
Setelah Yulia tidak berada di situ, Laras menatap cemas ke arah bu Rahma. "Mah ... apa Mama percaya sama--"
"Sst ... Mama tahu yang sebenarnya, dan Mama percaya sama kamu kok. Sudah, jangan banyak pikiran. Ayo makannya habiskan sayang." Bu Rahma memperlihatkan senyumnya dan menyuruh Laras makan kembali.
Laras menghela napas panjang. Merasa lega, mendengar ucapan mama mertua yang percaya sama dirinya. Setidaknya ia tidak harus menjelaskan dengan detail pada mama mertua.
"Sudahlah, Nyonya. Jangan di dengerin omongan orang yang syirik itu, mendingan makan. Sebab menghadapi hidup itu butuh tenaga loh." Susi melirik Laras.
Laras melirik dan menunjukkan senyumnya, kemudian melanjutkan makannya.
"Mama dan papa, sudah tahu kok, rencana awal Dian seperti apa? makanya Mama dan papa dukung putra Mama, Ibra dan kamu terus bersatu. Pertahankan rumah tangga kalian, anak kalian berdua. Urus sama-sama, jangan di berikan pada satu pihak." Bu Rahma memberi jeda ucapannya dengan meneguk minuman di tangannya.
Laras menatap ke arah bu Rahma sambil mengunyah. Ia mencoba memahami ungkapan dari sang mertua.
"Biarpun awalnya kalian itu ... menikah tanpa cinta, tidak saling kenal lebih dulu. Tapi ... setelah menikah dan Ibra menunaikan kewajibannya dengan baik. Sampai sekarang ini kamu mengandung, Mama yakin deh. Benih-benih cinta itu ada, bukan cuma sebatas kewajiban saja." tambah bu Rahma menatap lekat kedua manik mata Laras dan mencari kebenaran atau benih cinta di mata Laras untuk Ibra.
Kemudian Laras menundukkan kepalanya, ingin menyembunyikan sebisa mungkin perasaannya itu. Sampai saat ini Laras masih segan mengakui kalau dia juga sayang sama sosok pria yang jadi suaminya itu.
****
"Sampai detik ini. Laras belum mau mengakui perasaannya terhadap ku, tapi aku yakin kalau kamu itu juga mencintai ku." Gumamnya Ibra sambil memutar ponsel di atas meja.
"Bos?" panggil Zayn sambil masuk melintasi pintu.
Ibra menoleh ke arah Zayn yang mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan Ibra. "Ada apa?"
"Ini, tiket pesawatnya. Langsung untuk pp, jadi hari ini juga anda bisa pulang ke kota ini lagi." Zayn menyerahkan tiket untuk ke Semarang.
"Oke, bagus. Nanti antar kan mobil saya ke mension." ucap Ibra setelah menerima tiket tersebut.
"Nggak ke rumah mini Bos?" tanya Zayn sambil menyeringai.
"Tidak, tidak usah. Ke mension aja, di rumah mini tempatnya sempit. Oya, saya ada rasa kalau ini ada udang dibalik wajan." Pikir Ibra sambil melamun.
"Kenapa Bos?" selidik Zayn, menatap penasaran.
"Dian berangkat sendiri, kenapa pulang harus di jemput segala? bisa pulang sendiri juga. Ngapain minta di jemput segala," sambung Ibra.
"Em ... mungkin ingin liburan, berduaan sama kamu Bos," gumamnya Zayn ringan.
"Justru waktunya yang kurang tepat. Lusa kan mau ada acara di rumah, masa saya gak hadir?" ujar Ibra menarik napas dalam-dalam.
"Makannya, itu tiket buat pulang pergi Bos. Hari ini juga, agar tidak membuang-buang waktu lah di situ." Lanjut Zayn lagi.
"Oke. Berangkat sekarang yu, kata cari makan dulu lah." Ibra berdiri menggeser kursi kebesarannya. Diikuti oleh Zayn dari belakang.
Keduanya sudah berada di dalam mobil yang tengah melaju dengan kecepatan sedang. Menuju bandara dan sebelumnya mencari makan lebih dahulu.
Akhirnya sudah menemukan resto yang tidak jauh dari bandara berada. Mereka memesan makan yang mereka suka.
"Iya, ada apa?" tanya Ibra di telepon pada seseorang.
"Iya, aku sedang menuju bandara nih, aku malas sayang kalau harus bawa mobil. Capek dan Lama, mendingan naik pesawat aja, lebih cepat, romantis sih romantis, aku gak sanggup nyetirnya. Oya, sudah dulu ya. Aku mau makan dulu." Sambung Ibra, kemudian mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Ibra dan Zayn makan dengan lahapnya. Dibarengi dengan obrolan-obrolan ringan.
Acara makan pun selesai. keduanya berdiri, meninggalkan tempat tersebut yang sebelumnya Zayn membayar bekas makannya.
Kini mobil melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya. Melesat cepat menuju bandara, dengan hitungan menit saja mobil sudah memasuki salah satu parkiran bandara di Negeri ini.
Setelah melewati serangkaian proses menuju penerbangan. Ibra tengah bersiap untuk keberangkatan. "Nanti saya kasih tahu kalau mau kembali ke bandara ini lagi, bersiaplah jemput aku." Ibra menepuk bahu Zayn.
"Oke, hati-hati Bos," pesan Zayn, mereka bersalaman dan mengusap punggung Ibra. Sebagai salam perpisahan.
Ibra melangkahkan kakinya dengan lebar, serta tujuan pesawat menuju Semarang. "Bismillah ... semoga Allah melindungi setiap langkah ku. Aamiin," gumamnya Ibra.
****
Dian, tengah berada di sebuah tempat. Bersama rekan bisnisnya termasuk juga Jodi, sedang mengadakan kunjungan. Setelah selesai dangan perbincangannya, Dian berjalan dengan Jodi di lorong sebuah kantor.
"Kita mau makan dulu apa aku antar langsung ke hotel?" tanya Jodi sambil berjalan dan memasukan kedua tangan di sakunya celananya.
"Makan lah, lapar nih." Dian menjawab sambil terus berjalan sesekali ngecek ponselnya itu.
Kini keduanya sudah duduk santai di meja restoran sambil menunggu pesanan datang.
"Aku mau ke Jakarta sore ini mau bareng sama aku gak?" tanya Jodi sembari meminum segelas air mineral.
"Aku, masih mau di sini, lagian hari ini suami ku menjemput. Jadi kayanya beberapa hari ini deh aku balik Jakarta," ujar Dian yakin, inginnya bersenang -senang dulu di kota Semarang ini.
"Ciee ... yang mau senang-senang sama suami ..." canda Jodi sambil menatap lekat.
"Oh, tapi bukannya kamu sendiri yang membuat suami mu menikah lagi?" selidik Jodi mengernyitkan keningnya.
"Iya, benar. Memang aku yang nyuruh, tapi bukan seperti sekarang ini," ucap Dian lesu.
"Emang kenapa?" selidik Jodi makin penasaran dibuatnya.
"Aku menikahkan suamiku, agar punya anak saja. Gak lebih dari itu, bukan untuk mencintai dan membutuhkan nya. Kalau gini caranya ke enakan namanya." Menghela napas sangat dalam.
"Menurut aku sih wajar, manusiawi lah kalau suami mu atau wanita itu mencintai satu sama lain. Mungkin karena seringnya berkumpul, berusaha perhatian dan semacamnya lah." Jodi mengutarakan pendapatnya tentang suami Dian.
"Tapi, aku ini istrinya Jod ... istri yang sangat dia cintai!" jelas Dian dengan nada kecewa.
"Tapi itu dulu sebelum kamu membawa wanita lain di dalam rumah tangga kalian, aku lihat suami kamu itu tipe laki-laki setia. Dia gak mungkin memulai tanpa ada yang memulai duluan. Jadi ... jangan salahkan dia kalau dia jatuh cinta sama istrinya yang lain," lanjut Jodi dengan tatapan tajam.
"Iya, dia memang pria setia. Aku menikahkan dia dengan tiga wanita, tapi yang aku lihat. Ada cintanya sama yang sekarang ini, apalagi mungkin karena wanita itu hamil kali ya ..." ungkap Dian pada Jodi.
"Kamu, gak bisa menyalahkan suami mu, sebab kamu juga yang mulai. Menyuguhkan dia dengan hidangan yang lebih fes."
"Emang kamu pikir aku kurang fres apa?" tanya Dian sambil menggeser makanan di meja yang baru datang.
"Kalau menurut ku sih, fres. Cuman, mungkin dalam segi pelayanan dan semacamnya. Sebab kebanyakan laki-laki itu, lebih pengen di manja, dilayani juga."
"Ciela ... h, kaya sudah beristri aja kau ini." Senyum Dian mengembang dan memukul bahu Jodi dengan kepalan tangannya.
Jodi tertawa. "Hahaha walaupun aku belum beristri, normal lah. Pengen di manja, dilayani juga. Ah senengnya bila dapat wanita seperti itu."
__ADS_1
Sejenak Dian terdiam dan memakan hidangan yang tersedia di meja. Begitupun dengan Jodi.
Mereka anteng makan siang, sambil sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Oya, kenapa buru-buru sih balik ke Jakarta? mending nanti saja barengan." Akhirnya Dian buka suara, setelah sekian waktu terdiam.
"Aku dapat undangan dari anggota panti, dia akan mengadakan tasyakuran. Jadi aku akan menghadiri undangannya," jawab Jodi sambil sedikit berpikir.
"Oh, madu ku juga akan mengadakan empat bulanan. Tapi aku malas untuk hadir," ucapnya dengan tatapan kosong.
"Loh, bukannya kamu yang ngebet ingin anak. Tapi kenapa kamu tak ingin ikut merawatnya, menyambut dengan suka cita?" kepala Jodi menggeleng tak mengerti.
"Iya, sih ... aku yang ngebet, namun setelah aku tahu suami ku sepertinya sayang dan perhatian sama dia. Aku jadi malas." Jelas Dian sambil mengunyah makanannya.
"Tapi itu bukan salah wanita itu, apalagi janin yang di kandungannya gak tahu apa-apa. Sekarang kamu akan menawan suami mu agar tak hadir di acara itu? kamu jahat, Dian."
"Aku pun tahu siapa wanita yang kamu maksud itu." Batin Jodi, menghabiskan makanan yang tinggal sedikit lagi. Ia habiskan dengan lahap.
"Aku, gak perduli. Dia sudah merebut suami!" tegas Dian tampak kecewa.
"Itu, salah mu. Bukan salah orang lain, coba kamu--"
"Sudah-sudah. Aku gak butuh pendapat mu, ayo antar aku pulang ke hotel?" ketus Dian sambil beranjak dari kursinya.
"Oke." Jodi pun berdiri yang sebelumnya. Berbincang dengan kasir.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Suasana hening tanpa suara orang bicara, kecuali suara riuh dari mesin mobil dan debu jalanan yang beterbangan.
Sesampainya di hotel, Jodi langsung pulang. "Gak mau masuk dulu nih?" tanya Dian setelah berdiri di samping mobil.
"Nggak ah, takut kebablasan. Ha ha ha ..." ujar Jodi sambil tertawa dan memutar kemudi, balik arah.
"Dasar gila," gumamnya dian sambil memasuki lobby hotel.
Saat ini Dian sudah berada di kamarnya. Berendam di bathtub, merasakan nikmat rileks nya berendam. Kepalanya mendongak menghadap langit-langit.
"Aku harus bisa, menahan Ibra di sini, agar dia tidak ada di acara syukuran nanti, bodo amat. Apalagi bila anak itu tidak kau serahkan pada ku, jangan harap kau bisa mendapatkan apapun yang kamu mau!" gumamnya Dian.
Dian keluar dari bahthub dan membersihkan dirinya di bawah air shower. "Berrr ... dingin."
Meraih kimono handuk untuk ia kenakan, membalut tubuhnya yang polos itu. Duduk di depan cermin. Menatap pantulan dirinya dari cermin. "Apa sih kurangnya aku hah? cantik, menarik. Seksi, pinter lagi. Cuma satu yang aku gak bisa, ya itu hamil, itu aja!"
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara pintu diketuk dari luar. Membuat Dian terperanjat dan bergegas melangkah mendekati pintu ....
****
Tiada kaya yang paling indah selain kata Assalamu'alaikum ... reader ku semuanya? semoga kabar kalian baik-baik ya. Terima kasih sudah tetap setia menjadi pembaca novel ini. Tanpa kalian aku bukan siapa-siapa🙏
__ADS_1