Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Nikah siri


__ADS_3

Laras dan Ibra saling menjauh. Laras berjalan ke menuju box baby, sementara Itu Ibra mengambil jam tangan dari laci lalu mengenakannya. Lantas berjalan menuju pintu.


Blak!


Ketika pintu terbuka tampak pria tegap dan tampan berdiri menghadap pintu. Raut wajahnya melukiskan senyuman.


"Tidak asing lagi, bisa gak gak mengganggu gitu. Setiap aku ada acara pribadi pasti deh ada gangguan, heran jadinya." Gerutu Ibra.


Sesaat Zayn terdiam mencerna maksud ucapan Ibra. "Ha ha ha ... sorry Bos. Habis sudah jam sarapan nih. Belum turun juga." Menunjuk jam tangannya.


"Heh ... bentar ngambil laptop dulu." Ibra kembali masuk.


"Sayang?"


"Iya, sarapan dulu." Laras menggendong baby boy untuk dibawanya ke tempat makan.


"Sini, Om gendong?" Zayn meminta baby boy dari Laras.


"Hati-hati Om," ucap Laras seraya memberikannya.


Ketiganya berjalan berbarengan. Ibra menuntun tangan Laras dan Zayn menggendong baby boy.


Sepanjang berjalan, Zayn mengajak baby boy mengobrol dan anak itu terus tertawa.


Sesampainya di meja makan, Zayn sama Susi ribut. Rebutan baby boy. Sampai kucing-kucingan lari sana lari sini. Membuat yang ada di sana menggeleng, pusing melihatnya. Justru Laras dan Ibra juga kedua orang tua Ibra merasa cemas. Takut baby boy terjatuh atau apa.


"Zay ... gimana sih? tadi ngajak sarapan. Takut kesiangan, sekarang malah bercanda! mau sarapan gak?" Ibra menoleh ke arah Zayn.


Ibra sendiri sudah mulai makan sepiring berdua dengan sang istri. Sesekali saling menyuapi, bak sepasang pengantin baru.


"Baby boy nya kasih Susi aja Om, si Om nya sarapan dulu!" perintah Laras.


Zayn menoleh dan memberikan baby Satria pada Susi. "Titip anak kita ya? di sayang loh jangan di galak. Nanti saya pecat jadi istri."


Susi melotot. "Apaan sih? siapa juga yang ingin jadi istri mu, ogah."


"Boda amat, apa kata mu Nona." Zayn berlalu lantas duduk di kursi yang ia tarik. Lanjut sarapan dengan lahap.


"Papa juga ada pertemuan hari ini, tapi paling sebentar." Pak Marwan melirik sang istri.


"Iya, Pa ... kan semalam sudah bilang." Timpal bu Rahma.

__ADS_1


"Takut lupa sayang ku." Lanjut pak Marwan.


"Kapan berangkatnya Pa?" tanya Ibra sambil meneguk minumnya.


"Sekitar pukul sepuluh," sahut sang ayah.


"Em, ya sudah. Aku berangkat dulu." Ibra berdiri sambil mengambil tisu untuk mengelap? mulutnya.


Zayn juga berdiri dan dan meraih yas laptop Ibra. Lantas Ibra berjalan menghampiri Susi yang sedang menggendong baby Satria.


Ia menimang-nimang sebentar mencium baby boy berkali-kali ciuman yang penuh kasih sayang. "Yang anteng di rumah ya sayang, jagoan Papi."


Ibra kembalikan pada Susi. Detik kemudian membalikkan tubuhnya. Berhadapan dengan Laras. "Nanti hati-hati ya sayang, jangan lupa kabari aku."


Dengan refleks Laras mengangguk dan memeluk Ibra sejenak. "Abang juga mata-mata. Semoga urusannya dilancarkan."


"Aamiin. Makasih sayang." Ibra mendaratkan kecupan hangatnya di kening sang istri. Kemudian pelukan pun memudar. Laras meraih tangan Ibra lalu diciumnya.


"Sudah, gak usah nganterin ke bawah. Aku pergi dulu ya sayang, jangan lupa nanti kabari aku." Ibra berpamitan pada kedua orang tua nya. Setelah itu berjalan tegap menyusul Zayn yang sudah duluan turun.


Kedua netra mata Laras menatap langkah sang suami dan membalas lambaian tangannya. Setelah hilang dari pandangan.


"Baik Nyonya." Susi menuruti perintah sang majikan. Ia makan bareng asisten lainnya dan ada Irfan di sana yang sudah bersiap untuk pergi.


"Mas Irfan sarapan dulu. Nanti masuk angin." Laras menghampiri Irfan sambil menggendong baby boy.


"Sayang, kamu belum siap-siap! sini baby boy nya sama Mama?" langsung mengambil dari tangan Laras.


"Gimana semalam anteng atau rewel? tapi sepertinya baby Satria anteng nih." Lanjut bu Rahma.


"Alhamdulillah anteng Ma ... bangun-bangun sekitar pukul tiga dini hari. Bobo lagi menjelang subuh."


"Hem ... cucu Oma sudah mandi. Sudah wangi. Cucu Oma. Anteng? masya Allah ... Soleh nya cucu Oma ini." Bu Rahma sangat gemas pada baby boy.


"Sepertinya sudah ngantuk lagi tuh Ma ... bentar lagi juga pasti bobo lagi," ucap Laras melihat baby boy yang menguap.


"Iya, biar bobo dulu dalam pangkuan Oma, kamu siap-siap aja dulu." Suruh bu Rahma pada mantu kesayangannya.


Laras bergegas berjalan menuju kamar untuk menyiapkan diri sebab tidak lama lagi akan berangkat acara sosial.


****

__ADS_1


Semenjak pulang dari kediaman Ibra dan Laras, pak Mulyadi hatinya selalu gusar dan senang. Gusar penuh sesal? sebab mengingat masa lalu. Merasa senang? sebab ternyata yang mengurus Laras selama ini adalah Rosa.


Begitupun Jodi. Ia sibuk mengumpulkan bukti-bukti tentang mbok Darmi dan sang ayah. Jodi tengah berada di ruangan kerjanya yang berada tidak jauh dari kamar pribadinya.


Kedua mata nya sibuk menatap layar laptop, membaca laporan sari tangan kanannya melalui email itu. Kepalanya mengangguk-anggukan dengan sedikit mengeratkan giginya.


"Jangan sampai ayah terus kena bujuk rayu wanita ular itu. Tidak akan ku biarkan itu terjadi, aku harus menjaga aset ayah yang tinggal setengahnya lagi itu. Harus di jaga." Gumamnya Jodi.


"Rupanya mereka sudah menikah siri. Tapi kenapa gak bilang sama aku atau adek ku?" tanya Jodi dalam hati sungguh ia tak habis pikir.


Di belakang. Pak Mulyadi dan Caca tengah belajar berjalan mengunakan tongkat serta hasilnya sudah agak lebih baik lagi.


"Ayo, semangat lagi biar bisa lepas dari kursi bahkan dari tongkat sekalipun. Ayo lebih semangat lagi." Caca memberi semangat penuh pada calon mertuanya itu


Sampai akhirnya pak Mulyadi bisa berjalan dengan tongkat. Wajahnya tampak sumringah dan mata pun berbinar bahagia.


"Bagus-bagus sekali. Akhirnya bisa tanpa kursi lagi dan semoga ke depannya bisa tanpa tongkat sekalipun." Caca amat sangat bahagia melihat pasiennya mengalami perubahan yang lebih baik.


"Makasih ya Allah ..." wajah pak Mulyadi mendongak. Lalu melihat ke arah Caca. "Makasih Caca. Atas bantuan mu Ayah berangsur sembuh."


"Alhamdulillah Yah, Semoga kedepannya semakin baik juga ya." Caca tersenyum.


Pak Mulyadi perlahan berjalan mengenakan tongkat. Memasuki kediaman Jodi. Sambil memanggil-manggil nama Jodi. Ia ingin menunjukkan rasa kebahagiaannya pada Jodi. Caca menyusul di belakang.


"Jodi ... Jodi ... lihat sini Nak?" panggil pak Mulyadi kepalanya mendongak ke lantai atas dimana Jodi pasti berada di sana.


Suara pak Mulyadi membuyarkan lamunan Jodi. Ia langsung menutup laptopnya, disimpan dengan baik. Kemudian bergegas meninggalkan ruang kerjanya mendekati anak tangga. Tampak Pak mulyadi berdiri mengenakan tongkat dan menatap ke arahnya dengan senyuman bahagia.


"Lihat Ayah, Nak. sudah bisa berdiri dan jalan walau menggunakan tongkat," ucap pak Mulyadi.


Jodi pun tersenyum bahagia melihat kondisi sang ayah. Jodi bergegas turun dan memeluk sang ayah sangat erat. "Selamat ya Yah, akhirnya Ayah sehat. Semoga tidak lama lagi Ayah sehat total ya Yah."


Jodi mengajak pak Mulyadi untuk duduk di sofa bersamanya. Pak Mulyadi pun menuruti ajakan sang putra. Caca juga duduk di sofa yang lainnya. Kebahagiaan mereka tampak jelas dari wajahnya.


"Lengkap lah kebahagian ku, sebentar lagi aku mau menikah dan sekarang kondisi Ayah yang bikin aku sangat bahagia," ucap Jodi tak henti-hentinya bibirnya melukiskan kebahagiaan yang teramat sangat.


Derap langkah terdengar begitu nyaring. Menuju ruang tengah yang sedang mereka pakai berkumpul ....


****


Semoga kalian tetap suka dengan karya ini. Dan aku mohon dukungannya pada karya aku yang masih sepi pembaca itu, "Bukan Suami Harapan"

__ADS_1


__ADS_2