
Sekitar pukul 03.30 dini hari Ibra terbangun. Menggeliat nikmat, lalu memicingkan mata melirik sang istri yang terbaring memunggunginya. Ia dekati dan mencium bahunya, turun ke leher dan mendaratkan kecupan kecilnya berkali-kali. Membuat Laras terbangun dan bergumam.
"Hem," badan Laras menggeliat, tangan langsung merangkul pundak orang yang membuatnya terbangun itu. Tanpa melihat terlebih dahulu, namun yakin. Siapa lagi yang tidur bersamanya kalau bukan sang suami. Dari napas dan sentuhannya aja sudah ketahuan.
Laras mengembangkan senyumnya sambil tetap terpejam, ketika sang suami mulai nakal memainkan dan mengulum ******** miliknya bergantian. Layaknya seorang baby yang kehausan di malam hari.
Ibra mengangkat wajahnya, melihat wajah sang istri yang melukiskan senyumnya tiada henti. Netra matanya terbuka sedikit mengamati sang suami yang lebih leluasa melakukan aksinya, setelah beberapa saat melakukan pemanasan. Akhirnya melakukan ritual ke intinya. Bergulat di atas tempat tidur yang panas. Sehingga peluh mengucur di badan keduanya, napas pun saling memburu dan bersahutan.
Hampir 1,30. Menit, ritual itu baru diakhiri dengan kecupan hangat di kening sang istri. Buru-buru kedua masuk kamar mandi dan mandi bersama.
Orang-orang di rumah itu sudah melingkari meja makan. Untuk melaksanakan sarapan pagi. Seperti biasa Laras pun melayani sang suami dengan mengambilkan piring dan isinya.
"Pagi? saya datang, apa kabar semuanya? lama kita tidak bertemu." Suara Zayn yang muncul dari luar dan langsung mengambil tempatnya di meja makan itu.
"Pagi juga, Nak Zayn. Senang bertemu dengan mu lagi," sahut bu Rahma dengan ramahnya.
Yang lain hanya mengumbar senyum saja dan menyodorkan piring menu masakan.
Semuanya memulai sarapan, menikmati hidangannya masing-masing. Setelah selesai sarapan, Ibra pamit untuk berangkat kerja.
"Aku pergi dulu ya? baik-baik di di rumah." Ibra mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
Laras pun meraih tangan Ibra dan mencium punggungnya. "Hati-hati juga di jalan."
"Iya sayang," balas Ibra, kemudian mengayunkan langkahnya menuju mobil Zayn.
Laras menatap kepergian Ibra sampai hilang dari pandangan. Barulah ia masuk meninggalkan teras.
"Ma, aku mau belanja perlengkapan baby, apa mau ikut, Ma?" tanya Laras menatap sang mama mertua yang sedang merapikan pas bunga di meja.
"Ha, tapi. Sama papa ya perginya, Mama trauma kalau bepergian cuma perempuan aja. Nggak mau, Mama. Takut." Bu Rahma bergidik.
"Iya, Ma."
"Assalamu'alaikum?" suara seseorang dari luar.
Laras dan sang mama mertua saling bertukar pandangan. "Siapa, Mah?"
Bu Rahma hanya membalas dengan menaikan kedua bahunya. Tanpa mengeluarkan suara bu Rahma melangkahkan kakinya menuju pintu, melihat siapa yang datang.
Blak!
Pintu terbuka. Tampak pak RT Miftah berdiri menghadap kearah pintu. "Eh ... Nak Mif, silakan masuk Nak." Bu Rahma mempersilakan masuk.
"Assalamu'alaikum? makasih, Bu. Laras nya ada? " tanya Miftah sembari mengangguk hormat. Kemudian mengikuti langkah tuan rumah dengan matanya bergerak mencari keberadaan seseorang.
"Wa'alaikumus salam. Silakan duduk, Nak Mif? sebentar ya Ibu tinggal dulu mengambil minum." Bu Rahma mundur hendak ke belakang.
"Nggak usah merepotkan, Bu." Tolak Miftah, namun lagi-lagi mengangguk.
Bu Rahma menoleh sesaat. "Nggak pa-pa, Nak."
Langkah bu Rahma yang hendak ke belakang. Berpapasan dengan Laras. Sebelum Laras bertanya, bu Rahma bicara duluan. "Itu, Nak Miftah. Sayang."
"Ada apa ya?" selidik Laras menatap mama mertua.
"Nggak tau, Mama belum tanya itu." Bu Rahma membuatkan minum untuk tamunya.
Laras berjalan menuju ruang tamu. Dimana Miftah berada. "Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumus salam." Suara Miftah mendongak melihat Laras yang berdiri mengenakan daster.
"Em, ada apa ya?" tanya Laras sambil duduk di hadapan Miftah.
"Ah, nggak pengen mampir aja, ingin tahu kabarnya. Kebetulan tadi aku dari sebelah sana, ya ... sekalian lewat," sahut Miftah.
"Oh, baik. Alhamdulillah. Gimana kabar keluarga mu?" tanya balik Laras.
"Baik, juga. Aku turut prihatin atas yang menimpa mu waktu itu, kebetulan aku waktu itu sedang berada di luar. Jadi gak bisa menjenguk." Lanjut Miftah menatap ke arah Laras.
"Oh, gak pa-pa kok. Cuman ... kecelakaan dikit aja," sambung Laras, kemudian menoleh ke arah mama mertua yang membawakan segelas teh hangat.
"Silakan, Nak Miftah. Diminum?" bu Rahma menyimpan di meja dan ia duduk di sebelah sang mantu.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Aduh bikin repot!" ucap Miftah sambil menggeser gelas minumnya yang masih mengepul asapnya.
"Nggak pa-pa cuma minum doang." Bu Rahma menunjukkan senyumnya.
"Eh ... Nak Miftah. Sudah lama bertamu?" selidik pak Marwan yang baru datang sambil berjabat tangan dengan Miftah, lalu duduk di sofa satunya.
"Oh, baru saja, Pak. Sehat?" tanya pak Rt itu.
"Baik. Seperti saat ini yang di lihat," balas Marwan.
Berasa tidak ada yang penting juga, Laras memutuskan untuk pergi ke kamar saja. Lagian belum duha juga. "Pah, Mah. Aku masuk kamar dulu ya? oya pak Rt ngobrol sama beliau aja," Laras menunjuk sang mertua sambil mengedarkan pandangan ke orang-orang yang ada di sana.
"Iya, sayang. Istirahat aja," bu Rahma menoleh sang menantu.
Miftah mengangguk, dan menatap punggung Laras dari belakang. Sampai tak dapat ia lihat lagi.
"Oya, ada maksud dan tujuan apa? Nak Rt ke sini, kali aja ada yang penting," selidik Marwan lagi. Pandangannya lekat ke arah Miftah.
"Ah, tidak Pak, saya cuma menanyakan kabar Laras aja, kemarin saya dengar kecelakaan. Dan saya waktu itu sedang berada di luar, jadi tak sempat menjenguk," ujar Miftah.
"Oh, itu. Alhamdulillah sudah baikan, terima kasih sudah ingat dan menanyakan kabar mantu saya." Jelas Marwan kembali.
Setelah sebentar berbincang, akhirnya Miftah pamitan. Dengan alasan masih ada urusan.
"Kok, buru-buru? Nak Miftah," ucap bu Rahma basa-basi.
"Ada urusan, Bu. Maafkan saya sudah mengganggu waktu kalian?" ungkap Miftah sambil beranjak dari tempatnya duduk.
"Ah, gak juga. Kami tak terganggu kok," timpal Marwan dan ia pun berdiri mengantar tamunya ke depan.
Miftah menyalakan sepeda motornya, lalu mengangguk hormat pada pak Marwan. Lantas motornya berlalu dengan cepat meninggalkan kediaman Laras.
Sesampainya di kamar, Laras bergegas ke kamar mandi. dengan niat mengambil air wudhu. Tidak lama Laras kembali dan bersiap menunaikan duha. Kemudian Laras berbaring di atas tempat tidur setelah selesai dengan duha nya. Matanya terasa perih. Wajah juga berasa panas.
"Ya Allah, kenapa rasanya kurang enak badan gini? padahal mau belanja." Tangannya mengusap lembut perutnya yang terasa bergerak.
"Laras, sayang? jadi gak pergi nya?" suara bu Rahma dari balik pintu.
Kreett!
Pintu, bu Rahma buka setengahnya. Tampak Laras tengah berbaring di tempat tidur dengan selimut tebalnya. "Loh, kamu kenapa sayang? katanya mau belanja," tanya bu Rahma heran, ia duduk di samping Laras yang berbaring.
"Kayanya, gak jadi deh Mah ... lain kali aja," suara Laras sedikit menggigil dan memeluk selimut yang tebal penutup tubuhnya.
"Ya, ampun ... kamu demam, Nak!" ucap bu Rahma setelah menempelkan punggung tangannya di pelipis Laras yang menyingkap hawa panas.
"Sus? Susi ..." pekik bu Rahma sambil mendekat ke pintu memanggil Susi.
Susi bergegas menghampiri bu Rahma. "Ada apa Nyonya besar?" menatap bu Rahma yang tampak cemas.
"Itu, ada obat penurun panas gak? atau kompres aja, Nona muda demam." Suara bu Rahma terburu-buru.
"Apa? nyonya muda demam." Susi menoleh ke dalam, benar saja Laras terlihat menggigil. "Baik Nyonya besar." Susi kembali ke belakang setengah berlari.
Pak Marwan menghampiri sang istri. "Ada apa Mah? ribut-ribut."
"Ih, Papa. Gak lihat apa? mantu kita sakit." Matanya bu Rahma sedikit mendelik pada sang suami yang kurang peka, sudah tahu mantunya berbaring dan menggigil.
"Ha, sakit? sakit apa, barusan baik-baik saja, kan?" Marwan heran lalu menempelkan punggung tangan ke kening Laras yang panas banget.
"Kayanya, demam Pah." Bu Rahma menaikan selimut Laras dan menatap wajahnya yang pucat air keluar dari kedua kelopak matanya akibat panas.
"Bawa ke rumah sakit ya?" ajak pak Marwan menatap sang mantu.
Namun Laras menggeleng, tanpa membuka matanya itu. "Nggak usah, aku butuh istirahat saja." Suaranya sangat lirih dan bergetar.
Bu Rahma dan suami saling beradu pandang sesaat. "Ya, udah kalau gak mau pergi, Papa akan panggil saja, supaya datang." Marwan berlalu tanpa menunggu ada yang menyahut ucapannya.
Susi datang, dengan membawa wadah berisi air putih, dan beserta kompres nya. Bu Rahma langsung mengambil handuk kecil dan menempelkan di kening sang mantu.
"Dingin ..." suara Laras yang bergetar itu akibat kedinginan.
"Kasian, Nyonya. Padahal tadi baik-baik aja ya Nyonya besar?" melirik bu Rahma yang menatap khawatir pada Laras.
__ADS_1
"Hem," gumamnya bu Rahma.
"Nya, telepon tuan gak?" tanya Susi pada bu Rahma kembali.
"Jangan, aku gak mau bikin repot abang. Kasian, abang sedang banyak kerjaan dan sepertinya abang sedang menghadapi masalah. Kalian gak usah khawatir, aku akan baik-baik saja setelah istirahat." Gumamnya Laras sambil tetap memejamkan matanya itu.
Bu Rahma mematung. Begitupun Susi tak tahu harus berkata-kata apa lagi?
Tangan Susi memijit kaki Laras sangat pelan. Ia duduk di samping kaki majikannya, Susi tampak sedih melihat sang majikan.
Pak Marwan kembali, bersama seseorang yang berpakaian putih dan bersiap memeriksa pasien. "Ini, dok. Silahkan diperiksa dok." Pak Marwan menunjuk ke arah Laras.
Semua menjauh, duduk di sofa. Membiarkan dokter memeriksa pasien yang demam tinggi.
Setelah beberapa saat, melewati serangkaian pemeriksaan. Akhirnya selesai juga, dengan cepat dokter menulis resep obat yang harus di tebus. Kemudian diberikan pada pak Marwan.
"Mantu saya sakit apa dok?" tanya bu Rahma sangat khawatir.
"Oh, cuma demam biasa kok. Secepatnya aja di kasih obatnya. Semoga lekas sembuh."
Dokter pamit, diantar ke depan sama pak Marwan. Sekalian pak Marwan mau ke apotek terdekat.
Bu Rahma mendekat dan mengusap kepala sang mantu. "Cepat sembuh ya sayang? Mama gak tega lihatnya."
Sekitar 30 menit kemudian. Marwan kembali dengan menenteng kantong obat buat Laras, setelah memberikan obatnya, Laras dibiarkan istirahat. Di tungguin oleh bu Rahma dan Suami.
Susi pergi, belanja kebutuhan mingguan. Yang kebetulan di lemari pendingin sudah mulai kosong. Setok-setok keperluan dapur sudah menipis.
"Panasnya tadi begitu tinggi, Pah. Sekarang sih mulai menurun," gumam sang istri menoleh sang suami yang tengah menonton televisi dengan suara pelan, takut mengganggu yang sedang istirahat.
"Syukurlah, kalau sudah turun. Ibra di kasih tau gak? Papa baru ingat." Pak Marwan menatap penasaran sang istri.
"Tadi, Laras Larang, Pah. Katanya jangan ganggu dia, dia sedang sibuk dan sepertinya sedang menghadapi masalah," timpal bu Rahma menirukan ucapan Laras tadi.
Pak Marwan termenung. "Iya juga sih." Batin Marwan, matanya menatap sang mantu. "Semoga secepatnya pulih lagi, Mah ...."
"Apa iya, putra kita sedang dalam masalah, Pa?" sang istri menatap penasaran.
"Suuttt ... jangan keras-keras. Nanti terganggu, kasian. Aku yakin. Putra kita akan mampu menyelesaikannya Mah ... percayalah?" ujar pak Marwan sambil menepuk bahu sang istri.
Bu Rahma hanya menghela napas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang. Ia tak lagi bertanya kenapa, cukup obrolan itu sampai di situ aja. Netra mata bu Rahma mengamati kondisi sang mantu, kali ini ia duduk di kasur sebelah Laras terbaring.
****
Di bandara internasional, ya itu bandara Soekarno hatta. Ibra sedang menunggu seseorang di sana. Sesekali tangannya sibuk dengan ponsel dan berbicara lewat jaringan telepon. Ia duduk menunggu di kursi yang tepatnya agak pojokan.
Dari jauh, berdiri seorang wanita berpenampilan formal. Dengan tas di tangan dan menggusur koper besarnya, ia tengah menatap ke arah Ibra. Dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ibra menoleh dan mengulas senyum tipisnya, lalu menghampiri Dian yang berdiri mematung. Setelah sampai, kedua netra mata mereka bertemu sesaat dengan raut wajah yang sulit diartikan dari keduanya.
Dian menelan saliva nya dengan susah payah sembari bergumam. "Sayang?" matanya berkaca-kaca. Saliva nya seolah tercekat di tenggorokan.
Bibir Ibra diam, tak sedikitpun bergerak, ia pun bingung tak tahu harus berkata apa? setelah semua membayang di pelupuk matanya.
Biasanya, setelah terpisah itu. Selalu terucap kata kangen, Rindu. Pelukan dan kecupan hangat selalu menghiasi dan mendarat di kening dan pipi bahkan di bibir keduanya, namun tidak dengan kali ini. Ibra begitu kaku, begitupun Dian yang canggung. Seolah menyadari semua kesalahannya.
"Apa kamu marah sama aku? Aku minta maaf. Aku menyesal!" ucap Dian pelan dan suaranya bergetar.
Mendengar itu, hati Ibra berasa di sayat yang menimbulkan rasa perih yang tidak terhingga. Sebagai suami. Ia selalu berusaha berbuat adil, kalau Dian tidak di luar kota. Ia usahakan membagi waktunya, nafkah lahir ataupun batin ia berusaha penuhi. Kecuali jika memang Dian di luar kota toh keduanya punya kesibukan kerja masing-masing.
Kenapa istri yang ia cintai melakukan itu semua. Kesepian Kah. Atau cuma hanya nafsu semata? tanpa berkata-kata Ibra membalikkan tubuhnya memunggungi Dian.
Melihat sikap Ibra yang begitu dingin dan kaku itu, tas di tangan yang terasa kebas pun terjatuh ke lantai. Batin Dian pedih. Sakit, dadanya begitu sesak, seolah sulit tuk bernapas, ia tak mampu lagi menahan air mata yang sedari tadi ingin keluar dari bendungannya.
Dian maju dua langkah, lantas membenamkan wajahnya di punggung sang suami. Air mata yang hangat itu begitu deras berjatuhan. Serta membasahi punggung Ibra. Ia memejamkan mata yang rasanya begitu panas dan memeras air mata yang semakin deras.
Ibra mendongakkan kepalanya ke langit-langit, berusaha agar tak menjatuhkan air setetes pun. dari sudut matanya yang sudah memerah. Bibirnya bergetar. Namun tetap bungkam seribu bahasa.
"Maafkan aku, aku mengaku salah. Aku tak sengaja, dan aku menyesal tidak bisa menjaga diriku sendiri. Aku menyesal ..." hik hik hik tangisnya semakin pilu. Saat ini rasa hati Dian bagai diiris sembilu. Sangat pedih. Tubuhnya merosot ke lantai. Tangisnya semakin pecah. Tak perduli puluhan pasang mata memperhatikan ke arahnya dan merasa heran ....
****
Mohon maaf bila besok atau lusa SKM tidak up, di karenakan author nya masih kurang fit. Ini juga aku maksain demi kalian semua yang selalu setia menunggu, tapi semoga aja dengan doa kalian semua. Kondisi ku makin membaik. Aamiin ya Allah.
__ADS_1