Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Perjalanan


__ADS_3

Plak!


telapak tangan Irfan bersarang di pipi orang itu. "Jawab. Mau kau menyelinap masuk ha?" sergah Irfan.


Orang itu menggeleng tak menjawab sedikitpun. Dari sudut bibirnya menetes darah segar akibat tamparan barusan, dia duduk di kursi dan tangannya di ikat tali lumayan kuat.


"Kau tidak bisu kan?" Irfan geram menjepit dagu orang itu yang menunduk dan tak menjawab setiap pertanyaan dari Irfan.


"Ayo jawab, apa tujuanmu ke sini? di suruh siapa?" hardik Irfan lagi tangannya memukul tembok saking kesalnya.


"Saya tidak akan pernah bilang, siapa yang menyuruh saya. Dan saya gak akan pernah bilang juga tujuan apa saya menyelinap ke Mension ini, sekalipun nyawa saya taruhannya." Jelas orang itu.


Jelas hati Irfan tambah marah. Matanya memerah ingin rasanya, menendang orang itu seketika. Namun Irfan masih punya hati nurani yang penting orang ini belum sempat berbuat jahat.


"Masih untung, aku masih punya hati nurani. Kalau tidak, kau sudah habis di tangan ku. Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakan sesuatu, cuma ... data mu sudah berada dalam genggaman ku. Saya akan melepaskan mu namun saya akan tahu siapa saja yang akan menemui mu, saya akan dengan mudahnya siapa saja yang akan menghubungi mu."


Kedua mata orang itu menatap tajam pada Irfan seakan menyimpan dendam yang mendalam.


"Dengar, kita ini sebelumnya gak pernah kenal apalagi berbuat kesalahan. Jadi jelas tidak ada dendam, tapi kenapa tatapan mu seakan menyimpan dendam? kita ini punya masalah apa sebelumnya ha? saya yakin kalau kau ini punya tujuan dan ada orang di balik semua ini," ujar Irfan dengan nada tinggi.


"Saya sudah bilang. Sekalipun nyawa ku taruhannya, tidak akan pernah saya katakan," sahut orang tersebut dengan senyuman sinis nya.


Irfan, menyatukan giginya yang mengerat. "Dasar orang gila."


Kaki tangannya sudah gatal ingin melakukan sesuatu pada orang tersebut. Sebab merasa sudah menyerah, capek. Irfan menyerahkan orang itu ke pihak kepolisian.


Ibra dan Zayn bergegas mendekati sebelum polisi menjemput, Ibra menatap tajam ke arah orang tersebut.


"Apa tujuan dia Fan ke sini? jangan-jangan menabur apa gitu!" selidik Ibra melirik Irfan.


"Nggak mau jawab Bos. Sudah ku paksa juga. Tetap membisu." Irfan kesal.


Netra mata Ibra mengarah kepada orang tersebut. "Bilang punya tujuan apa ke sini, jawab?" hardik Ibra.


Orang itu menjadi nunduk dalam, tidak berani menatap tatapan Ibra yang sangat tajam itu.


Lalu Ibra melirik ke arah Irfan. "Fan, dia pasti punya keluarga. dan kita harus melakukan sesuatu agar dia menjawab."


"Baik Bos." Balas Irfan sembari mengangguk.


"Tapi ... jangan lah. Kita gak boleh melibatkan keluarga, siapapun itu." Ralat Ibra sambil menatap tajam kepada pria itu. "Sebenarnya, ada masalah kau sama kami ini?" dengan kata yang nada rendah.


"Jawablah wahai saudaraku dan apa tujuan mu. Sebab ... kalaulah tujuanmu baik, gak mungkin melipir atau menyelinap atau apalah itu namanya. Pastinya akan datang dengan baik-baik pula," ujar Zayn.


"Kami tidak akan menyiksa mu, karena kami tau itu hanya akan mengotori tangan kami semua. Maka dari itu jujurlah pada kami setelah itu kami akan melepaskan mu, Sebab kami tahu kamu hanyalah suruhan dan ada dalang di balik ini semua." Timpal Ibra dengan melipatkan tangan di dada.


Orang itu mengangkat wajahnya menatap ketiga orang yang ada dihadapannya. Bibirnya bergetar dan mulai mau bicara, namun keburu datang polisi yang menjemput. Akhirnya orang itu belum memberi keterangan apapun. Polisi berdalih biar tersangka memberi keterangan langsung di kantor saja.


Akhirnya mereka pun menyerahkan sepenuhnya pada pihak yang berwajib. Kemudian mereka bersiap pergi ke bandara untuk tujuan Bali.

__ADS_1


Ibra, Laras dan putranya serta Irfan. Di mobil yang sama, sementara pak Marwan, Bu Rahma. Susi juga Zayn di mobil satu lagi dengan supirnya masing-masing.


Setibanya di bandara langsung check-in, Irfan menerima kabar dari kepolisian kalau orang yang tadi itu ada yang menembak sampai meninggal dan Polisi akan terus menyelidiki kasusnya. Tentang penembakkan tersebut.


"Gila, kasus di Mension saja belum di mulai sudah timbul kasus baru. Motif apa coba?" gemuknya Irfan. Ia langsung laporan kepada Ibra dan Zayn.


Ibra tampak marah. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal, begitupun Zayn tampak tegang dan tak mengerti siapa yang jadi dalang dan maksudnya itu.


"Si dalang, sengaja melenyapkan nyawa orang itu supaya namanya tak terseret dan kejahatannya tidak bocor pada siapapun," ucap Zayn yakin.


Kepala Ibra menoleh dan mengangguk. "Apa mungkin Ruswan?"


"Dia di penjara Bos. Saya belum habis pikir. Apa maksudnya menyelinap ke mension? tentunya ada yang menyuruh kan? apalagi sekarang nyawanya hilang begitu saja. Sebelum memberikan kesaksian," ujar Zayn.


Irfan mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mencoba mengingat sesuatu, namun bleng tak ingat apapun.


Setelah mengikuti semua rangkaian di bandara akhirnya mereka naik pesawat yang tidak lama lagi akan Take-off. Laras menggendong baby boy bergantian dengan Ibra. Duduk pun berdampingan, di depan Bu Rahma dan suami. Di belakang Irfan dan Zayn, sementara Susi duduk sendiri.


"Zay. Susi sendiri kasian temenin sana? dia kan baru kali ini naik pesawat takut pingsan." Ibra menoleh ke belakang.


"Malas ah, nanti ngajak ribut lah." Zayn dengan malasnya.


"Saya aja yang temani dia," sambung Irfan sambil berdiri.


"No, saya saja kau jaga majikan mu di sini." Cegah Zayn, lalu ia berdiri melewati Irfan menghampiri Susi.


Zayn duduk di samping Susi yang menoleh ke arahnya.


"Untuk menemani kamu. Siapa tahu takut ketinggian--"


"Siapa bilang? berani kok, enak saja bilang takut ketinggian!"


"Ya sudah, kalau gak mau saya temani. Saya balik ke tempat asal." Zayn agak kesal dan ingin kembali ke tempat semula.


"Eh, jangan!" pinta Susi sambil memegang tangan Zayn yang hendak berdiri. Susi berubah pucat ketika melihat dari jendela kalau pesawat itu mulai mengapakkan sayapnya terbang ke angkasa. Keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya termasuk telapak tangan yang memegangi tangan Zayn dengan erat.


Zayn tersenyum lebar melihat tingkah Susi dan membalas pegangannya. "Tenang kau aman bersama ku." Pelan yang di balas dengan lirikan saja oleh Susi.


"Takut, gimana kalau pesawat ini tak balik lagi ke bumi?" suara Susi bergetar.


Zayn tergelak tertawa merasa lucu dengan perkataan Susi. "Ha ha ha ... ada juga pesawat ini terjatuh, hancur dan tak berkeping Sus. Bukan terus melayang di angkasa bahan bakar habislah."


Susi menatap Zayn. Semakin ketakutan, bibirnya bergetar, wajahnya pucat Pasi. Telapak tangannya semakin dingin. "Apa? jatuh kalau pesawatnya hancur, berarti orang-orang?"


"Ya hancur juga lah."


Hik hik hik. "Ibu, ayah ... adik doakan aku." Air mata Susi tumpah ruah membanjiri pipinya. Ia semakin ketakutan setelah mendengar ucapan Zayn. Membuat orang-orang yang mendengar suara Susi menoleh. Termasuk yang di belakang, majikannya.


"Walaupun tubuh kita tak hancur. paling di makan ikan hiu di laut." Zayn semakin memperkeruh keadaan.

__ADS_1


Susi semakin dibuat panik. Was-was dan genggamannya semakin kuat. Kepalanya menyusup ke bahu Zayn. "Tenang. Berdoa juga." ucap Zayn.


Laras yang sedang menggendong baby boy pun celingukan. "Susi kenapa tuh?"


"Paling di godain Zayn biarlah." Balas Ibra sambil menyandarkan kepalanya.


Selang persekian waktu perjalanan Bali pun berakhir. pesawat landing. Semuanya berangsur keluar, Susi merasa lututnya bergetar sehingga dia di papah oleh Zayn.


"Huuh ... bikin repot saja." Gerutu Zayn sambil memapah Susi.


"Salah sendiri, nakut-nakuti aku." Balas Susi dengan tangan melingkar di pundak Zayn.


"Yang saya katakan itu benar, kalau tak percaya. Tanyakan saja sama orang lain. Dasar kampungan--"


"Memang saya orang kampung," timpal Susi selalu tak mau kalah.


"Sudah, ribut mulu ih," tegur Laras.


"Halallin sajalah. Biar bungkam." Ibra nimbrung.


"Mau gak kalian nikah di sini. Saya asal sah aja. Mau ya? biar resepsi nya nanti saja kalau sudah pulang--"


"Biar sekalian bulan madu." Tambah Ibra.


"Ide bagus tuh, saya setuju itu. Wali hakim saja ya? lagian bisa lewat ponsel kok untuk minta wali dari orang tua," sambung pak Marwan.


"Iya, Sus mau ya? Zayn ini akan menjadi suami yang baik kok untuk mu," Bu Rahma meyakinkan.


Susi menggeleng. "Ogah. Gak mau."


"Saya juga gak mau." Zayn membuang mukanya kesal.


"Susi ... kami semua sayang kamu, makanya ingin kalian bersatu. Setelah kalian menikah nanti. Terserah kamu masih mau bekerja atau diam di rumah saja. Toh ada suami yang akan mencukupi mu." Laras terus membujuk Susi.


"Dan kamu jangan sok gak mau, bilang saja yang sebenarnya. Bila kamu itu suka sama Susi, jujur aja kenapa sih?" Ibra menepuk pundak Zayn.


Zayn menatap lekat ada Ibra dengan senyuman yang penuh arti.


"Tuh ... kan? Zayn itu sayang sama Susi. Mau ya?" bujuk Laras menggenggam tangan Susi.


"Iya, Susi ... kamu akan hidup enak loh, gak harus kerja atau apalah." Bu Rahma memandangi Susi.


"Tapi Susi masih ingin sama Nyonya muda dan mengasuh baby Satria." Keluh Susi.


"Terserah ku Sus. Mau masih bekerja atau berhenti silahkan. Cuma kerja juga gak harus 24 jam juga." Timpal Ibra lagi.


Setelah mendapat bujukan dan dukungan dari semua majikannya membuat Susi jadi dilema. Bingung antara mau dan gengsi ....


****

__ADS_1


Apa kabar hari ini? mohon dukungan nya pada Novel yang berjudul "Bukan Suami Harapan" Novel SKM ini akan segera selesai jadi aku ucapkan makasih banyak pada yang sudah mendukung novel ini🙏


__ADS_2