
Laras sungguh sangat terharu, sehingga mata indahnya berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Laras melihat keduanya. "Terima kasih. BuRik juga Susi."
Ibra menyimpan bunga dekat Laras. "Selamat ulang tahun Laras. Selamat ulang tahun Laras. Selamat ulang tahun ..." bait-bait nyanyian suara berat Ibra sambil menepuk-nepuk tangannya.
Laras menoleh Ibra dangan mata berkabut air mata. Kedua tangan menutup mulutnya yang menganga, rasanya tidak percaya! tidak pernah menyangka akan menerima kejutan di hari ulang tahunnya.
"Ayo Nyonya muda! di tiup lilin nya. Tapi baca doa dulu, utarakan semua keinginan Nyonya muda. Semoga terkabulkan," ujar bu Rika dan Susi yang mengangguk.
Laras tersenyum getir, kemudian menatap Ibra yang juga menatap dirinya. Detik kemudian pandangan Laras pada bu Rika dan Susi, terus turun ke kue yang ada di hadapannya.
"Kata Pak ustadz! sebagai muslim. Kita tidak boleh mengikuti ajaran yang tidak sesuai dengan Agama kita. Dan meniup lilin ketika memperingati hari kelahiran, itu bukan ajaran dari Nabi kita. Jadi ... jangan ada tiup lilin!" ujar Laras.
"Oh, iya-ya! ya sudah kipas-kipas saja," ucap bu Rika.
Akhirnya mereka mengibaskan tangan dekat kue itu. Agar api yang menyala di lilin mati.
"Ye ... y, apinya mati." Susi bersorak dan bertepuk tangan.
Laras melihat Ibra yang kembali memberikan buket bunganya. "Maukah menerima pemberian dariku?" mata Ibra menatap lekat pada Laras.
Perlahan. Laras mengambil dan mencium wanginya. "Terima kasih Tuan?" pandangan mereka bertemu.
"Peluk dong. Ayo peluk," celetuk Susi pelan. Namun terdengar jelas oleh semua, membuat Ibra dan Laras tersenyum malu.
"Coba lihat isi kotaknya?" suruh Ibra pada Laras.
Laras memperhatikan buket bunga itu, yang benar saja ada kotak kecilnya. Ia ambil dan dengan perlahan membukanya.
Bu Rika dan Susi tegang, sangat penasaran akan isinya kotak tersebut.
Kotak yang baru setengahnya terbuka. Laras tutup kembali dan menoleh kearah Ibra. "Apa ini. Tuan? sepertinya sebuah barang yang sangat mahal sekali!"
"Buka saja!" suara Ibra yang berat.
"Ayo dong Nyonya ... di buka Susi penasaran nih?" ucap Susi rasanya sudah tidak sabar, Ingin tahu isinya.
Laras tersenyum pada Susi. Kemudian membuka kotak itu. Sebuah liontin yang sangat cantik. "Masya Allah ..." mata Laras bergerak melihat barang tersebut dan pada Ibra yang terus menatapnya.
"I-ini, beneran buat saya Tuan?" tanya Laras setengah tak percaya.
"Iya, beneran! buat siapa lagi?"
"I-ini dari Tuan?" tanya Laras lagi.
"Bawel ya? iya dari saya! emang dari siapa? kalau dari yang lain, buat apa saya yang berikan," ketus Ibra.
Susi sangat terkagum-terkagum. "Ya. Tuhan ... cantik sekali liontin nya?"
"Tuan sendiri yang menyiapkan semuanya buat Nyonya." Susi memberi jawaban.
Laras menoleh Ibra yang memalingkan mukanya, sepertinya malu. Laras tak berhenti mengulas senyuman manisnya. "Masya Allah ... cantik sekali."
"Sini, saya pakaikan." Ibra mengambil liontin dari tangan Laras. Untuk ia pakaikan di leher Laras.
__ADS_1
Laras sedikit mengubah posisi sedikit memunggungi Ibra. Laras mengibaskan rambut ke pinggir, tampak lah leher belakang Laras yang jenjang dan mulus.
Ibra beberapa kali menelan saliva nya. Rasanya ingin sekali mendaratkan kecupannya di sana, namun untung saja akal sehatnya masing berjalan dengan baik. Sadar kalau di situ ada dua asistennya.
Liontin sudah terpasang di leher Laras. Laras mun balik ke posisi semula, jarinya menyentuh liontin yang sudah menggantung di leher. "Makasih. Tuan ini indah sekali."
"Sama-sama."
Sekarang waktunya memotong kue. Nyonya." Rika mendekatkan kue nya ke Laras.
Laras pun memotong kue dengan potongan pertama ia suap, kan pada Ibra. Sambil saling tatap-tatapan.
"Ooh ... so sweet ... nya?" ucap Susi. Melihat Ibra dan Laras suap-suapan.
Terus potongan kedua! buat bu Rika dan Susi dan Sisa kue nya, bu Rika dan Susi bawa, meninggalkan kamar tersebut. tinggallah Ibra dan Laras berdua.
Laras masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Ibra berikan padanya. Laras mencubit pipinya. "Aw ... sakit," pekik Laras.
Membuat Ibra yang sudah mulai baring, terbangun kembali. "Ada apa?" menyandarkan tubuhnya ke bahu tempat tidur.
"Ah ... tidak. Tuan, aku cuma mencubit diri sendiri saja, untuk meyakinkan ini benar atau mimpi?" ucap Laras sambil memegangi pipinya.
"Ini ... nyata! Nona ..." lirih Ibra sambil mencubit pipi Laras yang satu lagi.
"Aw ... sakit Tuan!" pekik Laras dan menutupi kedua pipinya.
"Sorry!" Ibra menarik tangan Laras yang menangkupkan di kedua pipinya. Cup, cup. Ibra mendaratkan kecupan di kedua pipi Laras.
Laras hanya melongo, menerima kecupan itu. Ibra menatap lekat dan jarinya mengelus lembut pipi Laras.
Rasa yang ingin ia luahkan sedari sore! baru kali ini bisa ia tumpahkan. "Terima kasih? kamu telah mengandung anak ku. Aku titipkan dia di rahim mu, tolong-tolong ... jaga dia untuk ku," suara Ibra serak dan memelas.
Laras kian bingung. Tak tau harus berkata apa, perlahan ia mengangkat tangannya. Mengelus punggung Ibra yang memeluk dirinya sangat erat.
Lama ... mereka berpelukan. Hanyut dalam rasa yang bergelora dalam dadanya. Ibra ingin meluahkan segala rasa pada Laras, namun bibirnya terasa kelu dan terkunci.
"Mau, kan? menjaganya untuk ku!" melepas pelukannya, mengangkat dagu Laras dengan telunjuk dan menatap lekat.
Laras hanya mengangguk pelan. Cup. Ibra mencium b**** Laras, sebagai terima kasih. lagi-lagi mata mereka bertemu yang kesekian kalinya.
****
Di suatu pagi. setelah beberapa hari dari kejadian itu. Dian dan Ibra dan juga Laras sedang sarapan bersama-sama.
Mery sudah berangkat ke Semarang. Seperti yang dia bilang. Ketika lihat Ibra menanyakan pada orang tua, Memang benar Mery ada di sana.
Semakin hari. Ibra semakin menunjukan perhatiannya pada Laras. Membuat Dian terbakar api cemburu, seperti saat ini. Ibra mengambilkan menu yang Laras suka ke piringnya.
"Makan yang banyak! biar sehat!" ucap Ibra sembari mendekatkan gelas minumnya.
Dian menatap tidak senang. "Oya sayang. Apa benar kau menceraikan Yulia? kamarnya nya kosong!"
"Iy, minggu depan mulai sidang!" sahut Ibra sambil menyuap.
__ADS_1
"Kenapa? kau tidak membicarakan nya dengan ku terlebih dahulu," ujar Dian.
"Nanti kau akan tahu sendiri, apa sebab nya," tambah Ibra lagi.
"Kenapa belepotan begini sih? makan nya," tangan Ibra mengelap bibir Laras dengan tisu.
Laras terkesiap dan ingin mengambil tisu dari tangan Ibra. Namun Ibra malah mengelapnya sendiri, sampai bersih.
"Makasih. Tuan?" lirih Laras. Ia merasa gak enak pada Dian yang menatap aneh pada dirinya.
"Aku sudah tahu. Yulia cerita sama aku, bahwa--"
"Bahwa ... aku menceraikannya tanpa alasan hem?"
"Dia bilang sama aku! kalau dia ingin mengandung anak darimu, tapi. Tiba-tiba kau menceraikan dia dengan talak tiga sekaligus, tanpa memberikan kesempatan padanya," rupanya Yulia ngadu pada Dian.
Laras hanya mendengarkan pembicaraan Ibra dan Dian. Ia tidak ingin komen apapun.
"Jangan mendengarkan satu pihak saja, nanti aku kirim semua bukti. Agar kau mengerti," tambah Ibra.
"Bukti apa?" tanya Dian penasaran.
"Nanti aku kirimkan, bila perlu datang saja ke kantor. Kita bicara di sana." Ibra meneguk minumnya, berdiri memakai jas. Di bantu oleh Laras.
"Berangkat, sekarang gak sayang?" tanya Ibra, menoleh Dian yang masih duduk.
"Sebentar lagi, masih belum habis sarapan nya." Dian menunjuk piring.
"Oh, oke aku duluan," cup mencium kening pipi Dian dengan mesra.
Ibra menoleh Laras, yang meraih dan mencium punggung tangan Ibra. Dengan refleks. Ibra mendaratkan kecupan hangat di kening Laras.
Membuat hati Laras menghangat, ini kali pertama Ibra mengecup keningnya. Apalagi ketika mau berangkat kerja.
"Jaga diri baik-baik, jaga calon baby ku. Jangan sampai ke napa-napa," pesan Ibra.
Laras mengangguk, melirik Dian yang tak bergeming. Ia merasa canggung terhadap Dian.
Hati Dian semakin panas. Atas perlakuan Ibra yang manis terhadap Laras. Rasanya ingin menjambak rambut Laras, kalau Dian tak sadar diri, untung saja ia sadar kalau Laras itu terlalu berharga. Sebab ia bisa memberikan yang ia inginkan.
Ibra sudah berangkat kerja, dan sudah tidak nampak di sana lagi.
Dian melirik Laras, yang masih menghabiskan sarapannya. "Sudah saya bilang! jangan sok cari perhatian di depan Ibra, kau hanya boleh melayaninya saja. Bukan mencari perhatian ataupun cinta darinya," ucap Dian dengan lirih namun menyakitkan.
Laras termangu! seketika menghentikan kegiatan makannya.
"Ibra juga, cuma boleh menggauli mu sebelum kau hamil saja. Setelah itu! aku tidak mengijinkan dia menyentuh mu lagi. Eh ... maksud saya kamu jangan mau di sentuhnya lagi, untuk menjaga daerah sensitif mu itu, untuk suami mu kelak. Bila menikah lagi," sambung Dian lagi.
"Tidak, saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat mu. Dian," suara seseorang dengan lantang ....
,,,,
Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya.
__ADS_1
🤫Setttt kalau suka? mana vote dan rating nya? di tunggu ya!