
Jemari Ibra membelai rambut Dian dengan pikiran melayang, tak sedikitpun ada tanda-tanda Dian sakit. Terlihat jelas kalau dia baik-baik saja, begitu pikir Ibra.
Diam-diam Dian tersenyum. "Aku pastikan kamu bersama ku malam ini. Aku yakin kamu begitu khawatir pada ku. Dan tak akan tega meninggalkan ku."
Ibra sudah menyiapkan pesan untuk di kirim pada Laras, untuk sekedar bilang tidak pulang malam ini, namun ia urungkan pesan itu. "Aku harus cari jalan agar bisa ke rumah Laras malam ini, aku sudah janji gak lama. Tapi ini malah sudah malam. Gimana caranya ya? aku tahu kalau Dian tidak sakit." Batin Ibra sambil menatap Dian yang nemplok di dadanya.
"Aku mau lihat dulu bu Rika sudah pulang atau belum," gumam Ibra sembari hendak beranjak.
"Emangnya kenapa? kalau sudah pulang ataupun belum, biar aja sayang."
"Aku lapar, pengen makan. Di sini yang bisa melayani ku hanya bu Rika," sahut Ibra kembali.
"Ini kesempatan aku untuk melayaninya dengan baik, agar Ibra semakin sayang sama aku. Ya ... aku harus tunjukkan kalau aku bisa jadi istri yang baik untuk suami ku," gumam Dian dalam hati. "Sayang ... aku siapkan ya?"
"Oh, gak usah. Kamu lagi sakit kepala, jadi istirahat saja ya? Biar aku sendiri yang cari makan ke sana." Timpal Ibra.
"Ta-tapi gak pa-pa aku siapkan, sa-sakit kepala ku sudah agak reda kok." Suara Dian agak gugup.
"Nggak, pa-pa sayang, kamu istirahat saja, atau mau aku bawakan ke sini?" tawaran Ibra langsung disambut anggukan oleh Dian.
Ibra, keluar kamar Dian untuk mengambil makan malam. Untuk mereka berdua.
Setelah sampai di dapur. ternyata asisten cuma masak buat mereka saja. Tanpa memasak untuk majikannya. "Ya sudah, yang ada sajalah, saya lapar dan Ibu." Pinta Ibra pada asistennya.
"Baik Tuan." Asisten itu menyiapkan yang Ibra pinta. Sementara, Ibra sendiri sibuk dengan ponselnya.
Kemudian Ibra membawa nampan itu ke kamar Dian, lalu Masuk dengan nampan di tangan. "Makan sayang." Ibra taruh nampan di depan Dian.
Dian melotot, setelah melihat menu makanan yang Ibra bawa itu tidak membuat ia berselera sama sekali.
"Apa ini sayang? ini bukan makanan selera ku, aku gak suka!" Dian menunjuk makanan yang Ibra bawa.
"Mereka hanya masak buat mereka saja, makanya aku bawa yang ada saja. Menunggu malas. Aku sudah terlalu lapar," sahut Ibra sambil melahap makannya. Tidak perduli dengan Dian mau makan sukur, tidak pun terserah.
Melihat Ibra yang makan dengan lahapnya, Dian kesal. Ia merasa Ibra tidka perduli padanya. "Sayang, kamu kan tahu. Masakan apa aja yang aku suka? a-aku gak bisa makan itu."
Ibra mendongak. "Apa mau bubur? secara kamu lagi sakit," tanya Ibra.
"Aku tidak mau bubur, aku mau makan menu kesukaan ku, bilang sama asisten buatkan menu kesukaan ku." Kekeh Dian.
Ibra yang sudah selesai makan, langsung diakhiri dengan meneguk minumnya. "Sebenarnya, kamu ini sakit atau akal-akalan sih?" tanya Ini bra menatap tajam ke arah Dian.
"Sa-sakit sayang, sakit ke-kepala masa kamu tidak percaya sama aku ha?" Jawab Dian dengan suara terputus-putus.
"Kamu tidak perlu berpura-pura, aku tahu. Kamu cuma pura-pura," ungkap Ibra sambil menatap sangat tajam, hatinya sudah mulai di masuki rasa kesal yang teramat.
"A-aku sakit sayang, tapi aku juga lapar."
"Kalau kamu lapar makan, jangan malah sibuk dengan selera orang. Apa salahnya sih? ini sayur bening. Ada ayam juga, kan juga suka ayam goreng. Terus masalahnya apa?" selidik Ibra.
"Masalahnya aku lagi gak mau makan ayam sayang. Aku pengen makan kepiting, cumi--"
"Pesan gofood, kan gampang?"ucap Ibra kembali.
"Ya, sudah. Sayang pesankan ya?" pinta Dian sambil berbaring lagi.
Ibra menatapnya sambil menggeleng. Kemudian memesankan yang Dian sebutkan tadi. "Sudah aku pesankan, tunggu saja."
"Sayang, sini dong? tiduran sama aku." Lirih Dian Netra matanya menatap sendu ke arah Ibra.
Ibra pun beranjak dan mendekati Dian yang tengah berbaring. Setelah berada di samping Dian, Dian langsung memeluknya seakan tak membiarkan Ibra pergi sedikitpun.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara ketukan pintu dari luar kamar. Ibra dan Dian saling pandang, kemudian Ibra menyingkirkan tangan Dian dari tubuhnya. Turun dan menghampiri pintu.
Blak!
Pintu, Ibra buka dan tampak Zayn berdiri dengan bibir menyeringai. Alis mata di naik turunkan. "Kau?"
Zayn celingukan ke dalam kamar. "Bos, ada masalah yang harus di selesaikan saat ini juga."Jelas Zayn dengan suara sedikit lantang.
"Siapa sayang?" tanya Dian dari dalam penasaran siapa yang datang yang dia anggap mengganggu saja, sebab kalau pesanan makanan gak mungkin juga secepat ini.
"Zayn, sayang." Ibra sedikit menoleh ke arah Dian. "Sebentar ya?" ucap Ibra pada Zayn.
Ibra membalikan badan menghampiri Dian yang sudah duduk di tempat tidur. "Sayang Zayn menjemput ku, ada masalah kantor yang harus aku urus."
"Malam-malam begini?" tanya Dian curiga.
__ADS_1
"Iya, ini masih sore belum larut malam. Ada yang perlu kita bincang kan untuk rapat besok dan ini sangat penting." Zayn meyakinkan.
Dian menatap Zayn lalu mengarahkan pandangan pada Ibra kembali. "Tapi sayang ... aku sakit, aku gak mau ditinggal." Suara Dian memelas dan merangkul tangan Ibra.
"Ini sangat penting, untuk kelangsungan dan kelancaran perusahaan ke depannya," Zayn terus meyakinkan Dian agar melepaskan Ibra.
Punggung tangan Ibra menyentuh pelipis dan samping leher. "Aku yakin kau akan baik-baik saja, jangan egois. Besok juga aku di sini." Ibra terus meyakinkan bahwa besok dirinya pastikan akan berada di mension.
Dian merengut. Memajukan bibirnya ke depan, rasanya dongkol. Marah, rencananya gagal.
Tidak menunggu jawab lagi, Ibra pergi, diikuti oleh Zayn di belakang.
"Sayang? jangan pergi, atau aku akan ..." pekik Dian ketika Ibra melintasi pintu.
Ibra dan Zayn hentikan langkahnya dan menoleh. "Akan apa? jangan sekali-kali mengancam ku, apalagi dengan alasan sakit kepala mu itu." Jelas Ibra, lalu melanjutkan langkahnya itu.
Dian murka, melempar apapun yang ada di dekatnya. Kemudian mengacak rambutnya frustasi.
Ibra dan Zayn sudah berada di mobil, duduk berdampingan. saling melempar senyuman. Lalu Zayn tertawa ngakak, mengingat apa yang dilakukan Dian. Zayn sempat mengintip ketika Dian murka setelah kepergian Ibra barusan.
Ibra menyunggingkan bibirnya. "Buhaya dikibulin, hem ...."
Ha ha ha ... Zayn makin tertawa terbahak-bahak mungkin dia merasa lucu. Ibra menggeleng.
"Sudah puas? ketawanya." Tanya Ibra, ketika melihat Zayn menghentikan tertawanya.
"Sudah," sahutnya sambil memutar kemudi dan melajukan mobil dengan pelan.
Ketika mau keluar gerbang berpapasan dengan mobil Ibra yang di bawa pak Barko dan di tumpangi bu Rika.
Ibra menoleh dan menyapa. "Bu, baru pulang?"
"Maafkan saya, Tuan. Saya baru pulang, keasikan mengobrol dengan Susi dan nyonya muda. Lama tidak bertemu," ucap bu Rika yang sebelumnya mengangguk hormat.
"Oh, oke tak apa! saya mau ke sana. Oya, besok siang akan mengadakan rapat jadi siapkan untuk makan siang, uang belanja nanti saya transfer." Jelas Ibra.
"Oh, siap, Tuan." Jawab bu Rika.
"Jalan," pinta Ibra pada Zayn yang menunggu komando dari Bos nya.
Mobil terus melaju membelah jalanan yang sunyi dan dihiasi lampu-lampu yang menerangi jalan.
Makin lama mobil makin melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya. Sehingga waktu di jalanan terasa singkat, kini mobil Zayn sudah memasuki kompleks. Setelah berada depan rumah Laras mobil pun menepi.
"Hem ... tidak di suruh masuk dulu gitu? kasih minum kek, makan gitu," ucap Zayn sambil nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Sudah malam, lain kali saja oke?" gumam Ibra sambil bergegas membuka pagar.
"Huuh ..." dengus Zayn menatap punggung Bos nya, lalu memundurkan mobilnya. Memutar arah.
Ibra memasuki teras. Kemudian memegang hendle pintu yang kebetulan belum di kunci, ia masuk tidak lupa menutup dan menguncinya.
"Assalamua'laikum ..." ucap Ibra setelah langkahnya berada di ruang keluarga dan semua ada di sana sedang menonton televisi.
"Wa'alaikumus salam ..." jawab semuanya serentak.
"Baru pulang? Papa kira gak balik lagi ke sini," tanya pak Marwan. Menatap putranya.
"Iya Pa, aku sudah janji untuk balik lagi." Sahutnya Ibra sambil mendekati Laras yang duduk di sofa bersama Susi, kemudian Susi beranjak mempersilakan Ibra duduk di sebelah Laras.
"Oh, mobil mu mana? Mama gak dengar suara mobil mu sayang," tanya bu Rahma.
"Di mension, aku ... diantar sama Zayn," sahut Ibra sembari tersenyum pada sang bunda.
"Zayn nya mana? gak masuk," sambung bu Rahma mencari keberadaan Zayn.
"Dia ... sudah pulang, Besok pagi ke sini lagi jemput aku." lanjut Ibra, kemudian melihat sang istri yang belum mengeluarkan suara nya.
"Belum bobo sayang?" tegur Ibra meraih tangan Laras, lantas di cium punggung tangan itu.
"Belum," sahut Laras singkat.
"Sudah makan?" bisiknya tepat di telinga Laras.
"Sudah." Dengan lirikannya dingin. Ia agak kesal, bilang sebentar mau nganter pulang doang, sedangkan baru nongol jam berapa nih?
Ibra mengerti, kalau Laras kesal padanya. Tangan Ibra memeluk dan mengusap perut Laras, ingin Laras pindahkan tangan itu. Namun gak enak sama mertua, akhirnya Laras hanya diam saja. Tangan Ibra terus saja mengelus perut sang istri, sementara dagunya ia letakkan di bahunya.
Netra mata Ibra ikut mengarah ke televisi. Sesekali Laras menguap ngantuk. "Tuh ... ngantuk, bobo yu?" ajak Ibra pelan.
Laras tidak membalas, melainkan mengobrol dengan mertua.
"Sayang, Mama suka deh sama dengan artis itu," ucap bu Rahma menunjuk artis di televisi.
__ADS_1
"Aku juga ngefans banget Ma ... sama!" jawab Laras dengan menunjukkan senyuman di bibirnya itu.
Ibra duduk bersandar dan meraih bantal sofa, di peluknya. Kemudian memposisikan duduknya tegak dan berkata pada Laras, diawali menggenggam tangannya. "Sayang, aku lapar. Apa masih ada makanan?"
"Haa? belum makan," tanya balik dari Laras.
"Tadi sudah sedikit, lapar lagi," sahut Ibra kembali mengusap perutnya yang mengeluarkan suara.
"Ada, Tuan. Masih ada kok," sambar Susi.
"Ya, udah ... aku siapkan." Laras berdiri dan melangkahkan kakinya menuju belakang.
"Mah, Pah. Aku mau makan dulu," ucap Ibra sambil beranjak dari sofa. Mengikuti Laras yang duluan ke dapur.
Laras menyiapkan makan buat Ibra dan juga minumnya. Ia suguhkan di depan Ibra yang menarik kursinya lalu duduk di sana.
"Marah ya sama Abang?" gumam Ibra sambil menyuapkan makannya ke mulut.
"Nggak, gak marah!" sahut Laras sambil duduk di sebelah Ibra.
"Nggak marah, tapi cemberut gitu? tu bibir monyong nya bikin aku gemas, he he he ...."
Laras mencibirkan bibirnya. "Siapa juga? buat apa marah."
"Kali saja, marah sama Abang. Aku minta maaf ya? pulangnya telat." Ibra mengakui kesalahannya.
"Itu nyadar," gumamnya Laras sangat pelan.
"Apa?" tanya Ibra menoleh.
"Ah, nggak. Itu aku lupa sesuatu, sudah lewat sih." Elak Laras.
"Hem ..." mengulum senyumnya. Kemudian sedikit merubah duduknya menghadap Laras. "Beneran gak marah?" jemari Ibra mengelus pipi Laras.
Kedua netra mata mereka bertemu. Sesaat saling tukar pandangan dengan sangat dalam.
Kemudian, Laras menggerakkan matanya menjadi menunduk, tak kuasa lagi menatap tatapan mata Ibra. Ibra pun melanjutkan makannya sampai tandas.
Setelah makan, Ibra membasuh tangannya di wastafel. Laras membereskan bekas makannya Ibra, ia bawa ke wastafel untuk di cuci.
Namun Ibra ambil alih piring dan gelasnya. "Biar Abang aja yang cuci.Nyonya muda duduk aja di sini." Ibra menyeret tubuh Laras agar duduk manis di kursi.
Laras hanya tersenyum, melihat Ibra yang mencuci piring. Sesekali Ibra menoleh ke arah sang istri, Laras.
Usai mengelap tangannya, Ibra mengajak Laras untuk ke kamar, dia yang terlihat lelah dan berkali-kali menguap.
Tangan Ibra menuntun pergelangan Laras diajaknya ke kamar. "Apa mau aku gendong?"
Mata Laras bergerak melihat kanan dan kiri. "Tidak, aku bisa jalan sendiri." Laras tersipu malu.
Kini meraka sudah berada di tempat tidur dalam satu selimut. Laras menyandarkan kepalanya di dada Ibra. Sementara tangan Ibra mengelus kepala Laras.
"Maaf ya? aku gak tepat waktu pulangnya," cuph! mengecup lembut pucuk kepala Laras.
"Hem, gak pa-pa," gumamnya Laras.
"Besok, aku gak pulang ya? kebetulan ada rapat juga di mension." Kecupan hangat mendarat di kening sang istri.
"Oh, gak pa-pa!"
"Jawabnya gak pa-pa mulu, gak kangen apa?" tanya Ibra lirih.
"Nggak, ngapain. Kangen?" tanya Laras sambil mesem.
"Hem ... beneran gak kangen? hem gak kangen," Ibra menggelitik pinggang Laras, sehingga Laras menggeliat geli.
"Ah ... geli, Abang geli ..." menangkap tangan Ibra yang terus menggelitik.
Laras terkikik. "Ah ... pengen kencing. Aku pengen kencing. Sudah."
Ibra menghentikan aksinya. Lalu dengan sigap turun dan membungkukkan badannya, menggendong tubuh Laras dibawanya ke kamar mandi.
Laras terkesiap, dengan refleks merangkul pundak Ibra. "Bilang-bilang napa? biar aku gak terkejut." Kemudian menyusupkan wajahnya ke leher Ibra.
Setelah berada di toilet, Ibra turunkan tubuh Laras. Berdiri dekat dinding.
Laras mau jongkok tapi melirik Ibra yang masih berdiri di sana. "Sana keluar, aku mau pipis!"
Ibra menyeringai. "Nggak pa-pa, pipis aja. Jangan malu-malu, orang aku suami kamu," ucap Ibra sambil menunjukkan senyumnya ....
****
Hi ... apa kabar hari ini? semoga kabar baik dan ada dalam lindungan yang maha kuasa.
__ADS_1