
Di pagi buta gini, sudah mulai terdengar sayup-sayup terdengar suara tarhim subuh. Menandakan menjelang subuh, Laras terbangun dan menggeliat nikmat. Namun siku tangan Laras membentur perut Ibra yang nampak tertidur sangat pulas.
Laras sangat terkejut, lalu bangun dan duduk bersandar ke bahu tempat tidur. Menggosok matanya berkali-kali. "Sejak kapan? dia di sini. Bukannya semalam itu tidur sama Dian," gumamnya Laras mengernyitkan keningnya.
"Eeh, semalam itu ... aku kunci pintu, kenapa tiba-tiba Abang ada di sini? ih ... seperti siluman aja nih orang, suka masuk tiba-tiba! masih mending dia suami ku, kalau aja bukan. Aku tendang juga nih orang." Laras terus menatap pria yang tengah tidur itu.
Laras memandangi wajah pria itu begitu anteng. Tidak puas dari kejauhan, mendekatkan wajahnya agar bisa melihat dari jarak yang lebih dekat lagi. Serta tercium wangi tubuhnya.
"Hi, Tuan. Kenapa kau tinggalkan istri cantik mu itu, di kamar sebelah? kasian tahu ... dia pasti marah, dan aku juga yang akan kena benci dia. Ah, tadi kamu bikin hatiku panas. Kau bikin aku cemburu Tuan, tapi ... apa hak ku untuk cemburu? dia wanita yang sangat kamu cintai, sementara aku cuma pencetak anak bagimu," ucap Laras lesu sambil menunjuk-nunjuk dada bidang pria tersebut.
Kemudian Laras tertawa kecil. "He he he ... kamu itu siluman dari mana sih? selalu saja bisa masuk, ketika pintu kamar ku terkunci. Begitupun kau selalu menyelinap masuk ke dalam hati ku. Aku benci kamu Tuan, tapi kamu selalu meluluhkan nya. Salahkah aku? bila mencintai mu."
"Tidak, tidak salah." Suara parau Ibra membuat Laras sangat terkesiap dan hendak bangun. Namun kalah cepat dengan tangan Ibra yang merangkul punggungnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Laras gugup, malu bila Ibra sampai dengar ocehannya sedari tadi.
"Sudah," sahut Ibra dengan suara beratnya, sementara matanya tetap terpejam.
"Sejak kapan?" selidik Laras dan berusaha bangun, namun tubuhnya terkunci.
"Sejak tadi, ketika ... kamu bilang hi Tuan." Jawabnya lagi.
"Ya, Allah ... aku malu." menyembunyikan wajahnya di dada Ibra. Kalau saja terlihat, wajah Laras merah seperti merahnya buah tomat.
Bibir Ibra tertarik, tersenyum. Lalu membuka mata. Memicingkan matanya melihat Laras yang menyusup di dadanya.
Laras menggelinjang. "Kamu belum mandi ya? peluk-peluk aku ih ..." gumamnya Laras sembari bergidik.
Ibra bangun, dan mengernyitkan keningnya. "Kenapa sayang? semalam aku mandi. Kamu tahu itu."
Laras mengamati tubuhnya yang masih lengkap dengan pakaian. Kali aja semalam Ibra melakukan sesuatu. "Tapi ... Abang semalam sama Kak--"
"Oh, itu. Aku gak melakukan apa-apa sama Dian--"
"Nggak mungkin." Sambar Laras.
"Bener sayang ... kalau sama kamu sih ... mungkin--" Ibra menggantung ucapannya sembari menyeringai.
"Mungkin apa ih? semalam ngapain aku," selidik Laras. Dengan tatapan lekat.
Ibra menggeser duduknya dan merangkul bahu Laras, ditariknya kedalam pelukan. "Mungkin ... mau."
"Mau apa ih?" netra mata Laras menatap kedua netra mata Ibra yang juga menatapnya.
"Maunya sih ... ngasih kewajiban ku." mendekatkan wajahnya dengan wajah Laras.
Tinggal 3 senti lagi sampai Tujuan, Laras terperanjat seraya berkata. "Aku mau pipis. Juga mau mandi dulu, sudah masuk subuh.
Ibra menangkap tangan Laras yang sudah turun ke lantai. "Bareng ya mandinya?"
Sejenak Laras diam, kemudian mengangguk. "Boleh, tapi jangan lama-lama ya?"
"Iya." Ibra turun dan membungkukkan badan menggendong tubuh Laras.
"Ah, aku bisa jalan sendiri," ucap Laras yang terkesiap, dengan perlakuan Ibra.
Ibra membawa Laras ke kamar mandi, lalu mandi bersama. Tidak lama di kamar mandi mereka bergegas menunaikan salat subuh bersama. Selepas salat seperi biasa Laras mencium punggung tangan Ibra. begitupun Ibra mencium pucuk kepala Laras penuh kasih.
Laras membuka-buka gorden di kamar itu, Ibra menghampiri dan memeluk dari belakang. Membungkukkan sedikit badannya dan meletakkan dagu di dekat leher Laras.
"Aku, ke kamar sebelah dulu ya?" bisik Ibra.
__ADS_1
"Iya," sahut Laras sambil mengangguk.
Ibra memutar tubuh sang istri, supaya berhadapan dengannya. Masih penasaran kalau belum dapat yang dia mau. Dengan tatapan sangat lekat, telunjuknya mengangkat dagu Laras yang menundukkan pandangannya.
Tatapan kedua netra mata Ibra tertuju ke lukisan Tuhan yang indah ini. Hati Laras bergemuruh jantungnya masih selalu berdegup kencang kalau berdekatan dengan Ibra, akhirnya Ibra mendapatkan juga yang ia inginkan. Ia menyeringai penuh kemenangan, setelah mendapatkan kiss pagi nya dari bibir Laras.
Jari Ibra mengusap bibir Laras yang basah itu. "Ya, sudah. Aku ke kamar sebelah dulu ya? tunggu aku di meja makan." Cuph, lagi-lagi kecupan kecilnya mendarat di kening Laras. "I love you baby," bisik Ibra. Kemudian meninggalkan Laras seorang diri.
Sebab tidak jauh dari kamar utama, Ibra sudah sampai di depan kamar Dian. Sebelumnya bertemu dengan Susi yang sudah mulai berkutat di dapur.
Ibra masuk, nampak Dian masih terlelap di tempatnya. Ibra menggeleng pelan, lalu mendekatinya. Mencium keningnya. "Sayang ... bangun. Dah siang juga." Menepuk pipinya Dian dengan pelan.
"Hem ... masih ngantuk," gumam Dian. Memicingkan matanya pada Ibra yang sudah rapi kayanya sudah mandi.
"Bangun, sudah siang. Salat-salat subuh dulu. Titah Ibra." Menepuk pipi Dian.
"Hem." Dian kembali bergumam dan memeluk guling dengan rasa malas untuk bangun.
"Sudah siang, sayang malu lah sama Mama mertua. Bukannya ikut masak, ngerjain apa kek?" sambung Ibra sambil duduk di sofa.
"Apa?" mata Dian terbelalak, melotot dengan sangat sempurna pada Ibra.
"Bangun, salat subuh. Bantu-bantu masak. Ini bukan di mension yang banyak asisten, sayang ... di sini dikerjakan sama-sama." Sambung Ibra.
"Buat apa ada Susi? kalau kita juga yang ngerjain." Timpal Dian meringsut duduk.
"Tapi apa salahnya sih? cepetan bangun. Bereskan tempat tidurnya, jangan lupa." Ibra berdiri dan hendak melangkah.
"Eeh ... sejak kapan? kamu nyuruh-nyuruh aku," dengan nada kesal.
Ibra membalikkan badannya. "Aku ingin kamu, menjadi istri yang lebih baik. Itu saja." Menatap Dian dengan sangat tajam.
"Jadi, selama ini kamu pikir. Aku istri yang kurang baik gitu? berapa tahun kita hidup bersama ha! sekarang kamu bilang begitu setelah kamu punya istri yang baru. Kamu jahat," ungkap Dian, mata berkaca-kaca.
"Ooh ... kamu ingin aku jadi seperti pembantu? mengerjakan semua pekerjaan rumah dan juga keperluan mu gitu?" ucapan Dian memotong perkataan Ibra.
"Bukan aku, ingin menjadikan mu pembantu! tapi apa salahnya kamu merubah diri. Agar jadi sosok yang lebih baik lagi." Ibra membalikkan badan, mengayunkan langkahnya meninggalkan Dian yang memandangi dirinya dengan mulut menganga.
"Aku, harus merubah diri?" Dian menggeleng. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Netra matanya Dian menggenang buliran air mata. Kemudian mengusapnya kasar, dengan helaan napas yang panjang, ia turun dan menginjakkan kaki di lantai menuju kamar mandi, namun sebelumnya menelpon bu Rika. Agar membawakan pakaiannya.
Ibra yang meninggalkan Dian, bukannya tega bilang seperti itu. Tapi memang sudah saatnya dia berubah dalam arti menjadi orang yang lebih baik, istri yang lebih baik juga.
Di meja makan Laras sudah nampak menyiapkan piring, melihat Ibra datang. Langsung ia mengajukan pertanyaan. "Sudah bangun belum Dian nya?"
Ibra mendekat. "Sudah, sepertinya. Dian tidak tahu kalau aku semalam bersama mu, anggap saja seperti itu," bisik Ibra dengan mata menyapu ke semua ruangan.
Laras menghembuskan napasnya kasar sambil menatap ke arah Ibra yang menarik kursi menghadap meja makan. "Abang mau aku buatkan kopi atau susu hangat?" tanya Laras pada Ibra.
"Kalau susu hangat, masa tadi gak nemu? hahaha," celetuk bu Rahma.
"Nggak Mah. Laras pelit, gak mau ngasih dia," sahut Ibra sambil melempar senyuman pada Laras.
"Apaan sih?" ucap Laras malu-malu. "Tinggal jawab aja mau di bikinkan apa?" lirih Laras.
"Kopi saja."Jawab Ibra sambil membuka ponselnya.
Tidak lama kopi pun jadi. Ibra nyeruput kopinya sambil anteng dengan ponselnya.
Dian muncul menghampiri meja makan. Kemudian membuat susu hangat untuknya, melirik ke arah Laras. "Acaranya kapan?"
__ADS_1
"Oh, nanti sekitar pukul sembilan paling telat, Kak." Jawab Laras dengan senyumnya.
"Ooh." Dian membawa gelas susu nya ke meja makan duduk dekat Ibra.
Ibra menoleh Dian yang masih memakai handuk mandi. "Sudah mandi? kok masih pake handuk."
"Nunggu bu Rika bawakan pakaian ganti," sahutnya sambil menyeruput susu hangat miliknya.
"Oh." Ibra singkat.
Kemudian sarapan pun sudah siap, Laras dan Susi menyajikan di meja makan, bu Rahma pun turut menata setiap piring hidangan. Mereka sarapan bersama, dibarengi obrolan-obrolan yang ringan.
Di luar bu Rika sudah sampai di kediaman Laras. Dia langsung masuk lewat belakang. "Susi ..." teriak bu Rika setelah berdiri di depan pintu belakang.
"Ah ... Bu Rika, akhirnya datang, aku kangen sama bu Rika." Susi loncat meninggalkan sarapannya memeluk bu Rika.
"Apa kabar kamu, lupa ya sama saya? mentang-mentang sudah hidup enak," ucap bu Rika sambil memeluk Susi.
"Ih ... enak saja bilang aku lupa, tiap hari juga kita watshapp, kan?" elak Susi tak terima dibilang lupa.
Bu Rika melepas pelukannya dengan Susi, kemudian menghampiri Laras. "Apa kabar Nyonya muda?" bu Rika mengangguk hormat.
Laras tersenyum. Lantas memeluk bu Rika. "Aku baik BuRik ... he he he ... kok baru ke sini? yuk makan bersama. Belum sarapan, kan?"
"Saya sibuk, Nyonya dan baru bisa menyempatkan diri sekarang ini." ucapnya.
"Ya, udah. Mendingan makan dulu ya? Susi ... piring buat bu Rika.
"Nyonya Dian, ini pakaian yang anda minta." Bu Rika memberikan sebuah paper bag.
"Oke." Dian mengambil paper bag tersebut. Di simpan di belakang tubuhnya.
"Tuan besar dan Ibu beras selamat pagi?" sapa bu Rika sembari mengangguk hormat pada orang tua Ibra.
"Iya, Bu Rika." Sahut pak Marwan dan Rahma berbarengan.
Anda sudah beberapa hari di Indonesia tapi belum berkunjung ke mension? Tuan dan Nyonya."
"Iya, gimana kamu mau ke sana, Bu Rika. Semuanya ada di sini," timpal bu Rahma sambil mengulas senyumnya.
"Iya, ya!" kemudian bu Rika mengambil salah satu kursi. Lantas duduk dekat Susi. Mengambil sarapannya.
"Ke sini sama pak Barko, mana dia?" tanya Ibra pada bu Rika.
"Oh, pak Barko. Sudah balik lagi, ayang ketinggalan, itu ... barang Nyonya muda yang di tinggal di sana." Jawab bu Rika, lalu menyuapkan sarapannya.
Dian yanga tak terbiasa makan semeja dengan asisten, banyak bengong dan sepertinya tidak berselera makan. "Makin ke sini bukannya makin berkelas malah rendah. Buat apa juga makan satu meja dengan asisten?" batin Dian sambil mengaduk makannya.
Seusai makan, Laras dan yang lain langsung ganti kostum. Dengan setelan yang lebih sopan. Bahkan Laras mengenakan kerudung. Nampak sangat cantik.
"Waw ... Istri aku sangat cantik sekali," ucap Ibra sambil mengukir senyumnya. Menatap pantulan wajah Laras di cermin.
"Apaan sih? malu." Laras bersemu merah pipinya.
"Sama siapa? di sini cuma ada bu Rika." Kata Ibra yang menoleh bu Rika yang merapikan pakaian Laras.
"Sana ah, nanti Dian nyariin." Suruh Laras untuk pergi.
"Iya, sayang. Iya," cuph mengecup pucuk kepalanya, lalu pergi keluar.
Waktu terus berputar. Para tamu sudah mulai berdatangan ibu ustazah Ida pun sudah datang. Bersama ibu-ibu komplek lainya, termasuk pak Rt beserta istri ....
__ADS_1
****
Terima kasih reader ku yang sangat aku sayangi, tanpa kalian aku bukan siapa-siapa. Kalian sudah membaca, kan? jangan lupa like dan komentarnya ya, jujur aku suka mesem-mesem sendiri bila baca komen kalian semua yang beragam. Itulah salah satu bikin aku semangat💪