Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Ngidam es krim


__ADS_3

"Sayang ... kami datang ..." suara bu Rahma dengan wajah sumringah. Bersama Marwan yang baru datang dari Depok.


"Met siang ... putra dan mantu kesayangan Mama, kalian sangat romantis sekali." bu Rahma memeluk putra dan mantunya bergantian.


"Mah ..." ucap Laras yang berkali-kali di cium kanan-kiri oleh bu Rahma.


Beberapa hari ini bu Rahma dan suami berkunjung ke rumah yang di Depok. Dan hari kembali ke mension Ibra.


"Aduh, sayang ... kok kamu tambah kurusan sih? apa kamu tidak diperhatikan sama suami kamu ha ... kurusnya, mantu Mama." Rahma Menatap lekat Laras.


"Ah, gak juga, aku masih seperti ini kok," sahut Laras sambil mengamati kondisi tubuhnya yang ia rasa sama aja.


"Siapa bilang? aku perhatikan dia. Mah, kalau gak percaya tanya asisten di rumah ini," elak Ibra.


"Putra kita pasti perhatian sama istrinya. Mah ... gak mungkin lah dia tidak perduli," ungkap Marwan.


Bu Rika dan Susi mendekat. "Benar. Tuan besar dan Nyonya besar. Tuan Ibra sangat perhatian sama Nyonya muda, barusan juga Tuan sudah memetik buah muda dari pohonnya, permintaan Nyonya muda."


Ibra mengangguk dan menaik turunkan alisnya pada sang bunda, meyakinkan perkataan bu Rika dan Susi.


"Iya kah?" bu Rahma ragu, menatap putra dan yang lainnya.


"Kalau ... menurut saya sih, memang sedikit perhatian. Namun ... kurang romantis." Zayan melengkapi perkataan bu Rika.


Ibra melotot dengan sempurna pada Zayn, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oh ... lagi makan rujak. Mama cicipi lah," bu Rahma mengambil potongan buah itu serta sambelnya. Akhirnya bergidik merasa asam sangat.


Ibra memasukan rujak ke mulut, lalu mengajak Zayn balik ke kantor. "Yu, berangkat!"


"Eeh ... sejak kapan kamu suka yang asam-asam sayang?" bu Rahma menatap putranya merasa heran.


Ibra yang baru menyadari pun bengong. "Barusan," sambil melangkah duluan, meninggalkan tempat tersebut. Diikuti oleh Zayn dari belakang.


"Emangnya, tuan gak suka yang asam-asam ya?" tanya Laras penasaran.


"Jangankan buah yang asam, yang manis aja jarang," jawab bu Rika.


"Iya," tambah bu Rahma sambil duduk dekat suaminya.


"Tapi ... sering kok dia makan buah, sama aku. Beneran!" ungkap Laras lagi.


"Oh, berarti dia sekarang sudah suka." ujar bu Rahma lagi.


Laras meneruskan makan rujaknya sampai habis. Susi bertanya. "Apa mau nambah Nyonya? kalau mau biar Susi potongkan lagi."


"Buahnya masih ada?" tanya Laras memandangi Susi. "Buat nanti malam aja."


"Uuh ... masih banyak. Apalagi di kebunnya," sahut Susi.


"Bukan." Laras menggeleng, maksudnya dapat metik Ibra.


"Oh, itu dapat metik tuan, masih ada kok." Susi menunjuk ke lemari pendingin.


"Masih ada katanya sayang ... jangan khawatir, kalau abis tinggal minta sama Ibra metik lagi," ungkap bu Rahma.

__ADS_1


"Iya, deket juga sekalipun pengennya tengah malam," sambung pak Marwan.


"Bener. Pah, oya sayang, kalau mau apa-apa atau ngidam apa langsung ngomong. Jangan diam saja, gak baik bagi yang hamil, nanti orok nya ngeces gimana?" bu Rahma menggenggam tangan Laras penuh kasih sayang.


"I-iya. Mah." laras mengukir senyumnya, bersama bu Rahma berasa sama ibu sendiri. Mama, kan baru saja datang dari Depok. baiknya kalian istirahat dulu, oya sudah makan belum. Mah juga Ayah?" mata Laras melihat pak Marwan juga.


"Makan, sudah. Tadi di jalan, iya sih capek juga ya. Pah?" bu Rahma melirik suaminya.


"Iya, pengen istirahat ah." Marwan berdiri berniat ke kamarnya.


Bu Rahma menoleh Laras. "Sayang, kami istirahat dulu ya? nanti kalau butuh sesuatu panggil saja Mama! oke?"


"Iya. Mah ... istirahat saja, aku gampang kok," dengan senyuman ramahnya.


"Ike. Mama tinggal dulu ya?" bu Rahma meninggalkan Laras membuntuti suaminya yang sudah lebih dulu pergi ke kamarnya.


"Met istirahat ya. Mah ...."


Laras pun beranjak dari duduknya dan menggeser kursi. Kemudian mengayunkan langkah kaki ke kamar untuk beristirahat.


"Mau ke mana Nyonya muda?" apa anda mau beristirahat," tanya bu Rika menatap langkah Laras.


Laras menoleh memutar kepalanya. "Iya. Bu Rika ... ada apa?"


"Oh, tidak Nyonya, kalau butuh sesuatu bilang saja sama saya." sambung bu Rika.


"Baik Bu." Laras mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya


Ketika berada di lift. Laras melamun mengingat sikap Ibra yang semakin kesini semakin manis, perhatian. "Apa memang karena aku hamil?" mengusap perutnya lembut. Kemudian Laras melangkahkan kaki melintasi pintu lift menuju kamar pribadinya.


Lama-lama mata Laras pun terpejam, menjemput mimpi.


Sore-sore Laras terbangun, menggeliat nikmat. Memicingkan mata melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16.00 wib. Ia menyibakkan selimutnya, menapakkan kaki di lantai menuju kamar mandi, saat sudah di kamar mandi. Laras mengisi bathtub, memasukan cairan aroma terapi di sana sehingga wanginya menyeruak memenuhi ruangan kamar mandi itu.


Laras merendam dirinya dalam bathtub, menghirup wanginya aroma terapi yang menenangkan. Setelah merasa puas, ia bergegas membersihkan dirinya di bawah shower dan menggosok seluruh tubuhnya sampai bersih.


Kini Laras tengah bersimpuh di dan berdoa semoga Allah memberinya kesabaran dan kebahagiaan. Bosen di kamar, ia jalan-jalan ke dapur. "Em ... makan es krim enak kali ya?" terus melangkah kali aja di lemari pendingin ada es krim.


Sesampainya di dapur. Laras langsung mendekati lemari pendingin mencari es krim di sana, namun sungguh di sayang. Dua lemari pendingin yang ada di sana kosong, yang Laras cari tidak ada. Menoleh asisten yang sedang memasak. "Mbak gak ada stok es krim ya?" matanya menyiratkan kesedihan.


Asisten, yang Laras tanya menggeleng. "Kebetulan lagi kosong Nyonya, bu Rika belum belanja. Emang Nyonya mau es krim rasa apa?"


"Em ... rasa pisang, tapi ... tidak apa kalau gak ada! makasih ya Mbak." Laras bergegas meninggalkan tempat tersebut.


Dian yang berdiri agak jauh dari mereka, mendengar perbincangan keduanya. langsung ia memesan goje untuk membelikan es krim.


"Mbak?" panggil Dian pada salah satu asisten yang ada di situ.


Salah satu asisten menghampiri. "Iya, Nyonya, ada bisa saya bantu?"


Dian mengambil lembaran uang dari dalam tas nya. "Sebentar lagi ada gojek datang membawa paket, dan ini bayarannya. Terus ... paketnya bawa ke kamar Nyonya muda, oke?" tangan Dian memberikan uang beberapa lembar pada asisten tersebut.


"Oh, baik Nyonya." Asisten tersebut pergi setelah menerima uang dari Dian.


Di ruang nge-gym. Laras berjalan-jalan di sana. melihat-lihat yang ada di sana. "Emang siapa saja sih, yang pake ruangan ini ya? tempat nge-gym ini kan luas." Laras bicara sendiri.

__ADS_1


Puas melihat-lihat di ruangan itu. Laras kembali ke dapur dan memutuskan bantu-bantu masak buat makan malam.


"Eeh ... Nyonya muda tadi ada paketan, langsung saya bawakan ke kamar," ucap salah satu asisten yang di suruh Dian mengambil paket.


Sembari mengernyitkan keningnya Laras seraya berkata. "Paketan? paketan apa? saya tidak merasa memesan sesuatu!"


Laras melirik ke arah Susi. "Apaan Susi?"


"Susi gak tau apa-apa Nyonya." Jawab Susi.


"Tadi ... ibu Dian yang menyuruh saya mengambil paket itu untuk Nyonya muda. Sepertinya es krim," tambah asisten itu.


"Ooh ... ya, makasih Mbak!" sambung Laras dengan masih merasa heran. "Tau dari mana kalau ia ingin makan es krim."


"Nyonya muda pengen makan es krim?" tanya Susi menatap Laras.


"Nggak tau nih. Sus, saya pengen banget makan es krim," sahut Laras sambil celingukan.


"Ya udah. Susi ambilkan dari kamar ya?" tidak menunggu jawaban. Susi langsung pergi.


Tidak lama kemudian. Susi kembali membawa sebuah kantong yang berisi cup es krim. Laras langsung membukanya, benar saja es krim rasa pisang. Laras menelan saliva nya.


"Gimana, paketan nya sudah datang belum?" tanya Dian menghampiri dan duduk di kursi meja makan.


"Oh, sudah Kak, terima kasih ya?" ungkap Laras pada Dian sambil mengulas senyumnya.


"Iya, sama-sama. Makan dong," suruh Dian.


"Eeh ... kalian sedang apa nih? mantu Mama yang cantik-cantik," sapa bu Rahma yang baru saja datang ke tempat itu.


"Mama, kapan datang dari Depok?" tanya Dian sambil memeluk dan mencium pipi kanan-kiri ibu mertuanya.


"Tadi siang sayang, wah ... siapa nih yang pesan es krim?" bu Rahma mengedarkan pandangan pada es krim itu.


"Tadi aku dengar Laras pengen makan es krim, makanya aku pesankan gojek aja. Mah, dari pada ngeces, kan nanti baby nya." Akunya Dian.


"Em ... baik sekali kamu, perhatian sama yang ngidam. Bagus, harus begitu ... sayang," bu Rahma mengelus bahu Dian yang tersenyum bangga.


"Iya dong. Mah ... bukankah itu sudah kewajiban ku juga." Dian semakin mengembangkan senyumnya.


"Ayo dong di makan sayang, es krim nya?" bu Rahma menatap Laras.


"I-iya. Mah." Laras memandangi Es krim yang tinggal makan itu, namun sebenarnya. Laras pengen banget makan es krim itu ... kalau Ibra yang membelikan nya. Bukan orang lain. Laras mencoba menyendok kan es krim ke mulutnya, Namun tak berasa apa-apa di lidahnya.


"Kenapa sayang, gak enak bukan?" tanya bu Rahma menatap heran.


"Tapi itu, yang kamu mau. Rasa pisang, kan?" timpal Dian.


Laras diam sejenak, menyimpan sendok di meja. "Aku ... pengen banget makan itu, tapi ... harus tuan yang belikan," ungkap Laras dengan raut wajah yang tidak enak pada Dian, ia sedih es krim yang di depannya tak berasa apapun.


Dian menatap tajam, ia kecewa apa yang telah dia lakukan sia-sia, di mata Laras. Blak! ....


,,,,


Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.

__ADS_1


__ADS_2