Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Masa Lalu


__ADS_3

"Ini, kopi dan kuenya Tuan." Mbok Darmi berlutut menyimpan sajiannya di meja.


Jodi menatap tajam pada mbok Darmi yang kebetulan melirik ke arahnya. Tatapan Jodi mengandung penuh arti yang tidak dimengerti oleh orang lain yang berada di sana.


Mbok Darmi menunduk dalam merasa aneh dengan tatapan Jodi padanya. Seraya berkata dalam hati. "Aneh, tatapannya tampak curiga, tapi masa bodo ah, yang penting aku sudah dapat yang aku inginkan!"


"Makasih Mbok," ucap Caca lembut.


Mbok Darmi kemudian melihat pak Mulyani sejenak. Memberikan senyumnya yang penuh magnet, Tentunya pak Mulyadi pun membalasnya senyuman itu. Setelah itu mbok Darmi berjalan kembali menuju tempat habitatnya Dapur.


"Ayah, ada yang ingin aku bicarakan!" Jodi tampak serius.


"Tentang apa?" pak Mulyadi terheran-heran.


"Tentang ibu panti yang merawat Laras. Dan aku juga sebagai donatur panti tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini, yang ingin aku tanyakan ... apa Ayah mengenal baik beliau?"


Deg!


Dada pak mulyadi menjadi terasa sesak. Jantungnya berdebar tiba-tiba. Sontak terbayang jelas wajah Rosa yang pernah ia kenal namun cukup lekat diingatan. Wanita itu pernah ia nikmati dengan alasan tidak disengaja.


Masa lalu, waktu belum berhubungan dengan ibunya Jodi namun sudah bertunangan dengan Rahma, Mulyadi pernah ada niat untuk berhubungan lebih intens dengan Rahma sebagai tunangannya itu. Rencana sudah tersusun rapi, ia berniat ingin melakukan sesuatu sebelum menikahinya.


Hari itu Mulyadi sudah janjian dengan Rahma untuk bertemu di rumah Mulyadi. Mulyadi pun sudah menyiapkan sesuatu untuk ia minum dan Rahma untuk melancarkan niat buruknya. Dan ia duluan meminum obat perangsang sebelum sang kekasih datang. Namun yang di tunggu tak kunjung juga datang, sementara obat sudah mulai bereaksi di tubuhnya.


Rasa panas mulai menjalar di tubuh. Sesuatu dah mulai tegang dan mungkin sebentar lagi akan meronta meminta lompat dari sarangnya, Mulyadi bolak-balik menelpon Rahma. Namun ponselnya mati sama sekali tak bisa di hubungi.


Mulyadi mulai frustasi mengacak rambutnya dan karena rasa panas terus menyerang, akhirnya ia buka baju yang melekat di tubuhnya itu, bahkan celana panjangnya pun ia lepaskan dan hanya menyisakan celana pendek saja. Tiba-tiba datang seorang gadis yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Belum lama ini dia pindahan dari kampung sebelah.


Dia mendatangi Mulyadi dengan niat mau minta tolong membetulkan lampunya yang mati. Mulyadi berasa menadapat angin segar yang entah dari mana datangnya, ia langsung menyuguhi nya segelas air minum yang sudah ia bubuhi obat.


Mulyadi berjanji akan membetulkan lampunya yang mati, namun sebentar lagi dengan alasan tubuhnya masih gerah.

__ADS_1


Tanpa rasa curiga sedikitpun gadis itu meminumnya langsung sampai tandas dan kebetulan ia merasa sangat haus sekali. Ia duduk di sofa sendiri sementara Mulyadi pergi ke kamarnya.


Setelah beberapa menit kemudian, suara Mulyadi memekik dari dalam kamar meminta tolong. Jelas gadis itu bergegas menghampiri dan masuk dan dengan capat pintu kamar Mulyadi kunci dari dalam.


Rupanya gadis itu disekapnya di dalam kamar. Wanita itu minta dikeluarkan serta mencaci maki Mulyadi tapi Mulyadi tidak perduli sebab sebentar lagi juga gadis itu akan kepanasan dan benar saja, dalam hitungan detik gadis itu persis kaya cacing tersiram air hangat. Berjalan tak tentu arah dan tingkahnya sangat tidak nyaman. Terus bergumam panas-panas sehingga dengan cepat membuka pakaiannya. Hingga tinggal pakaian dalam saja yang tersisa.


Mulyadi yang sejak awal sudah terangsang akibat obat yang menjalar di tubuhnya, langsung saja menyeret gadis itu ke tempat tidur yang ia rencanakan akan melakukannya dengan sang tunangan. Walau gadis itu berontak namun tak seberapa, dengan pengaruh obat dia langsung pasrah menerima setiap sentuhan Mulyadi, dengan mudahnya Mulyadi menarik dua benteng yang menutupi bagian atas dan bawah gadis tersebut.


Mulyadi menindih tubuh gadis tersebut dan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Terus saja ia melakukan yang ia mau sampai hasratnya tersalurkan dengan baik. Mulanya gadis itu memekik kesakitan ketika pusaka Mulyadi menerobos paksa miliknya, namun setelah Mulyadi terus memompa dan mengatur ritme nya. Gadis tersebut merasa nyaman dan menikmatinya.


Bibir Mulyadi tersenyum puas, kala itu ia tak perduli dengan siapa ia melakukan itu yang penting keinginannya terpenuhi saja. Soal ini itu urusan belakangan, pikirnya. Sungguh Mulyadi menggila ia melakukannya bukan satu atau dua kali saja namun berkali-kali, ditambah pengaruh obat itu yang begitu kuat.


Aktifitas itu berakhir setelah gadis itu sadar dan menyesali apa yang sudah terjadi menimpanya. Ia menangis sejadi-jadinya membuat Mulyadi panik namun terus berusaha menenangkan gadis tersebut, dan meminta untuk tidak menceritakan kecelakaan ini dengan dalih tak di sengaja. Dasarnya gadis itu masih polos iya-iya saja dengan yang di katakan Mulyadi kala itu. Ia pun meminum obat supaya tidak hamil atas permintaan Mulyadi.


Dalam sebulan Mulyadi sering memberikan gadis itu uang pada gadis tersebut dan mewanti-wanti agar tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun, jangan sampai seorangpun tahu bahkan cicak sekalipun. Biarlah menjadi rahasia berdua saja sampai kapan pun, itu pinta Mulyadi.


"Ayah? Yah ... kok melamun sih!" panggil Jodi dan sedikit menepuk bahu sang ayah.


"Ayah mikirin apa, kok sampai anteng begitu melamun nya." tanya Jodi.


"Ah, nggak. Gak mikirin apa pun." Elak pak Mulyadi sambil mengambil kopi nya dan menyeruput perlahan.


"Terus, kenapa tidak menjawab pertanyaan ku tadi?" lanjut Jodi menatap sang ayah.


"Ha! yang mana?" tanya pak Mulyadi sedikit kebingungan.


"Itu ... perihal bu panti alias bu Rosa. Apa Ayah mengenalnya?" ulang Jodi tampak seriur menunggu jawaban dari ayahnya.


Pak Mulyadi melirik ke arah Caca lalu kembali pandangannya ke arah Jodi. "Em ... kenal! tapi cuma sekedar kenal kok. Dulu kami pernah tetanggaan, iya begitu." Akunya Pak Mulyadi, ia tak ingin mengakui semuanya pada Jodi.


"Benarkah, cuma seperti itu?" Jodi menatap curiga sang ayah yang ia rasa jawabannya sangat meragukan.

__ADS_1


"Benar, sudah lah jangan bahas itu lagi tidak penting," ungkap pak Mulyadi tak ingin membahas soal bu panti lagi.


Jodi mengangguk. "Oke."


Adzan maghrib sudah berkumandang. Ketiganya masuk kamar masing-masing untuk melaksanakan salat.


Mbok Darmi melipir jalan luar mengambil akses jalan menuju kamar pak Mulyadi. Mbok Darmi menyelinap masuk.


Pak Mulyadi baru saja selesai salat, terlihat dia melipat sajadahnya lalu menoleh ke arah mbok Darmi yang menutup pintu kaca. "Ngapain masuk jam segini?"


Darmi mendekat dan duduk di dekat pak Mulyadi. "Aku cuma mau tanya. Siapa itu yang bernama Rosa siapa! jangan bilang dia saingan ku?" tanya mbok Darmi menatap lekat pria yang jadi sumber keuangannya itu.


Hati Darmi terbakar dari semenjak terdengar dalam obrolan anak dan Bapak menyebut nama Rosa. "Jawab Mas. Siapa dia?" ulang Darmi.


"Oh ... dia bu panti yang merawat keponakan ku selama ini." Jawab pak Mulyadi santai.


"Bukan pacar kamu kan Mas?" mbok darmi kembali bertanya.


"Bukan, bukan siapa-siapa." Lagi-lagi tak ingin mengakuinya.


Darmi menghela napas panjang. "Syukurlah." Tangannya menggenggam tangan pak Mulyadi dan mengelusnya.


"Sudahlah. Pergi sana, siapkan makan malam sebab saya lapar sekali." Usir pak Mulyadi. Menjauhkan tangan dari Darmi.


"Kau menolak ku Mas?" Darmi mulai bertingkah yang akan membuat pak Mulyadi tergoda.


"Sudahlah, ke luar? sekarang ini bukan saatnya untuk itu mengertilah." Pak Mulyadi kekeh ingin Darmi keluar.


Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki mendekati pintu kamar pak Mulyadi. Keduanya saling tatap. Buru-buru Darmi menyelinap kembali melewati pintu menuju teras ....


****

__ADS_1


hi .... apa kabar reader ku semua. Semoga ada dalam lindungan yang maha kuasa. Jangan lupa dukung juga BHS ya? alias "Bukan Suami Harapan" masih sepi nah bikin author 😭😭


__ADS_2