
Untuk sekedar menyapa ....
Hi ... Assalamu'alaikum ... apa kabar reader ku semua semoga disaat ini kalian ada dalam lindungan sang maha pencipta.
Yang sehat selalu diberi kesehatan. Yang sakit diberi kesabaran dan cepat disehatkan, yang sedang dalam kesulitan diberi kemudahan. Yang sedang mengalami masalah segera dikasih jalan keluar. Dan yang merasa sempit diberikan kelapangan.
Dalam kesempatan ini iku mau promosikan karya aku yang insya Allah kalian akan menyukainya. Yaitu yang berjudul "Mencintai Ibu Angkatku"
Karya yang berjudul "Bukan Suami Harapan" yang beberapa bulan ini aku tulis akan segera tamat dan sebagai penggantinya yaitu "Mencintai Ibu Angkatku" dan semoga kalian suka dan ... mohon doanya juga semoga karya ku ini akan lebih populer, 🤠ngarep aku🤠tapi Aamiin kan saja lah.
👉 ini mengisahkan seorang pemuda yang ingin mengejar mimpi dan dibantu oleh seorang wanita yang terbilang masih muda. Membiayai pemuda tersebut sampai mencapai impiannya.
Inilah penggalan kisahnya👇
Di suatu tempat ruang tunggu, Arya tengah duduk santai memandangi orang-orang yang hilir mudik. Yang mau take up maupun yang baru landing. Arya sengaja berada di bandara ini untuk mengikuti kata hatinya yang ingin ke sana dan siapa tahu dapat bertemu Fatmala yang beberapa hari ini di luar kota.
Di tengah tertegun dan melamun tiba-tiba saja netra matanya menemukan sosok wanita yang ia rindukan. Beberapa kali Arya menggeleng kan kepalanya kali saja ia salah lihat tapi itu benar. Fatmala berjalan bersama asisten pribadi yang sama-sama menarik kopernya masing-masing.
Arya berdiri dan segera menghampiri Fatmala yang berjalan agak cepat serta tampak lebih sibuk dengan ponsel di tangan.
"Iya-iya, ck. Kenapa bisa macet sih? ya sudah mungkin saya akan naik taksi saja." Kalimat Fatmala diujung teleponnya.
__ADS_1
Kemudian langkahnya terhenti ketika melihat Arya yang tepat dihadapannya. "Kamu?"
"Iya, saya. Selamat malam Kak, baru pulang ya?" balas Arya dengan senyuman ramahnya.
Manik mata Fatma bergerak celingukan. "Kamu ... sedang tugas atau--"
"Tidak, saya cuma main-main saja eh ... kebetulan sekali bertemu di sini dengan mu." Arya mengangguk, wajahnya tampak sumringah.
"Ooh. Pantas pakaiannya santai gak terlihat sedang kerja." Fatma mengangguk dan menunjukan senyuman teduhnya pada Arya bikin yang melihat tertegun dan terpesona.
"Nyonya, saya pesankan taksi dulu buat Nyonya. Silakan duduk dan menunggu." Kata Asistennya sambil menunjuk pada sebuah kursi.
"Ooh, gak ada jemputan Kak?" selidik Arya sebentar melihat wajah Fatma lalu menunduk.
"Iya, jemputan ku terjebak macet di perjalanan ke sini. Entah jam berapa sampainya." Keluh Fatma.
"Em ... kalau gitu pulang sama saya aja gimana? tapi saya cuma ada motor, bukan mobil. Yang kalau hujan? kehujanan--"
"Dan kalau panas? kepanasan! gitu, kan?" Fatma memotong kalimat yang Arya ucapkan.
"Eh, kakak tahu itu." Arya memperlihatkan senyuman di bibirnya. Sesaat pandangan keduanya bertemu lalu detik kemudian sama-sama menundukkan pandangannya itu ke bawah.
__ADS_1
"Gimana Kak? mau saya antar pulang?" tanya Arya mengulang pertanyaannya.
"Em ... mau sih, emang gak keberatan atau gak mengganggu kamu ya?" ungkap Fatma takut mengganggu.
"Ooh, tentu tidak Kak. Tadi aku sudah bilang di sini cuma main-main jadi gak ada yang penting kok." Arya meyakinkan, lalu mengambil koper Fatma dari tangannya.
"Tapi, itupun kalau Kakak sendiri gak risih naik motor?" tanya Arya ragu.
"Sebenarnya. Kamu niat nganterin gak? kok tanya terus?" Fatma menatap lekat membuat Arya salah tingkah.
"Em-em ... niat banget. Cu-cuma gak enak saja takut minder gitu." Arya tampak gugup ditatap lekat oleh Fatma.
"Ya, udah ... kalau memang niat, yu?" ajak Fatma sambil membawa langkahnya lebih dulu.
Fatma pamit sama asistennya. Dan menyuruh membatalkan taksinya. Arya menarik koper Fatma sambil mengulum senyuman. Jantungnya dag Dig dug tak menentu. Hatinya bergetar disaat berdekatan dengan Fatma.
"Aduh, beneran gak pa-pa naik motor ini?" tanya Arya ragu.
"Udah ah, gak jadi saja. Capek nanya mulu" Fatma pura-pura melengos ....
__ADS_1