Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Demam


__ADS_3

"Tapi, kita belum makan juga." Sambung Laras. Kedua sikunya menahan beban badannya yang Ibra dorong ke atas kasur.


"Iya, nanti kita makan. Urus yang ini dulu." Menunjuk sesuatu di bawahnya.


Laras menggelinjang. "Aku lapar!"


"Sayang-sayang. Gimana nih?" rajuk Ibra kesal.


"Au, ah, tadi pagi sudah." Jawab Laras sambil mengambil kerudungnya.


Ibra menghadang langkah Laras yang hendak membuka pintu. "Tunggu sayang?"


"Apa?" Laras hentikan langkahnya dan menatap dalam sang suami.


"Ayo dong sayang ... sebentar aja," pintanya penuh permohonan.


Netra mata Laras bergerak melihat sesuatu yang sedikit menyeruak minta keluar. Ia tak mampu lagi menahan senyumnya. "Hi hi hi ... kamu kenapa sih? di luar ada Zayn yang mungkin menunggu mu, gayanya minta main sebentar. Mana ada cukup sebentar? Abang itu ya, gak bisa sebentar. Malas ah."


"Ck, ih. Sayang ... gak kuat nih," tanpa aba-aba, Ibra memeluk tubuh sang istri. Ia cumbu kembali, namun Laras tetap kekeh.


"Aku lapar, makan dulu yu?" ajak Laras dengan lembut. Mengusap dada bidang suaminya, Ibra.


Akhirnya Ibra menghela napas kasar dan kesal. "Baiklah kita makan dulu. Tapi sakit nih!"


Laras memperlihatkan bibir yang ia tarik ke samping. "Hem," keduanya keluar kamar, tangan Ibra merangkul pinggang Laras.


Zayn duduk di sofa masih setia menunggu Bos nya keluar. Setelah terlihat Ibra datang dengan sang istri, Zayn berdiri dan menghampiri sang Bos. "Saya pulang dulu. Besok saya jemput," pamit Zayn.


"Oke," sahut Ibra sambil mengangguk pelan. Hatinya lega akhirnya Zayn pulang juga, dia akan leluasa untuk melakukan apapun bersama Laras.


"Em, sudah makan belum?" tanya Laras pada Zayn.


"Sudah, Nona muda. Saya pamit dulu." Zayn berlalu meninggalkan rumah Laras.


Setelah Zayn pulang, Ibra mengajak Laras makan. Perutnya sudah keroncongan, meminta jatah makan.


Ibra menarik kursi buat sang istri yang mengambilkan piring untuknya.


"Sama apa makannya?" Laras melirik sang suami yang agak bengong.


"Ha, jangan banyak-banyak, apa aja boleh. Entah kenapa kepalanya sedikit pusing, entah pusing menahan hasrat atau apa? wajah juga terasa panas.


Ibra segera melahap makanan yang Laras suguhkan. Begitupun Laras, makan dengan lahapnya.


Sesekali melihat Ibra yang agak pucat. Dan segera menyudahi makannya dengan meminum segelas air putih. "Abang mau nambah?"


"Nggak, cukup! sudah kenyang nih," jawabnya sambil tersenyum. Tangannya mengelus pipi sang istri. "Aku tunggu di kamar ya? sayang."


"Iya," netra mata Laras bergerak seiring kepergian Ibra ke kamar duluan.


Kemudian Laras mengalihkan pandangan pada bu Rika. "Bu, sudah makan?"


"Sudah, Nyonya muda." Mengangguk hormat. "Gimana selama di Balikpapan. Apa menyenangkan?"


"Em ... apanya yang menyenangkan, Bu. Di sana tuan ekstra sibuk. Jangankan ngajak aku jalan atau apalah, yang ada juga ... dia sering lupa dengan kesehatannya sendiri," ungkap Laras sambil menyangga dagunya dengan tangan kiri.


"Oya, saking sibuknya ya?"


"Hem ... sering lupa makan, coba lihat tubuhnya agak kurusan begitu. Aku harus paksa dulu, harus nangis-nangis dulu. Baru mau makan." Sambung Laras lagi.


"Oya, harus nangis dulu? kok segitunya sih, tuan. Memang dulu pernah tuan itu kaya gitu sampai sakit berhari-hari!" ujar bu Rika sambil membereskan meja makan, kebetulan Laras pun makannya selesai.


"Ha ... tuan pernah sakit? apa iya," selidik Laras menatap bu Rika.


"Pernah dong, nah itu kalau dia lalai. Kurang menjaga kesehatannya." Tambah bu Rika.


"He he he. Aku kira orang seperti dia itu gak pernah sakit! ternyata bisa sakit juga ya?" gumam Laras.


Bu Rika menggelengkan kepalanya mendengar gumaman Laras, lanjut bersih-bersih piring. Agar tidak menumpuk perabotan kotor.


Laras terkesiap, ketika ia ingat kalau Ibra tengah menunggunya. "Bu aku duluan ya?" bergegas membawa langkahnya menuju kamar.


Laras menutup kembali pintu dan tidak lupa menguncinya. Ibra sudah berbaring di atas tempat tidur. Dengan dibalut selimut tebal bermotif bunga-bunga itu.


Langkah Laras perlahan menghampiri. Netra matanya mendapati piyama Ibra bagian atas tergeletak di tepi tempat tidur.


Ibra memang bertelanjang dada, tadi merasa panas dan gerah. Makanya ia buka baju bagian atas. Namun setelah itu terasa dingin banget sehingga tubuhnya menggigil, akhirnya dia membalut kan selimut di tubuhnya.


Laras menarik selimut Ibra sedikit, yang sedang memejamkan mata. "Abang ..." panggil Laras lirih.


Ibra memicingkan matanya lalu kembali terpejam. "Hem ...."

__ADS_1


Laras, merangkak naik ke atas tempat tidur. Masuk ke dalam selimut Ibra, namun alangkah terkejutnya Laras. Ada hawa-hawa panas dari tubuh Ibra.


Yang tadi baring, Laras merubah posisi menjadi duduk dan menempelkan punggung tangan di bawah telinga Ibra. "Ya Allah ... Abang panas!"


"Kepalaku pusing. Badan ku dingin banget sayang," gumamnya.


"Abang demam, panggil dokter ya?" Laras menatap cemas. Tangannya di pegang Ibra yang terasa panas sekali.


"Nggak, besok juga sembuh kok." Gumamnya lagi.


Laras bergegas mengambil handuk kecil di kamar mandi. Ia basahi untuk mengompres keningnya. Kemudian keluar kamar menghampiri bu Rika.


"Bu, Bu Rika ... ada obat gak? tuan demam!" dengan suara cemasnya.


"Apa, tuan demam?"


"Iya, Bu. badannya panas. Menggigil. Atau panggilkan dokter ya?" suara Laras kembali penuh ke khawatiran.


"Sebentar Nyonya. Saya panggilkan dokter pribadi tuan," bu Rika segera menelpon dokter pribadi Ibra.


"Sudah saya, suruh kemari Nyonya." Bu Rika menyimpan ponselnya.


Laras mengangguk lalu kembali ke kamar. Ia dekati Ibra yang tetap menggigil, Laras membenarkan selimut nya agat membalut dengan sempurna.


"Peluk aku sayang, berikan aku kehangatan. Aku kedinginan," pintanya, bibir dan dagu Ibra bergetar saking menggigilnya.


Laras segera memeluk tubuh Ibra sangat erat. Matanya berkaca-kaca, tak tega melihat Ibra seperti itu. "Abang jangan sakit!" menempelkan pipinya di dada Ibra.


"Ya, Allah. Aku aja yang sakit, jangan dia. Aku gak tega sekalipun dia hanya demam begini," gumamnya Laras sambil terisak.


Ibra memeluk tubuh Laras sangat erat seakan mencari kehangatan dari tubuh Laras. Walau sambil memejamkan matanya. Ia mencari ***** Laras, iya kecup dan ia **** dengan kasar. Benar-benar ia butuh kehangatan saat ini. Kemudian Ibra memeluk selimut kembali dan menggigil lagi.


"Nyonya, dokternya datang," pekik bu Rika, seraya mengetuk pintu berkali-kali.


Laras menatap ke arah Ibra sambil merapikan pakaiannya. Turun, berjalan mendekati pintu.


Blak!


Laras membuka pintu, tampak seorang dokter pria dan bu Rika berdiri di depan pintu. "Silakan masuk." Kata Laras sambil menunjuk ke dalam.


Dokter mengangguk. Lalu langsung memeriksa suhu tubuh Ibra yang sedang demam tinggi itu.


"Gimana dok? apa perlu di rawat intensif," selidik Laras dengan rasa khawatirnya.


"Gitu ya dok?" Laras sedikit tenang.


"Rawat aja yang baik. Panasnya akan cepat turun kok." Dokter membuatkan resep untuk di tebus di apotek. "Atau coba ini aja dulu. Kasihkan, kalau setelah diberi minum ini, masih belum turun juga. Baru kasih obat yang ada di resep saya ini."


"Oh, makasih dok?" ucap Laras sembari mengambil kertas resep itu.


Obat dari dokter langsung Laras minum kan pada Ibra. Dengan harapan Ibra lekas sembuh.


Kemudian dokter pun pulang. Di antar oleh bu Rika ke depan, Laras menutup dan mengunci pintu kamar. Menghampiri kembali Ibra yang mulai tertidur.


Semalaman Laras terjaga, sepersekian waktu Laras menggantikan kompresan di kening Ibra. Sesekali ngecek suhu badannya yang berangsur turun panasnya.


Pagi-pagi Ibra terbangun, badannya terasa gerah. Keringat pun keluar, memicingkan mata melihat Laras yang tertidur. Sambil bersandar ke bahu tempat tidur, mengenakan mukena mungkin dia habis salat subuh.


Mata Ibra bergerak melihat ke arah jendela, terlihat remang-remang cahaya pagi. Meraba keningnya yang masih menempel kompresan.


Ibra meringsut duduk sejajar dengan sang istri. "Sayang. Maaf ya? semalaman aku merepotkan mu." Gumamnya Ibra sambil mengusap pucuk kepala Laras.


Kemudian Ibra merubah posisi tidur Laras menjadi baring. "Kasian sekali istri ku!"


Lalu Ibra membaringkan diri kembali di samping sang istri yang terlelap tidur. Ibra tidur dengan memeluk tubuh Laras dan mengusap perutnya.


Sekitar pukul sepuluh. Laras bangun, netra matanya melirik ke arah Ibra yang tidur menyamping menghadap dirinya. Tangan melingkar di pinggang.


"Sepertinya sudah turun panasnya, Alhamdulillah." Gumam Laras setelah menempelkan punggung tangan di pelipis dan leher Ibra.


Laras turun menapaki lantai. Hendak membuka gorden. "Masya Allah ... sudah pukul 10 siang. Aku ketiduran."


Ketika mau melangkah, tangan Ibra menangkap pergelangan tangan Laras. "Sayang." Lalu tiba-tiba bangun dan duduk. Tangan masih menggenggam tangan sang istri.


"Hem, ada apa? alhamdulillah demam kamu dah turun. Semalam aku cemas, khawatir panas mu sangat tinggi." Laras terduduk kembali di samping Ibra.


Jemari Laras membelai rambut sang suami sangat lembut dan penuh kasih. Netra mata Ibra lekat menatap wajah Laras yang selalu tampak tulus dalam melayaninya. "Makasih sayang. Makasih kamu sudah merawat ku!"


"Makasih? bukankah aku istri mu, jadi sudah kewajiban ku bukan untuk merawat mu. Kalau Susi atau bu Rika yang merawat mu barulah, berterima kasih." Menaik turunkan alisnya.


"Iya, sayang ... aku tahu itu." Dengan sangat lirihnya. Ibra meremas jemari Laras lalu ia cium dengan mesra.

__ADS_1


"Oke. Aku mau ambil sarapan, atau mau aku bikinkan bubur putih atau kacang ijo. Mau?" menatap sang suami.


"Boleh, tapi kalau bikin itu repot sayang. Kamu capek, apalagi semalam kurang tidur. Suruh bu Rika aja, mau beli atau bikin terserah." Tangan Ibra masih enggan melepaskan jemari Laras.


"Ya, udah aku temui bu Rika dulu," ucap Laras.


"Iya," sahut Ibra mengangguk sambil menunjukkan senyum tipisnya.-


Laras pun tersenyum. Mengalihkan pandangan ke tangan yang masih dalam genggaman. "Tangannya lepas. Aku gak bisa pergi."


"Oh, iya maaf sayang?" cuph! sebelum dilepas di cium dulu. "Kamu juga belum sarapan, kan?"


"Iya," balas Laras sembari mengangguk. Kemudian melanjutkan niatnya untuk ke dapur, dan sebelumnya mendekati dan membuka gorden. "Dah siang loh sayang."


Ibra kembali berbaring. Namun kali ini menurunkan selimutnya hanya sampai menutupi dada. "Perasaan semalam gak pake baju," mengamati badannya yang memakai piyama.


Laras bergegas mengayunkan langkahnya. Menuju dapur.


"Nyonya, gimana keadaan tuan?" selidik bu Rika.


"Sudah agak mendingan, Bu. Alhamdulillah. Mau cari sarapan bubur," ucap Laras berdiri dekat meja makan.


" Oh, syukurlah kalau sudah turun. Oya, Nyonya. Saya sudah bikinkan bubur putih. Sebentar saya siapkan." Bu Rika mengambil mangkuk dan menuangkan bubur putih.


"Ih, tadinya mau nyuruh beli aja. Tapi ... kalau sudah, ya makasih ya, Bu?"


"Iya, Nyonya. Sudah tugas saya, oya tadi pagi tuan Zayn datang untuk menjemput tuan. Tapi karena saya bilang tuan demam dan Nyonya muda pun pasti kelelahan akibat merawat tuan, jadi dia berangkat lagi. Setelah selesai sarapan."


"Oya, tadi pagi memang aku ketiduran, Bu. Habis salat aku tidur baru bangun barusan. Ya Sudah aku kasih tuan sarapan dulu."


"Tapi. Nyonya juga belum sarapan, saya bawakan ke kamar ya?" ucap bu Rika sambil menyiapkan makan buat Laras.


Laras membawa bubur buat Ibra. Ia bawa ke atas tempat tidur. "Bangun, Abang ... sarapan dulu ya?"


Ibra pun bangun, duduk bersandar di tempat semula.


Kemudian Laras menyuapi dengan telaten. "Setelah sarapan, aku lap badannya biar gak lengket. Lalu Ganti pakaian."


Bu Rika berdiri depan pintu yang terbuka sedikit, sengaja Laras gak tutup karena ingatannya, bu Rika akan datang membawakan sarapan untuknya.


"Ini sarapan buat Nyonya," bu Rika menyimpan di meja.


"Makasih, Bu?" ucap Laras. Melirik ke arah bu Rika.


"Iya, sama-sama! gimana Tuan sudah baikan?" tanya bu Rika menatap sang majikan.


"Agak, mendingan kayanya, Bu." Jawab Ibra di sela mengunyah nya.


"Apa tadi Zayn sempat ke sini?" tanya Ibra.


"Iya, Tuan. Setelah tahu Tuan demam, dia pergi." Jawab bu Rika sembari mengangguk.


"Oh," Kemudian Ibra kembali mengedarkan pandangan pada sang istri yang siap menyuapinya lagi.


"Tambah lagi gak, buburnya?" tanya Laras setelah isi mangkuk ludes.


"Cukup, sekarang giliran kamu yang makan," perintah Ibra sambil meneguk minumnya.


Bekas sarapan Ibra, Bu Rika bawa ke dapur. Setelah melintasi pintu, tidak lupa menutup pintu kamar.


Kini giliran Laras sarapan dengan sangat lahap. "Belum mandi, belum duha juga." keluh Laras dalam hati.


Sehabis makan, Laras bergegas menyiapkan pakaian ganti buat Ibra. Mengambil air di gayung dan handuk kecil buat lap badannya sang suami.


Selama, proses lap seluruh badan Ibra. Tidak satu pun yang mengeluarkan suara. Paling sesekali mereka saling pandang.


Namun ada yang membuat Laras mengulum senyumnya. Ketika kedua matanya mendapati sesuatu yang tampak tegang dan mungkin ingin menyeruak keluar. Laras memalingkan pandangannya kelainan arah.


"Kenapa? tanya Ibra yang melihat Laras mengulum senyumnya.


"Nggak, gak pa-pa!" jawab Laras singkat.


Bukan tidak menyadari ataupun tak tahu. Jelas dong ia merasakan, toh itu bagian dari tubuhnya. Sebab itu juga mungkin salah satu penyebab kepalanya pening. Namun ia malas untuk membahasnya, apalagi dalam kondisi dirinya yang seperti ini.


Biar nanti aja kalau sudah berasa badannya fit akan dia hajar tanpa ampun lagi. Akan ia manjakan benda yang satu itu sampai puas.


Mengurus baby besar pun selesai sudah. Tinggallah dirinya mandi terus duha juga, sebab takut ketinggalan waktu duha. Laras memilih melaksanakan duha dulu, baru mandi setelahnya.


Senja ini sinar matahari mulai memerah menandakan akan datangnya sang kegelapan, ya itu sang malam. Sebuah mobil datang ke kediaman Laras, lantas memarkirnya tidak jauh dari mobil Laras dan Ibra ....


****

__ADS_1


Di awal tahun baru ini, semoga menjadi awal yang baik untuk kita semua ya reader ku. Terima kasih atas dukungan kalian semua yang masih terus mengikuti SKM ini, tanpa kalian sungguh aku bukan apa-apa🙏


__ADS_2