Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Nampak anggun


__ADS_3

Rupanya suara itu, dari suara tuan Marwan, dia bersama istri secepatnya datang! setelah mendengar berita kehamilan Laras dari Dian.


"Tidak! apa-apaan kau Dian? bagaimanapun Laras istri sah Ibra, wajar kalau mereka mau bergaul! sekalipun sedang hamil," sambung Rahma.


Bu Rika, sesungguhnya sudah melihat dari tadi. Kalau orang tua Ibra berdiri arah belakang mereka. Mereka memberi kode pada bu Rika supaya pura-pura gak tau kedatangan mereka.


"Mama. Papa?" panggil Dian sangat terkejut dengan kedatangan mertuanya. Sebab kemarin bilang mau datangnya minggu depan.


"Mama ... dan Papa" gumam Laras, tak kalah kagetnya. Kemudian berdiri mau menghampiri.


"Jangan berdiri sayang! katanya kaki kamu sedang luka, jadi sudah, duduk saja." Rahma menghampiri dan langsung memeluk Laras. "Selamat ya sayang ... akhirnya Mama punya cucu juga."


Dian terpaku, sudah ia duga. Orang tua Ibra pasti menyambut bahagia kehadiran calon baby putranya.


"Haduh ... saking senang dan bahagianya kami, sampai-sampai secepatnya berangkat ke Indo hanya untuk bertemu anak mantu kami," kata pak Marwan dangan raut wajah yang penuh kebahagian.


Laras tak mampu berkata-kata, ia hanya menikmati pelukan sang mertua dengan rasa haru yang menimbulkan buliran air bening di sudut matanya. Orang-orang di rumah ini sangat menyambut bahagia, atas kehadiran calon baby yang mengisi rahimnya.


Termasuk Dian yang berharap kehadirannya. Meskipun sikapnya membuat Laras pusing, kata-katanya yang lirih namun menyakitkan, namun kadang Laras dapat memahami itu.


"Mama barusan ketemu Ibra di lobby. Katanya kaki kamu tersiram air panas, kok bisa sih sayang? lain kali hati-hati."


"I-iya Mah." Laras mengangguk.


Kini pak Marwan dan Rahma sudah duduk di kursi meja makan. "Dian gak boleh gitu sayang, sama Laras, bagaimanapun Laras istri Ibra juga. Sekarang Mama tanya sama Dian. Laras ini nikah tidak sama Ibra? rasanya gak mungkin putra Mama kumpul kebo gitu tanpa menikah," rentetan ucapan dari bu Rahma pada Dian.


"Menikah," jawab Dian singkat.


"Menikah! terus kenapa Dian melarang Laras untuk berhubungan dekat dengan Ibra sebagai suaminya?" Marwan pun bertanya.


"Em ... bukan maksud aku seperti itu. Pah. Mah, kalian salah dengar!" elak Dian.


"Bener. Mah ... bukan begitu maksud Kak Dian, Mama dan Papa salah faham. Kak Dian cuma ... cemburu saja kali melihat Laras yang terlalu diperhatikan." Laras membela Dian.


Dian menatap lekat pada Laras. "Bagus! bila kau dapat fahami itu," batinnya.


"Salah faham gimana sayang? Mama gak ngerti deh. Jelas-jelas Dian bicara seperti itu tadi, ah terserah! pokoknya Mama dan Papa tidak setuju," protes Rahma.


"Ya ... sudah. Dian berangkat kerja dulu. Mah. Yah, sudah siang." Dian berdiri meraih tas nya. Dia pergi setelah bersalaman sama kedua mertua nya.


Bu Rahma dan Marwan. melanjutkan sarapannya. Sementara Laras berdiri hendak ke kamar.


"Mau ke mana sayang?" tanya bu Rahma ketika melihat Laras beranjak dari duduknya.


"Mau ke kamar sebentar! nanti Laras kembali. Aku permisi dulu, Mama dan Papa sarapan aja dulu," kata Laras kemudian berlalu dari meja makan.


"Bu Rika! gimana keadaan rumah ini dalam beberapa waktu ini? setelah kemarin kami balik," tanya bu Rahma, di sela makannya.


Bu Rika yang berdiri mengangguk. "Banyak kejadian yang, bikin saya tidak mengerti Nyonya besar."


"Apa itu? Marwan penasaran.


"Nyonya Yulia sudah tidak ada di mension ini lagi! kamarnya sudah kosong tanpa ada satu pun barang yang tertinggal di sana.

__ADS_1


Rahma dan Marwan saling pandang. "Apa? Yulia sudah tidak di sini lagi. Kemana dia!"


"Pindah, sepertinya sudah tuan, cerai!"


"Apa? yang benar! kau tidak salah dengar!" tanya bu Rahma masih ragu.


"Benar Nyonya besar, untuk memastikannya tanya saja sama tuan Ibra." sambung bu Rika.


"Alhamdulillah ... akhirnya satu sudah di kurangi. Buat apalah istri banyak? bila tidak berfungsi. Mendingan satu," gumam Marwan di sela meminum air di gelas.


"Papa... kok ngomong gitu?" bu Rahma menatap suaminya.


"Iya, bener! ngapain punya istri banyak? kalau hanya status saja," tambahnya.


"Tapi ... gak mungkin segampang itu Ibra menceraikan Ibra Pah. Pasti ada sebab yang benar-benar serius." Rahma melamun.


Setelah dari sarapan! Laras ke kamarnya langsung ke kamar mandi. Mengambil air wudu untuk salat duha, tidak lama di kamar mandi langsung mengenakan alat salat. Laras bersimpuh memohon segala segala ampunan, serta doa kebaikan untuk keluarga nya.


"Ya ... Allah semoga anak yang aku kandung ini membawa berkah untuk semua orang! membawa kebahagian untuk semuanya. Aamiin." Laras mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.


Sementara waktu Laras merenung di balkon, memandangi kebun buah. Oo ... oo ... o ... perut Laras mual, ia berlari ke kamar mandi. Mengeluarkan isi perut yang belum lama ini di isi sarapan, habis semua hingga tak tersisa. Menjadikannya lemas. Dan mata kunang-kunang.


Laras meletakkan kedua telapak tangan di bibir wastafel, sebagai penyangga tubuhnya yang condong ke depan. Kepalanya sedikit pusing, perlahan ia ayunkan kaki ke tempat tidur. Dalam dua hari ini memang setiap jam segini Laras merasakan mual yang agak parah.


Sampai di tempat tidur! langsung menjatuhkan tubuhnya dan berbaring. Rasanya enggan untuk bangun lagi, menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang berasa dingin. "Aduh ... rasanya malas bangun lagi.


Sampai pukul sebelas. Laras tertidur pulas, sampai-sampai beberapa kali bu Rahma gedor pintu pun tidak kedengaran saking pulas nya.


"Halo ... ada apa?"


"Sudah siang, bangun siapkan air dingin dan pakaian ganti, saya mau pulang dan makan siang di rumah dengan rekan kerja! oya, jangan lula dandan yang cantik." suara orang dari sebrang.


Laras memicingkan mata, melihat putaran jam. Sudah menunjukan pukul 11.20 menit. "Baik tuan."


Sambungan telepon pun terputus. Laras memeluk guling dan memejamkan mata. "Masih ada waktu 30.menit lagi untuk tidur ah. Ngantuk ...."


Tepat pukul 12.00 Laras bangun, dan bergegas mandi. Sebentar berendam di bathtub, kemudian Laras selesai bersih-bersih melaksanakan salat duhur.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Nyonya, apa sudah bangun?" suara Susi dari balik pintu. Sementara Laras masih melaksanakan sujud terakhir. "Assalamu'alaikum warahmatullahi ..."salam ke kanan. "Assalamu'alaikum warahmatullahi ..." salam ke kiri. Kemudian bola mata Laras bergerak kearah pintu.


"Sudah, masuk aja!" sahut Laras.


Blak!


Pintu terbuka tampak Susi menenteng pakaian untuk dikenakan Laras sekarang. "Ini Nyonya muda! pakaian buat di pakai sekarang," menyodorkan pada Laras yang sedang melipat mukena nya.


"Oh, makasih Susi. Mama sama Ayah ke mana?" tanya Laras.

__ADS_1


"Ada di kamarnya, tadi ke sini! tapi Nyonya muda tidak bangun. Sepertinya pulas sekali," ucap Susi.


"Iya, Sus. Aku baru bangun, ya sudah! aku mau ganti baju dulu." Laras segera ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Setelah menggantinya. Laras bergegas menuju salon, di ikuti oleh Susi. Selesai make up Laras langsung ke lobby untuk menyambut kepulangan Ibra.


Kali ini Laras di temani Susi. Laras duduk santai sambil menunggu, dari jauh terlihat iringan mobil mewah memasuki gerbang mension.


Ibra keluar dari mobilnya. Diikuti oleh asisten pribadi. Zayn. Dari mobil mata Ibra sudah tertuju pada Laras yang tengah duduk santai menunggu kedatangan dirinya. Penampilannya simpel namun nampak anggun, auranya keluar begitu cantik.


"Sudah pulang Tuan?" Laras menyambut Ibra dengan senyuman terbaiknya dan setelah dekat, meraih tangan Ibra kemudian menciumnya.


"Iya," Ibra menatap Laras sangat lekat. kemudian menarik kepala Laras dan mencium keningnya dengan lembut.


Laras terbawa perasaan sehingga memejamkan mata saat itu.


Tuan! kami masuk duluan!" kata Zayn sambil menepuk pundak Ibra yang berdiri berhadapan dengan Laras. Diikuti oleh rekan-rekan kerja.


"Hem ..." sahut Ibra menoleh kearah Zayn.


"Saya mau mandi dulu!" ucap Ibra mengayunkan langkah lebarnya menuju kamar pribadi Ibra. Laras mengikuti dari belakang, di lift barulah mereka berdiri sejajar.


"Gimana? masih suka pusing?" tanya Ibra.


"Masih. Tuan, tapi di jam-jam tertentu saja," sahut Laras.


Sesampainya di kamar. Laras bergegas menuju kamar mandi untuk menyiapkan air di bathtub. Kemudian keluar berjalan menuju wardrobe untuk pakaian gantinya Ibra, sebelum masuk wardrobe mata Laras mendapati Ibra bertelanjang dada membuat ia menelan saliva nya sendiri.


Ibra melirik sambil masuk kamar mandi. Meninggalkan pakaian kotor di sana.


Beberapa saat kemudian Laras keluar dari wardrobe, memungut pakaian kotor. Ia masukan ke keranjang, lalu berdiri dekat jendela melihat suasana di luar.


Ibra muncul dari balik pintu, langsung mencari keberadaan Laras yang ternyata berdiri dekat jendela dengan menyilang kan tangan.


Saat anteng dengan lamunan, dan pandangan kosong ke luar. Ada tangan melingkar ke perutnya. "Tu-Tuan!"


"Hem ..." suara Ibra begitu halus di telinga Laras.


Ibra memeluk Laras dari belakang. "Sedang melihat apa Hem ... gimana kabar calon baby saya?" bisik nya.


"Baik."


"Jangan berharap cinta dari Ibra," kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Laras. Ia melepaskan pelukan Ibra. "Sudah waktunya makan siang, pakailah pakaian mu. Tuan!"


Namun Ibra malah mengangkat dagu Laras dengan telunjuk, netra matanya tertuju pada bibir Laras yang merah jambu warna kesukaannya.


Wajah Ibra mendekat. Laras malah mundur, bikin Ibra tambah penasaran. Ibra tidak menyerah begitu saja. Terus saja wajahnya mendekat dan tangan menarik tengkuk Laras sehingga Laras tak bisa menghindar lagi. Akhirnya Ibra dapat juga mengecup b**** Laras yang lembut.


Blak! pintu terbuka. "Sorry, didn't mean to interrupt. Please continue?" ucap seseorang ....


,,,,


Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya.

__ADS_1


__ADS_2