
"Kira-kira, mereka ada perlu apa ke rumah Laras ya Pa?" gumamnya bu Rahma sambil menatap ke arah suaminya.
"Entah, biar ajalah. Mungkin lain kali mereka akan datang lagi, jangan mikirin yang lain lah, mending pikirkan yang satu ini. Sudah lama tidak berenang, di lembah yang indah milik mu," ucap pak Marwan sembari merangkul bahu sang istri.
"Apaan sih?" bu Rahma menepuk pundak sang suami malu-malu kucing, alias malu-malu tapi mau.
Pak Marwan merengkuh tubuh sang istri seraya berbisik. "Yu, gak tahan nih."
Dengan tidak membuang waktu, pasutri ini langsung melakukan pemanasan. Untuk menaikan hasrat keduanya, saling peluk dan kecup. Kecupan-kecupan mesra keduanya dan tangan yang kian aktif, makin membakar gairah pasangan itu tersebut. Meski terbilang sudah tidak muda lagi. Tapi dalam urusan yang satu ini tidak kalah dengan yang masih muda. Sangat perkasa.
Ibra yang tengah di ruang kerjanya. Menangkap bayang sang istri yang masuk ke tempat itu. "Sayang, ada apa?"
Laras duduk di sofa panjang. "Gak ada kawan," gumamnya.
tangan Ibra menutup laptopnya. Kemudian berdiri, berjalan mendekati sang istri. Duduk di samping dan merangkul bahunya. "Tadi aku ada sesuatu yang mengharuskan ke sini, meninggalkan mu sendiri. Lagian tadi kamu tidur nyenyak banget." Tangan Ibra mengelus pipi sang istri, lalu mengecupnya singkat.
"Apa kamu sibuk?" tanya Laras mendongak menatap kedua netra mata Ibra yang juga menatapnya.
"Nggak, kenapa sayang hem?" lirih Ibra sangat lembut.
Laras tak menjawab. Ia malah menyandarkan kepalanya di dada sang suami, Ibra tersenyum senang melihat sang istri yang bersikap manja padanya.
"Apa ada yang sakit kah?" sambung Ibra sembari mengelus perut buncit sang istri.
Kepala Laras menggeleng. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami, betapa nyamannya di sana. Bibir Ibra kian mengembang, menempelkan dagu di pucuk kepalanya. "Kalau merasa nyaman. Tetaplah begini sayang."
Beberapa saat kemudian, Laras menjauhkan kepalanya dan duduk tegak dan sedikit mendongak. "Kamu boleh kerja lagi, biar aku di sini aja."
Ibra yang sedari tadi mengembangkan senyumnya. Kembali menarik tubuh sang istri, membawa ke dalam pelukannya lagi. "Nggak sayang, gak sibuk kok."
Laras kembali menikmati kenyamanannya. Dalam pelukan sang suami yang tak henti-hentinya mengelus perutnya dengan sangat lembut.
"Oya sayang, orang-orang yang sudah menghujat atau menghina mu itu, kini meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena telah mengata-ngatai dirimu. Mereka sudah sok tahu dan semacamnya. Kini mereka sudah tahu kebenarannya, jadi jangan khawatir dan jangan berpikir macam-macam lagi ya? kamu berhak bahagia bersama ku dan anak kita," ujar Ibra sembari memberi kecupan mesra di puncak kepala Laras.
Laras mengangguk pelan. "Aku sudah gak perduli lagi kok, terserah mereka mau ngomong apa, lagian kita tak saling kenal juga."
"Baguslah. Kalau pikiran mu seperti itu, biar hidup kita lebih tenang dan bahagia. Aku menyayangi mu." Ibra mengeratkan pelukannya.
Kepala Laras mendongak. "Apa benar Abang menyayangi ku?" tanya Laras ingin meyakinkan dirinya tentang perasaan sang suami. Sebab kalau perasaan terhadap anaknya itu jelas tak usah di tanya lagi.
Jari Ibra menyangga wajah cantik Laras. Dengan tatapan yang penuh arti Ibra menjawab. "Tentu sayang ... aku menyayangi dan mencintai mu, kenapa bertanya seperti itu hem? apa tak merasakannya."
Netra mata Laras bergerak, melihat kedua manik mata Ibra yang menatap intens dirinya. "Bukan cuma menyayangi anak ku saja, kan?"
"Nggak lah sayang, bukan cuma sayang sama anak kita, sama kamu juga." Wajah Ibra mendekati wajah Laras dan mengecup bibirnya yang ranum itu singkat.
Laras menarik bibirnya tersenyum bahagia. Melihat bibir Laras mengulas senyuman, Ibra mendaratkan lagi kecupan kecil di bibir sang istri. Mulanya cuma kecupan biasa aja, namun lama-lama tangan Ibra bergerilya ke mana-mana. Terutama bukit kembar milik sang istri.
"Tuan, makan si--" Bu Rika yang datang untuk memberi tahu bahwa makan siang dah siap, melihat pintu terbuka sedikit. Sehingga ia mendorongnya tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan tak sengaja melihat sang majikan sedang bercumbu.
Membuat bu Rika mundur dan memunggungi pintu. Dengan hati yang tak menentu.
Ibra dan Laras terkesiap, dan Ibra segera merapikan pakaian laras bagian atas itu. Dengan kesal, Ibra mengusap bibirnya kasar. "Lancang."
Laras mengusap dada Ibra seraya berucap. "Sabar Abang. Jangan marah. Salah ku yang lupa menutup pintu."
Ibra menghela napas panjang. Dan mengaturnya, Laras benar. Lagian memang mereka yang salah juga bercumbu di ruang kerja. Akhirnya mengacak rambutnya kasar, berdiri menghampiri bu Rika.
"Ada apa, Bu? tanya Ibra berdiri di belakang bu Rika.
Bu Rika berbalik. "Maaf Tu-Tuan, tak sengaja. Saya dah lancang, sekali lagi maaf Tuan."
"Sudahlah. Ada apa?" ulang Ibra lagi.
__ADS_1
Bu Rika menunduk dalam, merasa malu dan tak sopan. "Itu, makan siangnya mau di bawa ke kamar atau--"
"Bawa aja ke kamar saya." Jelas Ibra.
"Oh, baik Tuan." Bu Rika mengundur diri meninggalkan tempat tersebut.
Begitupun Ibra memutar tubuhnya. Tiba-tiba Laras sudah berdiri di belakangnya. "Kemana sayang?" dengan tatapan penasaran.
"Ke kamar, belum salat juga. Aku mau bersih-bersih dulu, gerah." Laras berjalan melintasi Ibra.
Sesaat Ibra terdiam. Lalu mengekor sang istri ke kamar, Sebelum mengikuti sang istri ke kamar mandi. Ibra mengirim pedan pada bu Rika agar menyimpan makan siang di depan pintu saja. Lalu Ibra menoleh ke arah Laras sudah hilang dan masuk kamar mandi.
"Mau apa?" selidik Laras ketika netra matanya mendapati Ibra masuk ke kamar mandi.
"Mau mandi," sahutnya sambil membuka pakaian, langsung di! masukan ke keranjang.
"Aku dulu, Abang nanti aja," ucap Laras mematung melihat Ibra sudah setengah polos.
"Nggak pa-pa bareng aja." Ibra malah mengisi bathub dan aroma terapi.
Dengan ragu, Laras mendekat dan duduk di tepi bathub tersebut. Matanya fokus melihat air yang mengalir, pas sadar Ibra sudah berada di depannya dan membantu membuka yang ia kenakan. Dengan tidak membuang waktu, keduanya mandi bersama. Saling menggosokkan sabun ke badan masing-masing, di serta bercanda dan tawa.
Setelah membersihkan diri, keduanya mengenakan bathrobe nya masing-masing.
Sebelum salat, Ibra membuka pintu untuk mengecek apa sudah ada kiriman bu Rika, benar saja depan pintu sudah ada dorongan tempat mengirim makanan. Dengan beberapa menu yang tertata di sana.
Mata Laras mengarah pada sang suami yang mendorong tempat makanan. "Kok Aku gak dengar suara bu Rika?" Laras terheran-heran.
"Ada, tapi terdengarnya cuma dalam hati," sahut Ibra santai.
"Masa iya?" kening Laras tampak mengerut.
Keduanya menunaikan salat terlebih dahulu sebelum melahap makan siangnya. Selepas salat yang memakan beberapa waktu, akhirnya mereka bersiap makan. Kini Laras yang membereskan di meja.
"Hem, minta aja sama bu Rika." Ibra segera menghubungi bu Rika, meminta yang Laras pinta. "Tunggu ya?"
Laras mengangguk sambil mengambil piring buat Ibra, lantas menyuapi Ibra. Ibra tersenyum melihat wajah Laras tak sepucat semalam. Sudah terlihat bercahaya dan matanya pun mulai berbinar.
"Ha ha ha. Terbalik ya? bukannya aku yang menyuapi kamu yang sedang sakit."
"Ha? aku dah sembuh kok." Gumam Laras sambil terus menyuapi Ibra.
Tidak lama bu Rika datang membawa pesanan Laras. "Ini Nyonya. Lalapan dan juga sambelnya."
"Makasih, Bu!" Laras mengambilnya dan langsung melahapnya. Bu Rika: pun langsung pergi kembali.
Ibra senyum-senyum melihat Laras yang melahap nikmat makan siangnya. Sampai-sampai lupa tadi dia menyuapi dirinya. Ia menggeleng dengan senyuman yang terus mengembang. Kemudian Ibra melanjutkan makannya sendiri.
Di sela makannya, Laras mendongak. Ia terhentak sendiri. ''Astagfirullah ... maaf Abang, aku lupa, kalau tadi menyuapi Abang.''
''Nggak pa-pa sayang, lanjutkan aja makannya. Yang banyak ya? aku sudah mau selesai kok."
Laras melanjutkan makannya. Dengan fokus. Kemudian menyudahinya dengan segelas air minum.
"Awas perutnya kepanasan sayang," ucap Ibra sambil mengusap kepalanya Laras.
Laras menoleh, lalu beranjak ke kamar mandi, mau membasuh perutnya. Kata orang tua kalau lagi hamil, terus makan yang pedas. Habis makan basuh permukaan perut tepatnya pusar.
Detik kemudian Laras kembali dan membereskan piring ke tempatnya agar mudah nanti bu Rika mengambilnya.
Mata Ibra terus bergerak melihat gerak gerik sang istri. Ia duduk di sofa dengan kaki terbuka dan merentangkan tangan.
****
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan. Dian tengah jalan-jalan di sebuah Mall Tiba-tiba ada gerombolan ibu-ibu sosialita, menghampiri dan langsung mencaci maki.
"Kamu Dian ya? wanita yang sekarang viral sebab video yang tak senonohnya tersebar. Kamu tak tahu bersyukur, sudah dapat suami sayang, tidak banyak menuntut. Malah di suruh nikah lagi, bodoh amat si kamu."
"Apa-apaan nih?" tanya Dian merasa heran.
"Kok kamu mau sih dari berlian menjadi tembaga? dari wanita terhormat menjadi hina. Kalau saya jadi kamu, gak akan pernah melepaskan suami seperti suami mu itu. Kalau mau punya anak ambil aja dari panti asuhan, bukan disuruh kawin lagi. Secinta-cintanya suami pada kita tetap aja kalau lihat barang baru, di nikmati juga."
"Jangan ngomong sembarangan ya?" suara Dian, dan menatap tajam ke arah mereka bergantian.
"Bukan ngomong sembarang, ini kan fakta! dasar kamu nya bodoh. Bodoh di pelihara! Suami tidak menuntut anak, mertua juga sayang dan baik. Apa lagi yang kamu cari? ini malah cari burung nya bule nikmatin nggak, malu iya ha ha ha ...."
"Sok-sok'an menjebak orang, dan ingin mengurus anak. Jangankan ngurus anak? dirinya aja masih cari burung liar, ha ha ha ... sudah jelas burung yang di rumah itu antik dan mahal. Masih cari yang murahan. Dasar bodoh-bodoh. Sumpah gue merasa tergelitik dan ingin tertawa sampai puas."
Seharusnya kamu itu buktikan. Kalau kamu wanita terbaik, wanita yang pantas dipertahankan, bukan malah justru memperlihatkan sifat buruk lu. Dasar pea lu."
"Apa lagi sih yang di cari! tajir? iya. Tampan? jelas, baik dan penyayang? jelas. Mertua baik? iya. Apa lagi?"
"Sekarang kamu malah kena batunya, sukurin loh. Belum sebentar lagi berurusan dengan polisi. Emang enak? dasar wanita murahan."
Setelah puas mengata-ngatai Dian. Mereka pergi dengan masih terdengar jelas cibiran dan tawa puas.
Itulah diantara cercaan, hinaan dan ocehan mereka yang membuat kepala Dian terasa pening. Suara-suara itu berputar memenuhi ruang kepalanya. Terasa sakit, Pedih dan rasanya sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Hanya kedua pelupuk matanya yang berkaca-kaca. Sebagai ungkapan semua kekesalannya. "Brengsek."
Dian mencari ponsel di dalam tas. Kemudian membukanya, mencari berita yang sedang viral. Akhirnya ia menemukan berita yang mengungkap asal mula Laras masuk ke dalam rumah tangganya Ibra dan Dian.
Muka Dian ditekuk, gigi mengerat dan tangan mengepal. Namun ia menyadari kalau itu kesalahannya juga, Dian segera pulang dengan wajah yang basah. Langkahnya dipercepat menuju mobil miliknya yang terparkir di lantai dasar.
Sekarang Dian sudah berada di dalam mobil. Memasang sabuk pengaman dan menyeka kasar air matanya, menyalakan mesin dan segera memutar kemudi. Keluar dari parkiran tersebut.
Mobil Dian meluncur, membelah jalanan yang lumayan ramai. Berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya. Ia sedang galau pun tetap fokus nyetir, namun sesekali mengingat omongan yang tadi. Kembali berputar memenuhi otaknya.
Dian menggeleng kasar. Ingin membuang semua yang membebani hati dan pikirannya. Ia pinggirkan dulu mobilnya, meneguk air mineral sejenak. Tatapan nya jauh dan kosong. Kemudian ia kembali pegang setir. Melaju menuju ke bunga law miliknya.
Sekitar kurang satu jam, mobil Dian sampai dan memasuki halaman bunga law. Disambut oleh tukang kebun yang merangkap supir itu.
Brugh!
Suara pintu mobil yang sedikit Dian banting. Dian keluar dan bergegas masuk ke dalam rumah, seakan tidak lihat kanan maupun kiri. Dian langsung menaiki anak tangga dengan tujuan kamar pribadi.
"Dian, kamu sudah pulang?" tanya basa-basi sang ibunda. Mendongak melihat putrinya yang sudah berada di atas.
Dian menunduk. "Ia Mommy." Singkat dan padat. Ia melanjutkan langkahnya yang tertuju ke kamar.
Begitu sampai di dalam kamar, Dian menjatuhkan tubuhnya memeluk guling. Hatinya kian hancur mengingat semua kata-kata orang yang semakin memojokkannya. Pengorbanan ia yang ingin melengkapi kehidupan suami, justru jadi bumerang bagi dirinya sendiri. Air mata yang hangat berjatuhan membasahi guling.
Di saat hatinya sedang kalut dan menumpahkannya dengan tangisan. Benda pintar miliknya berbunyi, ketika Dian angkat dan belum juga Dian bersuara. Dari sana sudah nyerocos, membawa berita kalau yang menyebarkan video syur nya adalah Misca. Seorang teman yang sempat dekat dan merekomendasikan padanya untuk main-main sama bule.
Dan kini dia di tangkap polisi dengan tuduhan mencemarkan nama baik dan dia sendiri dilaporkan suaminya atas tuduhan perselingkuhan pula.
"Mampus kau Misca! masih untung aku gak benar-benar terjerat. Serta waktu itu aku tidak sadar, di bawah obat yang si bule itu masukan ke dalam minumanku. Hem Misca-Misca." Bibir Dian menyunggingkan senyuman tipisnya.
Jari-jari Dian meraih tisu dari meja, mengusap pipinya yang meninggalkan jejak air mata yang mulai mengering di pipi. Dian menghela napas dalam-dalam. "Huuh ... oke Dian. Kau harus kuat, bangkit, hadapi hidup ini apapun itu. Aku tidak boleh terpuruk dengan keadaan. Aku harus bangkit hadapi dunia." Dian sangat percaya diri. Di tangannya memeluk guling.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Dian menoleh ke arah pintu, di tatapnya dengan malas, ia pikir pasti sang bunda atau asisten, pikirnya ....
****
__ADS_1
Terima kasih reader ku semua, masih setia menunggu SKM up. Bagi yang sudah baca. Tolong tinggalkan jejak ya, biar aku tambah semangat. Jangan lupa fav juga dari sekarang "Bukan Suami Harapanku" ya? makasih🙏