
"Jangan menatapku seperti itu. Aku jadi malu," ucap Dian sambil mengulum senyumnya.
"Kenapa emang? wajar dong, kamu itu calon istri ku," lanjut Firman.
"Mamah? sekarang yu beli eskrim nya." Ajak Ferdi sambil menarik dan menggoyangkan tangan Dian.
"Tapi, sayang ... Mamah sedang sibuk, Tapi ... baiklah," kemudian Dian melirik ke arah Firman. "Yu?"
Firman mengangguk pelan. "Baiklah sayang, kita jalan sekarang untuk membeli eskrim ..." Firman berdiri dan mengulurkan tangan pada Ferdi. Dian pun berdiri. Mengikuti langkah Firman yang menggendong Ferdi. Menuju mobil miliknya.
"Yeyy ... kita jalan-jalan!" Ferdi bersorak.
"Kamu senang sayang?" tanya Dian sambil mengusap kepala Ferdi.
"Senang dong Mamah ... aku senang sekali." Jawab anak itu.
"Kita akan membeli eskrim, kesukaan anak Mamah yang ganteng ini." Dian memeluk Ferdi. Setelah berada di mobil.
Firman merasa sangat bahagia melihat Dian begitu dekat dengan putranya itu. Walau mereka belum lama saling mengenal, harapan Firman adalah kebahagiaan yang seterusnya. Senyum bibir Firman senantiasa melebar, sambil tangannya dengan lihai mengemudikan kendaraan yang kini melesat menuju sebuah Mall yang terdekat dari bunga low Dian.
"Sayang, sekalian mau membeli buat seserahan sekarang gak?" melirik sekilas pada Dian.
"Hem, terserah," jawab Dian cuek.
"Kok terserah sih?" tanya Firman kembali tanpa melirik. Matanya tetap fokus ke depan.
"Habis bingung, mau belanja apa?" jawabnya sambil memeluk Ferdi.
Firman merasa bingung. Ia sekilas mengibas rambutnya kasar. Ia tidak bisa berkata lagi terserah gimana maunya dia aja. Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di tempat parkir wilayah Mall.
Firman turun duluan dan membukakan pintu buat Dian dan putranya.
"Yuk, sayang. Hati-hati turunnya." Dian menuntun tangan Ferdi dengan erat. Diikuti oleh Firman dari belakang yang akhirnya berjalan sejajar dengan Dian serta menuntun tangan kanan Ferdi. Ferdi di hapit oleh papa, mama nya.
Sesampainya di dalam, Dian langsung memesan eskrim yang Ferdi suka. Anak itupun dengan riang, memakan eskrimnya.
Firman yang duduk berdekatan dengan Dian saling bertatapan mesra. Tangan Firman menggenggam tangan Dian, diremasnya lembut.
"Papa, Mama. gak boleh pegangan dulu, kan belum nikah?" tiba-tiba Ferdi berceloteh. Membuat keduanya terhenyak mendengar perkataan Ferdi yang langsung menjauhkan tangan Firman dari tangan Dian.
"Papa, nanti pegangan tangannya kalau sudah menikah." Lanjut Ferdi di sela makan eskrim nya.
Firman menatap sang putra dengan senyuman di bibir. Seraya berkata. "Gitu ya, kata siapa itu sayang?"
"Kata ... kata ... pak ustad, katanya laki-laki dan perempuan itu gak boleh berpegangan kalau belum menikah." Jawab Ferdi dengan tangan bergerak-gerak.
"Oh ... jadi kalau sudah menikah, boleh pegang-pegang ya?" sambung Dian sembari tersenyum.
"Iya, boleh. Kalau sudah menikah, mau Cium juga boleh. Asal sudah menikah, Mamah ..." timpal Ferdi kembali.
"Ha ha ha ... pinter." Gumamnya Firman.
"Kalau sudah menikah, boleh bobo bareng juga, bareng-bareng terus." Tambah anak itu dengan nada khas anak-anak.
Dian tersenyum bangga sambil mengusap rambut Ferdi. "Anak pinter," Senyuman keduanya begitu merekah.
"Oh, jadi kalau Papa ingin bobo bareng sama Mama, berarti gak boleh dong ya?" tanya Firman sambil nyengir.
"Tidak Pah, tidak boleh, nanti Allah marah." Telunjuknya menandakan tidak boleh.
"Mamah ingin tahu sayang. Kalau Allah marah itu seperti apa sih?" tanya Dian sambil tetap tersenyum.
Anak itu mengerutkan keningnya. "Kalau kita nakal akan di marahi sama Allah. Gitu."
"Oh, gitu ya? Mama baru tahu deh," ucap Dian sambil melirik calon suaminya.
Setelah makan eskrim, Mereka berjalan menuju tempat permainan. Ferdi yang selalu ceria dan kegirangan, begitu aktif di tempat permainan. Dian, Firman memantau dari kejauhan.
****
Di tepi sebuah jalan, yang lumayan sepi terparkir sebuah mobil mewah, dalam suasana hujan yang cukup deras. Seorang pria yang berkulit putih sedang hujan-hujanan, berjongkok mengganti ban mobilnya yang kempes.
"Dasar, ban kempes gak lihat waktu. Mana hujannya semakin deras lagi." Gumamnya dalam hati sambil terus membongkar ban tersebut.
Tiba-tiba seseorang menghampiri memayungi Pria itu. Pria tersebut heran ketika melihat sepasang kaki seorang wanita, netra mata pria itu bergerak melihat dari bawah ke atas.
Alangkah terkejutnya Ia, setelah melihat siapa dia. Wanita yang berdiri dan memayungi dirinya itu ternyata. "Caca?" sembari mengusap wajahnya yang basah.
Caca tersenyum. Menatap ke arah Jodi yang basah kuyup. "Iya, Mas kenapa hujan-hujanan?"
"Ban mobil ku kempes," sahut Jodi. Melanjutkan kembali aktifitasnya.
"Kan, bisa pake jas hujan, gak perlu hujan-hujanan, Mas." Protes Caca. "Atau tunggu hujannya reda dulu, kan bisa?"
"Kebetulan gak bawa jas hujan. Lagian kalau nunggu reda gak tahu mau sampai kapan?" sahut Jodi sambil meletakkan dongkrak.
"Tapi, hujan loh Mas. lihat tubuhmu basah kuyup begitu," sambung Caca dengan nada cemas.
"Nggak pa-pa, kamu sendiri kenapa ada di sini?" tanya Jodi tanpa menoleh.
"Mau ke rumah, Mas. Itu taksi ku di sebelah sana," dagunya menunjuk ke arah taksi yang terparkir tidak jauh dari situ.
"Oh. Kabar orang tua mu bagaimana?" tanya Jodi setelah menoleh ke arah taksi yang di tumpangi Caca.
"Baik, Mas." Jawab Caca sambil tetap memayungi Jodi.
"Ya sudah. Kalau mau ke rumah, taksinya suruh pergi saja. Kamu ikut dengan ku saja," pinta Jodi pada Caca.
__ADS_1
"Iya, nanti Mas. Bereskan aja dulu pasang ban nya," balas Caca kembali.
Akhirnya, mengganti ban pun selesai juga. Keringat Jodi bercampur dengan sisa-sisa air hujan. "Alhamdulillah." Gumam Jodi sambil mengusap wajahnya. Kemudian mengusap rambutnya yang basah.
"Kita, pulang sekarang." Melirik Caca.
"Mas masuk mobil dulu, nanti aku ke taksi sebentar," ucap Caca meminta Jodi masuk ke dalam mobil duluan.
Sebelum Jodi masuk mobilnya. Jodi menyimpan terlebih dulu ban yang tadi ia ganti, setelah itu barulah dia masuk dan duduk di belakang kemudi. Caca dengan tulus mengikuti langkah Jodi ke manapun bergerak, hingga akhirnya Jodi masuk.
Kemudian Caca berlalu menghampiri taksi yang menunggunya di sana. "Bang, sampai di sini saja, Ini ongkosnya. Makasih Mas?" Caca memberi uang ongkos taksi dan mengambil tas pakaian miliknya.
"Sama-sama, Mbak." Supir taksi mengangguk sembari mengambil uang tersebut.
Caca segera masuk ke dalam mobil yang sudah Jodi bukakan dari dalam. Caca menutup payungnya, kemudian Caca simpan di belakang beserta tas pakaiannya.
Jodi melajukan mobilnya, setelah Caca memakai sabuk pengaman. Tatapan Jodi fokus ke jalanan yang akan ia lewati. Beberapa saat suasana hening, tak ada perbincangan diantara mereka berdua, kecuali suara gerung mobilnya Jodi dan suara mesin kuda besi lainnya.
"Ehem, sudah makan belum?" tanya Jodi sekilas melirik ke arah Caca.
Caca yang sedari tadi menatap jendela kaca yang ada di sampingannya itu. Ia melirik sekilas pria yang ada di sampingnya itu. "Belum."
"Bagai mana kalau kita makan dulu di restoran terdekat?" tawar Jodi tanpa menoleh lagi.
Mata Caca kembali melirik ke arah Jodi yang dengan terampil memutar kemudi. "Tapi, pakaian Mas basah. Masa ke resto dengan keadaan seperti itu? bisa-bisa Mas masuk angin, kalau balum berganti baju."
Hening!
"Aku bawa pakaian. Ada di mobil," jawab Jodi seolah menunjuk dengan ekor matanya.
"Benarkah, membawa pakaian ganti?" selidik Caca. "Tubuh Mas basah kuyup gitu."
"Bawa, tapi kayanya gak bawa handuk," sahut Jodi kembali.
Caca menarik tas nya. Ia buka dan mencari handuk kecil, kemudian Caca memberikan pada Jodi. "Mungkin ini akan bermanfaat."
Jodi yang sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran. Menatap Caca yang memberikan sebuah handuk, ia tak lantas menerimanya.
"Bersih kok, handuknya baru ku cuci dan belum ku pakai sama sekali Mas," sambung Caca.
"Makasih?" pada akhirnya Jodi menerima handuk tersebut.
Di luar, hujan sudah mulai reda. Hanya tersisa rintik hujan yang tidak terlalu akan membasahi tubuh. Caca di minta Jodi keluar lebih dulu, sementara Jodi berganti baju di dalam mobil.
Caca berdiri di depan restoran tersebut. Menunggu Jodi yang masih berada di dalam mobil. Dan pada akhirnya Jodi menyusul Caca yang menunggunya.
"Yu, masuk?" ucap Jodi yang tampak rapih, dengan pakaian ganti. Tidak seperti tadi yang memakai pakaian yang basah.
Caca mengikuti langkah kaki Jodi yang terlebih dulu memasuki restoran. Mencari tempat duduk yang tidak terlalu ramai, lalu mereka duduk dengan santai. Dan memesan untuk makan malamnya.
"Mau pesan apa?" tanya Jodi melihat Caca yang entah melihat kemana.
"Baiklah." Jodi memesan makan malam yang sama dengan Caca.
"Baju mu juga sepertinya basah?" ucap Jodi menatap lekat pada Caca.
Manik mata Caca mengamati pakaiannya yang memang sedikit basah. "Nggak pa-pa, sedikit kok. Lama-lama juga akan kering."
"Hem." Jodi bergumam singkat sambil meneguk kopi nya. Untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin kena hujan tadi.
Begitupun Caca nyeruput minuman moca yang masih terlihat mengepul.
Pesanan pun datang, keduanya langsung melahap makan malam itu. Sementara waktu tak ada obrolan antara keduanya, Jodi terlalu lapar. Begitupun Caca tanpa mengangkat wajahnya begitu fokus melahap makanan yang ada dihadapannya itu.
Beberapa saat kemudian. Jodi meneguk minumannya. "Kira-kira ada yang cemburu gak? kita makan berdua di sini."
Caca sontak mengangkat wajahnya. "Ha?"
"Iya, aku tanya. Apa kira-kira kita makan berdua di sini ada yang marah gak?" ulang Jodi kembali matanya sedikit melirik kanan dan kiri.
Caca diam sejenak, hingga akhirnya membuka suara. "Nggak. Siapa yang akan marah!" Seraya menggeleng pelan.
Senyum di bibir Jodi begitu mengembang. Netra matanya menatap lekat ke arah wanita yang dibalut kerudung itu, Caca. "Yakin?"
Caca sedikit mengernyitkan keningnya, Heran dengan pertanyaan Jodi. "Yakin, emangnya kenapa?"
"Ah, nggak. Bertanya aja, takutnya ada yang marah. Siapa tahu kekasihmu melihat kita sedang di sini, terus datang dan gebukin aku He he he ...."
Lagi-lagi Caca menggelengkan kepalanya sambil mesem. "Ada-ada aja."
"Kan, kali aja ... kalau gak ada sih syukur. Itu yang di harapkan." Jodi terus menatap wajah Caca yang sesekali menunduk malu yang merasa diperhatikan oleh Jodi.
"Oya, makasih ya? mau merawat ayah ku, dan sekarang mulai kelihatan perubahannya," ungkap Jodi dengan rasa senangnya. Mengingat kondisi sang ayah yang sekarang mulai membaik.
"Sama-sama, Mas. Sudah kewajiban saya untuk merawat setiap pasien sampai tuntas. Begitupun dengan ayah anda, syukur-syukur sampai sembuh total," harap Caca sambil melanjutkan menghabiskan makannya.
Hening!
"Em ..." Jodi tampak ragu-ragu tuk mengatakan sesuatu pada Caca.
"Kalau dalam waktu dekat, ayah anda sembuh total. Saya akan terbang ke Banjarmasin, sebab saya sudah ditunggu pasien lainnya."
Jodi kaget. Manik matanya semula melihat ke seluruh tempat itu seketika menoleh ke arah Caca. "Apa?"
"Iya, saat ini. Aku sudah di tunggu pasien lain yang meminta aku rawat. Tapi anda tak perlu khawatir, Aku pasti akan mengerjakan tugas ku sampai tuntas kok." Caca mengulas senyumnya.
Jodi merasa tak rela, bila akhirnya Caca harus pergi jauh meninggalkannya dan sang ayah. Walaupun nantinya tugas dia selesai. Tatapan Jodi tambah lekat pada wanita yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
Terlihat helaan napas Jodi yang dalam, kemudian ia hembuskan dengan pelan-pelan. "Seandainya nih ya? seandainya. Ada orang yang sangat membutuhkan tenaga mu, em ... maksud ku membutuhkan kehadiran mu di sini, apa kamu akan urungkan niat untuk pergi ke Banjarmasin itu?"
Sebelum menjawab, Caca menyedot jus nya terlebih dahulu. "Saya tak akan pergi. Bila tugas saya mengurus ayah anda, maksudku ayah Mas belum selesai." pada akhirnya Caca menjawab dan sedikit meyakinkan.
"Bukan, bila ada orang lain yang membutuhkan mu." ulang Jodi. kemudian menghabiskan kopi nya.
"Em ... tergantung!" Caca sejenak berpikir, agak aneh dengan pertanyaan Jodi yang sedikit berbelit-belit.
Kepala Jodi menunduk sesaat. Ia harus mengakui akan perasaannya saat ini yang berharap sesuatu pada Caca. Bukan cuma buat sang ayah atau kesembuhan sang ayah. Tapi juga untuknya sendiri.
Lalu matanya melihat Caca yang kebetulan sedang menatap ke arahnya.
Deg!
Jantungnya. Berdegup sangat kencang. Caca salah tingkah dan perasaannya merasa tiba-tiba tak karuan, keduanya menundukkan kepalanya masing-masing. Untuk beberapa waktu tak ada suara diantara mereka.
Di luar, hujan kembali turun dengan begitu derasnya. Menghiasi gelapnya malam yang boro-boro berhias bintang, yang ada cuma langit malam yang hitam pekat dan terus menjatuhkan airnya membasahi bumi.
Hingga akhirnya. Jodi kembali bersuara. "Seandainya ada yang berminat meminang mu apa kamu akan terima?"
Caca diam sejenak. "Kalau sekiranya cocok dan mampu meyakinkan aku, bahwa dia benar-benar serius. Aku mau-mau saja."
"Terus gimana dengan pasien yang menunggu mu itu?" tanya kembali Jodi dan menatap lekat Caca. Caca pun menunduk dalam. Tak berani membalas tatapan Jodi yang tajam.
"Em, seandainya aku menikah dalam waktu sebelum berangkat, tentunya pasti aku batalkan dan merekomendasikan yang lain," jawab Caca. "Kecuali, suami ku mengijinkan aku pergi."
"Aku tak akan mengijinkan nya." Gumamnya Jodi.
"Apa?" Caca terkesiap mendengarnya. Menatap lekat pada Jodi yang menyedot jusnya.
"Ha? ma-maksud saya ... apa ya? saya lupa." Jodi sedikit gugup dan menggaruk kepalanya.
Caca terheran-heran. Apa sih maksud pria yang kini berada di hadapannya itu.
Jodi garuk-garuk kepalanya yanga tak gatal sama sekali. Ia bingung harus mulai dari mana? Lagi-lagi ia menghela napas panjang. "Aku mau--"
"Maaf. Aku mau ke toilet dulu sebentar," ucap Caca memotong perkataan Jodi. Ia beranjak dari duduknya berlalu meninggalkan Jodi yang baru saja mau mengutarakan isi hatinya.
Tangan Jodi mengacak rambutnya. Dengan mata memandangi punggung Caca yang kian jauh, namun apa boleh buat. Ia harus menunggu Caca kembali. Jodi mengeluarkan secarik kertas dan ballpoint dari sakunya. Menulis sesuatu, kemudian ia simpan di bawah gelas jus Caca.
Kemudian, Jodi beranjak dari tempat duduknya dengan langkah yang terburu-buru. Jodi keluar dari resto tersebut serta tujuan entah mau kemana? Sebelumnya ia menemui pihak restoran dan membayar semua tagihan makan malamnya bersama Caca.
Tak selang lama, Caca kembali dari toilet. Matanya mendapati kursi Jodi kosong. Caca heran kemana Jodi pergi, kenapa tidak menunggu dirinya kembali. Padahal dia sendiri yang memintanya satu mobil dan mengajaknya makan terlebih dahulu.
Mata Caca mengamati tempat sekitar, namun bayangan Jodi tak ia temui. "Mungkin menunggu di mobil kali." Pikir Caca. Ia memilih duduk kembali dengan niat mau meneguk minumannya yang masih tersisa. Namun ketika ia mengangkat gelas ada secarik kertas di bawahnya.
Dengan rasa penasaran. Caca membalikkan dan membacanya, di sana tertulis dengan jelas.
Tagihan makan sudah ku bayar, kamu jangan pergi dulu. Sebelum saya kembali! pesan lah bila kamu membutuhkan sesuatu.
Begitu isi dari secarik kertas tersebut dan bertanda tangan di bawahnya, Jodi. Netra mata Caca terus mencari keberadaan Jodi, namun tak ada niat sedikitpun untuk mencarinya. Toh sudah jelas di suruh menunggunya.
Caca duduk dengan tenang. Menunggu Jodi kembali, sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya.
Dari jauh, Jodi berjalan membawa sebuket bunga mawar merah yang segar dan juga terangkai dengan sangat indah di tangannya.
Jodi berdiri tepat di depan Caca yang tengah asyik memainkan ponselnya. Ia tak melihat kedatangan Jodi sebelumnya.
Makanya ia terperangah kaget, tiba-tiba melihat Jodi berdiri di dekat kursi tempatnya duduk tadi.
Jodi tersenyum, dengan tangan ia sembunyikan di belakang punggungnya. Ia berkata. "Maaf. lama menunggu?"
"Dari mana Mas? anda lama sekali. Aku kira anda pulang duluan," sahut Caca menatap heran ke arah Jodi yang masih berdiri.
"Loh, tadi aku meninggalkan pesan di meja, apa tidak kamu baca?" tanya Jodi mengerutkan keningnya. Ia pikir mungkin Caca tak membaca pesan darinya.
"Secarik kertas. Baca, baca kok. Makanya saya menunggu di sini." Balas Caca dengan penuh rasa heran. Ngapain lama-lama di sini? bukannya pulang saja.
Jodi yang masih berdiri, menatap lekat ke arah Caca yang duduk di depannya. Kemudian Jodi menempelkan bokongnya di kursi tempat semula ia duduk. "Aku, ada sesuatu yang dibicarakan dengan mu."
Caca menoleh sekilas. "Tentang apa ya?" lalu menunduk dengan hati bertanya-tanya. Apa yang ingin Jodi bicarakan?
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Jodi menghela napas. Seolah menyiapkan diri untuk berkata. "Maukah kamu menjadi istri ku?"
Uhuk, uhuk. Uhuk.
Caca yang sedang meneguk minumnya sontak terbatuk-batuk, terkejut dengan perkataan yang Jodi lontarkan padanya. Mata Caca terbelalak. Tak percaya dengan yang Jodi ucapkan barusan. "Ma-maksud anda?"
"Saya bertanya padamu, maukah menjadi istri ku?" ulang Jodi dengan lantang. Sehingga orang yang berada di sana menoleh ke arah mereka berdua.
Mulut Caca menganga. Manik mata indahnya mulai berembun. Pandangan seakan kabur terhalang dengan air mata yang menggenangi. Dan pada akhirnya mengalir membasahi pipi. "Apa aku tidak salah dengar?" masih ingin meyakinkan hatinya.
Jodi mengangkat tangannya menunjukkan yang ia pegang. Ia berikan pada Caca. "Kamu tidak salah dengar. Saya serius, ingin menikahi mu. Menjadikanmu istriku, tempat ku mencurahkan isi hatiku."
Hati Caca semakin terharu. Mengambil sebuket bunga tersebut, pipinya yang basah dengan air mata, segera ia usap. Sebab hakikatnya air mata ini adalah air mata bahagia. Dalam hatinya yakin kalau Jodi adalah pria baik dan bertanggung jawab. Dan juga tentunya tidak akan menyia-nyiakan dirinya, seperti laki-laki yang sudah pernah menyakitinya.
Caca langsung begitu percaya kalau Jodi akan menjadi imam yang baik untuknya kelak. Dan tak mungkin Jodi main-main dengan kata-katanya barusan.
Jodi menatap mata Caca yang terus menitikkan air mata. "Apa kamu masih ragu dengan ucapan ku?" pertanyaan Jodi membuat Caca menggeleng pelan.
"Aku berjanji, akan berusaha menyayangimu dengan tulus. Dan sekuat tenaga untuk membahagiakan mu, tentunya selama aku masih bernapas. Aku ingin hidup bersama mu saat ini dan untuk selamanya," ujar Jodi.
Caca masih terdiam sembari mengusap air matanya. Netra matanya memperhatikan bunga mawar yang berada dalam pelukannya.
"Soal kamu mau terima atau tidaknya, itu hak kamu. Saya cuma mengutarakan isi hati dan niat tulus saja. Sebab semua kembali padamu," sambung Jodi pasrah.
Caca mengangkat kepalanya. Sehingga netra mata Jodi dan Caca bertemu sejenak, saling menatap lekat dan mesra. Sesaat keduanya terdiam seribu bahasa, tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Selain bahasa mata yang terus bicara ....
__ADS_1
****
Terima kasih reader ku yang baik hati semua. Telah mendoakan aku dan terus mendukung SKM ini sampai detik ini. Fav juga karya ku yang berjudul "Bukan Suami Harapan" ya🙏