
Laras mengangkat kepalanya merasa heran. Ngapain ibra bilang gitu? mau cuma tidur! mau ngapa-ngapain juga terserah, orang sama istrinya kok.
"Haa ... ya, ya terserah Tu-tuan mau apa! itu, kan hak anda, ngapain bilang sama saya segala? gak ngaruh." Laras menundukkan kepalanya.
Jari telunjuk Ibra mengangkat dagu Laras sehingga wajah Laras mendongak sempurna ke wajah Ibra. "Kamu cemburu ya? saya bilang seperti itu."
"Ah! ti-tidak. Tuan, buat apa aku cemburu? dia istri tuan juga. A-aku tidak ada hak buat cemburu," ucap Laras.
Ibra memandangi wajah Laras yang masih mendongak sempurna padanya. "Tapi kamu istri saya! wajar kalau kamu cemburu juga, berarti kamu sayang sama saya. Oya, saya ingin kamu mengandung anak saya, makanya saya tidak ingin menanam benih di rahim yang lain!" ujar Ibra sembari mendaratkan kecupan lembut di pipi Laras, membuat Laras memejamkan matanya. Ibra melengkungkan bibir, menatap lekat.
Melihat Laras memejamkan mata ketika ia sentuh. Ibra mendaratkan lagi kecupan lembutnya! kali ini di bibir tipisnya Laras, Sontak dia membulatkan mata dengan sempurna, kaget. Mundur ke belakang. Namun Ibra menahan kepalanya sehingga sulit bergerak.
Laras semakin membulatkan matanya ketika Ibra memainkan lidah di rongga mulutnya. Laras meremas baju Ibra, dia merasa pengap! penuh sesak, sulit untuk bernapas. Tangan Laras memukul dada Ibra pelan, berharap Ibra melepaskan. Namun bukannya lepas! tubuh Ibra malah mendorong tubuh Laras ke sofa, membuat tubuh Laras kian terkunci di sana.
Napas mereka sampai terengah-engah, sejenak Ibra melepaskan ci****nya! sebentar melepas napas yang kian memburu.
"Tu-tuan, a-ku pengap," suara Laras terputus-putus.
Ibra hanya menatap penuh gairah, kemudian melanjutkan permainannya kembali. Rasa yang menggelenyar di seluruh tubuh seakan menuntut lebih, tangan Laras menempel di dada bidang Ibra. Kini posisinya jadi sedikit berbaring.
Ibra membungkukkan badannya. Meraih badan Laras! ia bopong ke tempat tidur dan dibaringkan di bawah tubuhnya. Mata ibra semakin di penuhi kabut. Kian bergairah mendengar ******* kecil yang lepas dari bibir Laras, menurunkan kecupannya ke leher dan bagian depan tubuh Laras.
"Tu-tuan! bu-bukannya mau ke tempat kak Yulia?" suara Laras terputus-putus dengan napas yang terengah-engah.
"Tapi kamu tidak ingin bukan? saya bersamanya hem ... kamu ingin saya bersama mu, kan sayang?" bisik Ibra penuh kelembutan.
suara itu begitu halus terdengar di telinga Laras! membuat angannya melayang begitu tinggi. Disebabkan sebuah kata sayang yang rasanya baru ia dengar.
Ibra semakin menarik sudut bibirnya tersenyum penuh arti. Keinginan yang semakin menuntut lebih! kian mendorong ia untuk melakukannya. Laras tak berani melihat apa yang ada dihadapnnya sekarang, ia memalingkan wajahnya ke dinding. Ibra semakin menyeringai.
Dengan tidak ada rasa ragu lagi. Ibra manyatukan miliknya yang sedari tadi tegang. Dengan milik Laras yang membuat ia selalu merasa ketagihan! sehingga kurang beminat melakukannya dengan yang lain, kecuali dengan Laras atau Dian.
__ADS_1
Ibra berkali-kali menyemburkan benihnya ke dalam rahim Laras. Kini tubuh mereka bergetar hebat! mungkin karena sudah mendapat puncaknya. Tubuh Ibra terkulai kelelahan. Menjatuhkan dirinya di sisi Laras sambil memeluk tubuh dan memebelai mesra rambut Laras.
Di salah satu kamar yang masih di mension itu. Yulia gelisah, hatinya gusar menunggu Ibra yang belum juga datang! dia sudah tidak sabar ingin mengutarakan niatnya yang ingin hamil dari Ibra.
"Aku oon banget ya? kenapa gak dari dulu aku hamil. Agar aku lebih di sayang. Diperhatikan oleh Ibra juga keluarganya, dan satu persatu istrinya akan di tendang dari rumah ini." Yulia senyum-senyum sendiri.
"Dasar ... aku benar-benar bodoh." Yulia merutuki dirinya. Memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Andai saja aku hamil? aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan! bodoh-bodoh, bodoh aku ini! kenapa sebodoh itu sih ...."
Yulia terus saja merutuki dirinya. Melirik jam sudah menunjukan pukul 22.00 namun Ibra belum juga tiba di kamarnya.
Karena sudah tidak sabar Yulia segera turun menapakan kakinya di lantai. Mau membuka pintu, dengan tujuan kamar Ibra. Krek! suara pintu di buka. Baru langkah kedua. Ibra sudah muncul di hadapan Yulia, dengan wajah seperti baru bangun tidur.
Ibra datang setelah puas bermain dengan Laras di kamar pribadinya. Ia meninggalkan Laras yang tertidur lelap di sana.
Wajah Yulia sumringah. Bahagia melihat Ibra datang juga ke kamarnya, yang di tunggu-tunggu dari tadi.
Ibra melepas pelukan Yulia! kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Tangan Yulia merangkul pinggangnya.
Setelah berada di dalam kamar! Ibra duduk di tepi tempat tidur. Yulia duduk di pangkuan Ibra, serta mengalungkan tangan di pundak sang suami. "Kenapa baru datang sih sayang? aku nunggu dari tadi loh."
"Aku ketiduran," sahut Ibra dengan suara serak.
"Hem ..." gumam Yulia sambil melirik jam di dinding, jarinya mengelus dada Ibra yang bidang. Ibra memejamkan mata, merasakan sentuhan tangan Yulia.
Yulia menggigit bibirnya! kemudian berbisik di telinga Ibra. "Mulai sekarang yuk?" menawarkan diri.
Ibra hanya memandangi Yulia, yang perlahan menyuguhkan pemandangan yang sangat luar biasa itu.
"Saya lagi tidak mood," menggeser duduknya manjauh.
__ADS_1
Yulia sedikit kecewa! yang sedang ia suguhkan. Ibra tolak begitu saja. "Sayang, ayolah? sudah lama kita tida--"
"Kan sudah saya bilang. Saya lagi gak mood." Ibra memotong perkataan Yulia.
"Tapi sayang?" mendekati Ibra dan semua yang melekat di tubuh sudah di tanggalkannya. Naik ke tempat tidur, berlutut tepat depan Ibra. Membuka kancing piama Ibra satu persatu.
Mata Ibra sampai tak berkedip, melihat apa yang ada depan matanya. Namun kesadarannya masih berpungsi dengan baik, ia menjauhkan tangat Yulia dari tubuhnya. Menarik selimut menutupi badan Yulia yang polos itu.
Yulia semakin heran. Ibra semakin ke sini semakin tak mau meyentuhnya, rasa gondok, kesal. Marah berkecamuk menjadi satu dalam batinnya.
"Kau bilang ada yang ingin kamu katakan, apa itu?" tanya Ibra sambil menyandarkan punggungnya di bahu tempat tidur.
Yulia terdiam sejenak, matanya menatap tajam kearah Ibra. Dalam hatinya masih dongkol dengan penolakan sang suami, dia menjepit selimut di bawah ketiaknya.
"Apakah yang ingin kau katakan? bicaralah! saya capek. Mau tidur," tanya Ibra lagi, sambil menurunkan kepalanya menyentuh bantal.
Yulia melirik Ibra dengan tatapan masih kesal. Namun membuka suaranya. "Aku ingin hamil."
Ibra terkejut dan langsung terbangun lagi, duduk dengan tegak memandangi Yulia di bawah sinar yang temaram tersebut. "Apa? apa saya tidak salah dengar!" mengorek kupingnya.
"Aku mau hamil," suara Yulia agak tinggi.
Seraya menarik napas kasar Ibra berkata. "Dulu! sebelum menikah, kamu bilang bersedia mengandung anak dariku. Makanya Dian menikahkan saya dengan mu, tapi ... setelah menikah kamu berubah, dengan alasan masih kuliah dan gak siap hamil. Sekarang, kamu berubah lagi? kau tahu, kan tujuan aku menikahi beberapa wanita itu untuk apa? untuk saya segera memiliki anak! jelas?" ujar Ibra memberi rentetan penjelasan.
"Iya sayang! sekarang aku mau hamil." Yulia memegang tangan Ibra. Meletakkan wajahnya di bahu Ibra.
Ibra melamun dan tidak menjawab. "Jangan berharap! karena semuanya sudah terlambat." batin Ibra.
"Maafkan aku sayang? sekarang aku sadar! kalau selama ini aku salah. Mulai sekarang aku janji, aku akan menjadi istri yang baik. Aku akan mengandung dan melahirkan anak mu, menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita!" mendongak menatap Ibra, berharap Ibra akan menyentuh bibirnya. Namun apa yang terjadi ....
,,,,
__ADS_1
Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan like dan komen ya 🙏 ini untuk penyemangat aku buat nulis. Kalau suka? bilang suka! kalau tidak suka? apa alasannya!