Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Selir cinta


__ADS_3

Laras menoleh ke arah pintu. Kemudian ia hendak beranjak untuk membukanya.


"Sayang, biar aku aja," cegah Ibra sambil menutup laptop dipangkuan dan menurunkan kakinya.


Laras yang mengalihkan pandangan ke arah suami, mengurungkan niatnya tuk berdiri. Ia duduk kembali di depan cermin.


Setelah berada di depan pintu, Ibra memutar handle. Ia putar dan menariknya, ternyata yang mengetuk adalah Irfan. Berdiri di sisi depan pintu. Menatap ke arahnya.


"Pagi, Tuan? apa benar memerlukan tenaga saya." Irfan membungkuk hormat.


Dengan tatapan datar. Ibra mengangguk dan berkata. "Iya. Bawa kami ke makam yang tempo hari kalian datangi," balas Ibra.


"Baik, Tuan. Saya tunggu di mobil." Irfan memutar badannya lalu membawa langkahnya keluar.


Ibra menutup kembali pintu kamar, menghampiri sang istri berada. Meletakkan kedua tangan di kedua bahu sang istri. "Sayang, kapan berangkatnya?"


"Sekarang juga boleh," ucap Laras dengan sangat lirih. Matanya melihat pantulan wajah sang suami dari cermin.


"Baiklah." Ibra membantu istrinya berdiri dengan cara menarik pelan tangannya. Setelah berdiri Ibra malah memeluk tubuh sang istri walau perut buncitnya mengganjal di bagian depan.


Keduanya terkekeh, ketika menyadari perut buncit yang mengganjal pelukan mereka. Kemudian Ibra beralih posisi, berdiri di belakang tubuh sang istri namun tak sedikitpun melepaskan rangkulannya.


Kini Ibra memeluk dari belakang. Dengan leluasa membelai perut sang istri seraya mengajaknya berbincang. "Hai. Jagoan Papi, apa kabar hari ini? kamu masih betah saja di sana--"


"Sayang ... kan belum waktunya keluar, gimana sih?" ucapan Laras menyela perkataan Ibra.


"Iya, sayang," cuph! mengecup pipi sang istri. "Baik-baik ya di sana, jangan buat Mommy mu repot atau susah ya? Eh ... tahu gak, sekarang Mommy suka galak sama Papi. Kenapa ya?"


"Abang itu bertanya pada siapa? aku apa pada baby," mata Laras mendelik kasar.


"Tuh kan ... baru bicara gitu aja, mata Mommy sudah melotot. Papi jadi bingung deh sayang." Kini Ibra berlutut tepat didepan perut sang istri dan menciumnya dengan lembut.


Tangan Laras bergerak mengusap halus rambut Ibra. Dengan perasaan sayang yang kini ia rasakan pada lelaki yang jadi suaminya itu.


Jari Ibra menyingkap pakaian Laras di bagian perut. Agar dapat menjangkau langsung kulitnya, menempelkan pipi di permukaan kulit perut sang istri. "Papi gak mau kena marah terus Mommy sayang. Capek, apalagi sampai gak di kasih menjenguk mu. Papi tersiksa sayang. Banget, jangan buat Mommy betmut lagi ya? supaya Papi tenang."


Berkali-kali bibir Ibra memberi kecupan pada perut buncit itu. Membuat kedua kelopak mata Laras terpejam, merasakan lembab nya bibir sang suami dan membuat tubuhnya sedikit bergetar.


Laras terduduk kembali. Ibra masih dengan posisi yang sama, masih mengajak sang baby yang di dalam perut berinteraksi. Si baby pun bergerak melonjak-lonjak dengan lincahnya di dalam perut. "Ya ampun ... jagoan Papi lincahnya.


"Sakit ..." rintih Laras sambil nyengir.


"Kok sakit sayang?" selidik Ibra khawatir istrinya kenapa-napa.


"Itu, baby nya menendang-nendang perutku." Timpal Laras. Masih merintih.


Telapak tangan Ibra mengelus perut sang istri dengan lembut. "Tenang sayang ... kasian Mommy kalau kamu terlalu lincah, nanti Mommy kesakitan. Jagoan Papi yang ganteng tenang ya ... kasian Mommy." Seketika si baby pun tenang dan tidak terlalu lincah gerakannya. Wajah Laras pun tidak setengah tadi lagi.


Bibir Ibra senyum mengembang. Begitupun dengan Laras yang tersenyum dengan manisnya. Kemudian Ibra memberi kecupan hangat di perut sang istri lama ... bibirnya menempel di sana. Terus merapikan kembali pakaian Laras.


"Jalan sekarang gak hem?" tanya Ibra dengan sangat lembut. Ia berdiri di hadapan sang istri, tangannya memegang kedua tangan Laras.


"Ayo." Laras berdiri dengan tangan masih dalam genggaman Ibra.


Kemudian Ibra mengambilkan tas kecilnya. "Mau beli tas lagi gak sayang?" tawar Ibra setelah sadar kalau tas sang istri cuma satu.


"Tidak ah, nanti gak kepakai, sayang mubazir, mending satu aja tapi bermanfaat," sahutnya sambil menggeleng.


"Tapi, masa itu terus?" sambung Ibra sambil meraih dompetnya dimasukan ke saku celana.


"Nggak pa-pa. Lagian jalan keluar juga jarang." Timpal Laras kembali.


"Iya-iya." Ibra mengangguk pelan. Kemudian mereka keluar kamar. Berjalan menuju halaman di mana mobil terparkir. Namun sebelumnya pamit dulu pada bu Rahma yang sedang menyiram bunga di teras.


"Papa mana? Mah." Selidik Ibra celingukan mencari sang ayah. kebetulan di dalam pun tidak terlihat.


"Oh, Papa ke Depok ada urusan. Kalian mau ke mana?" tanya bu Rahma dengan tatapan penasaran.


"Kami, mau berziarah ke makam mertua Abang," sahut Ibra. Laras pun mengangguk menambahkan ucapan sang suami.


"Oh, ya udah. Hati-hati ya, jangan ngebut ya?" pesan bu Rahma mengangguk.


Setelah keduanya mencium tangan bu Rahma. Mereka pun memasuki mobil Ibra, yang di setir oleh Irfan. Seusai memasang sabuk pengaman. Mobil pun melaju dengan tujuan ke makam orang tua Laras.


Irfan yang sudah apal dengan jalannya tidak banyak bertanya lagi. Dengan fokusnya ia membawa mobil Ibra ke tempat tujuan.


Ibra dan Laras hanya diam tak ada pembicaraan sepatah katapun, kecuali tangan Ibra merengkuh bahu Laras. Membawanya ke dalam pelukan, Laras menenggelamkan kepalanya di bawah leher Ibra.


Sekilas mata Irfan melihat sang majikan dari kaca spion. Bibirnya tersenyum dengan mengembang, ikut bahagia dengan kebahagian sang majikan.


"Mau beli apa sayang? jajanan mungkin," tawar Ibra pada sang istri ketika melihat banyak jajanan di pinggir jalan.


Laras menggeleng. "Nggak ah, nanti saja pulang," ucapnya sambil makin menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


Senyum Ibra mengembang, hatinya bahagia sang istri makin dekat dengannya. Ibra pun makin merekatkan tangannya di pinggang Laras yang berisi itu.


"Oke, nanti aja kalau pulang. Bilang aja kalau mau beli sesuatu." Lalu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Laras yang di balut kerudung.

__ADS_1


Laras mengangguk, lalu memejamkan mata merasakan nyamannya di dalam pelukan sang suami. Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya mobil Ibra sampai di tempat tujuan.


Irfan memarkir mobil di tepi jalan yang tidak jauh dari pemakaman. Namun ia tidak bicara apapun. Setelah melihat sang majikan sama-sama terlelap tidur.


Setelah merasa mobil tidak bergerak Ibra membuka matanya, nengok kanan dan kiri. Di dadanya masih betah kepala sang istri bersandar.


"Di mana nih?" tanya Ibra sambil memicingkan matanya melihat ke arah Irfan.


"Sudah sampai, Tuan. Ini area pemakaman orang tua Nona muda." Irfan menyahut sambil meneguk minuman mineral.


"Oh, di sini?" Ibra mengedarkan pandangannya ke tempat sekitar.


Netra mata Ibra bergerak menuju sang istri yang masih tidur nyenyak. Cuph! mengecup pucuk kepalanya. Rasa gak tega untuk membangunkannya. Namun tubuh Laras bergerak juga. terutama kepalanya, membuka mata perlahan terpejam lagi lalu membuka lagi dengan lebar. Dan mendongak.


Jarinya menggosok matanya. "Sudah sampai ya?" tanya Laras dengan suara seraknya.


"Sudah," sahut Ibra sambil mengusap bahu sang istri. Mengambil botol minumnya. "Minum dulu sayang."


Laras duduk tegak dan meminum air mineral itu yang sudah Ibra buka sebelumnya. "Terima kasih?" gumam Laras.


"Hem." Ibra mengambil kaca mata hitam dan memakainya. Setidaknya terhindar dari silaunya sinar sang matahari. Tidak lupa dengan topi yang menutupi pucuk kepalanya.


Membuat penampilan Ibra begitu berbeda. Ganteng, ditambah lengan baju yang di lipat ke siku. Sebelum turun, mata Laras malah tak berhenti memandangi sang suami yang tampak beda. Kesan serius dan berwibawa memudar, berganti dengan penampilan yang lebih santai dan menawan. Namun tetap kul.


Pintu mobil terbuka dari tadi. Dan Ibra berdiri di sana sedikit membungkuk. "Sayang ... ayo turun. Lihat apa sih?" ucap Ibra sambil celingukan.


Laras menggercapkan matanya. Lalu mengulum senyumnya setelah sadar kalau Ibra sudah menunggu. "Oh, iya."


Laras turun dan berjalan di gandeng sang suami sekaligus memayungi Laras dari sengatan matahari. Setelah sampai di pusara orang tua Laras. Ia duduk diantara makam sang bunda dan sang ayah.


"Ini makam Bapak dan Ibu." Lirih nya Laras pada Ibra.


Ibra pun berjongkok di samping sang istri. Dan langsung memanjatkan doa untuk sang mertua. Begitupun Laras, ia berdoa dan mengusap batu nisan sang bunda.


"Bu, Laras datang. Bersama suami Laras. Maaf baru bisa datang sekarang. Laras baru sempat membawanya sekarang." Lirihnya Laras sesekali mengusap air bening yang mengalir di pipinya.


Ibra mengusap bahunya. Menguatkan sang istri, di balik kaca mata hitamnya. Ada mata yang berembun di baliknya. Hatinya berasa terhiris mendengar curahan hati Laras.


Ibra merasa bersalah. Toh dia yang salah selama ini tak berinisiatif untuk berziarah ke tempat ini.


"Aku yang salah. Tak berpikir dan tak ingat sama sekali kalau istriku ini punya orang tua, mungkin aku mantu yang kurang ajar. Aku egois tak mengerti atau tak memahami perasaan istriku." Ibra akhirnya bergumam juga.


Laras mendongak mendengar Ibra bicara seperti itu. Menatap penuh tanda tanya.


"Aku minta maaf. Belum bisa membuat putri mu bahagia, sampai detik ini aku masih membuatnya kecewa. Menyakiti hatinya." Ibra menunduk, kemudian mengalihkan tatapannya pada Laras yang diam-diam menatap ke arah dirinya.


"Dulu, aku menikahinya hanya kerena istri ku yang memintanya, tapi lama-lama aku menyadari kalau aku mencintainya. Dan akan menjadikan istri satu-satunya. Aku gak bisa berjanji, namun aku akan buktikan kalau aku sangat mencintai putri mu dengan tulus. Bukan semata-mata karena ia kini tengah mengandung benih ku."


"Apapun yang terjadi. Aku akan menjaganya dengan sekuat dan semampu ku, kini kami sedang menunggu kehadiran cucu mu. Semoga Allah memberikan kelancaran pada lahirannya nanti." Ibra mengusap kedua batu nisan itu.


"Sudah. Pulang yu?" ajak Ibra pada sang istri yang mengusap-ngusap tangannya di permukaan pusara sang bunda.


"Bentar lagi," suara Laras dengan sangat lirih. Tangannya memeluk batu nisan sang bunda.


Sejenak Ibra membiarkan sang istri masih berada di sana. Beberapa waktu kemudian Ibra merangkul bahu sang istri. Diajaknya berdiri. "Sudah. Lain kali kita bisa datang lagi ke sini, menemui beliau."


Netra mata Laras menatap sendu pada Ibra. Namun tak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, tangannya digandeng sang suami diseretnya untuk pulang.


Walau kakinya melangkah menjauhi tempat tersebut. Namun matanya sesekali menoleh ke belakang. Ibra mendorongnya masuk ke dalam mobil. Di kasihnya minum.


Entah kenapa perasaannya bercampur aduk. Tak menentu dan sulit untuk diungkapkan.


Ibra bergumam dengan lembut. "Kita pulang, sayang. Lain kali kita datang lagi ke sini. Oke?"


Laras mengangguk. Kemudian menunduk mengusap pipinya dengan tisu. Jari Ibra mengangkat dagu Laras, ia usap kedua pipi sang istri yang basah itu. Kemudian mengecup singkat kedua pipi itu.


"Sudah. Jangan nangis lagi, ada aku di sini hem." Mendaratkan ciuman hangat di kening. Lalu membawa kepala Laras ke dalam pelukan. Laras pun menikmati perlakuan sang suami.


Sejenak mereka terdiam. Irfan masih menunggu komando dari sang majikan, untuk jalan pulang atau diam di tempat. Akhirnya mata Ibra menoleh ke depan, dimana Irfan menunggu perintah darinya.


"Jalan, Fan." Sebelumnya tidak lupa mengenakan sabuk pengan.


"Baik, Tuan." Irfan mengangguk dan langsung menyalakan mesin. Lalu melajukan mobil Ibra menjauhi tempat tersebut.


Seperti yang di janjikan tadi. Ibra kembali menawarkan membeli sesuatu. Kebetulan sudah masuk waktu makan siang.


"Sayang, mau membeli apa hem?" tanya Ibra dengan suara lembut.


Laras menoleh Ibra. Seraya mengerutkan keningnya. "Panas gini enak kali ya makan as krim," gumam Laras, lalu melihat keluar jendela.


"Boleh. Tapi makan dulu ya, oke?" Ibra mengusap pucuk kepala sang istri dengan senyuman manisnya. Di balas dengan anggukan.


"Cari restoran dulu Fan." Pinta Ibra pada Irfan yang langsung mendapat respon dengan anggukan.


Mobil terus melaju hingga akhirnya menemukan restoran cepat saji. Mobil menepi memasuki tempat parkir.


Ibra turun duluan sambil menggandeng tangan Laras. Laras pun mengikuti langkah suaminya yang lebar.

__ADS_1


Ibra menoleh ke arah Irfan. Ayo Fan, kita makan?"


"Em, saya biar di rumah saja, Tuan," sahut Irfan segan makan bareng majikan di resto. Lagian Laras juga ada yang jaga ya itu suaminya.


"Mas, masa Mas Irfan di sini, sementara kita makan di dalam. Ayo." Ajak Laras menghentikan langkahnya dan menoleh Irfan.


Irfan, sejenak berpikir. Gak enak juga menolak permintaan sang majikan. "Baiklah." Ia turun dari mobil mengikuti langkah keduanya.


Ibra memilih duduk di tempat yang agak sepi. Mereka berdua pun duduk dengan santai, sementara Irfan duduk sendiri di meja yang beda. Di sebelahnya.


Ibra dan Laras memilih beberapa menu dan penutupnya es krim khusus buat bumil. Ibra menoleh ke arah Irfan. "Fan, kamu pilih sendiri mau makan apa?" dan Irfan pun mengangguk.


"Kamu tampak lebih tembem sayang." Mengusapkan jarinya di pipi sang istri yang semakin gemuk.


"Iya, emang. Udah naik berapa kilo nih, makanya berat. Mudah capek juga. Gimana kalau nanti habis melahirkan tambah melar, iiy ..." kedua bahu Laras bergidik.


Ibra tersenyum lucu. "Nggak lah. Kalau di rawat gak bakalan melar sayang. Pasti bisa seperti semula lagi, lagian banyak obat juga dan olah raga.


"Mana sempat aku olah raga? ngurus anak lah." gumamnya Laras sambil menyedot minumnya.


"Sayang ... emangnya 24 jam ngurus anak, nggak lah. Ada baby siter yang akan membantu mu dalam menjaga anak! jadi pasti ada waktu juga untuk merawat diri. Apalagi kalau tinggal di mension salon pun ada di dalam, kamu gak usah jauh-jauh ke salon." Lagi-lagi mengelus pipi sang istri.


"Nggak mau ah, biar sekali-sekali aja ke sana dan merawat diri di sana. Tinggal di sana gak mau." jelas Laras sambil menggeleng.


Ibra mengernyitkan keningnya. "Emangnya kenapa sih gak mau tinggal di sana lagi? gak ada siap-siapa sayang, istri Abang cuma kamu."


Laras menggeleng. "Nggak mau, jangan paksa aku tuk tinggal di sana. Kalau cuma untuk menginap satu atau dua malam sih boleh, aku mau. Tapi kalau untuk tinggal lagi gak mau, lagian rumah yang di sini sayang gak ada yang rawat. Aah ... pokonya gak mau, nginep boleh." tegas Laras sangat lirih dan lembut.


"Oke-oke, jadi kalau malam ini kita nginep di mension mau?" tanya Ibra sambil mencondongkan wajahnya ke dekat Laras.


Laras menganggukkan kepalanya. "Mau."


"Oke, kita bermalam di kamar pribadi ku saja, gak ada seperti dulu. Kamar siap-siapa, sekarang hanya ada satu kamar kita." Ibra bahagia. Dan memberi kecupan singkat di kening sang istri.


Pesanan pun datang, keduanya langsung melahap makanan yang tersedia. Begitupun Irfan di meja satunya.


"Jadi kita pulang, langsung ke mension ya?" ajak Ibra penuh harap. Di sela makannya.


Laras mengangguk. Tanda mengiyakan permintaan sang suami. Ibra mengembangkan senyumnya, wajah Ibra sangat tampak sumringah mengukir kebahagiaan.


Netra mata Laras menatap lekat sang suami yang bertopi, kaca mata hitam menggantung di kerah baju. Di mata Laras hari ini Ibra tampak lain dan sangat tampan.


"Kenapa menatap begitu?" selidik Ibra. Alisnya dinaik turunkan.


"Ah, nggak. ayo makan?" elak Laras menunjuk makanan di meja.


Makan masih setengahnya. Laras langsung melahap es krim.


"Sayang, makanannya habiskan dulu. Mubazir." Ibra menatap sang istri yang menikmati es krimnya.


"Abang aja yang habiskan ya-ya? aku dah kenyang." Dengan nada manjanya.


"Hem ... nanti aku gendut lah. Banyak makan gini." Ibra menghela napas.


"Dari pada mubazir, kan?" Laras menyodorkan makannya ke depan suaminya. "Nggak di acak-acak kok."


Acara makan pun selesai. Kini waktunya pulang. Ibra menggandeng tangan Laras. Berjalan bersamaan, banyak pengunjung wanita yang berbisik.


"Eh, itu kan CEO Malik Ibrahim." Ketiga wanita itu mengangguk.


"Ya, ampun ... ganteng banget. Mau dong jadi istrinya. Di madu pun aku mau."


"Iya nih, sudah ketara banget nih laki tajirnya. Mana cakep banget. Ya Tuhan ... pake bodyguard segala. Mau lah jadi selingkuhannya."


"Aku mau deh. Jadi istri yang ke sekian, rela jadi selir cintanya, apalagi di saat istrinya hamil besar begitu. Mati aku. terpesonanya aku ..."


Begitu bisik-bisik wanita-wanita muda yang jelas sampai ke telinga mereka. Ibra berhenti berjalan dan mengenakan kaca mata hitamnya, agar sedikit menutupi wajahnya.


Hati Laras mulai terbakar api cemburu. Ia menoleh ke meja yang ada wanita muda, barusan berkicau. Langkahnya berbalik.


"Sayang ayo pulang?" ajak Ibra sambil memegang tangan Laras yang langsung Laras lepaskan.


Langkah Laras terhenti di dekat meja wanita-wanita itu. "Maaf barusan bicara apa ya? kalian terpesona dengan ketampanan lelaki itu?" jari Laras menunjuk ke arah Ibra.


Wanita-wanita itu terkesiap, tak menyangka kalau Laras akan menghampiri mereka berempat.


"Kalian mau jadi istrinya. Mau jadi selingkuhan dia? kalian mau dijadikan selir cinta oleh nya?" selidik Laras dengan santainya.


"Kalian mau seperti yang aku katakan barusan. Karena apa ya? tampan, ganteng. Kaya, karena dia seorang CEO, yang kalian pikir hidup kalian akan selalu enak dan bergelimang harta?"


"Iya lah, siapa yang gak mau hidup mewah seperti itu," sahut salah seorang wanita itu.


"Aku mau tanya pada kalian semua. Jika, pria itu bukan seorang CEO. Dan kalian pikir kalau dia itu orang miskin, sekalipun wajahnya tampan. apa kalian masih mau menggodanya? apa kalian masih mau memilikinya?"


Wanita tersebut saling menggeleng dan bergumam. "Mana mau lah. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki miskin. Walau tampan dan ganteng, emangnya bisa kenyang dengan ******* ketampanannya? gak lah."


Laras tersenyum merekah. "Satu lagi, sekalipun aku sedang hamil besar. Aku pastikan, aku masih bisa kok melayani suami ku dengan baik. Bahkan memuaskannya." Senyum Laras sangat puas. Telah skak mat wanita-wanita itu yang berwajah semu merah. Entah malu entah apalah ....

__ADS_1


****


Apa kabar reader ku malam ini, pada baik, kan? oya sudah baca kan? Episode SKM malam ini. semoga puas ya, dan mana nih bentuk dukungannya. Biar aku tambah semangat🙏


__ADS_2