak melihat keberadaan dirinya. Mungkin tak menganggapnya ada.


Pak Marwan dan bu Rahma mengobrol dengan Jodi. Tentang bisnis ataupun usaha, yang di rintis.


"Sus. aku mau ke toilet sebentar ya?" pamit Laras pada Susi.


"Oh, sama Susi aja Nyonya." Susi pun beranjak ketika Laras berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Jodi dan sang mertua. Ketika melihat Laras dan Susi berdiri.


"Laras ma-mau ke toilet sebentar, Mah ... Pa."


"Susi , kamu temenin ya?" titah bu Rahma pada Susi agar mengantar Laras agar tak sendirian.


Keduanya berjalan sambil celingukan, mencari toilet. Setelah agak jauh mencari toilet, akhirnya ketemu juga.


Laras masuk ke dalam toilet. Dan Susi menunggu di depan. Ia membasuh mukanya yang sedari tadi terasa panas dan gak enak hati. Helaan napasnya begitu berat, kekhawatirannya akan kecemburuan Ibra. Dadanya kembang kempes.


Drettt ....


Ponsel Laras bergetar, belum buka ataupun baca saja. Hatinya sudah gusar tak menentu. Kemudian ia ambil dari tas, ia hidupkan layar dan menggulir nya. Membuka sebuah pesan yang tertera nama my husband.


"Ada hubungan apa dengan Jodi? makin lengket aja, janjian ya? bagus! ada suami bukannya negur. Malah asik ya, ngobrol sama cowok lain!" begitu isi pesan dari Ibra. Membuat jantung Laras berdegup kencang dan terasa sakit dicurigai macam itu.


Perasaan Laras benar-benar tak menentu jadinya. "Bibirnya bergetar. "Tidak salah bicara seperti itu? dia sendiri, jangankan duduk bergabung, menyapa pun tidak," gerutu Laras. Lantas mengusap buliran air matanya yang menggenang di sudut mata.


"Enak saja mencurigai orang? dia sendiri jelas-jelas tidak menegur kami dasar sudah gila, Astagfirullah ... bicara apa sih aku?" ucap Laras sambil menyentuh bibirnya. Dan menatap wajahnya dari pantulan cermin.


"Aku bicara apa sih? gak baik ngedumel sendiri apalagi menjelekkan suami. Ya Allah ... ampuni aku?" mendongak ke langit-langit. Tanpa membalas apapun pesan dari Ibra. Laras langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas.


Kemudian Laras dan Susi berjalan-jalan. di sekitaran sana.


"Nyonya muda?" panggil Susi sambil berjalan.


"Hem ...."


"Sepertinya opa ganteng itu suka sama Nyonya muda." Celetuk Susi tanpa ragu bilang seperti itu pada Laras.


"Huus ... jangan bilang gitu, gak baik. Lagian semua juga tahu, aku bersuami." Laras menggeleng kepalanya, menyangkal omongan Susi.


"Tapi, Nyonya!"


"Dia orangnya baik donatur panti juga. Sikapnya memang perhatian kaya gitu, bukan berati suka dalam arti lebih Sus ..." sambung Laras.


"Hi ... kalian malah di sini berdua?" suara Jodi dari belakang bergegas mendekati Laras dan Susi ....

__ADS_1


****


Reader semuanya kabar baik kan? terima kasih atas dukungan kalian dan terus dukung aku ya jangan bosan🙏


__ADS_2