
"Apa lagi sayang ..." tanya Ibra menoleh sang istri.
"Itu, Buah alkisah." Laras menunjuk tukang buah di depan.
Ibra mengerutkan keningnya. "Apa tuh sayang? aku kurang tahu."
"Ayo ke sana, kita lihat." Laras membuka pintu mobil dan turun.
Ibra pun langsung mendahului sang istri. Segera meraih tangan Laras di tuntun nya menyebrang jalan menuju yang jualan buah.
Begitu sampai di tempat. "Yang mana sih sayang buah alkisah?"
"Ini, buah alkesa." Tangan Laras mengambil buah alkesa.
"Oh ... ini sawo ubi sayang. Aku taunya ini sawo ubi, kalau di makan nempel di gigi. Ada juga yang bilang ini buah jigong." Bibir Ibra mengembang.
Laras memandangi dengan heran. "Buah jigong?"
"Iya, kan nempel di gigi sayang. Kalau di makan tuh, nempel nih di gigi." Ibra menunjuk gigi putihnya sendiri.
"Hi hi hi ... bisa aja." Laras mesem dan memilih buah alkesa yang matang dan mulus. Ia masukan ke kantong yang pedagang berikan.
Kemudian netra mata Laras mengarah ke arah buah kesemek yang ah warnanya ah menggoda. Menggiurkan sekali buat Laras.
"Aku mau, buah ini." Laras mencium kesemek yang ranum.
"Bang, tolong pisau. Aku mau kupas ini." Laras menoleh pedagangnya. Kemudian duduk di bangku yang tersedia di sana.
"Sayang suka ini?" tanya Ibra sambil memegang buah itu.
"Suka, suka banget," ucap Laras sambil mengambil pisau dari si abang.
"Sini, aku yang kupas." Ibra mengambil alih pisau dari tangan Laras.
Ibra mengupas kan dan memotong kesemek buat Laras. Laras pun langsung melahap buah kesemek yang Ibra mengupas. Laras menyuapi Ibra yang menggeleng.
"Nggak suka. Belum pernah makan itu."
"Coba dulu Abang ... coba dulu, ya pasti suka." Laras kekeh ingin Ibra mencicipi.
Ibra pun membuka mulutnya. Pelan-pelan mengunyah buah itu untuk pertama kalinya. Sedikit bergidik. "Ih, manis gimana ... gitu. Kaya mirip rasa pepaya yang masih mengkal."
"Em, enak nya. Manis renyah gitu." Kemudian Laras mengambil alkesa lalu ia belah. Di makannya sangat nikmat.
"Mau?" yang Laras kembali ingin menyuapi Ibra, namun kali ini buah alkesa.
Lagi-lagi Ibra menggeleng. Dan benar-benar menolak dambil bergidik. "Ih ... nggak-nggak. Buah apa itu buah jigong, nempel di gigi, gak. Mending makan ini." Memotong buah kesemek, lalu di makannya.
Setelah membayar buah kesemek dan alkesa, Ibra dan Laras balik ke mobil. Melanjutkan perjalanan pulangnya untuk pulang. Kini mulut Laras terus ngemil buah yang barusan di beli, makanan yang tadi aja masih ada. Ibra mesem-mesem aja melihat sang istri yang tak berhenti makan.
"Lapar, Bu?" gumam Ibra tanpa menoleh.
Laras menoleh sambil mengulum senyumnya. "Nggak bisa ya lihat orang senang?" sedikit memajukan bibirnya.
Ibra melirik dengan ekor matanya, lalu tangan satunya mengusap pucuk kepala Laras. "Boleh sayang ... boleh kok."
Laras melirik dengan senyum di bibirnya. Kemudian melanjutkan makannya. Kali ini menghabiskan makanan yang tadi tertunda.
Tak terasa, mobil pun sampai di halaman rumah Laras, sambut Susi yang berdiri dan wajah yang sumringah. Laras turun setelah Ibra bukakan pintu untuknya.
"Siang Nyonya? gimana kabarnya." Sapa Susi sambil mengangguk hormat.
"Aku, baik Susi, seperti yang kau lihat. Gimana di sini? kamu gak ke napa-napa di sini sendiri." selidik Laras sambil jalan memasuki rumah yang beberapa hari ini ia tinggalkan.
"Baik, Nya. Kemarin bu panti datang menanyakan kabar Nyonya, aku suruh ke mension, ada gak?"
"Nggak ada, cuma telepon saja. Sore ini kali mereka mau datang," sambung Laras. Mendudukkan dirinya di sofa.
"Oh, oya Nyonya, tempo hari juga ada Opa-opa ke sini sama pria paruh baya yang di panggil ayah," tambah Susi baru ingat akan kedatangan Jodi bersama sang ayah.
Kening Ibra mengerut. "Opa-opa?"
"Jodi," jawab Laras menoleh sang suami.
"Oh," menaikan alisnya, kemudian ngeloyor ke kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa ya? bilang ada perlu apa gitu," selidik Laras menatap ke arah Susi.
Susi menggeleng. "Nggak bilang apapun Nya. Cuma bilang lain kali mau datang lagi, itu aja."
"Oh, ya sudah mungkin lain kali mereka datang lagi," ujar Laras sambil berjalan-jalan memijat keadaan rumah yang beberapa hari ia tinggalkan itu.
Langkah Laras membawanya ke taman dan kolam renang. Menghampiri bunga roos yang sedang kuncup, bibirnya tersenyum merekah indah. Tangannya mengusap perut yang semakin buncit.
Setelah puas berada di sana, Laras masuk kembali. Menghampiri Susi yang sedang menyiapkan buat masak nanti sore. "Sus buah yang tadi tuan bawa disimpan di mana?" mata Laras bergerak mencari yang ia maksudkan.
"Oh, sudah Susi masukan ke lemari pendingin Nya." menunjuk kulkas.
"Oh, iya. Makasih ya?" Laras membuka lemari itu, mengambil buah kesemek. Kemudian ia cuci dan langsung ia gigi, krek! sampai terdengar suaranya.
"Kalau mau ambil aja Sus," ucap Laras sambil duduk menikmati buah itu.
"Susi gak suka Nya," jawab Susi menoleh sang majikan.
"Manis loh, enak." Tambah Laras.
"Tapi, Aku gak suka." Akunya Susi.
Laras beranjak dari duduknya. "Aku masuk dulu ya Sus." Laras mambawa langkahnya ke kamar. Begitu masuk ia mendapati sang suami tengah sibuk dengan laptopnya di sofa.
Menutup pintu, lalu mendekati dan duduk. Kemudian kembali berdiri mengambil air putih dari dispenser. Di bawanya pada sang suami. "Mau minum?"
Ibra menoleh ke arah sang istri. "Makasih sayang."
''Hem, aku mau mandi dulu ah. Lengket." Laras berlalu dari sisi Ibra.
Ibra menoleh. Menatap punggung sang istri yang meninggalkannya, kemudian kembali fokus ke laptop nya.
Tidak lama, Laras kembali dengan mengenakan jubah handuk dan tampak segar. "Ashar nih, salat dulu. Tinggalkan dulu laptop nya."
Ibra, yang tak merespon omongan Laras, tangannya tetap sibuk dengan papan keyboard. Dan mata pun tetap fokus ke layar. Sampai Laras kembali dari kamar mandi dengan pakaian yang rapi.
Laras menggeleng kepalanya. Kemudian mendekati sang suami. "Abang ... tutup dulu laptop nya," lirih Laras sambil tak segan menutup laptop yang sedang di pakai suaminya.
Ibra menatap sang istri dengan tatapan tang sulit diartikan. "Bisa gak tunggu sebentar? aku lagi ngerjain sesuatu yang penting."
"I-iya, penting sayang. Tapi aku minta waktu 5 menit lagi, bentar."
"Baiklah." Laras berdiri dan menunaikan salat sendiri.
"Ah, marah lagi," sambil melihat gerak Laras. Kemudian ia beranjak dan tidak jadi membuka laptop. Melainkan ke kamar mandi.
Selepas keduanya menunaikan salat. Laras yang berniat keluar menemui Susi, jadi baringan di atas tempat tidur. Dengan bantal yang di tumpuk tinggi.
Ibra mendekati setelah barusan sebentar berkutat dengan laptop. "Mau bobo kah?" dengan suara pelan di dekatnya.
"Nggak tau juga." Gumam Laras.
Ibra duduk bersila di dekat kaki Laras. Kedua tangannya memijat dengan lembut.
"Nggak usah. Bukannya ada hal penting yang harus di selesaikan?" tolak Laras. Dengan nada dingin.
"Sudah sayang ... sudah selesai." Ibra melanjutkan pijatannya di kaki Laras.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Nyonya, ada bu panti dan anak-anak di luar," pekik Susi dari balik pintu.
Kedua netra mata Laras bergerak melihat ke arah Ibra. "Iya, Sus. Sebentar." Kemudian bangun dan hendak turun, Ibra bergegas dan menggandeng tangan Laras.
Keduanya keluar dari kamar, untuk menemui bu panti yang Susi bilang ada diluar. Benar saja bu panti dan anak-anak, berada di ruang tamu.
Ketika melihat Laras muncul, anak-anak berhamburan memeluk Laras. Membuat Ibra menjauhi sang istri.
"Kak Laras apa kabar? kami kangen sama kakak." Suara anak-anak bersamaan dan hampir tak jelas kedengarannya.
"Baik, kalian gimana? aku juga kengen kalian." Laras membalas memeluk mereka semua bergantian.
__ADS_1
Kemudian, Laras menghampiri bu panti yang mengulas senyumnya. "Apa kabar, Bu?"
"Kamu gimana? ibu sendiri samgat khawatir dengar kami sakit. Ditambah lagi berita yang kurang mengenakan itu,'' ujar bu panti.
"Aku gak pa-pa, Bu. Aku baik-baik aja kok." Laras senyum merekah.
Kemudian mereka semua duduk berdampingan dan terdengar lumayan riuh dengan omongan anak-anak yang entah apa yang di ributkan.
Ibra pun duduk dekat sang istri. "Kalian, kalau mau berenang boleh."
Anak-anak yang belum begitu dewasa sangat antusias mendengar Ibra menyilakan untuk berenang. Yang dewasa cuma duduk dengan manis.
"Iya, kalau kalian mau berenang. Boleh, tapi bawa ganti gak pakaiannya?" sambung Laras pada anak-anak.
"Kalau gak bawa baju ganti, sudah itu aja. Nanti beli gantinya." Tambah Ibra lagi.
Laras menatap ke arah Ibra. "Nggak segampang itu Abang, harus ada ganti dulu."
"Aku pake baju dua Kak," sahut salah satau anak.
"Iya, aku juga pakai dua." Sambil menunjukkan baju yang di pakaianya.
"Ya, udah. Terserah kalian ajalah." Laras menyilahkan maunya mereka.
Susi membawa nampan berisi beberapa gelas minum. Sebelum berjongkok, ada anak laki-laki yang jalan tergesa-gesa mau ke kolam renang. Nampan yang masih di tangan Susi tersenggol.
Berobot!
Guprak!
Prek!
Nampan oleng dan semua gelas pun berjatuhan. Dan pecah di depan semunya, Susi panik. Serta merasa kesal dan marah. Yang lain malah terkesima, memandangi kejadian tersebut.
"Astagfirullah ..." gumam Laras.
Ibra bengong. Bingung harus marah atau gimana?
"Maaf Laras, maafin Viki." Sesal bu panti sambil menarik tangan anak yang beranama Viki itu. Dia sendiri kaget, tak sengaja juga.
Susi dengan kesalnya, bukannya cepat membersihkan. Malah di pelototi.
"Oh, gak pa-pa, Bu. Sus, bersihkan, yang lain bantuin Mbak Susi. Tapi denagn hati-hati juga, kemudian ambil minum yang baru ke dapur ya?" perintah Laras, melihat Susi dan anak-anak yang agak dewasa bergantian.
Susi dan anak-anak saling membantu, membersihkan pecahan gelas tersebut. Setelah selesai, mereka mengambil minuman dari dapur.
Akhirnya Ibra menggelengkan kepalanya pelan. Baru kali ini ada keriuhan di rumahnya seperti ini. Anak itu shock. Mematung tak bergeming.
"Ya, udah. Viki main sana, hati-hati ya?" ucap Ibra berusaha tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal hatinya marah dan Kesal, pokoknya gondok.
Bu panti mengantar Viki ke kolam, bergabung dengan temannya.
"Abang, maaf ya? riuh begini. Ribut, nanti juga kalau dah punya anak akan mengerti, kali." Suara Laras sangat pelan. Melirik sang suami yang tersenyum tipis.
"Iya, sayang. Gak pa-pa," sahutnya sambil menghela napas dalam-dalam. "Aku mau ke kamar dulu ya? kalau perlu sesuatu, panggil aja. Kamu di sini ngobrol aja, oya pesan buat makan malam bersama mereka semua. Oke?" tangan Ibra mengusap punggung tangan Laras yang membalas dengan anggukan.
Ibra, bergegas menngayunkan langkahnya ke kamar. Begitu sampai di kamar, ia langsung menjatuhkan diri di atas tampat tidur. Matanya memandangi langit-langit. "Mungkin aku belum terbiasa dengan anak kali ya? hem ... riuh, ramai. Ribut, gitu kali kalau banyak anak nantinya." Gumam Ibra namun bibinya tertarik senyuman.
Merasa lucu, membayangkan kalau dirinya mempunyai banyak anak. Suatu saat nanti, anak-anak yang lucu. Lari-lari memutari setiap ruangan. Membuat suasana sangat ramai.
Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman. Sehingga tak terasa kantuk pun menyerang kedua matanya. Dengan perlahan, mata Ibra tertidur lelap.
Laras yang sedang mengobrol dengan bu panti. Sesekali saling peluk, menumpahkan rasa kangen yang jarang bertemu itu.
Anak-anak tengah asyik bermain di kolam. Susi menerima pesanan buat nanti makan malam.
"Bu, doakan, aku ya? kalau lahiran. Aku pengen normal saja. Gak mau seasar." Laras menggeleng.
"Tentu, sudah pasti Ibu doakan dong Laras. Semoga lancar." Balas bu panti.
Di tengah Laras dan bu panti asyik mengobrol, tiba-tiba. Ada yang memanggil ....
****
Hi ... semoga kabar kalian saat ini sedang berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa! Sudah baca kan ... jangan lupa like dan komentar. InsyaAllah besok episodnya Jodi dan sang ayah bertemu dengan Laras. Kira-kira ada hubungan apa antara pak Marwan dengan pak Mulyadi ya?
__ADS_1