Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Penjahat wanita


__ADS_3

Setelah Ibra meninggalkan Laras di ruang keluarga tadi. Laras pun berjalan ke kebun buah yang berada di samping mension itu.


Mata Laras begitu terpana melihat buah-buahan yang lebat dan segar. Laras ditemani Susi mengambil bua-buahan yang sudah matang. Seperti mangga, jeruk. Apel, jambu, buah pir juga ada.


"Waah ... bikin betah nih!" bibir Laras tak henti-hentinya mengukir senyuman. Kepalanya sedikit mendongak dan tangan mengambil buah apel. Langsung di gigit nya, sebelum itu di gosokan pada ujung bajunya.


Susi tertawa senang. Melihat Nyonya mudanya yang sangat bahagia diajak ke kebun buah itu. "Ternyata bahagia itu cukup sederhana."


Laras menoleh Susi. "Bener."


****


Di mension. Langkah Ibra kian pasti, dia mencari keberadaan bu Rika kepala asisten di rumah mewah itu. Kebetulan tidak susah mencari dia, sebab sedang berada di dapur mengawasi anak buahnya memasak.


"Bu Rika?" panggil Ibra sambil melambaikan tangan agar bu Rika mendatangi dirinya.


Bu Rika pun memenuhi panggilan Ibra. Sampai di hadapan Ibra, bu Rika membungkuk hormat. "Iya Tuan! apa ada yang bisa saya bantu?"


Ibra menatap penuh tanda tanya. "Apa kau melihat Yulia keluar?"


"Oh. Nyonya! iya tadi dia keluar, tapi ... sepertinya mengendap-ngendap seperti tidak ingin ketahuan gitu. Tuan."


Rahang Ibra mengeras, tangan mengepal. "Benar-benar Yulia! dia mengajak perang," gumamnya.


"Kenapa Tuan?" tanya bu Rika


"Oh, tidak. Silakan lanjutkan tugas mu," Ibra kembali memutar tubuhnya meninggalkan bu Rika yang masih mematung di tempat.


Sesampainya di kamar pribadi Ibra, dia kembali mengambil ponsel yang terselip di saku celananya.


Menggulir kontak sampai menemukan kontak Yulia. "Halo. Kamu di mana? kenapa di kamar tidak ada! bukannya tadi bilang kurang sehat. Kalau . pada Yulia.


"Oh ... urusan kampus, di hari minggu gini? sampai-sampai lupa bilang sama suami. lain kali bilang dulu! saya gak enak sama orang tua saya," tut ... tut... tut... sambungan telepon Ibra matikan.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Suara pintu di ketuk dari luar. "Ib ... Ibra, ini Mama!"


"Huuft ... menghela napas dalam-dalam, kemudian beranjak mendekati daun pintu.


Blak!


Pintu terbuka, nampak mamanya berdiri. "Ada apa Mah?"


"Mama boleh masuk?" bu Rahma menatap putranya yang terlihat kusut.

__ADS_1


"Oh, iya. Masuk Mah," sahut Ibra menarik sudut bibinya senyum tipis.


Bu Rahma masuk dan mendudukkan tubuhnya di sofa, diikuti oleh putra semata wayangnya. Ibra duduk di sebelah sang bunda.


"Ib, tadi katanya Yulia pergi bawa mobil? bukannya tadi kau bilang dia berada di kamarnya!" menatap Ibra dengan lekat.


"Iya, tadi. Tapi setelah itu dia keluar," sahut Ibra datar.


"Nggak bilang kah sama kamu?"


"Tidak! nanti juga dia balik. Mah," sambung Ibra sembari mendorong punggungnya ke bahu sofa.


Bu Rahma terdiam sesaat. Beliau berpikir! sepertinya ada yang tidak beres nih, namun bu Rahma tidak ingin melanjutkan speculation nya. Sambil berdiri bu Rahma berkata. "Ya sudah! Mama dan Papa mau ke Depok dulu, entah pulang entah menginap di sana. Oya pesan Mama perhatikan istri-istri mu, ya?" bu Rahma melenggang dari kamar Ibra.


"Iya. Mah, hati-hati dan sampaikan salam Ibra pada keluarga paman di sana!" menatap langkah mamanya.


"Ya ... nanti Mama sampaikan," ucap bu Rahma sambil terus berjalan.


Setelah menutup pintu. Ibra mengayunkan kakinya mendekati tempat tidur. Mau tiduran, namun pintu kembali ada yang mengetuk.


"Siapa lagi sih?" mendengus kesal.


"Tuan ... waktunya makan siang!" jelas suara Laras.


Tidak lama langkah Ibra sampai depan pintu. Nampak Laras berdiri membawa nampan buah yang masih segar.


"Tuan! aku bawakan buah hasil metik barusan aku sama Susi. Aku simpan di meja ya .Tuan?" Laras nyelonong melewati Ibra menyimpan buah yang di bawanya.


"Haa ... mau nyuruh. Tuan makan siang," sahut Laras sambil membenah, kan pas bunga.


"Nggak berselera aku!" mendengus sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Laras menatap Ibra, memandangi wajahnya yang sedikit kusut. Seperti ada masalah. "Kau begitu tak bersemangat. Tuan, apa karena belahan jiwa Tuan tidak ada ya? jadinya ... Tuan seperti ini."


Ibra menoleh Laras yang duduk di sofa sebelah. "Apa? aah ... kamu sok tau," sambil menggeleng dan tersenyum samar. "Haa! ada-ada saja."


"Tapi ... bener, kan Tuan. Dian tidak ada di sini." Laras menatap lekat dan detik kemudian Laras menunduk kearah meja.


"Hem! sok tahu, ini bukan kali pertama dia pergi! dan kalau aku mau. Aku bisa menyusulnya ke sana," ujar Ibra dengan nada santainya.


"Oh." Laras mengupas buah lalu dengan refleks menyuapi Ibra makan buah. Keduanya saling tatap. Namun Laras segera menundukkan pandangannya ke buah yang di pegangannya.


"Beneran. Tuan gak mau makan?" tanya Laras sambil menyuapi lagi buah ke mulut Ibra.


"Nggak tau, tapi ... bawa saja ke sini lah, saya mau makan di sini saja," lirih Ibra.


Laras menyimpan pisau dan buahnya di meja. Kemudian berdiri mengikat rambutnya sepertu buntut kuda.


"Mau kemana?" tanya Ibra ketika melihat Laras mau melangkah.

__ADS_1


"Mau ngambil makan. Tuan." Laras menatap Ibra.


"Jangan."


"Loh, kok jangan! katanya mau makan di sini, tapi jangan, gimana sih. Tuan ini?" kebingungan.


"Kan tinggal telepon asisten. Nanti dia datang membawa makan siang! gitu saja kok repot?"


Laras duduk kembali di tempat semula. Ibra berpindah duduk jadi di samping Laras. Menjadi duduk berhadapan.


Ibra menatap Laras. "Saya akan mengurus kerjaan di luar negeri beberapa hari, apa kau mau ikut?" sambil memainkan ujung rambut Laras.


"Ke luar negeri? apa tuan akan menyusul Dian!" batin Laras penuh tanda tanya, menatap sekilas.


"Tapi ... bukan bulan ini, tapi bulan depan, mau ikut gak?" sambung Ibra lagi.


"Apa yang lain juga di ajak?" tanya Laras sambil menyuapi lagi buah.


Ibra mengunyah Buah sesaat, lalu menjawab pertanyaan Laras. "Tidak! saya akan mengajak satu saja. Kalau kamu gak mau! pasti Dian yang aku ajak, bila saja dia tidak mau. Berarti ... mau tidak mau kau yang harus ikut."


"Kok gitu?" Laras menatap heran.


"Iya, lah. Saya tidak mau ya! saya tidur sendirian," tambah Ibra. "Buat apa saya punya istri lebih dari satu, kalau harus pergi dan tidur sendiri."


"Iih ... dasar penjahat wanita!" sedikit memanyunkan bibirnya.


"Tidak lama kemudian! makan siang pun datang. Laras segera menghidangkan nya namun karena Ibra terlihat malas-malasan. Laras turun tangan lagi untuk menyuapinya.


Ibra menatap wajah Laras sambil mengunyah. "Enak juga punya istri kaya dia! aku malas makan! di suapi. Apa-apa di layani," gumam Ibra dalam hati, sambil mengulum senyumnya.


"Kau juga makan! biar gemuk, biar subur juga," ketus Ibra. Laras pun menuruti memasukan makanan ke mulutnya, jadi makan siang kali ini sepiring berdua.


"Enak juga makan sepiring berdua! apa lagi di suapi begini. Aah ... baru kali ini berasa benar-benar di layani seorang istri. Dian, dulu sih sebelum sibuk kadang memperlakukan ku seperti ini. Tapi setelah sibuk! dia asik dengan dunianya sendiri."


"Tuan. Boleh gak kalau aku kerja lagi?" tanya Laras.


Ibra menatap lekat wajah Laras. "Tidak! saya tidak mengijinkan kamu sibuk di luar, kecuali kamu sama saya. Itu pun bukan untuk bekerja, cuma menemani saya saja. Lagian buat apa kamu bekerja, uang saya isikan ke ATM milikmu. Memangnya kamu butuh apa, mobil? rumah? mobil banyak kamu tinggal pilih, rumah! tinggal bilang nanti saya belikan atas namamu!" ujar Ibra penuh keseriusan.


"Ti-tidak. Tuan, aku gak butuh itu semua! uang yang Tuan kasih waktu itu juga belum aku pergunakan," ucap Laras. "Aku gak butuh apa-apa. Tuan."


Ting ...


Ting ...


Ting ...


Chat WhatsApp masuk ke ponsel Ibra. Membuat muka Ibra berubah cemas ...


,,,,

__ADS_1


Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.


__ADS_2