
Laras yang sedang menundukkan kepalanya, terkesiap dengan suara itu. Kemudian mendongak melihat ke sumber suara. "A-aku, sadang ..." manik mata Laras bergerak mencari keberadaan Ibra. Sangat khawatir kalau-kalau Ibra datang melihat Jodi bisa-bisa ia dimarahin.
Jodi menaikan alisnya menatap ke arah Laras yang terlihat tegang. "Apa kabar?"
"Baik," sahut Laras dengan perasaan kian tegang.
Jodi mengangguk dengan senyuman manisnya. "Sama siapa, suami atau ke kasih?" tanya jodi lagi dan semakin mendekat.
Laras berdiri dan memegang tas nya. "A-aku ... sama--"
"Sama saya, suaminya," suara Ibra secara tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Laras.
Laras menoleh dengan keadaan jantung yang berdegup sangat kencang.
Jodi melihat ke arah Laras dan Ibra bergantian. "Oh, anda suaminya? kenalkan. Saya Jodi Adikarya, teman Laras di panti." Akunya Jodi kemudian Mengulurkan tangan pada Ibra.
Dengan tatapan tajam, Ibra menyambut uluran tangan dari Jodi, akhirnya berjabat tangan dengan pria yang pernah ia cemburu. "Malik Ibrahim."
Kemudian Netra matanya melirik ke arah Laras yang menundukkan kepalanya, dia nampak gelisah. Lalu Laras mengangkat kepalanya melihat Ibra yang mengerutkan keningnya dan seolah menatap curiga padanya.
"Kamu, tambah cantik saja hari ini," puji Jodi, dia tidak ragu meskipun depan suaminya.
Mendengar pujian dari Jodi pada Laras, sekilas Ibra maju selangkah. Berdiri tepat di depan Laras, menghalangi pandangan Jodi pada Laras. "Terima kasih? atas pujiannya pada istriku, dan senang, bisa berkenalan dengan mu." Tegas Ibra.
Laras benar-benar terkesiap, mendengar itu. Sungguh tidak menyangka kalau Jodi akan berani seperti itu di depan Ibra yang jelas-jelas mengaku suaminya.
"Sama-sama, saya juga senang berkenalan dengan mu, Malik Ibrahim. Seorang CEO besar dan sukses, saya kagum pada anda," sahut Jodi kembali.
Ibra membalas dengan senyuman tipis dan anggukan. Kemudian Ibra menoleh pada Laras dan meraih tangannya. "Kita pergi sekarang?"
Laras mengangguk dan berpamitan pada Jodi. "Aku per--"
"Saya pergi dulu, makasih atas pujian nya tadi," ucap Ibra pada Jodi memotong perkataan Laras.
Jodi tersenyum dan mengangguk. Menatap keduanya yang kini berlalu dari hadapannya.
Ibra dan Laras meninggalkan klinik tersebut, dengan tangan yang terus menggandeng tangan Laras. Tak pernah lepas sampai Laras masuk dan duduk di dalam mobil.
Setelah menutup pintu buat Laras. Kini Ibra sudah duduk di belakang kemudi. "Ada tisu basah gak?" tanya Ibra sambil memasang sabuk pengamannya, lalu membantu pasangkan punya Laras.
Laras membuka tas kecilnya, dan mengambil tisu basah yang Ibra pinta. Ibra mengambil dua lembar.
"Mana tangan mu?" dengan mata menatap ke arah Laras.
Laras heran, buat apa Ibra meminta tangannya? namun meskipun heran. Ia tetap mengulurkan tangannya satu.
"Dua-duanya," tegas Ibra. Meminta keduanya yang Laras di ulurkan.
"Buat apa sih?" tanya Laras heran dan mengulurkan keduanya.
Ibra mengelap telapak tangan Laras dengan tisu basah itu. "Aku tidak mau ada yang nyentuh kulit mu, tadi kamu berjabat tangan dengan Jodi, kan?"
__ADS_1
Laras baru mengerti maksudnya Ibra. "Oh ... tapi aku gak bersentuhan dengan dia. Tidak berjabat tangan sama sekali," akunya Laras.
Sambil mengelap tangan satunya, Ibra berkata. "Ya ... di hadapan ku tidak, kali aja ketika aku belum datang. Bisa aja, dia menyentuh tangan mu. Secara memuji kecantikan mu di depan ku juga dia berani," ungkap Ibra dengan muka tanpa ekspresi. Dan terus mengusap tangan Laras berkali-kali.
Laras mulai kesal. Ia menarik tangannya dari genggaman Ibra. "Lepas! aku jelaskan sekali lagi ya? aku tidak bersentuhan sama sekali sama dia." dengan suara agak tinggi. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang, dengan wajah yang di tekuk dan bibir monyong ke depan.
"Aku gak parcaya! dia pasti--"
Laras menegakkan kembali badannya, serta mengahadap pada ibra. "Terserah, mau percaya. Mau tidak itu hak mu, dengar ya? kalau cuma bersentuhan tangan, atau maksud berjabat tangan, ketika bertemu seseorang. Itu wajar-wajar saja, kamu jangan terlalu overprotektif deh." Suara dan bibirnya bergetar. Dada berasa sesak, ia menelan saliva nya berulang-ulang.
Ibra bengong, memandangi Laras yang nampak kesal dan matanya mulai berkaca-kaca. Perasaan ia cuma bilang dengan nada biasa aja. Kenapa dia malah marah. Ibra mendekatkan bahunya pada Laras yang kembali bersandar. "Hi ... aku cuma bilang kali aja, dan nada yang biasa! kenapa kau marah?" menggerakkan netra mata menatap wajah sang istri.
"Tapi, kamu itu seolah mencurigai ku? seolah aku ini suka macam-macam di belakang mu," sahut Laras kian meluapkan kemarahannya.
Netra mata Ibra menatap lekat pemilik mata indah itu. "Siapa bilang? aku gak bilang begitu," lirih Ibra sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak nyadar apa? dia sendiri sama wa--" Laras menggantungkan ucapannya.
"Buat apa, aku menyebut tentang istrinya yang lain? jelas-jelas aku lah yang datangnya belakangan, mereka yang lebih dulu jadi istrinya. Bukannya aku yang harus sadar diri?" batin Laras sambil memandangi keluar jendela. Helaan napasnya terdengar kasar.
Netra mata Ibra bergerak melihat tangan Laras di pangkuannya. Kemudian ia menyentuh tangan itu. Namun Laras menarik kasar.
Ibra menghembuskan napasnya dengan panjang. "Apa, wanita lain maksudnya? kamu cemburu bila aku sama wanita lain hem," tanya Ibra dengan nada sangat lembut.
Ibra mendelik, kemudian membuang mukanya. Keluar jendela.
"Harus berapa kali aku bilang? itu kewajiban. Termasuk terhadap dirimu juga, adalah kewaji--"
"Sudah-sudah, jalan?" ucap Laras memotong ucapan Ibra.
Sepanjang perjalanan, tak ada yang memulai percakapan selain diam dan gerungan suara mesin.
Setelah sampai di depan sebuah mall, Ibra memarkirkan mobilnya diantara kenamdaraan lainnya.
Laras celingukan dan merasa heran kenapa ke sini. Bukannya pulang, Laras melihat Ibra keluar dan mengitari mobilnya mendekati pintu dan membukakannya untuk Laras.
"Turun?" suruh Ibra dan menunggu Laras turun.
Laras malah bengong bukannya turun. Karena masih kesal menjadikannya malas untuk bertanya.
"Kalau gak mau turun, aku gendong ya?" ucap Ibra menyeringai dan membungkukan tubuhnya berniat menggendong tubuh Laras.
Laras menepis tangan Ibra yang sudah siap menggendongnya. "Aku bisa turun sendiri." Ketus Laras sambil menurunkan kedua kakinya.
Ibra mesem. "Gitu dong dari tadi."
Laras mencibirkan bibinya ke depan. "Mau apa sih ke sini?" tanya Laras dengan masih nada jutek dan berdiri dekat mobil.
"Ke sini ... mau tidur!" bisik Ibra mencondongkan wajahnya ke laras.
Laras memutar bola matanya. "Heh ..." sambil bergidik dan mengayunkan langkahnya.
__ADS_1
Ibra menarik bibinya senyum, melihat reaksi Laras yang berajalan lebih dulu. Ibra pun mengikutinya dari belakang, Laras berdiri depan pintu masuk menunggu Ibra yang berbicara dengan tukang parkir.
"Kita belanja dulu keperluan mu, apa makan dulu?" suara Ibra dari belang Laras dan menggenggam tangannya.
"Terserah." Ketus Laras sembari mengikuti langkah Ibra.
"Kalau terserah ... kita cari makan dulu, lapar nih," ungkap Ibra sambil mengusap perutnya.
Laras hanya mengikuti langkah Ibra yang memasuki restoran. Dia memilih dekat dinding. Setelah keduanya duduk, Ibra bertanya. "Mau pesan apa?" Membuka kaca matanya. Disimpan di meja.
"Terserah kamu saja," sahut Laras sambil melepas pandangan nya ke seluruh ruangan itu.
Ibra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, paling geram kalau wanita menjawab terserah. Bikin bingung! ia menatap lekat ke arah Laras yang entah sedang melihat ke mana. "Bisa gak, jawabnya, jangan terserah. Aku suka bingung. takut pesan ini salah, pesan itu. Gak di makan, jadi jawabnnya yang pasti-pasti aja."
Laras menoleh dan membalas tatapan Ibra yang penuh arti itu. "Emang, kamu mau pesan apa? setau aku kalau di rumah, apa yang kamu makan. Aku makan juga." dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Ibra mengangguk. "Oke." Ibra memanggil pelayan dan memesan apa yang dia mau. Seperti steak daging sapi, dan minumannya air jeruk dua.
Laras liatin ... aja. ketika Ibra sedang memesan makanan pada pegawai resto. "Aku, gak mau es jeruk. Aku maunya, jus buah Naga, ada, kan Mas?"
"Maaf Nyonya, tidak ada di menu." Jawab pegawai itu.
Laras merengut dan lesu. Tiba-tiba aja gitu pengen jus buah naga.
"Cek, tadi katanya terserah?" gumam Ibra, melihat Laras makin merengut. "Maaf Mas, tolong ... banget di bikinkan saja. Kebetulan istri saya sedang ngidam, berapapun saya bayar kok," pinta Ibra setengah memelas dan Laras pun mengangguk.
"Baiklah, Tuan." Pegawai resto mengangguk lalu pergi, meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu ya sayang?" ucap Ibra sambil mengetuk-ngetukkan jari ke meja.
Laras mengambil ponsel dan membuka apk novel online untuk ia baca. Begitupun Ibra mengambil ponsel miliknya untuk memantau keraan kantor.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya pesanan mereka pun datang, dengan jus buah naga pesanan bumil.
"Pesanan bumil sudah siap, Silakan dinikmati ..." kata pegawai resto sambil menyimpan pesanan di meja.
"Wah ..." mata Laras melotot melihat pesanannya sudah siap di meja.
"Makasih, Mas?" Ibra mengangguk. Sekalian memberi uang insentif.
"Makasih, Tuan?"
"Ya." Ibra melirik Laras yang sudah menyedot jus nya, hingga tinggal setengah. Ibra tertawa kecil.
Laras begitu menikmati minumannya. Sampai dalam hitungan detik minuman tandas, tinggal gelasnya saja.
Melihat sudah tinggal gelasnya. "Mau tambah lagi sayang?" di sela makannya.
Laras nyengir dan mengangguk mau. "Mau."
Ibra mesem. "Boleh. Aku akan pesan lagi," ucap Ibra sambil memanggil pegawai resto kembali, memesan jus buah naga ....
__ADS_1
****
Terima kasih reader ku ... terima kasih masih setia padaku🙏 eh salah. Tapi novel ku! semoga kalian masih suka dan semakin suka! terus kasih aku semangat ya?