
Bibir Laras bergetar, rasanya ingin mengutarakan sesuatu tentang perasaannya ini. Namun tak kuasa tuk ungkapkan nya, kemudian ia menundukkan pandangannya.
Telunjuk Ibra mengangkat dagu Laras. "Maafkan aku sayang?" cuph mengecup bibirnya. "Entah kenapa aku jadi kepikiran terus cara dia menetap dirimu, aku cemburu! aku gak suka pria lain memandangi mu seperti itu." Suara Ibra lirih dan sedikit bergetar.
Tatapan Laras kian lekat. "Emangnya dia pikir aku gak cemburu apa? bila dia sama istrinya yang lain. Aku baru di lihatin dikit aja jadi masalah," batin Laras.
"Aku, tahu kamu cemburu. Bila aku bersama Dian, tapi itu terlanjur sayang. Andai saja kita bertemu dan berjodoh sebelum aku nikahi Dian, tentu gak akan kaya gini ceritanya," menarik tubuh Laras. Dibawanya ke dalam pelukan.
Laras terkesiap, kok Ibra seolah menjawab yang ia katakan di dalam hati barusan. "Kok dia tahu sih? yang aku katakan."
"Sayang, aku ingin mendengar sekali ... saja, katakan padaku. Kamu mencintai aku, kan?" tanya Ibra sambil menjauhkan tubuh Laras agar dia bisa memandangi wajahnya.
Laras membalas tatapan netra mata Ibra. ia menggigit bibir bawahnya, ragu untuk menjawabnya. "Aku, aku ... em--"
"Sayang ... di tunggu, makan malamnya sudah siap loh, nanti keburu dingin," pekik Dian dari balik pintu.
Laras terkesiap, sontak menjauh dari tubuh Ibra. Ibra menoleh ke arah pintu, dengan helaan napas yang panjang. "Ah ... ganggu saja." Gumam Ibra sambil mengacak rambutnya.
Laras segera merapikan rambut Ibra dengan jari jemarinya. Ibra menatap lembut pada Laras yang selalu bersikap lembut dan melayani dengan tulus. "Aku, baru selesai mandi. kalau mau duluan juga silakan? sayang," teriak Ibra dangan pandangan tidak berpaling dari wajah Laras.
Laras merasa gak enak pada Dian. Namun dia baru sadar ketika tengkuknya sudah di tarik dan bibirnya sudah jadi santapan keganasan bibir Ibra, Laras terkejut dan berusaha berontak. Namun tenaga Ibra terlalu kuat untuk di lawan. Yang ada tubuh Laras terdorong ke belakang menjadi berbaring dan tubuh Ibra menindihnya.
Dengan berbaring, Ibra semakin leluasa melakukan aksinya. Ia terus ******* dan ******** benda kenyal yang berwarna merah jambu itu, yang menimbulkan rasa geli-geli nikmat dan selalu ketagihan. Dalam beberapa saat aksinya Ibra berlangsung.
Suara gedoran pintu yang tidak beraturan, membuat keduanya terperanjat. Laras mendorong dada Ibra dan mengusap bibirnya yang lembab, begitupun Ibra mengusap bibinya dengan punggung tangan dan tersenyum penuh kemenangan.
"Sayang ... lama amat sih? cepetan, lelet ih. Pakai baju cewe apa? lama banget." Gerutu Dian yang terdengar dari balik pintu.
"Iya, sebentar sayang ... sabar." Ibra terburu-buru memakai pakaiannya. Kemudian membuka pintu. Sementara Laras sudah berada di kamar mandi.
Blak!
Pintu terbuka, nampak Ibra sedang mengancingkan piyama nya. Mata Dian celingukan, melihat ke dalam kamar yang ada cuma Ibra seorang.
Setelah menyemprotkan minyak wangi ke badannya, Ibra segera mengajak Dian ke meja makan. Sementara Laras masih di kamar mandi.
"Huh ..." helaan napas Laras panjang. Sedikit membuka pintu untuk mengintip apa masih ada orang di luar atau sudah pergi.
Dirasa sudah tak ada siapa-siapa, Laras pun keluar. merapikan diri lalu mengerjakan salat. Usai itu baru keluar kamar untuk makan malam.
Ketika Laras datang, yang lain sudah mulai makan. Begitupun dengan Ibra yang duduk dekat Dian.
"Ayo dong sayang, makan. Nanti baby nya kelaparan loh." Bu Rahma memandangi Laras yang baru datang.
"Iya, Ma ... aku salat dulu barusan." Laras duduk di sebelah kiri Ibra. Laras mengambil piring lalu ia tuangi nasi dan sayur yang Dian dekatkan pada Laras.
"Bismillah ..." segera Laras melahap makannya dengan kepala menunduk dalam.
Dengan ekor matanya, Laras melihat Dian menyuapi Ibra dengan mesra serta senyuman termanisnya. Rasanya bagai di gigit semut, sakit dan sulit digambarkan dengan kata-kata.
Ibra pun sesekali menyuapi Dian. Memberinya minum juga.
"Sayang, malam ini tidur dengan ku ya? aku mohon ..." pinta Dian dengan nada manjanya.
Ibra melihat ke arah Laras yang anteng dengan makannya. Dan nampak tak perduli dengan dirinya, kemudian Ibra menoleh Dian. "Boleh sayang."
__ADS_1
"Ah ... makasih sayang?" ucap Dian sangat gembira dan mencium pipi Ibra.
Sudut mata Ibra terus mengamati reaksi Laras, namun tetap cuek.
"Sayang, Besok. Dari panti datang, kan?" tanya Rahma pada Laras.
Barulah Laras mendongak. "Oh, iya Ma ... insya Allah datang kok."
"Em ... syukurlah." Kata bu Rahma.
"Semoga acara besok lancar tak ada halangan apapun," timpal pak Marwan di sela-sela makannya.
"Aamiin ya Allah," ucap yang lain.
"Paket pun sudah siap ya sayang, buat anak panti dan buat ibu-ibu beda ya?" tanya bu Rahma lagi.
"Iya, Ma ... buat rekan kerja Abang juga undangan Papa, Mama juga lain isinya," sambung Laras.
"Em ... bagus lah." Bu Rahma mengangguk setuju.
Usai makan mereka duduk-duduk di ruang keluarga menonton televisi. Ibra duduk di sofa yang sama dan duduknya di tengah dua bidadari yang mendampinginya.
Tatapan Dian tertuju pada televisi. Lain dengan Dian sambil nonton dia juga aktif bermanja-manja pada Ibra, tangan Ibra pun terkadang membelai rambut pendeknya Dian. Bukan cuma itu saja ia pun mengecup keningnya.
Ibra dengan sengaja melakukan itu, supaya Laras cemburu. Ingin sekali melihatnya cemburu, namun apa yang Ibra dapat? Laras seolah tidak perduli. Dia fokus melihat televisi.
Dian menempelkan pipinya di dada Ibra. "Sayang, bobo yuk? ngantuk nih." ajak Dian pelan dan berkali-kali menguap ngantuk.
Sebenarnya Laras itu tidak begitu suka dengan acara televisi saat ini, namun ia pura-pura suka dan anteng melihatnya. Dari pada melihat orang yang bermesraan. males banget.
"Oh, iya Ma. Bentar lagi," sahut Laras.
"Ya, udah. Kita bobo sayang." ajak Ibra pada Dian. Kemudian ia menghadap ke arah Laras.
"Sayang, jangan malam-malam bobonya ya? aku duluan," ungkap Ibra pada Laras.
Namun Laras hanya membalas dengan anggukkan dan melirik sekilas saja. Ibra berdiri dan menuntun tangan Dian melewati Laras.
Laras menatap keduanya dari belakang sambil menghela napas dalam-dalam. "Oya, Abang belum salat loh," peringatan Laras pada Ibra.
Membuat langkah Ibra terhenti dan menoleh ke arah Laras. "Iya, Abang mau salat dulu." Kemudian Ibra lanjutkan langkahnya dengan masih menuntun tangan Dian.
Laras membuang napas kasar. Hatinya bergemuruh. Melirik ke arah mertuanya dah mulai menguap ngantuk dan beranjak dari duduknya.
"Papa ngantuk, kami mau tidur ah ... takut kesiangan," ucap pak Marwan.
"Iya, nih ngantuk Mama. Sayang, kamu cepetan tidur. Kami duluan ya?" timpal bu Rahma. Kemudian mencium pucuk kepala Laras.
"Iya, Ma ... mau ini juga." Laras tersenyum.
Bu Rahma dan suami berjalan ke kamarnya,saling pegangan tangan. Nampak so sweet sekali.
Setelah tinggallah Laras seorang, lalu ia matikan televisi. Kemudian beranjak dari duduk nya.
"Jangan di matikan Nyonya, biar Susi yang tonton. Susi kan baru selesai kerja." Suara Susi dan terburu-buru duduk di depan televisi.
__ADS_1
Laras manarik senyumnya pada Susi. "Ya udah, jangan begadang terlalu malam ya Susi."
"Baik Nyonya!" sahut Susi. sambil menyalakan televisi kembali.
Laras memasuki kamar utama, lalu menguncinya. Ia menjatuhkan tubuh di tepi tempat tidur. Melirik bantal yang biasa Ibra pake, kok berasa sepi ... ia mengusap perutnya yang ingin diajak bicara.
"Sayang ... baik ya di sana, Mommy sayang kamu. Nanti, kalau sudah lagi. Harus jadi anak yang saleh atau saleha, jadi orang yang berguna, yang pinter ya." Laras mengajaknya bicara dan anak itu seolah mengerti dengan obrolan itu. Dia semakin lincah bergerak.
Dian yang berada di pelukan Ibra tersenyum bahagia. Kini keduanya sudah berbaring dalam satu selimut. Dian memeluk erat tubuh Ibra seakan takut pergi.
Sebenarnya, Dian sudah berusaha menaikan gairah dari suaminya. Namun Ibra begitu dingin dengan alasan capek, akhirnya apa yang sudah dihidangkan yang sudah di suguhkan itu. Di bungkus lagi.
Namun, tak apalah. Yang penting ... Ibra bersamanya malam ini. Senyumnya terus mengembang dan sesekali mendongak pada Ibra yang pura-pura tidur.
Ibra belum bisa tidur. Bayangan Laras menari-nari di pikiran dan hatinya. Terus menggoda dengan Senyumnya, lekuk tubuhnya yang ditambah perut yang bulat menambah seksi di mata Ibra. Berkali-kali ia menelan saliva nya.
Sementara hidangan yang jelas berada di depan mata, kali ini tidak membuat nafsunya naik. Malah dingin, tak berselera. Inginnya mendatangi Laras saat ini juga.
Namun apalah daya. Dian masih melek, tangan Ibra membelai kepala Dian dengan harapan segera tidur. "Tidur sayang, dah malam, katanya tadi ngantuk?"
"Iya, ngantuk! tapi ... tidak bisakah kita melakukan sesuatu dulu yang sangat membahagiakan?" bujuk Dian.
"Nggak bisa. Aku capek, tidur ah ngantuk." Gumamnya Ibra.
Dian semakin mengeratkan pelukannya. Sehingga tubuhnya benar-benar menempel dengan tubuh Ibra.
Akhirnya Dian pun tertidur, dalam pelukan Ibra. Sementara Ibra masih melotot belum bisa memejamkan matanya, melihat Dian sudah tidur, ia mengukir senyum bahagianya.
Perlahan ia melepas pelukan dan menjauhkan Dian dari tubuhnya. Ia pindahkan kepala Dian di bantalnya.
Dengan pelan, Ibra bangun dan duduk menatap wajah Dian yang kini mungkin sudah berada di alam mimpi. "Ya Allah ... maafkan aku, bila tidak adil dalam menjalankan peranku sebagai suami?" mengusap wajahnya berkali-kali.
Turun menapaki lantai mau ke kamar Laras namun ragu, hatinya dihinggapi rasa bersalah. Berjalan mondar mandir seperti setrikaan, sesekali menatap wajah Dian. Akhirnya ia duduk kembali di ujung tempat tidur.
Membaringkan tubuhnya di sisi Dian. Kedua matanya menatap langit-langit, pandangannya kosong. Tiba-tiba tubuh Dian bergerak kembali memeluknya.
Waktu terus berputar. Malam pun semakin larut, namun kedua mata Ibra tak sekejap pun bisa terpejam. Ia terus gelisah dan terus terjaga, jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.10 wib.
Ibra menggosok kedua matanya. "Gila, gak ngapa-ngapain tapi sulit tidur. Sungguh buang-buang waktu nih kalau kaya gini. Alamat besok ngantuk di dalam acara." Batinnya.
Ia mengibaskan selimutnya. Mengintip sebentar Dian yang sangat lelap, Ibra turun dangan sangat hati-hati keluar dari kamar Dian. Ke dapur mau ngambil minum, tenggorokannya terasa haus.
Usai minum, niatnya mau balik ke kamar Dian. Namun yang terjadi langkahnya membawa ia ke depan kamar utama, ya itu kamar Laras. "Masuk gak ya?" langkahnya maju mundur. Sejenak Ibra mondar mandir depan pintu, dan Akhirnya Ibra memasuki kamar Laras. Dengan memegang akses pribadi, dengan mudahnya Ibra masuk ke kamar Laras.
Dibawah sinar lampu yang temaram. Nampak Laras sedang tidur meringkuk. Ibra naik merangkak, mendekati tubuh Laras yang meringkuk dibawah selimut tebalnya.
Ibra kecup kening dan pipinya penuh kehangatan. Masuk ke dalam selimut dengan penuh kehati-hatian, agar tak mengganggu sang empu nya.
Ibra memeluk dan mengusap perut Laras yang langsung si baby menyapa dengan gerakkan lembutnya.
Senyum Ibra mengembang, merasakan gerakkan dari dalam perut Laras. dengan sangat pelan tangan Ibra menyelusup ke dalam piyama Laras supaya menyentuh langsung dengan kulit perut Laras. Kemudian menempelkan dagu di bahunya. tak bosan-bosannya ia menatap pemilik wajah cantik itu. Sampai dirinya dihinggapi kantuk dan tertidur pulas ....
****
Semoga kabar di pagi ini. Kalian semua ada dalam lindungan yang maha kuasa. Sudah baca, kan? mana like dan komennya? agar aku tambah semangat.
__ADS_1