
Setelah sampai di halaman kantor, Jodi merogoh sakunya. Mengambil ponsel yang tadi berbunyi. Ternyata pesan dari dokter yang menangani sang ayah, memberitahukan kalau perawat yang sudah direkomendasikan sudah datang ke lokasi.
Jodi pun langsung menghubungi asisten rumah. Untuk menanyakan apa benar sudah datang suster Caca?
Dan jawaban asistennya, sangat memuaskan. Benar, sudah datang katanya. Membuat hati Jodi semakin tenang, bahwa ada perawat khusus. Buat sang ayah.
Jodi mengayunkan langkahnya menuju kantornya yang berada di lantai kesekian. Scurity pun mengangguk hormat pada Jodi.
Saat ini Jodi sudah mulai berkutat dengan kerjaan yang numpuk, asistennya nya pun datang membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh Jodi.
''Tadi, ada tamu yang mencari anda Tuan." Kata asisten pribadinya.
"Siapa?" selidik Jodi sambil mengecek berkas yang harus ia tanda tangani.
"Itu, pak Leo. Apa tidak menghubungi anda?"
"Tidak," kepala Jodi menggeleng. "Mungkin lain kali datang lagi.
Kemudian asistennya mengundur diri. Kembali ke tempatnya setelah mendapat tanda tangan Jodi.
Jodi melanjutkan kerjaannya. Dengan sangat serius, Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul satu, lantas Jodi beranjak dengan niat ke mushola yang tidak jauh dari tempat itu. kebetulan belum makan siang juga.
Di tengah asyik berjalan dan melamun, tiba-tiba berpapasan dengan seorang wanita yang berambut sebahu itu. Dian.
Sebelum ngomong, Dian menunjukkan senyumnya. "Kamu mau kemana?"
"Aku, mau ke mushola," sahut Jodi menatap ke arah Dian.
"Sudah makan ya?" selidik Dian. "Aku ke sini mau mengajak dirimu makan siang."
"Em, makan siang ... belum kok, justru aku mau ke mushola dulu. setelahnya, baru mau makan," ungkap Jodi.
"Ya udah, kita bareng aja." Ajak Dian sambil mengulas senyumnya kembali. "Aku juga mau ikut salat." Dian mengekor langkah Jodi dari belakang.
Jodi salat, Dian pun salat. Kemudian setelah selesai salat, keduanya mencari restoran yang terdekat untuk makan siang.
Setelah menunggu sebentar, akhirnya pesanan pun datang dan keduanya langsung melahap hidangan yang ada.
"Aku, senang. Kamu sepertinya sedikit berubah," ucap Jodi sambil menaikan alisnya sebelah.
"Bukannya, memang seharusnya aku berubah ya? kan kamu sendiri yang bilang. Aku sudah sepantasnya merubah diri menjadi lebih baik." Dian menatap ke arah Jodi, lalu meneguk minumnya.
"Ya, itu benar. Semoga hidup mu ke depannya lebih baik lagi." Harap Jodi di sela makannya.
"Aamiin. Aku juga inginnya sih seperti itu, tapi gak tahu juga kedepannya." Dian mengukir senyumnya, kemudian menunduk.
"Harus dong, harus lebih baik lagi. Dan kamu jangan pesimis seperti itu, justru kamu harus optimis dan berusaha lebih baik lagi. Yakin deh hidup akan lebih tenang."
Dian termangu mendengar kalimat-kalimat yang Jodi ucapkan. Otaknya berputar. Namun saat mereka sedang melanjutkan makan. Ada tiga wanita yang berpenampilan modis rapi. Menghampiri.
Rupanya mereka teman-teman Dian nongkrong. "Hi ... kemana aja, gak pernah nongkrong sama kami. Dah lupa ya?" tegur salah satu wanita itu.
"Oh, aku banyak di rumah aja. Jarang nongkrong, kalian sedang apa di sini?" tanya Dian. memandangi mereka yang berdiri.
"Eeh ... lepas dari Ibra, dapat ini rupanya. Ganteng juga. Pandai kamu cari laki?"
"Em, dia rekan kerja ku." Jawab Dian menepis prasangka kawan-kawannya itu yang mengira kalau Jodi. Kawan kencannya.
"Teman kencan juga gak pa-pa kali, kenalin dong." Pinta kawan Dian dengan gaya genitnya.
Sementara Jodi menunduk, malas berurusan dengan wanita kaya gini. Rasanya ingin segera mereka pergi saja.
"Nggak-gak. Dia gak mau kenalan sama kalian, dia orangnya pilih-pilih dalam berteman, termasuk berkenalan. Gak segampang itu," akunya Dian.
"Sombong amat. Mentang-mentang cakep."
Jodi tetap aja fokus dengan makannya, tak mau sekalipun melihat kawan Dian, sebab ia tahu kawan Dian yang seperti apa?
"Pergi yu? gak level sama pria sombong kaya dia." Wanita-wanita itu satu-satu berlalu dari hadapan Dian dan Jodi.
Membuat Jodi merasa lega. Ketika mereka akhirnya enyah juga dari hadapannya.
Dian tersenyum memandangi punggung mereka. Hatinya berbunga mengingat mereka mengira kalau Jodi teman kencan dirinya.
"Kalau kamu ingin merubah diri, termasuk dengan pergaulan sehari-hari. Kita boleh berkawan dengan siapa pun, sama penjahat sekalipun. Namun untuk menyadarkan dia ke jalan Tuhan," ujar Jodi.
"Berteman dengan orang penjual minyak wangi. Otomatis kita akan kena bau wanginya. Tapi bila sebaliknya, kita berteman dengan orang yang kurang baik tidak sedikit orang yang ikut terjerumus. Maka berhati-hatilah," ungkap Jodi menatap tajam ke arah Dian yang mendengarkannya.
"Aku ngerti, makasih atas perhatiannya? aku sangat-sangat berterima kasih pada mu Jodi. Kamu selalu mau mengingatkan ku, dan kamu ... mau memaafkan ku," ujar Dian sambil mengukir senyumnya dengan sangat manis.
"Sudahlah, namanya juga teman, sudah seharusnya saling mengingatkan. Dalam hal kebaikan itu sudah kewajiban bagi umat manusia," tambah Jodi.
"Aku kagum sama kamu Jodi," akunya Dian.
"Eh, habiskan makanan mu." Kata Jodi, ketika netra matanya bergerak melihat makanan Dian yang masih banyak.
Dian pun mengangguk, dan langsung melahap kembali makan siangnya. Setelah selesai keduanya kembali bekerja ke tempatnya masing-masing.
__ADS_1
Jodi kembali berkutat dengan kerjaannya. Sampai sore menjelang malam ia baru beranjak, sore meninggalkan siang, bahkan sebentar lagi pun akan menyambut malam.
Jodi meninggalkan kantor, memasuki mobil kesayangannya itu. Usai mengenakan sabuk pengaman, barulah ia melajukan mobilnya menuju pulang. Dengan mata yang fokus ke depan, Jodi anteng menyetir.
Selang beberapa waktu kemudian, Mobil Jodi berhenti di depan pagar yang baru di buka sama scurity.
"Malam Tuan?" sapa scurity sambil mengangguk hormat.
"Siang ..." balas Jodi sambil memasukan mobilnya ke garasi.
Scurity bengong, mencerna jawaban dari sang majikan, Jodi.
Begitu memasuki rumah, Jodi langsung menemui sang ayah di kamarnya. Di sana ada perawat barunya, yang bernama Caca.
"Assalamu'alaikum, Yah ..." Jodi menghampiri dan meraih tangan sang ayah tuk ia cium punggungnya.
"Wa'alaikumus salam ... baru pulang Jodi?" sahut pak Mulyadi.
"Iya, Yah." Kemudian netra mata Jodi bergerak pada wanita muda itu. "Apa kabar? semoga anda betah di sini, terutama merawat ayah saya sampai sembuh."
"Baik, Tuan. InsyaAllah. Aamiin." Jawabnya dengan sikap yang ramah.
"Apa anda sudah di tempatkan, maksud saya kamar untuk tinggal," tanya Jodi, agak kikuk.
"Em, sudah. Terima kasih," sambil mengangguk dan tak berani memandang wajah.
"Ya, sama-sama." Jodi pun membalas anggukan.
Caca pamit keluar sebentar. Untuk mengambil sesuatu.
Sementara Jodi berbincang dangan sang ayah. "Semoga dengan pengobatan ini berhasil dan membuat Ayah sehat, bisa jalan lagi."
"Iya, Ayah juga berharap seperti itu. Bisa jalan lagi. Gak di kursi lagi, capek," harap pak Mulyadi.
"Iya, Ayah harus semangat dan berusaha. InsyaAllah usaha yang maksimal akan membuahkan hasil yang baik pula." Tambah Jodi menatap sang ayah.
"Aamiin, Nak. Terima kasih anak muda." Mengusap punggung putranya itu.
"Yah, aku akan mandi dulu." Pamit Jodi sambil memutar badannya.
"Baiklah, sana. Nanti kita bicara lagi." Balas sang ayah.
Jodi mengangguk dan langkahnya tertuju ke pintu eh ... bertabrakan dengan Caca yang masuk membawa minuman mineral buat sang ayah. Di sebabkan keduanya menunduk tak melihat ke depan.
"Ma-maaf Tuan," ucap Caca sekilas melihat ke arah Jodi yang barusan menabrak bahunya, kemudian menunduk kembali.
"I-iya, Tuan." Balas Caca sambil melanjutkan langkahnya menuju meja. Menyimpan air mineral di sana.
Sesaat Jodi mematung, kemudian mengayunkan langkahnya. Meneruskan tujuan ke kamar dan ingin bersih-bersih.
Ada seutas senyuman dari bibir pak Mulyadi ketika melihat putra dan suster bertabrakan.
Semenjak kedatangan suster Caca, mbok Darmi tidak lagi mengurus pak Mulyadi, tapi mengurus dapur dengan asisten lainnya. Membuat ada kecemburuan di hati wanita paruh baya itu. Yang biasanya apa-apa yang di butuhkan pak Mulyadi minta tolong pada dirinya, kini berubah menjadi suster Caca yang lebih muda nan cantik.
"Mbok, apa makan malam sudah siap? Tuan mau makan." Tanya Caca pada mbok Darmi.
"Sudah. Kenapa gak di bawa Tuannya ke sini? jangan makan di kamar, tuan Jodi akan marah kalau makan di kamar." Ketus mbok Darmi. Dengan mata sedikit mendelik.
Caca termangu. "Ada masalah apa sih nih orang? ketus amat, toh kalau bicara sama yang lain biasa aja." Batin Caca. Namun Ia balas dengan senyuman. "Oh ... kalau gitu saya bawa tuan ke sini saja." Suster Caca membalikkan badan, mambawa langkahnya ke kamar pak Mulyadi.
"Hem, sok cantik." Batin Darmi.
Darmi itu sosoknya yang agak gempal. Tubuhnya tinggi standar, wajahnya lumayan manis. Dia mengurus pak Mulyadi dari awal sakit, dan keluarga Mulyadi sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.
"Kau itu orang baru, yang belum tahu apa-apa. Hem." Mbok Darmi terus menata masakan di meja.
Jodi berbarengan datangnya dengan sang ayah yang di dorong oleh suster Caca. Jodi duduk setelah membantu kursi sang ayah di tempatkan dengan nyaman di depan meja makan tersebut.
Begitupun dengan Caca yang mengambilkan piring yang sempat berebut dengan Mbok Darmi, lalu menuangkan isinya untuk pak Mulyadi. Mbok Darmi pun berwajah masam, lalu duduk tepat di depan suter Caca.
Di awali dengan membaca doa, Semuanya langsung menyantap makan malamnya dengan sangat lahap.
Geph.
Jodi dan Caca mengambil gelas yang sama, bersamaan. Kedua tangan itu langsung menjauh dari benda tersebut.
Jodi jadi kaku. "Maaf." Kemudian mengambil gelas yang berisi air minum yang lain.
Suster Caca mengangguk dan menunduk. Mengambil gelas tadi untuk ia minum.
Pak Mulyadi fokus dengan makannya. Namun dalam hati mesem-mesem merasa lucu melihat pemandangan barusan.
Lain lagi dengan Mbok Darmi yang merasa dongkol, entah kenapa gak suka aja ada Caca diantara mereka.
Jodi sedikit mengangkat wajahnya. Menoleh ke arah suster Caca. "Suster usah sungkan di sini. Anggap aja rumah sendiri, dan saya titipkan ayah saya."
"Iya, Tuan." Caca mengangguk pelan.
__ADS_1
"Tapi, kan Mbok juga ada Nak Jodi. Yang biasa merawat ayah." Kata Mbok Darmi menatap ke arah Jodi dengan tatapan datar.
"Em ... mulai hari ini, Mbok fokus saja mengurus rumah dan dapur. Bantu asisten yang lain, ayah biar suster yang urus sambil di rawat dan terapi," ujar Jodi menjelaskan maksudnya.
Mbok Darmi. Terdiam seribu bahasa, namun lain lagi dengan hatinya yang yang beradu argumen.
"Jodi. Besok undang Laras ke sini ya makan malam bersama. Ayah kangen sama dia." Pinta pak Mulyadi pada Jodi.
"InsyaAllah, Yah. besok aku ke sana untuk mengundang nya," ungkap Jodi menoleh sekilas pada sang ayah. Kemudian matanya kembali mengarah ke piring makannya.
"Atau, kamu datang aja ke kantor suaminya, kamu undang dianya. Nanti dia ajak istrinya ke sini. Waktu istirahat mungkin."
"Setau ku, dia itu ... kalau siang, kalau gak di mension ya di rumah Laras. Makan siang di rumah. Jarang di kantor," tambah Jodi kembali.
"Oya? ya terserah kamu aja, Nak. Kalau begitu, kamu gak punya nomornya Lala?"
"Tidak, Yah ..." kepala Jodi menggeleng pelan.
"Kenapa?" selidik sang ayah.
Jodi mesem. "Nanti di kira Aku deketin Lala, Yah ... suaminya jelas cemburu sama aku kalau dekat sama Lala, he he he."
"Hem ... kalian, kan jelas saudara. Mana ada suka-sukaan ah." Pak Mulyadi menggeleng.
Mbok Darmi menyodorkan segelas air minum pada pak Mulyadi. "Minumnya, Mas."
"Oh, iya. Makasih Darmi." Tangan pak Mulyadi mengambil gelas tersebut dan meneguknya.
"Besok siang aja, aku ke rumahnya." Jodi mengakhiri makannya dengan meneguk air putih.
Jodi berdiri dan membantu sang ayah ke ruang tengah. Ia mendorong kursi roda sang ayah. "Oya. Kalian lanjutkan aja makannya."
Setelah Jodi menjauh dari tempat makan. Mbok Darmi menatap suster Caca. "Jangan mentang-mentang masih muda dan sok cantik. Mencari perhatian dari majikan saya."
Suster Caca mengangkat kepalanya. "Siapa yang sok? siapa juga yang cari perhatian Mbok, saya di sini bekerja. Dan tugas saya merawat beliau. Tentu saya akan bekerja dengan baik, bukan sok, seperti yang Mbok bilang."
"Saya tidak suka, sama orang yang cari muka." Suaranya pelan, seolah tak ingin di dengar orang.
"Cari muka?" suster Caca meraba wajahnya. "Wajah saya ada di tempatnya Mbok. Ngapain cari muka?" mengernyitkan keningnya sambil tertawa kecil.
Mbok Darmi semakin kesal, menatap tajam dan wajahnya semakin masam.
Caca berdiri setelah selesai makannya. Pergi meninggalkan Mbok Darmi yang masih duduk di tempat.
****
Ibra baru selesai mandi. Dan Laras menyiapkan pakaian buat Ibra. Sesekali mengusap perutnya, ia bawa ke Ibra yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Kata, mama tadi pagi. Sayang kram perutnya kenapa gak panggil orang?" lirih Ibra, tangannya mengambil pakaian satu-satu ia kenakan.
"Nggak pa-pa kok, kata dokter juga kalau masih diatasi, ya ... gak pa-pa." Gumamnya Laras dengan santainya.
"Tapi. Kami khawatir sayang." Tangan Ibra mengelus perut Laras yang terasa keras.
"Nggak pa-pa ah," sahut Laras sambil merapikan piyama Ibra.
Ibra menghampiri meja rias. Menyisir rambut. Memakai losion dan minyak wangi ke seluruh tubuhnya, sehingga baunya menyeruak di seluruh ruangan ini.
Ibra memutar tubuhnya mendekati sang istri yang duduk di tepi tempat tidur. "Lain kali kalau perutnya terasa gimana-gimana, bilang. Jangan sendirian, buat apa ada Susi? buat apa ada mama yang bela-belain dari luar Negeri nungguin di sini. Untuk menjaga mantu dan cucunya." Suara Ibra sangat lembut dan telapak tangannya mengusap punggung sang istri.
Laras mengangguk, lalu menyandarkan kepala di bahu sang suami. Ibra memeluknya erat dan mengecup keningnya lembut.
"Abang, sayang sama kamu sama anak kita. Tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan menimpa mu, besok periksa ya? Abang gak masuk kerja besok. Kita periksakan kandungan mu hem," lagi-lagi mendaratkan kecupan di kening Laras.
Kedua netra mata Laras berkaca-kaca, terharu mendengar ucapan dari bibir Ibra yang tampak khawatir akan kondisinya. Laras semakin membenamkan wajahnya di dada sang suami. Tempat yang paling nyaman untuknya bermanja-manja.
Sementara waktu, mereka di posisi yang sama. Tangan Ibra pun terus mengelus perut sang istri dengan sangat lembut. Sesaat kemudian Laras menjauh dan melepas pelukannya.
Ibra mengangkat dagu sang istri dengan jarinya. "Kenapa pipinya basah nih?" tanya Ibra lalu telunjuknya mengusap bekas air bening yang melintas di pipi sang istri.
Laras cuma menggeleng dan menatap sayu. Tangannya memegang tangan Ibra. Ibra lagi-lagi mendaratkan kecupan singkat di pipi dan kening.
"Makan dulu ya? Abang pasti lapar," ucap Laras sambil turun menapaki lantai.
Dari kantor cabang, Ibra baru pulang magrib bersama Zayn. Dan zayn pun masih ada di rumah itu sedang istirahat mungkin.
"Sus, minta sabun dong. Saya mau numpang mandi." Zayn minta sabun pada Susi.
Susi pun memberikannya. Kemudian melanjutkan tugasnya yang sedang memasak.
"Eh, shampo nya dong. Masa sabun nya doang?" tambah Zayn masih berdiri di tempat.
Mata Susi menatap kesal. "Tuh, tempatnya. Ambil sendiri, gak lihat apa saya lagi sibuk." Gerutu Susi menatap tajam ke arah Zayn ....
****
Aku mau tanya nih, kira-kira kalian setuju gak kalau Zayn di pasangkan dengan Susi? Hai ... sudah baca, kan? episode ini. Jangan lupa like dan komentarnya ya🙏
__ADS_1