
Mery berdiri depan pintu, matanya menatap tajam kearah Zayn dan Ibra. Kemudian mengayunkan langkahnya mendekati Ibra.
Ibra menatap Mery dengan pandangan dingin. Masih segar diingatan nya tadi siang melihat Mery bersama pria lain di mobil. "Ngapain sih dia ke sini? ganggu mood ku saja." gerutu Ibra dalam hati.
Zayn tertegun sebentar. "Oya gue ke sini, kan buat memberi laporan pada Ibra tentang wanita ini. Ah ... kok gue bisa lupa sih?" gumamnya.
Dengan beraninya Mery duduk di meja depan Ibra. "Sayang! kok kalian seperti melihat hantu sih? dian tak bergeming seperti itu," membelai pipi Ibra dengan lembut.
Ibra menepis tangan Mery dari pipinya. "Ada apa ke sini? sebentar lagi juga saya pulang!"
"Ooh ... sayang! habis di rumah, kamu lebih sibuk dengan Laras. Oya aku mau minta maaf, soal tadi pagi itu. Demi Tuhan, aku gak sengaja. Aku beneran gak sengaja," menangkupkan kedua tangannya depan dada, dengan suara memelas.
"Ya sudah, lupakan saja. Lagian kalau mau meminta maaf itu, pada Laras. Bukan padaku," ucap Ibra sambil membereskan berkas-berkas di meja.
Mery menurunkan tangannya. "Baiklah, nanti aku akan meminta maaf pada Laras."
"Oke, bagus." Ibra mengangguk. "Itu saja? pulang lah?"
"Sayang ... boleh tidak? aku menjenguk orang tuaku di Semarang. Aku kangen sama mereka, sudah lama gak bertemu," lirih Mery sambil memainkan tangan di kerah pakaian Ibra.
Ibra diam, seakan memikirkan sesuatu dan matanya melihat Zayn yang menatap kearah dirinya.
"Sayang, aku ingin minta doa pada orang tuaku. Agar kita segera diberikan seorang anak yang lucu," ungkap Mery dengan nada lembut.
Ibra mendongak mengernyitkan dahinya menatap heran. Mery mengangguk.
"Iya sayang. Aku ingin hamil! dan mempunyai anak darimu, seperti rencana sebelumnya. Kita menikah, dengan harapan, segera punya anak. Iya, kan sayang?" tangannya mengusap dada Ibra.
"Ehem," dehem Zayn.
Mery menoleh kearah Zayn yang duduk di sofa. "Ngapain kamu di situ?" menatap tajam.
"Saya ... sedang menunggu Bos pulang."
"Oh. sayang! aku ingin hamil," kembali melihat Ibra sambil meraih tangan Ibra di letakkan di perutnya.
Dengan malas Ibra menarik tangannya. Kalau mau ke Semarang, boleh. Pergi saja, sudah! pulang lah. Saya akan pulang sebentar lagi."
"Makasih sayang," mengecup pipi Ibra kanan dan kiri. "Tapi ... apa kita tidak bisa istirahat sebentar, di dalam?" sambil memainkan mata genitnya.
Ibra menoleh ke arah kamar. "Tidak."
"Tapi sayang ... aku pengen,"
"Ehem ..." lagi-lagi Zayn berdehem.
Mery kesal, dan menoleh Zayn. "Euh ... mengganggu saja, gak tahukah kalau kita pasangan suami istri?" gerutu Mery sambil menjinjing tas nya! keluar dari ruangan Ibra. Brugg! suara pintu di banting.
__ADS_1
Zayn menyeringai sambil memandangi kepergian Mery. Lalu menggerakkan matanya pada Ibra. "Apa kau percaya? kalau dia mau menemui orang tua."
"Entah, masa bodoh lah! mau ke mana juga." Ibra bersikap dingin dan menaikan kedua bahunya.
Zayn mengeluarkan benda pipih nya dari saku celana. Setelah membuka galeri diberikan pada Ibra. "Ini coba kau lihat."
Ibra mengambil ponsel itu. Ia lihat dengan seksama. "Bukti baru?"
"Iya, baru tadi!" sahut Zayn.
"Aku tahu." Ibra mengembalikan ponsel Zayn.
"Maksudnya?" Zayn heran.
"Tadi siang! saya melihat mereka di jalan, kau tahu kalau dia rekan bisnis kita."
"Ya. Mungkin kau gak pernah memperkenalkan dia ke rekan-rekan kerja! jadinya mereka gak kenal dengan istri mu." Zayn sedikit menyalahkan.
"Apaan? dia tahu kalau Mery itu istriku!" sambung Ibra.
"Oh." Zayn membulatkan bibirnya.
Karena sudah waktunya pulang. Ibra dan Zayn beranjak bersiap pulang. "Aku ikut, ingin melihat keadaan istri muda mu," ucap Zayn.
Keduanya meninggalkan kantor, mendatangi mobilnya. seperti biasa Zayn yang bawa mobil. Ibra cukup duduk manis saja di belakang.
Dian yang juga menerima kabar kehamilan Laras dari bu Rika. Dian tak bergeming, antara percaya dan tidak, di balik harapan untuk mempunyai baby terlaksana juga. Namun sungguh di sayang! bukanlah dari rahimnya sendiri.
Batin Dian menangis perih. Ini menyakitkan berbagi suami, bahkan berbagi cinta. Namun ini adalah kesalahan dirinya sendiri. Daripada berpisah dari Ibra. Dian lebih memilih mencarikan wanita untuk di madu, ketimbang bercerai.
"Bu, ada yang harus di tanda tangani," suara sekertaris nya yang baru muncul. membuyarkan lamunannya.
Dian mengusap pipinya yang basah, kemudian menoleh sekertaris nya. Mengambil berkas yang harus ia tanda tangani.
"Saya mau pulang," ucap Dian sambil melihat jam yang ada di tangannya.
"Baik. Bu."
Dian menyambar tas dan kunci mobil di meja. Menutup pintu, berjalan beriringan dengan sekertaris nya. Satu persatu pekerjanya pun berangsur pulang.
Kini Dian sudah berada di dalam mobil mewah miliknya. Sebelum menancap gas. Dian menulis pesan dulu di watshapp untuk mertuanya yang ada di luar Negeri. Memberitahukan bahwa Laras sekarang ini tengah mengandung anaknya seorang Malik Ibrahim, ya itu yang akan jadi keturunan keluarga Marwan.
Mereka pasti bahagia mendengar kabar ini. Orang tuaku? mereka jangan tahu dulu, biar nanti saja kalau anak itu sudah lahir dan menjadi hak asuh ku," gumamnya sambil menarik sudut bibirnya senyum tipis.
Aku harus menyusun rencana yang baik agar hasilnya pun sangat memuaskan. Setelah anak itu lahir, dia akan menjadi hak asuh ku, gimanapun caranya. Dan Laras harus Ibra ceraikan. Satu lagi yang paling penting, orang tuaku harus tahunya anak itu aku lah yang melahirkan. Bukan wanita lain," senyum samar.
"Aku harus jadi satu-satunya istri dari malik Ibrahim. Tidak ada wanita lain yang dapat memiliki Ibra selain aku," gumamnya. Kemudian melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Selang beberapa lama, Mobil Dian sampai di depan mension. Ketika mau masuk lobby terdengar gerungan suara mobil Ibra.
Dian berdiri menunggu Ibra yang baru keluar dari mobilnya. Langkah Ibra kian pasti mendekat pada Dian. Dian langsung memeluk Ibra sangat erat.
"Akhirnya kita akan punya baby juga sayang," ucap Dian penuh haru.
Ibra mematung sesaat, kemudian membalas pelukan Dian. Mengusap lembut pundak Dian. "Iya, sayang!"
Dian melepas pelukannya. "Aku bahagia sekali, Akhirnya yang kita harapkan di kabulkan juga."
"Iya, aku juga sangat bahagia," jarinya Ibra mengusap pipi Dian, yang mengalir air mata.
"Ayok kita masuk!" ajak Ibra menggandeng tangan sang istri.
Mereka berdua masuk ke dalam Mension. Dengan hati yang berbunga-bunga, diikuti oleh Zayn dari belakang.
Sesampainya di dalam mension. Langsung menemui Laras yang pasti berada di kamarnya.
Laras yang di temani Susi sedari tadi pagi. Sedang duduk bersandar di tepi tempat tidur sambil mengobrol. Kalau ada kawan setidaknya Laras tidak banyak melamun, sebab terhibur oleh adanya Susi.
Di meja tersedia makanan dan minuman, juga buah-buahan dari yang manis sampai yang asam rasanya ada di sana. Bu Rika sengaja sediakan agar Laras tidak ke susah kalau lapar.
"Nyonya muda! nanti kalau baby nya lahir mau di kasih nama apa?" tanya Susi menatap Laras penasaran.
Laras menggeleng. "Tidak tahu Sus. Gimana tuan saja."
"Aah ... Susi sudah tidak sabar, ingin mengasuhnya. Kalau laki-laki pasti tampan seperti tuan, dan kalau anak perempuan sudah pasti cantik seperti Nyonya muda," ungkap Susi.
"Kamu bisa saja Susi, aku jadi malu. Lagian perut ku saja masih rata! sudah ngomongin nama dan rupa baby." sambung Laras sambil menggeleng.
"Nggak apa-apa Nyonya. Boleh-boleh saja kok." Susi nyengir.
"Oya. Susi, kamu boleh ngerjain tugas lain. Aku sudah agak mendingan kok," lirih Laras.
"Tidak apa Nyonya, ini perintah dari tuan untuk menemani Nyonya muda. Takut butuh sesuatu gitu."
"Butuh apa? semua sudah tersedia di meja, kalau mau ke toilet juga sudah bisa. Biar pelan-pelan," sambung Laras lagi. Mengusap kakinya yang lumayan mendingan dan bisa di tapak kan ke lantai.
Terdengar derap langkah dari luar. kebetulan pintu kamar tidak tertutup rapat. Jadi suara dari luar terdengar.
Blakk!
Pintu ada yang dorong dari luar, nampak Ibra dan Dian berdiri di sana sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Netra mata Laras bergerak melihat tangan keduanya saling bertaut mesra, nyes ... ada rasa yang aneh Laras rasakan ketika melihatnya. Ibra segera melepas tangan dari tangan Dian. Tiba-tiba ....
,,,,
__ADS_1
Aku banyak-banyak terima kasih, pada reader semua. Karena kalian novel ini ada nangkring di Rising star. Terima kasih sekali lagi, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.