Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Yang ngidam aku


__ADS_3

"Mau gak sih? mandinya, aku lapar nih, makanan sudah datang belum?" tanya Laras sambil celingukan.


Ibra menoleh ke belakang. "Sudah. Aku mau mandi dulu, buruan masuk lagi, siapkan air buat aku mandi."


"Air nya, dingin apa hangat?" sambung Laras masih di posisi semula.


"Dingin aja." Ibra menyeret Laras masuk kamar mandi.


Laras menyiapkan air di bathtub dan tidak lupa aroma terapinya, sementara Ibra berada di toilet, sebentar lalu mendekati Laras yang duduk di bibir bathtub.


"Nanti gosok punggung ku, jangan lupa juga rambut ku dikeramas." Menatap Laras yang rambutnya bersanggul simpel, dan matanya melihat kucuran air dari keran.


"Sayang ... dengar aku, kan?" tanya Ibra sambil menyentuh tangan Laras.


Suara Ibra membuyarkan lamunan Laras. "Ha, i-iya." Menoleh ke arah suaminya yang bersiap masuk ke dalam bathtub. Laras mengambil body whas dan shampo Ibra.


Laras memandikan Ibra, seperti sedang memandikan anak kecil dari mulai nyabun, nyampho sampai menggosok seluruh badannya tak ada yang terlewatkan.


"Sudah, bersihkan sana?" ucap Laras dan masih duduk di bibir bathtub sekalian mau kosongkan bekas mandi Ibra.


Cup, kecupan Ibra mendarat di pipi Laras. Sebelum membersihkan tubuhnya di bawah shower.


Laras membuang air bathtub terlebih dahulu, kemudian keluar kamar mandi untuk menyiapkan pakaian ganti Ibra dan juga dirinya yang masih memakai jubah handuk.


Kini Laras sudah rapi dengan pakaian baru nya, menyisir rambut dan kembali menyanggulnya, agar lebih simpel. pake minyak wangi, sedikit bedak dan lipstik tipis aja, yang penting tidak pucat.


Ibra keluar dengan handuk melilit di pinggangnya, sementara tangan mengusap rambut yang basah dengan handuk kecil. Sejenak Laras menatap kearah Ibra dan menelan saliva nya, namun detik kemudian Laras menunduk melihat lantai.


Langkah Ibra yang lebar, tak butuh lama untuk menghampiri dan mengambil pakaiannya di atas tempat tidur, Laras yang duduk dan menautkan jemari di pangkuannya, menoleh Ibra yang sedang mengenakan kaos pendeknya.


"Sayang, tolong dong?" panggil Ibra, dan Laras pun mendekat.


"Ada apa?" tanya Laras netra matanya bergerak mengamati ke arah Ibra.


"Tolong, pakaikan itu," menunjuk celananya.


"Ha ..." kedua netra mata Laras menatap celana yang masih di atas tempat tidur. Kemudian melihat Ibra yang baru memakai kaos saja. Kepala Laras menggeleng pelan.


"Kan, tadi sudah aku bilang ... aku akan meminta bayaran, karena aku sudah manjat pohon, atas permintaan mu." Jelas Ibra dengan bibir mengukir senyuman.

__ADS_1


"Tapi ... aku gak maksa kok, lagian sudah aku bilang juga, gak usah," bela Laras gak mau di salahkan.


"Iya sih ... gak maksa, tapi merajuk, ayo ah. Cepat, sudah lapar nih," ujar Ibra sambil menaikan alisnya.


Laras mencibir dengan bibirnya. Namun tangan Laras mengambil dan mengerjakan perintah Ibra itu. "Emangnya kamu pikir, aku gak lapar apa?"


"Makanya sayang ... cepat. Sudah kedinginan nih, kecuali kamu mau menghangatkan nya." Sambung Ibra.


"Ih ..." Laras bergidik sambil berjongkok.


"Tapi suka, kan? jangan sok gak suka, padahal mau. Kita pasangan suami istri, jadi jangan malu-malu gitu, malu-malu mau, ha ha ha ...."


Laras pura-pura cemberut, padahal dalam hati tersenyum. Sudah lengkap pakaiannya, menyisir rambutnya, menyemprotkan minyak wangi ke tuduhnya sehingga menyeruak wanginya. Sampai -sampai Laras memejamkan mata dan menghirup baunya badan Ibra yang menyeruak wanginya.


Melihat Laras memejamkan mata sambil mengendus bau badannya, membuat Ibra menyeringai dan menepuk pipinya sang istri. Menangkupkan kedua tangannya di wajah Laras. Laras pun membuka mata seketika merasakan sentuhan tangan Ibra di wajahnya.


Kedua mata Ibra menatap lekat ke arah Laras yang juga membalas tatapan mata Ibra. Mendekatkan wajahnya ke wajah Laras. Manik mata Ibra tertuju pada sesuatu milik Laras, yang menantang tuk di sentuh.


Selang beberapa saat, mereka menyatukan ***** keduanya. Sampai merasa pengap. Saking dalamnya, Laras mendorong dada Ibra.


"Katanya mau makan?" ucap Laras sambil mengusapkan punggung tangan ke bibirnya.


Ibra yang terus mengukir senyumnya. Berjalan menghampiri meja yang sudah tersedia buat makan siang. Tidak lupa meraih tangan Laras, di tarik dan duduk di sampingnya.


Ibra nyengir. "Iya-iya, nih aku suapi bumil ku, Aa buka mulutnya."


Laras pun membuka mulutnya, untuk menerima suapan dari sang suami. "Em ... enak ya? kalau makan dari tangan orang." ungkap Laras. Dia langsung mengingat, ketika terakhir kalinya makan di suapi sang ayah.


Mata Ibra menangkap Laras melamun, langsung menegur. "Jangan melamun, mikirin apa sih hem ... aa makan lagi." lirik Ibra, sambil menyodorkan sendok ke mulut Laras.


Laras menoleh lesu dan menyambut sendok itu. Mereka makan saling menyuapi, sampai habis.


"Jangan sedih kenapa sih? aku membawa mu ke tempat ini agar kamu happy sayang ... bukan untuk sedih gitu," lirih Ibra sembari membelai pipi Laras dengan lembut.


"Aku, ingat (alm) ketika ia menyuapi ku terakhir kalinya." Suara Laras pelan.


"Sudah, buat apa di ingat-ingat kalau buat kamu sedih. Aku gak mau kamu sedih ah ... lagian kurang baik pada perkembangan baby kit." Ujar Ibra menatap lekat.


Helaan napas Laras begitu kasar, kemudian meneguk minumnya. Membereskan bekas makannya, yang perlu ia buang, di ke tong sampah. Ibra kembali melihat layar laptopnya, kali ini di atas tempat tidur.

__ADS_1


Melihat Laras yang bengong, dengan wajah yang lesu, entah apalagi yang dia pikirkan. "Sayang, sini?" menepuk tempat tidur yang kosong.


Laras menoleh, dengan malas menghampiri Ibra, berdiri di depan Ibra. "Ada apa?"


Ibra menatap sang istri yang malah berdiri tepat di hadapannya. Ibra langsung merangkul pinggangnya, memberi sedikit tarikan agar semakin medekat. "Pijit aku ya? gak enak badan nih." titah Ibra sembari menempelkan hidung di sesuatu yang ada di depan wajahnya.


Laras pun mengangguk. "Baiklah, masih buat imbalan itu, kan?" sahut Laras dan menjauh dari Ibra mengitari tempat tidur, kemudian naik ke tempat tidur sebelah Ibra.


Ia berlutut di belakang punggung Ibra, dan mulai memijit pundak Ibra yang merem melek menikmati pijatan dari tangan Laras.


"Gimana enakkan tidak?" tanya Laras sambil terus memijat leher, pundak. punggung Ibra merata.


"Enakkan sayang." Sahut Ibra mengangguk dan menutup, penyimpan laptopnya. Di atas meja.


Ibra ingin mengubah posisi menjadi telungkup, agar Laras lebih leluasa memijatnya. seperti tangan dan juga kaki.


Laras dengan telaten memijat seluruh tubuh Ibra yang kekar itu. Sampai akhirnya Ibra menyatakan sudah. Dan mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.


"Makasih sayang?" lengan Ibra merangkul bahu Laras dan menarik ke pelukannya. Sehingga kini Laras berbaring dalam pelukan sang suami.


"Sama-sama," gumamnya Laras.


"Sungguh, benda pusaka ku, masih berasa ngilu sayang." Bisik Ibra di atas kepala Laras.


Laras tak merespon apapun, ia hanya melirik sekilas ke arah yang Ibra bilang itu. "Emangnya aku harus bilang waw gitu?"


"Bukan gitu, tapi obatin kek--"


"Nggak tau." timpal Laras sembari tangannya bermain di dada kanan Ibra.


"Di elus kek, di apain kek?" ungkap Ibra kembali.


"Ah." Gumam Laras.


Tidak lama dari itu, Ibra dan Laras menguap berkali-kali. Rasa kantuk pun menyerang keduanya, sudah tidak mampu lagi walau sekedar untuk memicingkan matanya.


Akhirnya mereka tertidur saling berpelukan. Momen ini benar-benar Ibra gunakan sebaik mungkin, dia tidak ingin melewatinya dengan sia-sia.


Setelah satu jam mereka tertidur, Ibra terjaga, mendapati sang istri berada dalam pelukan. Bibir Ibra menyungging, lalu memposisikan tubuh Laras agar tidur terlentang. Tarik selimut. Agar menutupi tubuh mereka, malanjutkan mimpi yang tertunda ....

__ADS_1


****


Apa kabar reader ku semua? semoga ada dalam lindungan yang maha kuasa selalu ya. Terima kasih banyak masih menjadi pembaca setiaku.


__ADS_2