
Setelah selesai dan rapi, baby boy Ibra gendong dan di bawanya keluar, menuju meja makan. "Papi mau sarapan, mau ikut hem. Baby boy mau ikut sarapan, iya?"
"Eh ... dah bangun cucu Oma dah bangun? sama siapa itu, sama Papi ya. Papinya gak di sembur lagi nggak hem?" bu Rahma mendekati. Anak itu ketawa seolah sudah mengerti dengan omongan Oma nya
"Papa mana Mah?" tanya Ibra sambil menggendong baby boy.
"Papa ada di depan lagi ngopi sama Irfan," sahutnya sang bunda.
"Oh," gumam Ibra. Melirik ke arah sang istri yang baru datang membawa botol susu dan roda si kecil.
"Sini, Papi nya mau Sarapan nanti kesiangan." Laras mengambil baby boy dari pangkuan Ibra. Namun apa yang terjadi, anak itu ngamuk gak mau bundanya ambil. Tapi di tangan Ibra terdiam.
"Ya ... nempel deh. Anaknya nempel tuh." Kata bu Rahma sambil tertawa.
"Tapi Papi mau sarapan sayang ..." ucap Laras, ia mengambil sarapan buat sang suami. Akhirnya Ibra duduk sambil menggendong baby boy, sementara Laras menyuapi Papi nya.
"Jadinya yang harus di urus Mammy big baby boy tuh. Ya ... yang di suapi Mammy si Papi. Iya si Papi manja seperti baby Satria ya?" bu Rahma terus mengajak anak itu berbicara sehingga anak itu terus tersenyum.
"Em ... jagoan Papi sedang mau di gendong Papi ya, cepat besar ya Nak? nanti kita main bola bersama ya mau ya." Suara Ibra disela makannya.
Akhirnya baby boy merengek-rengek, sepertinya sudah lapar dia. Ibra letakkan di roda dan diberinya botol susu. Laras masih saja menyuapi big baby boy sampai selesai.
"Loh, yang lain pada ke mana? kok gak pada sarapan sih!" manik mata Laras mencari papa mertua dan Irfan yang tidak ada sarapan.
"Papa, sama Irfan sudah sarapan duluan sayang. Sekarang lagi ngopi di depan," sahut bu Rahma sambil menyuap. Susi juga baru duduk untuk sarapan, sebelumnya membereskan cucian.
"Oh," membulatkan bibirnya. Laras memberikan segelas air minum pada Ibra yang tangannya sibuk pegang botol. Menyusui baby boy.
Ibra berjongkok, setelah meneguk minumnya. "Sayang ... jagoan Papi. Papi mau berangkat kerja dulu ya? baby boy sama Oma, Mammy dan Opa. Di rumah ya."
"Ea ..." baby boy bersuara.
Kemudian Ibra berdiri. "Sayang aku pergi dulu ya? makan yang banyak." mengusap pucuk kepala sang istri, lalau mengecup keningnya lama.
Setelah itu Laras pun meraih tangan Ibra diciumnya. "Hati-hati. Bawa mobil sendiri ya?"
"Iya, bawa mobil sendiri. Irfan mau ada urusan sama kamu kan?"
"Iya, pak Barko juga mau diajak mas Irfan aktif di badan sosial aku. Nggak pa-pa kan?" tanya Laras. Dari pada diem terus di mension ya, mending diaktifkan kecuali kalau sibuk kerjaan lainnya tak apa," sambung Laras kembali.
"Iya, terserah kamu aja sayang," Ibra mengangguk. Tangannya meraih tas laptop yang baru saja Susi ambilkan.
Ibra pun pergi. Berangkat kerja, sebelumnya mencium baby boy berkali-kali. Diiringi dengan tatapan Laras dari belakang serta doa yang tulus untuk sang suami.
__ADS_1
Di teras, Ibra berbincang dengan sang ayah dan Irfan sebentar. Kemudian memasuki mobil mewahnya, lalu melaju meninggalkan rumahnya menuju kantor.
Setelah baby merasa kenyang dan bermain kembali, Laras berniat untuk mandi dan menitipkan baby boy pada bu Rahma dan Susi. "Mah. Aku mau mandi dulu ya, titip baby boy sebelum dimandikan."
"Iya, sayang ... sana mandi, biar si kecil sama Mama juga Susi. Jangan khawatir." Bu Rahma membawa roda baby boy ke depan.
Lantas Laras pun tersenyum dan bergegas masuk kamar tuk bersih-bersih, usai menyiapkan pakaian. Ia mengayunkan langkahnya ke kamar mandi. Tak lupa menaburkan aroma terapi ke dalam bathtub.
30 menit kemudian, Laras sudah tampak cantik dan rapi. Tinggal memandikan baby boy yang kini bersama oma nya.
Laras berjalan mencari baby boy yang tadi bu Rahma bawa. "Sayang, di mana kamu?"
"Di sini, Nya. Di teras." Pekik Susi.
Langkah Laras terus menuju teras. Tampak di sana sedang berkumpul melihat Irfan yang sedang mengurus tanamannya.
"Eh, baby boy Mammy di sini rupanya mandi dulu yu?" Laras membungkuk mengambil baby boy dari tempatnya.
Kaki Laras maju melangkah mendekati Irfan. "Mas. Gimana? jadi membeli bahan rumah buat di luar kota itu!"
"Jadi Nona, sebentar lagi juga mau berangkat. Oya, katanya pak Barko mau mengantar tuan besar ke Tangerang. Jadi gak bisa ikut saya."
"Oh, tak apa sih, lagian Mas juga bisa sendiri kok. Diajak itu kalau gak ada kegiatan, Mas." Laras mengangguk pelan. "Nanti kalau seandainya uang kes nya kurang bilang saja, aku akan transfer ke rekening Mas Irfan."
"Terima kasih Mas." Laras hendak kembali ke teras. Namun ia urung.
"Sebenarnya mereka ingin sekali bertemu dengan Nona langsung."
"Aduh, maaf. Untuk saat ini aku belum bisa pergi jauh dan belum ada ijin juga. Harap digantikan dengan yang lain aja , misalnya dengan ibu dewan."
"Beliau pun sedang ada acara keluarga Nona." Timpal Irfan kembali.
"Ya, gimana lagi? mohon maaf saja. Insya Allah lain kali berkunjung ke sana kalau rumah nya sudah jadi sambil selamatan gitu. Tapi nggak janji sih," sambung Laras. Baiklah, aku mau mandikan baby boy dulu Mas. Permisi Om baby boy mau mandi dulu ya?"
Pada akhirnya Irfan tersenyum dan mengangguk. Laras meneruskan langkahnya masuk ke dalam. Diikuti oleh bu Rahma, Susi sudah duluan masuk.
"Papa mau nunggu pak Barko di sini." Kata pak Marwan.
"Iya, Pah. Nanti kalau mau berangkat bilang." Bu Rahma terus mengikuti Laras dan baby boy.
"Papa mau kemana Mah?" tanya Laras melirik Mama mertua.
"Ke Tangerang katanya. Ada urusan," sahut bu Rahma.
__ADS_1
"Mama gak ikut?" selidik Laras lagi.
"Nggak ah malas. Mendingan jagain baby boy di rumah, iya sayang ya. Mau main sama Oma mau?" mencubit gemas pipi baby boy yang sedang di buka bajunya sama Laras.
Laras sudah menidurkan baby boy, yang sudah mandi itu. Dan kini ia sedang mengerjakan senam kegel di lantai.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Nyonya muda, paman anda datang." Pekik Susi dari balik pintu.
"Paman?" gumam Laras. "Oh, iya Sus tunggu aja sebentar?"
Susi pun berlalu setelah mendapatkan jawaban dari sang majikan.
Laras segera mengganti kostum, dari pakaian ketat olah raga. Dengan pakaian yang lebih sopan. Langkahnya dipercepat agar segera bertemu dengan pamannya, pak Mulyadi.
"Paman, apa kabar?" Laras meraih tangan dan mencium punggung sang paman Sebelumnya mengucapkan salam.
"Baik, Nak. Paman Baik bahkan lebih baik, mungkin sebentar lagi Paman mu ini bisa berjalan lagi biar memakai tongkat, setidaknya gak lagi memakai kursi roda. Doakan saja ya?" ujar pak Mulyadi dengan wajah yang sumringah.
"Oya, aku iku bahagia sekali mendengarnya. Tentulah Paman, aku mendoakan kebaikan Paman." Laras duduk di dekat sang Paman.
"Eh, suster apa kabar?" sapa Laras sembari mengulurkan tangan. Mereka pun berjabat tangan dengan saling bertanya kabar satu sama lainnya.
"Oya, baby mana?" tanya Caca matanya celingukan, ingin sekali melihat baby boy nya Laras.
"Oh, dia baru saja tidur suster. Sebentar ya aku mau bikinkan minuman, mau minum apa Paman juga suster?" tanya Laras.
"Nggak usah repot La ..." ucap pak Mulyadi.
"Ah, gak repot kok. Bentar ya?" kaki Laras melangkah menuju dapur. Kebetulan sudah disiapkan oleh Susi. Jadi tinggal bawa saja.
Laras berjongkok menyimpan dua gelas dari nampan. Serta piring kue nya. Nampan ia simpan di kolong meja. "Silakan diminum, Paman dan suster." Laras kembali duduk di tempat semula.
"Kami, selain kangen sama kamu di sini. Sama baby boy, namun juga mau memberikan berita baik."
"Berita baik? berita baik apa tuh Paman." Laras terkesiap mendengar itu, dadanya dipenuhi rasa penasaran ....
****
__ADS_1
Sudah baca kan? semoga kalian masih suka dengan kisah yang recehan ini. Makasih reader ku🙏