Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Baby besar


__ADS_3

Masih pagi buta, Ibra terbangun dengan keadaan memeluk tubuh sang istri, dan tubuh keduanya masih polos. Hanya berbalut selimut tebal saja yang jadi penutup, Tangan Ibra meraih ponsel yang semalam berbunyi. Ketika di lihat ternyata Dian yang menghubunginya.


"Buat apa malam-malam telepon? ganggu orang aja." gumam Ibra sambil menyimpan kembali di tempatnya.


Menggeser tubuhnya pelan-pelan. Bangun mengambil celana pendek dan segera ia kenakan, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Kini Laras pun sudah mandi. Entah kenapa badannya berasa remuk dan sakit, sehingga mandi pun Ibra bantu, sang suami menggendong nya ke kamar mandi sampai kembali lagi.


Setelah berdan-dan, Laras malah baringan lagi di atas tempat tidur. "Kenapa sayang ... sakit, apa?" seakan berbisik di dekat telinganya Laras.


"Berasa remuk nih badan," lirihnya Laras.


"Maafkan aku ya?" cuph mengecup kening sang istri. "Nanti Susi belikan obat yang sekiranya aman buat ibu hamil." sambil mengelus perut bawah Laras.


"Hem, sarapan sana, pasti Zayn bentar lagi datang." Suruh Laras pada Ibra yang malah memeluknya erat.


"Em ... biar aja dia datang, aku masih kangen sama istri dan baby ku," ungkap Ibra kembali.


"Hem ... udah ah, aku mau buka gorden dah siang juga." Laras menggelinjang bangun. Namun pelukan Ibra terlalu kuat sehingga mengunci tubuh Laras.


"Nanti saja, baru jam enam." Balas Ibra sambil menyeringai.


"Ya, Ampun ... nanti baju mu kusut lagi," ungkap Laras mengelus dada Ibra dengan lembut.


Ibra melepas pelukannya dan beralih memeluk guling. Sambil menggerutu. "Nasib-nasib. Jadi suami yang tak di sayang istri?"


Laras menoleh, dan menyunggingkan bibirnya senyum. "Merajuk, baby besar ku merajuk." Menempelkan dagu di bahu sang suami yang tengah merajuk.


Ibra membalikkan badan. "Ya udah, aku buka gorden dulu." Ia bangun dan membawa langkahnya ke dekat jendela.


Laras pun bangun, membuka pintu kaca itu sehingga udara pagi masuk yang terasa begitu segar menyapa kulit. Keduanya berpelukan kembali di sana, merasakan udara segar di pagi ini.


Kemudian Laras mengambil jas Ibra yang masih tergantung. "Pakai dulu nih, oya semua keperluannya sudah lengkap di koper."


"Iya, sayang ... makasih!" Ibra mengambil ponsel dan jam tangan, tidak lupa dompet ia masukan ke saku celana.


Kemudian, menyeret kopernya keluar kamar. Ibra menuntun Laras untuk ke meja makan, sarapan. "Sus, mama dan papa mana? apa belum bangun." suara Ibra mengagetkan Susi yang tengah asyik memasak.


"Ha, itu. Di depan kayanya, sedang menikmati udara pagi," sahutnya.


Laras membuatkan teh hangat buat sang suami, Ibra.


"Pakai gula dikit sayang." Pintanya Ibra.


"Iya," balas Laras. Lalu menyuguhkan di depan Ibra.


Dari arah luar terlihat bu Rahma dan pak Marwan, di belakang Zayn berjalan menghampiri Ibra yang sudah duduk meja makan.


Lalu mereka sarapan bersama, dengan sangat lahap. Sebelum Ibra dan Zayn berangkat ke Surabaya. Dalam hal urusan kerjaan.


"Nak, Zayn titip putra Tante ya?" ucap bu Rahma.


"Oh, iya Tante. Tenang saja." Zayn, sembari tersenyum ke arah bu Rahma.


Ibra, kembali memeluk Laras. Membelai kepalanya. "Nanti obatnya datang, diminum ya biar badannya tak sakit lagi," ucap Ibra pelan. Netra matanya menatap intens ke wajah sang istri.


Laras mengangguk pelan. "Iya, nanti ku minum."


"Aku pergi dulu ya, baik-baik di rumah." Ibra memeluk erat kembali, kali ini sangat erat. Kemudian mengecup keningnya dengan hangat.


Laras mencium tangan Ibra. "Hati-hati."


"Iya, sayang." Ibra berpamitan dengan orang tua nya sambil menitipkan sang istri pada beliau.


Ibra memeluk sang ayah dan sang bunda bergantian. Kali ini mereka akan pergi berdua aja dan orang rumah tak perlu mengantar ke udara. Cukup Irfan saja. Yang nantinya akan kembali dan menjaga Laras.


"Iya, kami pasti akan menjaganya, jangan khawatir. Lagian akan ada Irfan yang jaga," ucap Pak Marwan.


"Irfan, setelah mengantar ku ke bandara akan kembali ke sini. Menjaga di sini." Tambah Ibra. pada orang tua nya.


"Baguslah," timpal bu Rahma.


Setelah berpelukan. Ibra pamit. "Aku pergi sekarang."


Zayn menyeret kopernya Ibra, sebelumnya berpamitan pada bu Rahma dan pak Marwan.


Irfan sudah bersiap di mobil Ibra. Mengantar sang majikan ke salah satu bandara di Negeri ini.

__ADS_1


Ibra dan Zayn sudah berada di dalam mobil, dan melambaikan tangan ke arah teras. Dimana Laras berdiri dan bu Rahma juga pak Marwan.


Mobil Ibra yang sudah tepat posisinya tinggal melesat meninggalkan tempat tersebut. Akhirnya Irfan memutar kemudi melajukan dengan cepat. Melesat bak anak panah yang lepas dari busurnya.


Bu Rahma mengajak sang menantu untuk masuk. Setelah putra semata wayang nya sudah tidak terlihat bayangannya pun.


"Aku, mau nunggu pesanan obat dulu sebentar, Mah. Kalian aja duluan masuk," ucap Laras, matanya perhatikan ke arah jalan.


"Oh, ya udah. Mama temenin." Bu Rahma duduk. Bersama Laras di teras. Sementara pak Marwan masuk.


Setelah yang antar obat datang, merekapun masuk kembali. Laras langsung meminum obat, lalu masuk kamar.


Selesai duha. Niatnya Laras mau baringan di atas kasur namun ada suara ramai diluar kamar. "Siapa?" batin Laras. Lalu mengintip dari balik pintu sedikit.


"Dian, sama siapa?" Laras terkesiap. "Mau apa sih datang ke sini?" namun Laras membuka pintu dan menghampiri.


"Kalian silakan duduk, bu Ludia. Silakan duduk," ucap bu Rahma dengan ramahnya.


Dian duduk, begitupun dengan sang bunda. Matanya mengamati setiap sudut ruangan yang ada di sana.


"Kamu gak ngantor Dian?" selidik bu Rahma pada Dian.


"Ini Mammy minta ke sini Ma, katanya pengen ketemu calon baby nya Ibra," sahut Dian. Melirik sang bunda.


"Oh, gitu ..." bu Rahma mengangguk.


Susi muncul dihadapan semua dengan membawa nampan berisi beberapa cangkir teh manis.


"Susi, kamu di sini? tidak di mension." Sapa bu Ludia.


"Iya, Nya. Saya di sini," balas Susi sambil membungkukkan badannya hormat.


"Pagi, jelang siang? ada tamu rupanya," suara Laras dengan menunjukkan senyumnya pada para tamu.


Bu Ludia menoleh pada Laras, ia tatap sangat lekat. Yang dia lihat seorang wanita berwajah cantik, berkerudung. Berkulit putih, perutnya sedang hamil besar. Lalu mengalihkan perhatiannya pada Dian. "Dia istrinya Ibra?" pelan.


Dian mengangguk, seraya berkata. "Iya, benar. Dia yang bernama Laras."


Tatapan bu Ludia sangat tajam pada Laras. Ada rasa marah, ada juga rasa mengagumi. Sosok Laras yang sesekali mengangguk hormat padanya. "Oh, ini ya? istri muda Ibra yang berhasil menyingkirkan kamu, Dian? Cantik. sangat cantik. Pantas kalau Ibra pun tergila-gila pada wanita ini."


Dian melongo pada sang ibunda yang mengakui kecantikan Laras.


"Besan. Saya tidak pernah menyangka kalau jodoh anak kita hanya sampai di sini, tapi kalau di pikirkan, gak mungkin juga bila tak ada sebab. Dian tak mungkin macam-macam juga, kalau Ibra tidak berpaling." Ungkap bu Ludia dengan nada sedikit menyudutkan Laras.


"Bu, Ludia ... sekalipun putra saya tak ada cinta sama wanita lain. Kalau namanya tanggung jawab. Jelas akan menuntut untuk bersikap adil. Tentu perhatian pun akan terbagi. Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan, tapi hadapi kenyataan ini dengan Ikhlas dan memperbaiki diri." Tutur bu Rahma.


"Ha, saya kecewa. Dengan semua ini. Apa sih kurangnya anak Saya, Dian? Sehingga Malik Ibrahim berpaling." Bu Ludia menggeleng pelan.


Tatapan mata bu Ludia tertuju pada perut Laras yang buncit itu. "Tapi ... yakin kalau anak itu darah daging nya Nak Ibra?"


"Astagfirullah ... tentu, Bu. Anak ini benihnya abang," sahut Laras. Netra matanya bergerak melihat ibunya Dian tersebut.


Sementara Dian cuma duduk santai membiarkan ibunya ngoceh. Seperti petasan yang terus merepet.


"Ini rumah kok kecil banget ya? tidak menggambarkan istri CEO, jauh. Jauh banget, kok Ibra membiarkan istrinya tinggal di sini sih Dian? masih mending rumah kita sekarang, bunga law yang indah. Di sini juga bagus sih. Tapi sempit," ucapnya sambil lihat-lihat melalui jendela.


Kemudian bu Ludia kembali duduk. "Oya. Sudah berapa bulan Nak siapa? Laras ya!"


"Iya, Laras." Laras menyebut namanya sambil mengangguk.


"Hamilnya sudah berapa bulan?" tanya bu Ludia kembali.


"Em, sekitar 7 bulan, Bu."


"Bentar lagi juga lahiran. Kamu beruntung Nak Laras, kamu juga harus rasain, gimana hamil Dian. Coba dari dulu kamu hamil! pasti gak akan ada yang namanya Ibra nikah lagi. Apalagi ninggalin kamu." Gerutu bu Ludia. Pandangannya beralih ke arah Dian yang di samping nya.


"Mammy ... sebenarnya Mammy ini belain siapa sih? heran aku bukannya belain, malah menyudutkan ku," ucap Dian dengan nada kesal.


"Sudah-sudah. Semuanya jangan saling salahkan, apa salahnya kalau kita saling menyayangi. Ibu besan, kita sama-sama punya anak tunggal dan semoga ke depannya keturunan kita banyak. Biar ramai," ujar bu Rahma.


"Iya, maunya sih seperti itu, saya berharap sangat. Kalau anak kita kembali seperti dulu dan akhirnya Dian bisa hamil juga. Biar rumah kita ramai." Tambah bu Ludia.


Laras melirik ke arah Dian yang sedang mengukir senyuman. Mendengar ungkapan dari sang bunda. Entah kenapa senang aja mendengarnya.


Kemudian Laras menunduk. Sambil mengusap perutnya.


"Oya, Nak Laras. Jangan marah ya kalau suatu saat suami mu kembali pada putri saya. Saya yakin. Mereka masih saling mencintai," kata bu Ludia Dengan yakinnya.

__ADS_1


Laras mendongak. Menatap ke arah ibunda Dian. "Tidak, aku malah senang bila mereka bersatu lagi. Tidak ada alasan buat ku marah."


"Syukurlah, saya yakin hati kamu baik. Sebaik luarnya, kamu cantik." Sambung sang ibunda Dian, dengan nada mengagumi Laras.


Laras menunduk, rasanya sudah malas berhadapan dengan orang macam ini. Laras berdiri. "Maaf. Aku masuk dulu sebentar." pamit Laras yang hendak ke kamar.


"Loh, kami masih mau mengobrol sama kamu. Kok gak sopan banget ingin pergi aja," ketus Dian.


"Sayang, tidak apa-apa. Mungkin Laras lelah. Maklum sedang hamil, makanya hamil. Biar tahu gimana rasanya. Gak pa-pa kalau mau masuk, biar kami mengobrol sama Mama besan," seru bu Ludia sambil mendelik pada Dian yang ia pikir kurang mengerti akan perasaan orang hamil.


"Mammy." Dian cemberut.


Laras menoleh bu Rahma yang langsung memberikan anggukan. Ia bergegas membawa langkahnya ke dalam kamar. Setelah di dalam, Laras berdiri bersandar di daun pintu. Dengan napas yang naik turun. Dadanya bergemuruh. Ada rasa kesal dan sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.


"Mammy pengen lihat-lihat ke belakang ah, kayanya enak tuh tempatnya. Nyaman dan bersih." Bu Ludia langsung jalan ke belakang ingin lihat kelam dan taman katanya.


Dian menggeleng, menatap punggung sang ibunda. Begitupun bu Rahma namun dia memaklumi sebab memang begitu sifat bu Ludia.


"Mama harap, setelah ini kamu mendapatkan pria yang lebih mencintai mu. Agar kamu dapatkan bahagia yang lebih pula, sebagai orang tua. Kami pasti ingin yang terbaik untuk kalian," ungkap bu Rahma sambil mengusap punggung tangan Dian lembut.


"Aku, gak mengerti, Mah. Yang jelas kebahagian aku itu adalah bersama Ibra, tapi kok banyak yang berharap kami berpisah pula. Yang aku mau hanyalah bersama dia Ma," ucap Dian dengan mata berkaca-kaca.


"Dian harus yakin, di balik ini semua pasti ada hikmah yang indah, yang penting kamu ikhlas." Bu Rahma memeluk Dian dan mengusap pundaknya penuh kasih.


"Nggak tau, Mah ..." gumamnya Dian. Membalas pelukan bu Rahma.


Usai puas lihat-lihat di luar juga di bagian dalam. Bu Ludia mengajak pulang putrinya, Dian. "Sayang, pulang yu? tapi antar Mammy ke Mall dulu. Mau belanja."


"Oke," Dian beranjak dari tempat duduknya sofa dan berpamitan pada bu Rahma.


Kedua ibu dan anak itu sudah pulang, bu Rahma antar sampai ke teras. Setelah melambaikan tangan, dan yang terlihat hanya ekor mobilnya. Bu Rahma masuk ke dalam rumah.


Laras. mengintip dari balik gorden, melihat mobil Dian menjauh dari rumahnya. "Akhirnya mereka pulang juga sayang. Huuh akhirnya Mammy bisa bernapas lega lagi." Gumamnya Laras.


Laras keluar dan menyiram bunga-bunga di depan kamar. Masuklah mobil Ibra yang dikendarai Irfan ke pekarangan.


"Mas Irfan mau Susi buatkan kopi?" tanya Susi yang menghampiri Irfan yang duduk di kursi yang ada di teras.


"Boleh, Sus jangan terlalu manis." Pinta Irfan sambil mengisap rokok nya di jari.


"Iya, Mas. Lagian biarpun pahit, minumnya sambil lihat Susi, jadi rasanya akan manis. Hi hi hi ..." ucap Susi sambil ngeloyor pergi.


Irfan tersenyum sambil menggeleng. Lalu menghisap rokoknya kembali, dan membuang asapnya hingga menggelembung putih ke udara.


Tidak lama, Susi kembali membawa secangkir kopi panas, asapnya masih jelas terlihat mengepul. "Silahkan Mas, kopinya. Tenang, gak kebanyakan gula kok." Susi menyimpan nya di meja tepat depan Irfan.


Susi berjongkok di depan teras mengambil satu/satu rumput-rumput yang tumbuh itu.


"Mas, asli mana?" tanya Susi sekilas melirik ke arah Irfan.


"Saya, orang jauh, Susi. Kenapa?" balik nanya.


"Oh, nggak ... cuma pengen tahu aja." Timpal Susi.


"Pengen tahu aja atau pengen tahu banget nih?" tanya Irfan sambil menunjukkan senyumnya.


"Terserah, Mas aja sih. Menganggap apa." Susi mengangkat kedua bahunya.


"Saya asli orang Cirebon."


"Oh, keluarga di sana semuanya?" selidik Susi lagi.


"Ya."


"Oh." Susi mengangguk faham.


"Mas, nanti sore antar ke Mall ya? aku mau belanja," ucap Laras sambil duduk di kursi satunya.


Irfan langsung mematikan rokok nya. Ia mengangguk. "Baik Nyonya muda." Berdiri dan membungkuk hormat.


Oh, Mas. Duduk aja gak pa-pa, kenapa berdiri?" Laras menatap heran.


"Nggak pa-pa, Nyonya." Irfan tampak segan.


"Di sini itu, gak ada yang beda, Mas. Kami berbaur di sini, misalkan di meja makan. Gak ada yang beda, Mas." Laras menjelaskan kalau di rumah ini tidak terlalu membedakan antara majikan dan bawahan. Sama aja.


Kemudian Laras kembali ke kamarnya, sementara Susi ke dapur untuk menyiapkan makan siang ....

__ADS_1


****


Hai ... gimana kabar hari ini reader ku, terus dukung aku ya?dan terima kasih masih setia pada SKM🙏


__ADS_2