Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Bertemu keluarga


__ADS_3

"Kak? Kak Laras, Viki memukul Dede di sana. "Dengan suara terburu-buru seorang anak.


Laras dan bu panti terkesiap dan langsung beranjak dari duduknya.


"Ya ampun ... bikin ulah lagi, huuh." Laras membuang napasnya.


"Beneran itu? kenapa seperti itu sih," gumam bu panti sambil berjalan diikuti oleh Laras.


"Apa di panti juga suka seperti ini, Bu?" tanya Laras sambil berjalan.


"Nggak juga, di rumah gak pernah gitu. Heran, Ibu jadinya." Gerutu bu panti.


"Hai. Hentikan!" pekik Laras dan bu panti bergantian, begitu sampai di depan kolam renang dan melihat Viki dan Dede malah berkelahi.


"Hentikan ... punya masalah apa sih kalian?" pekik Laras kembali.


Anak-anak itu menoleh ke arah sang ibu dan Laras. Mereka pun berhenti dengan mata merah, wajah merah padam menahan amarah. Kemudian keduanya naik, setelah beberapa kali bu panti menyuruhnya naik.


Bu panti yang merasa geram sedikit menyentil anak-anak itu. "Kalian apa-apaan sih, kok bikin ribut di sini? Ibu tanya pernah gak kalian melakukan ini di rumah kita ha?"


Keduanya menunduk dan menggeleng pelan.


"Terus kenapa? sekarang di sini kalian membuat ulah. Seharusnya kalian malu, di tempat Kakak mu seperti ini!" selidik bu panti dengan nada berapi. Apalagi melihat keduanya tampak lebam-lebam di pelipis.


"Siapa sih yang ngajarin kalian berkelahi ha?" lirih Laras dari kursi yang ada di pinggir kolam.


"Jawab, siapa yang menyuruh kalian bertengkar? dan mengajarkan kalian berkelahi?" tambah bu panti.


Lagi-lagi keduanya menggeleng. Dan menunduk dalam-dalam.


"Coba bilang sama Kakak. Apa sebabnya kalian berkelahi?" selidik Laras sambil mengelus perutnya.


"Hem, jawab?" perintah bu panti.


Keduanya mengangkat kepala, kemudian salain bertukar pandangan. "Dede duluan Kak, dia mengejek Viki. Katanya Viki buta, tak melihat sehingga tadi memecahkan gelas."


"Emang iya, kalau gak buta, gak mungkin kamu menabrak Mbak Susi." Ejek Dede.


"Bukan nabrak, tapi kesenggol. Tidak sengaja juga," jawab Viki, kaki nya menendang kaki Dede. di balas lagi oleh Dede.


"Sudah, sudah! kalian jangan bicara lagi. Kaki pun diam, bisa gak?" Bentak bu panti.


Anak-anak kembali menunduk dalam, mereka ketakutan dengan bentakan bu panti.


"Bu ... sudah. Jangan marahin mereka, adek-adek kk yang baik ... jangan bertengkar lagi ya? kalian harus saling menyayangi, saling memaafkan satu sama lain," lirih Laras, matanya bergerak melihat bu panti dan anak-anak. "Kalian harus jadi anak yang baik, pintar dan berguna buat yang orang lain."


"Kakak gak suka ya kalian nakal kaya gini lagi, kalian harus menghormati dan sayang sama Ibu." Laras melirik ke arah bu panti. "Kalian harus jadi anak yang yang tau sopan santun. Baik, berguna. Pandai memilah dalam hal kebaikan, yang lain juga dengar. Jangan bikin Ibu marah." Mata Laras menyapu semua adik-adiknya.


Semuanya mengangguk tanda mengerti. Mereka memang lama gak bareng Laras semenjak Laras kuliah, namun waktu itu minimal sebulan dua kali. Laras menginap di panti dan anak-anak menurut sama kata-kata Laras.


"Sudah, kalian bersih-bersih. bentar lagi magrib. Setelah salat dan mengaji, kita makan bersama. Kakak sudah siapkan makan yang enak. Oke semuanya?" jelas Laras sambil sedikit mengulas senyumnya.


"Oke!" jawab semuanya.


"Fitri. Kamu habis salat bantu Mbak Susi ya di dapur?" Netra mata Laras bergerak ke arah anak remaja yang Laras panggil Fitri itu.


"Iya, Kak." Fitri pun mengangguk.


Sementara bu panti mengurus mereka untuk membantu bersih-bersih.


Laras beranjak dan hendak masuk ke dalam rumah. Manik matanya mendapati sang suami berdiri di samping pintu kaca, dengan senyum tipis di bibirnya.


"Hati-hati sayang, licin," Sambil segera mendekat dan menuntun tangan sang istri. Kemudian merangkul pinggangnya.


"Sejak kapan kamu di sana?" tanya Laras melirik sang suami.


"Sedari tadi sayang, Sebenarnya ... tadi aku tertidur. Karena terdengar ribut jadi terbangun." Ibra terus menggandeng tangan Laras.


Langkah Laras berhenti menatap wajah bantalnya Ibra. "Aku minta maaf ya? karena mete ribut tidur mu jadi terganggu," mendongak dan mengusap kedua rahang sang suami.


"Nggak, pa-pa nanti juga bisa tidur lagi. Sudah terdengar adzan, yu salat dulu?" ajak Ibra, menangkap kedua tangan laras yang menyentuh wajahnya.


"Iya," balas Laras dengan menarik dua sudut bibirnya. Keduanya masuk ke dalam kamar, tak lupa Ibra menguncinya.


Ibra hentikan langkahnya dan memeluk tubuh sang istri. Ia menghujani wajah sang istri dengan kecupan kecil. "Aku suka, dengan cara mu yang menasehati anak-anak. Apa nanti setelah anak kita lahir kau akan lebih galak atau lebih lembut."


Laras mengerutkan keningnya. "Emangnya aku terlihat galak gitu?"


"Galak sama anak-anak sih nggak, lirih namun tegas aja. Aku suka cara mu itu."


"Ya, sudah lepaskan, aku mau ke kamar mandi," lirihnya Laras.


Ibra pun melepas sang istri, ia sendiri memilih menutup gorden terlebih dahulu.


Setelah mengerjakan salat magrib, keduanya bersiap makan malam bersama anak-anak. Di ruang tengah, Susi dan anak-anak sudah kumpul di sana.


"Ibu mana?" tanya Laras sambil mencari keberadaan bu panti.


"Itu Ibu." Kata salah satu anak menunjuk bu panti yang baru muncul dari arah kamar.

__ADS_1


Laras menoleh. "Makan dulu, Bu."


"Iya, ayo." Bu panti duduk diantara anak-anak yang lain.


"Kalian jangan ribut ya. Lauknya mau apa? silakan ngambil tapi jangan rebutan. Pokonya jangan rebutan ya?" ujar Laras.


"Baik Kak!" jawab mereka serempak.


Bu panti hanya tersenyum. Kemudian, semuanya mulai makan malam dengan lahapnya.


Laras menyiapkan buat suaminya yang minta sup buntut. "Ih, ini mah sup buntut tikus kayanya," goda Laras.


"Ha? masa sih, jangan bercanda." Ibra menatap sang istri. Hatinya mendadak was-was.


"Iya, ini lihat kecil, kan? ha ha ha ..."


"Ah, ada-ada aja." Ibra menggeleng. Lalu melanjutkan makannya.


Yang lain sempat bengong mendengar ucapan Laras. mata mereka tertuju pada mangkuk sup. Penasaran dengan isinya. "Bohong kok. Ini asli sapi."


Semua yang bermuka tegang, kini mencair kembali. Dan meneruskan makannya.


Sekitar pukul 20. wib, jemputan sudah datang. Dan semua bersiap untuk pulang, mereka pun berpamitan. Tidak lupa Laras memberi uang saka pada semua termasuk bu panti buat sehari-hari.


Kini Laras sedang melipat bekas salatnya. Sesekali mengusap perut dengan lembut, sekarang sering merasa keram yang kadang sulit ia tahan.


"Kenapa sayang?" selidik Ibra sambil ikut mengelus perut sang istri.


"Nggak, gak pa-pa. Cuma gerak aja nih." Jawab Laras. Melihat perutnya.


Ibra mengangkat tubuh Laras. Di bawanya ke tempat tidur, Laras duduk bersandar di tumpukkan bantal. Ia pun duduk di dekat sang istri, tangannya membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya.


Laras. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Jari-jari lentiknya menari-nari di sana. "Gimana ya kabar Dian sekarang?"


Ibra tak segera menjawab. Namun tangannya terus membelai rambut Laras. "Kurang tau juga." Hidungnya mencium bau wangi Rambut sang istri.


"Apa gak ada ketemu?" kepala Laras mendongak sebentar, lalu membenamkan kembali di tempat semula.


"Em, nggak. Gak pernah, jangan bahas itu ah. Tema yang lain saja hem ..." Ibra mengecup mesra pucuk kepala Laras.


Laras seakan berpikir, namun tak lagi ia bersuara. Selain mengeratkan pelukannya di tubuh Ibra. Laras ingat kalau suaminya tadi siang marah, gara-gari lagi cumbu dirinya di datangi Irfan.


Laras melepas pelukan, dan mendongak. Memandangi sang suami yang matanya bergerak menatap balik. Sesaat Laras mengunci geraknya, kemudian ia mendekatkan wajahnya. Lantas mengecup ***** Ibra sangat lembut.


Ibra terkesiap, kaget menerima perlakuan sang istri yang gak biasanya. Namun Ibra merasa senang dan membalas dengan rakus. Kebetulan sudah berapa hari hasratnya belum tersalurkan, Setelah beberapa waktu perang ***** terhenti, melepas napas yang terasa memburu itu.


Napas keduanya terengah-engah. Tak beraturan, lalu melanjutkan serangannya kembali, menangkap bibir sang istri, ia ******* dan m******* dengan sangat lembut namun penuh gairah.


Setelah merasa cukup dengan pemanasan nya. Dan Ibra sudah merasa tidak tahan lagi ingin segera menyelam di lembah madu.


Ibra dengan hati-hati melakukan ritual kesukaannya, biar bumil tetap merasa nyaman, dan tak merusak mood nya.


Setelah keduanya merasakan puncaknya, Ibra merasa lelah dan tumbang di samping sang istri. Tangannya yang panjang meraih kepala sang istri agar tidur di pelukannya.


Cuph!


Kecupan mesra mendarat di puncak kepala Laras. "Makasih sayang. Aku puas sekali." Dengan napas yang masih memburu, belum terkontrol dengan baik.


Laras membalas dengan anggukkan. Dan memejamkan matanya di dada bidang sang suami. Malam semakin larut, keduanya pun hanyut dalam buaian mimpi, tubuh keduanya saling memeluk erat satu sama lain. Di balik selimut yang tebal berwana merah ati.


****


Ke esok harinya. Sore-sore Laras tengah mengobrol dengan sang suami. Yang kebetulan sudah pulang dari kantor, sekarang dia lebih memilih banyak di rumah dan melanjutkan kerjaan di rumah. Biar istri ada yang nemani, apalagi sudah menginjak bulan ke 9. Kecuali benar-benar ada tang penting. Itupun kalau tak bisa digantikan oleh Zayn.


Terdengar suara mobil masuk ke halaman. Kebetulan pagarnya tak di kunci.


Susi segera melihat siapa yang datang. Atau bertamu ke rumah itu sore-sore.


"Kira-kira siapa yang datang ya sayang?" tanya Ibra sambil tetap fokus matanya ke layar laptop.


"Entah, Zayn kali," gumamnya Laras sembari ngemil.


Sebelum membuka pintu, Susi mengintip dulu dari balik Gorden. "Wah ... opa-opa." Langsung Susi membuka pintu.


"Assalamu'alaikum, Laras nya ada Susi?" Jodi tersenyum ramah setelah Susi membuka pintu.


"Wa'alaikumus salam ... eh Opa-Opa, mau ketemu Nyonya muda ya? Ada. Kebetulan beliau sedang ada di rumah. Silakan masuk?" ucap Susi menyilakan masuk pada Jodi dan sang ayah.


"Makasih, Sus." Jodi mendorong kursi roda sang ayah.


"Alhamdulillah ... kalau Laras nya ada di rumah." Gumam pak Mulyadi sambil mengusap wajahnya.


Setelah berada di ruang tamu. "Silakan duduk, mohon menunggu. Saya akan panggilkan dulu nyonya dan tuan."


Susi memasuki ruang keluarga. "Maaf Nya. Ada Opa sama ayahnya, di ruang tamu."


Laras menoleh ke arah Ibra yang menutup laptop nya, setelah mendengar Susi bilang ada tamu. Kemudian beranjak bersama Laras.


"Ada apa Jodi datang ke sini?" tanya Ibra.

__ADS_1


Laras menggeleng. Kemudian bejalan menghampiri ruang tamu yang tidak jauh dari situ. Tangan Ibra menggandeng tangan Laras.


Begitu sampai. Laras mengulas senyumnya. "Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikum salam. Apa kabar?" Jodi menatap ke arah Laras dan Ibra, kemudian mereka saling berjabat tangan. Kecuali Laras yang hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.


Laras baru sadar kalau di samping Jodi ada pria paruh baya. Matanya terus menatap ke arah dirinya.


Susi datang membawakan minuman dan sekaligus cemilannya. Setelah Itu Susi kembali ke belakang.


"Silakan diminum dan cicipi kuenya?" Laras menunjuk dengan ibu jarinya ke arah minuman di meja.


"Makasih." Jodi dan juga sang ayah meraih dan meminumnya.


Ibra menatap tajam ke arah dua orang itu, ia menunggu tamunya mau ngomong apa? ia heran ada apa mereka datang, toh gak ada kerja sama soal bisnis pun.


"Em, kalau boleh atau ... ada keperluan apa ya?" Laras memberanikan diri bertanya akan maksud tamunya ini.


Pak Mulyadi menerima pertanyaan itu berasa di kasih jalan. Ia melirik pada sang putra yang kebingungan harus mulai bicara dari mana?


"Apa benar kamu Laras? apa kamu tidak mengingat saya," kata pak Mulyadi menatap sang keponakan.


Laras mengernyitkan keningnya. Seraya menggeleng. "Tidak. Siapa ya?"


Pak Mulyadi mengangguk-anggukan kepalanya. "Mungkin kamu memang gak akan mengenal Om, sebab waktu itu kamu masih kecil. Tapi ... kalau Rustam pasti kamu kenal, kan?"


Laras tertegun sebentar. Lalu memandangi pria tersebut. "Paman, Rustam! tentu aku kenal. Dia paman ku. Kenapa?" Laras semakin heran. Ibra hanya menyimak saja kemana alur cerita yang pria tersebut tuju.


"Saya Kakak nya Rustam. Tentunya Kakak ayah mu, Om ini paman mu juga. Maaf ... beribu-ribu maaf, Om tidak dapat merawat mu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Deg!


Jantung Laras tak menentu. Rasanya masih tak percaya dengan omongan pria paruh baya ini.


"Maksud anda, anda ini pamannya Laras?" akhirnya Ibra bersuara juga.


Pak Mulyadi mengangguk. "Saya menyesal sudah menelantarkan dirimu, tapi Om sudah berusaha berpuluh kali bertanya pada Rustam akan keberadaan mu. Namun dia bungkam hanya bilang kamu di titipkan di sebuah panti yang tidak jelas alamatnya. Saya mencari mu ke setiap panti, namun hasilnya nihil," ungkapnya sambil menyeka buliran air mata yang ingin tumpah juga.


Laras pun bibirnya bergetar, kedua pelupuk matanya berembun. Bersiap menjatuhkan air bening dan hangat. Di kepalanya membayang wajah kedua orang tua nya, dan paman Rustam yang membawanya ke panti asuhan. Dengan janji akan setiap bulan menjenguk. Namun datang-datang setelah Laras kuliah, terus Laras sudah bekerja dan meminta uang padanya.


"Om mohon maaf. Om salah, Om keduluan Rustam mengambil kamu. Setelah kejadian itu. Semua harta milik orang tua mu, yang cukup lah buat kamu hidup sehari-hari dan biaya sekolah, semua raib tak tersisa oleh Rustam." Sesal pak Mulyadi.


Jodi mengusap punggung tangan sang ayah. "Beberapa tahun terakhir Ayah makin gelisah dihantui dengan rasa penyesalan. Hingga akhirnya Ayah jatuh sakit seperti sekarang ini."


Dengan omongan Jodi, Ibra bisa menduga kalau pria paruh baya ini adalah ayah dari Jodi. Ibra sedikit menyunggingkan senyuman, ia merasa aman. Kalau Jodi sepupu Laras, berarti Jodi gak ada kesempatan untuk mengagumi Laras lebih. Namun tiba-tiba Ibra mengingat kalau Jodi pernah menikmati cumbuan mantan istrinya, Dian. Tapi, ia sama sekali tak ingin membahasnya.


"Jadi ini, ayah mu Jodi?" suara Laras pelan.


"Benar, dan beberapa tahun ini aku yang menggantikan beliau untuk mencari mu." Jodi mengangguk.


"Tapi ... aku belum percaya kalau kalian ini saudara ku." Laras sedikit menggeleng.


Ibra menoleh sang istri dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jodi mengeluarkan dompet. Mengeluarkan beberapa foto. Laras ketika masih kecil bersama orang tua nya, dan juga di sana ada foto bersama Rustam dan pak Mulyadi. Jodi berikan pada Laras, di ambil oleh Ibra dan melihatnya berbarengan dengan Laras.


"Apa ini, benar foto mu, serta orang tua mu?" selidik Ibra sambil membolak-balik beberapa foto tersebut.


Laras mengangguk pelan. "Ini paman Rustam. Ini Ibu dan Bapak." Mata Laras menjatuhkan air matanya dengan deras, hatinya kembali ke kejadian puluhan tahun lalu. Di mana orang tua nya meninggalkan dengan kejadian tragis.


Kedua tangannya menutup wajahnya. Menutupi tangisnya yang sesegukan, Ibra membawanya ke dalam pelukan. "Sabar sayang, jangan sedih. Justru kamu harus bahagia, karena bisa bertemu dengan keluarga mu." Cup mengecup puncak kepala sang istri. Suara Ibra begitu lirih.


"Kenapa baru sekarang bertemunya? kenapa gak dari dulu bertemunya." Suara Laras sambil sesegukan di dalam pelukan Ibra.


"Sayang ... kok bicara seperti itu sih? Allah lebih tahu bukan? yang terbaik buat kita. Nah. mungkin sekarang lah waktu yang tepat buat kamu bertemu sama keluarga." Ibra mengusap punggungnya lembut.


"Suami benar, Beberapa hari kamu pun datang ke sini. Tapi kalian sedang tidak ada di tempat. Kata Susi sedang berada di mension dan kebetulan katanya Nyonya muda sedang kurang sehat." Tambah Jodi menatap Laras sekilas, lalu menunduk kembali.


"Iya, itu benar. Istriku baru sehat." Timpal Ibra. Dan Laras pun mengedarkan pandangannya pada sang suami.


"Tapi, sekarang kamu benar-benar dah sehat kan La ..." tanya pak Mulyadi. Mengarahkan pandangan pada Laras.


Laras beranjak, lantar berlutut di dekat pak Mulyadi. "Paman, Laras mohon maaf bila Laras tak mengenali Paman." Meraih kedua tangan sang Paman.


"Justru, paman yang harus minta maaf, sebab Paman yang menelantarkan mu selama ini." Memegang kepala Laras. "Bahkan Paman tak mampu menjaga harta orang tua mu yang seharusnya jadi milik mu. Semua gara-gara Rustam." Mulyadi mengeratkan giginya. Jadi geram pada Rustam.


"Sudahlah, Paman. Kalau soal harta, mungkin itu bukan rejeki aku. Biarlah, harta bisa di cari selama kita mau berusaha--"


"Lagian, sekarang ini. Laras tak kekurangan suatu apapun." Ibra menimpali omongan Laras.


"Aku bahagia bisa bertemu Paman."


"Apalagi, Paman, La ... Paman sangat-sangat bahagia. Mau, kan memaafkan Paman?" pak Mulyadi menatap sang keponakan sambil mengusap kepalanya.


"Tak Ada yang harus di maafkan dari Paman," ucap Laras dengan sangat tulus. Keduanya berpelukan. Menumpahkan rasa rindu. Sebagai Paman dan keponakan.


Suasana yang penuh haru itu. Hanya di lihatin sama Jodi dan Ibra, malah Susi berdiri dan menangis haru dekat pintu belakang.


Di luar terdengar derap langkah yang lebih dari satu pasang kaki. menuju ruang tamu ....

__ADS_1


****


Hai ... apa kabar reader ku semua, semoga kabar kalian baih segalanya. Sudah baca kan, gimana puas gak? oya mana dukungan untuk ku nih, agar tambah semangat. Jangan lupa fop juga "Bukan Suami Harapanku." 🙏


__ADS_2