Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Kicauan bu Rahma


__ADS_3

Akhirnya Laras berbaring kembali, membalutkan selimut sampai kepala. Mata terpejam, terngiang-ngiang suara Ibra barusan. Membuatnya senyum-senyum sendiri.


Pagi-pagi, Laras sudah merapikan kamarnya, dan bergegas ke kamar Ibra untuk menyiapkan keperluan kerjanya. Pas di jalan ia baru ingat, kan Ibra tidak ada. Laras menepuk keningnya. "Kok bisa lupa sih? dia itu sedang berada di luar Negeri sama istrinya."


Namun walau begitu Laras tetap saja melanjutkan langkahnya ke kamar Ibra untuk sekedar bersih-bersih.


Bu Rahma dan suami bersiap untuk balik ke Belanda, sebenarnya tidak ingin cepat-cepat balik. Namun karena ada urusan di sana, terpaksa harus pulang juga, dan sebelum berangkat mereka sarapan lebih dulu.


"Pah, aku pengen deh, bawa Laras ikut kita dan biar bersama kita aja, Mama takut dia stres di sini, apa kemarin dia bilang seperti itu. Aku khawatir dia terganggu dengan pikiran jeleknya, kasihan!" ujar bu Rahma di sela makannya.


Pak Marwan mengernyitkan keningnya, seakan berpikir. "Emang stres kenapa Mah, siapa yang akan buat dia stres? di sini banyak asisten, gak harus capek kecuali melayani suami saja, udah!"


"Papa ... lupa ya? kalau di sini itu, bagaimanapun ada beberapa istri di sini. Papa pikir gak stres lihat suami sama perempuan lain? panas Papa ... hati panas melihat suami mencumbu wanita lain, apalagi di depan mata. Di tambah lagi sedang hamil muda, percaya deh, bawaannya pengen nge-jam bak, pengen menyakar tuh muka wanita."


Pak Marwan nyengir. "Tapi, kan itu sudah konsekuensi nya punya istri lebih dari satu sayang."


"Tapi, kan gak gitu juga," keluh bu Rahma.


"Untung saja dulu kita cepat punya Ibra Mah, coba telat. Mungkin ...."


"Mungkin apa, menikah lagi gitu? gak mau ... Mama gak mau Papa kawin lagi pokoknya gak mau." Tiba-tiba bu Rahma menurunkan tubuhnya dan duduk di lantai, menangis kesal. Membuat semua asisten terkejut dan berkumpul.


Apalagi pak Marwan sangat terkejut melihat tingkah sang istri yang duduk di lantai dan ngamuk. Seperti anak kecil gak di kasih jajan sama ibunya.


"Pokok nya Mama gak mau. Mama gak setuju kalau Papa waktu itu kawin lagi, mendingan langkahi dulu mayat ku! enak saja mau kawin lagi emangnya aku kurang cantik apa? kurang apa? yang wanita lain punya itu, aku juga punya! bahkan lebih dulu kamu nikmati. Aah ... aku gak ridho bila kamu nikah lagi, hik hik hik ..."


Bu Rahma menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Tangan pun bergerak tak karuan


Laras setengah berlari, setelah melihat bu Rahma sedang menangis dan teriak-teriak bersimpuh di lantai. "Mama kenapa mendekati sang mertua, mata Laras juga melihat pak Marwan seakan bertanya kenapa?


"Mama kenapa, Mah? kok duduk di lantai! nangis juga, ada apa sih?" tanya Laras memegangi bahu sang mertua.


"Mama bilang, dulu, Mama gak mau kalau Papa kawin lagi. Berarti ... sekarang boleh ya? kalau Papa nikah lagi. Biar seperti Ibra, punya istri lebih dari satu, kan kalau yang satu lagi halangan! yang lain bisa ngasih, ha ... ha ... ha ...."


Mendengar ucapan pak Marwan seperi itu, tangisan bu Rahma semakin menjadi. Ngamuk-ngamuk. "Papa jahat ... gak mau, Mama gak mau punya madu ... tidak sudi najis ... kalau Papa kawin lagi."


Semua orang bengong dan bu Rahma jadi tontonan para. Pekerja di rumah itu, sampai akhirnya bu Rika mengusir mereka yang sesekali tertawa.


Dengan wajah cemas, Laras berdiri, menghampiri pak Marwan. "Pa, bujuk Mama dong, kasian ..." Melirik bu Rahma, dengan pandangan kasihan.


"Biar saja, nanti juga sembuh sendiri," kata pak Marwan dengan santainya.

__ADS_1


"Awas, kalau Papa kawin lagi! aku akan potong burung mu, aku cincang. Aku wejek, bila perlu aku goreng kasih makan ikan," racau bu Rahma penuh penekanan.


"Waduh ... takut ... kalau benda pusaka ku gak ada, mati rasa dong," pak Marwan yang sedang minum, sampai muncrat lagi dari mulutnya, dengan refleks memegangi benda pusaka yang satu-satunya itu.


"Atau, kalau gak ku potong, aku sumpahi biar penyakitan, agar percuma punya banyak istri juga. Kalau benda itu mati!" bu Rahma semakin ngelantur dan tangisannya seperti orang bernyanyi. Ngi ... ngi ... ngi ....


Laras diam-diam menahan tawanya, ia mengulum senyum mendengar kicauan bu Rahma. "Mah ... sudah, berdiri ah, gak enak di liatin orang," lirih Laras.


Bu Rahma, mendongak dan mendengarkan Laras, ia berdiri di bantu Laras. "Mama, kan mau ke bandara, masa matanya bengkak? gak cantik lah kelihatannya juga."


Laras mendudukkan bu Rahma dekat pak Marwan yang tetap santai, sesekali nyeruput kopinya.


"Pokonya Mama gak mau pulang, Mama mau di sini saja. Sama Laras dan calon cucu Mama." Ketus bu Rahma.


"Nggak pa-pa, kalau Mama mau di sini, dan membiarkan Papa sendirian. Emangnya tega, membiarkan Papa di sana kedinginan? cuma peluk guling."


Bu Rahma melirik kesal. Ada benarnya juga perkataan suaminya itu.


"Jadi jangan salahkan Papa, kalau cari wanita lain untuk ka--"


"Apa, Papa bilang? enak saja mau kawin lagi. Aku santet istri mu itu nanti. Ayo berangkat?" sambil berdiri menarik tangan suaminya.


Laras, menoleh bu Rika dan Susi yang menahan tawanya, melihat tingkah laku bu Rahma dan pak Marwan. Laras pun mengulum senyum.


"Bu Rika, jaga Laras ya? jangan sampai terjadi apa-apa. Pada mantu kesayangan si Mama, kalau sampai terjadi apa-apa! siap-siap di pecat saja, ha ... ha ... ha ..." canda pak Marwan sambil berlalu. Bergandengan dengan bu Rahma.


Laras menggeleng kepala baru tahu sisi lain dari sifat mertua nya yang ke kanak-kanakan itu. "Bu, apa memang seperti itu ya nyonya besar sifatnya?"


"He ... he ... he ... iya Nyonya muda, memang seperti itu." Jawab Bu Rika.


"Oh ..." Laras mengikuti mertuanya dari belakang, mengantar sampai depan saja.


Tampak pak Barko membukakan pintu mobil untuk pak Marwan dan bu Rahma. Sesudah menyimpan barang ke bagasi.


Namun bu Rahma memeluk Laras terlebih dahulu. Sebelum masuk mobil, memeluk sangat erat. "Jaga baik-baik ya, kandungannya. Jangan banyak pikiran, bebaskan aja. Yang penting suami tetap tanggung jawab." Mengusap punggung Laras.


"Iya, Mah ... Mama juga hati-hati ya. Papa juga. Sayangi Mama." Laras menoleh bapak mertuanya.


"Uh ... Papa sangat sayang sama Mama, apapun yang Papa katakan. Cuma bercanda saja," sahut pak Marwan. Dari dalam mobil.


Akhirnya mobil melaju, membawa pergi orang tua Ibra. dari tempat tersebut. Laras berdiri dan melambaikan tangan.

__ADS_1


Setelah mobil yang di tumpangi mertua sudah menghilang, Laras pun meninggalkan tempat tersebut. Menuju kamarnya di atas.


Menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur. Berbaring selimutan, yang sebelumnya ia kerjakan duha terlebih dahulu. Barulah tiduran, seperti biasa kepala pusing dan mual-mual.


Pada sore hari, Laras sedang berada di depan kolam renang. Melihat airnya yang bening dan bersih. Ia duduk dan menurunkan kakinya ke dalam air.


Derap langkah seseorang sedang mendekati tempat Laras berdiri. Laras pun segera menoleh ke sumber suara, tampak Mery berdiri menyilang kan tangan di dadanya. Dengan angkuh dan menatap Laras tajam.


"Aku cari kamu di mana-mana tidak ada, rupanya di sini ya? istri muda kesayangan tuan Malik Ibrahim." Penuh penekanan.


Laras tersenyum ramah dan berbasa-basi. "Kak Mery kapan pulang? dan apa kabar?"


"Tadi siang, em ... baik! dengar-dengar sekarang jadi mantu kesayangan juga, tuh," ketus Mery.


"Hem ... gak juga ah, biasa aja!" sahut Laras sambil bermain air.


"Kenapa, cuma duduk saja? kenapa gak berenang, cuaca enak tuh tuk berenang," menatap Laras sinis.


"Aku, lupa caranya berenang Kak, kecuali berenang di atas kasur he ... he ... he ...."


Panas! yang Mary rasakan saat ini, ketika Laras berkata demikian. Ia sambil berjalan mondar-mandir. "Oo ... lebih pandai berenang di kasur ya? itu ikan duyung atau--"


"Katak Kak," sambar Laras.


"Pantas! mudah di tanam benih, tapi ... jangan berbangga hati dulu ya? sebab sebentar lagi juga aku akan hamil dan kami berdua akan mempunyai anak yang lucu. Tentunya akan diurus bersama, tidak seperti dirimu. Setelah melahirkan kau akan di buang!" ucap Mery sangat percaya diri.


Mendengar itu, Laras berdiri mendekat pada Mery. Hatinya bergemuruh, jantung berdebar dengan sangat cepat. Sungguh hatinya tidak terima dengan perkataan Mery. Sebelum bicara, Laras menghela napas panjang. "Oya? tapi. Aku pastikan, kalau anak ku, akan tetap bersama ku. Tak ada satupun yang dapat mengambil dia dariku!" tegas Laras sambil mengukir senyuman di bibirnya.


Mery hanya diam, dia tidak dapat berkata-kata selain matanya melotot dengan sangat sempurna. Menatap tajam ke arah Laras, hatinya terasa panas membara.


"Satu lagi, seandainya Kamu ingin hamil sekarang ini. Kemarin kemana aja? apa yakin kalau itu ... janin miliknya Ibra? bukan hasil jajan di luaran?" ujar Laras menatap kedua mata Mery yang mungkin kalau saja di dalam kartun, mata Mery sedang berkobar api kemarahan.


"Kurang ajar kamu? tangan Mery sudah mengayun berniat menampar pipi Laras. Namun dengan cepat, Laras tangkap tangan Mery.


"Jangan pernah kotori tangan mu Kak, bukankah di sini banyak cctv? seujung kuku saja kau menyentuh ku, akan berakibat fatal bagi mu." Laras menghentakkan tangan Mery ke bawah.


Bibir Mery bergetar, menahan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun, mata memerah. Kalau saja kelihatan, pasti keluar asap dari kepalanya Mery itu.


Byuuuuuuurh ....


****

__ADS_1


Reader ku semua, aku mohon maaf banget. Bila ada perkataan ku yang tak berkenan di hati kalian semua, makasih banyak atas komen dan like nya, vote nya dan Rating juga. Aku gak tau harus balas apa atas kebaikan kalian! ♥️♥️


__ADS_2