
"Paman mau punya mantu La," ucapnya dengan wajah yang melukiskan kebahagiaan.
Laras sangat antusias. "Oya? Jodi mau menikah, kapan, sama siapa?"
"Jodi mau melamar Caca!" melirik sang suster yang ada di sampingnya.
"Ya ampun ... ternyata ... semoga kalian bahagia. Aku doa kan, masya Allah, aku turut bahagia sekali," ungkap Laras. Matanya berbinar menggambarkan kebahagiaan.
"Aamiin, makasih?" ucap Caca sambil menunduk malu.
"Mereka itu nanti sore akan ke tempat Caca, menemui sekalian melamar. Semoga aja tak ada kendala, dilancarkan lah," harap pak Mulyadi.
"Oh, iya Paman. Semoga lancar, Paman mau ikut?" selidik Laras menatap sang paman.
"Tidak, Paman di rumah saja. Lagian Jodi dan Caca akan segera kembali, sebab Caca akan terus merawat Paman," ujar pak Mulyadi kembali.
"Oh, gitu. Semoga lancar ya Allah. Aku turut bahagia mendengarnya Paman, suster Caca titip Jodi ya?" mengalihkan pandangan pada Caca yang tersipu malu.
"I-iya, insyaAllah." pada akhirnya Caca mengangguk.
Setelah beberapa waktu berbincang. Muncul bu Rahma dan duduk bersama Laras.
"Ini loh, Mah ... Jodi mau melamar suster Caca." Laras menoleh ke arah sang mama mertua.
"Oya, wah ... selamat ya? semoga bahagia lancar pula acaranya. Jangan lama-lama tunangannya bila perlu langsung menikah."
Perkataan bu Rahma sedikit menyindir hati pak Mulyadi. Seakan mengingatkan kisah yang lalu. Netra mata pak Mulyadi menatap ke arah bu Rahma, namun dia tak sedikitpun menoleh.
"Em, rencananya emang gak ada tunangan Tante. Mau langsung menikah saja," ucap Caca kemudian menunduk dalam.
"Bagus itu, bukan apa, takut banyak duri nya. Apa lagi Nak Jodi rupawan wajahnya. pengusaha juga, otomatis pasti banyak yang ngincar. Mending kalau kuat tak tergoda," sambung bu Rahma tak segan-segan bicaranya dengan sangat lantang.
"Iya, Tante." Caca mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dan setuju dengan pendapat bu Rahma.
Pak Mulyadi terdiam seribu kata. Ia merasa salah tingkah dan tersindir dengan yang ia lakukan dulu.
Laras pun tertegun, mempunyai rasa kalau ucapan sang mama mertua menyindir sang paman, terlihat dari raut wajah pamannya yang memerah. "Aduh, sindiran keras nih." Batin Laras, ia tampak kaku.
"Oya, aku mau lihat baby Satria dulu ya? siapa tahu bangun, sebentar aku tinggal dulu Paman." Langsung berdiri, berjalan menuju kamarnya.
Orang-orang yang di sana hanya mengangguk pelan, sebagai balasan dari ucapan Laras.
__ADS_1
Caca pun berdiri. Pamit ke toilet sebentar, meraih tas. Menuntun langkah kakinya ke toilet yang berada di dekat dapur.
"Kenapa harus bahas itu? itu cuma masa lalu yang tidak seharusnya di bahas lagi." Suara pelan Mulyadi setelah Caca pergi.
Seketika bu Rahma menoleh dengan tatapan heran. "Kenapa bicara seperti itu? kamu tersindir atau merasa? Aku cuma berpesan pada Caca atau kalau ada Jodi nya di sini, aku ngomong sama Jodi langsung, bukan pasal masa lalu. Cuma supaya terhindar dari kejadian seperti itu, bukan nyindir! perasa banget jadi orang." Jelas bu Rahma, santai.
Mulyadi tak lagi berkata-kata, apalagi melihat Laras datang dengan baby boy di dalam gendongan.
"Kakek, Oma. Aku dah bangun, mau bermain sama kalian," ucap Laras sambil mendudukkan dirinya di tempat semula.
"Eh ... cucu Oma sudah bangun, huh ... matanya masih ngantuk ya? iya masih ngantuk Oma." Bu Rahma langsung menyambut baby Satria.
Begitupun pak Mulyadi pada akhirnya tersenyum dan meminta Laras meletakkan baby boy di pangkuannya. Laras pun segera mengabulkannya. Kini keduanya sibuk mengajak baby boy bermain dan membuatnya tertawa.
Laras memperhatikan ketiganya dengan senyuman yang menghiasi bibir. Berebut mengasuh baby boy lebih baik, ketimbang saling menyindir tentang masa lalu yang hanya akan menjadikan suasana menegang dan Kaku. Mendingan mencair seperti ini.
Caca kembali dari toilet, dan langsung memburu baby boy. "Ah, baby boy dah bangun. Si ganteng dah bangun nih, ih gemes ..."
Setelah ada beberapa jam, akhirnya pak Mulyadi dan Caca berpamitan, namun sebelum mereka pergi, Laras mengutarakan niatnya yang akan mengadakan acara akikahan dan 40 harinya baby boy. Dan akan dilaksanakan nya di mension dalam beberapa hari lagi, diharap pak Mulyadi datang bersama keluarga.
Pak Mulyadi pun mengiyakan, dan berjanji akan datang bersama Jodi dan Caca. Tentunya ia tidak akan menyia-nyiakan kebersamaan mereka lagi. Sudah cukup dulu terpisah, sekarang akan lebih direkatkan lagi tali kekeluargaan mereka sebagai keluarga.
Mobil pak mulyadi menghilang. Datanglah mobil travel yang membawa by panti dan dua anak-anak. Laras langsung menyambut dengan bahagia, mereka berpelukan sangat erat.
Bu Rahma pun menyambut gembira sambil menggendong baby boy. "Ayo masuk-masuk."
Bu panti langsung mengambil baby boy dari tangan bu Rahma, menumpahkan rasa rindunya pada si kecil yang menatap kurang kenal. Tidak seperti dengan bu Rahma yang tiap hari bertemu.
"Baru saja, paman Mulyadi dari sini. Padahal beliau ingin bertemu sama Ibu," ucap Laras pada bu panti yang sedang mencurahkan rasa rindunya pada Satria.
"Oya, gak kebetulan sekali ya?" sahutnya.
"Nanti saja, di acara 40 hari baby boy, kalian insyaAllah akan bertemu. Asal kalian semua datang ke mension, datang ya Bu?" harap Laras menatap ke arah bu panti.
"InsyaAllah, kalau ada umur. Sehat, Kami pasti datang ke sana. Gak mungkin kami tak datang, pasti datang kok."
"Makasih, Bu?" ucap Laras sangat senang sekali.
Laras berbincang bersama bu panti dan bu Rahma. Sementara anak-anak dua bermain di kolam renang. Kemudian Laras beranjak mau membereskan barang baby boy di kamar yang mau dibawa ke mension.
Biar baby boy di asuh dua omanya itu, bu Rahma dan bu panti yang sangat antusias serta tampak menyayangi baby Satria.
__ADS_1
****
Jodi tengah bersiap-siap untuk ke tempat orang tua Caca, bersama Caca sendiri. Beberapa paket buah dan buah tangan lainnya sudah nangkring di bagasi mobil.
Caca masih mengurus pak Mulyadi dengan memberikan nya obat. Kemungkinan akan kembali itu nanti malam.
"Yah, aku pamit ya? kalau butuh sesuatu panggil saja mbok Darmi atau asisten lainnya. Mereka yang akan melayani Ayah. Selagi aku dan Caca belum kembali. Tapi malam juga kami pasti balik," ucap Jodi sambil melirik ke arah Caca yang langsung mengangguk pelan.
"Kalian jangan khawatirkan Ayah. Ayah akan baik-baik saja, kalian saja yang hati-hati, oya kalau kalian mau menginap barang satu malam. Tak apa, kalian gak perlu cemaskan Ayah," ujar oak Mulyadi menatap Jodi dan Caca bergantian, dengan tatapan lekat.
"Em ... gimana nanti saja, lihat situasinya gimana," ucap Jodi sambil berdiri. "Bisa pergi sekarang?" mengalihkan pandangan pada Caca yang meraih tas sorennya..
"Boleh." Jawab Caca singkat.
"Yah, aku berangkat dulu. Mohon doa nya?" Jodi mencium punggung tangan sang ayah.
Diikuti oleh Caca, juga mencium tangan pak Mulyadi. "Caca pergi dulu."
"Tentu, Ayah doakan semoga lancar dan selamat. Hati-hati Nak?"
"Iya, Ayah. Baik-baik di rumah, Mbok titip Ayah lagi." Jodi melihat mbok Darmi yang baru datang.
Mbok Darmi menatap lekat, lalu seketika mbok Darmi tersenyum. "Iya, Den jangan khawatir, Mbok akan selalu menjaga dan melayani Tuan, seperti masih di Semarang." Mengangguk hormat.
"Baiklah, yu?" Jodi dan Caca berjalan beriringan dan Jodi menyilakan Caca berjalan di depannya.
Mbok Darmi mendorong kursi pak Mulyadi untuk mengantar Jodi ke teras, kemudian melambaikan tangan pada putranya yang pergi bersama Caca, meninggalkan rumah mewah tersebut.
Pak Mulyadi dan mbok Darmi kembali ke dalam rumah, bahkan langsung ke kamar. "Antar saya ke kamar." Pinta pak Mulyadi.
Darmi tersenyum senang sambil terus mendorong kursi sampai di kamar, membantunya berdiri dan naik ke atas tempat tidur. Mbok Darmi memutar badannya, mengunci pintu. Kemudian kembali menghampiri pak Mulyadi, naik merangkak berbaring dan meletakkan kepalanya di dada pak Mulyadi.
"Aku selalu menantikan saat-saat seperti ini, Mas," gumamnya mbok Darmi.
Tangan pak Mulyadi memeluk bahu mbok Darmi erat. "Bersabarlah sampai waktunya tiba."
''Sampai kapan?" dengan suara manja. Menatap lekat. Lama keduanya saling tatap dan tanpa terasa wajah Darmi mendekat ....
****
Hi ... apa kabar hari ini reader ku? semoga baik semua ya, selalu ada dalam lindungan yang maha kuasa. Terima kasih atas dukungan kalian🙏
__ADS_1