Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Bisa di atur


__ADS_3

"Ya, hati-hati juga sayang?" kata Ibra sambil menghela napas panjang.


Ibra dan Dian jalan beriringan namun tanpa kemesraan yang biasa mereka tunjukkan. Ia bukannya ingin cuek, tapi gengsi juga kalau harus membujuk. membaik-baikin Dian, dia sendiri yang merajuk. Biarlah, nanti juga baik lagi.


Dian masih kesal dengan suaminya, ia pikir, suaminya malah ke enakan. "Aku suruh nikah lagi, agar dapat anak bukan cari enak," tangannya mengepal di bawah. Rasanya sudah gatal, ingin menonjok wajah seseorang.


Dian masuk mobilnya yang di kemudikan supirnya, sementara Ibra mengemudikan mobil sendiri dan melesat mendahului mobil Dian.


Tujuan Ibra saat ini adalah kantor, nanti agak siangan ngantornya di rumah Laras. Ibra melesatkan mobilnya. Membelah jalanan yang sedang padat itu.


Selang waktu kemudian, Ibra sampai di kantor, di sambut oleh sang asisten pribadinya. Zayn yang menatap curiga, melihat wajah Bosnya yang sedikit kurang bersahabat.


"Bikinkan kopi dua ya? antar ke ruang big Bos." pinta Zayn pada OB yang kebetulan melintas di depannya.


OB tersebut mengangguk membalas perintah Zayn. Kemudian pergi meninggalkan tempat Zayn dan Ibra berdiri.


Ibra dan Zayn menatap kepergian orang itu dan barulah masuk ke ruangannya.


"Kenapa muka mu, di tekuk begitu? kurang asupan gizi apa," tanya Zayn menatap curiga.


"Maksud?" Ibra tidak mengerti maksud Zayn.


Zayn menggaruk kepalanya. "Itu muka kenapa kurang bersahabat gitu?"


"Nggak ada pa-pa lah," sahut Ibra sambil mulai berkutat dengan map besar yang ada di meja.


"Benarkah?" ucap Zayn kurang percaya.


"Iya, kenapa?" memicingkan matanya sebelah pada Zayn yang sedang memegang berkas.


OB, datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Menyimpan di meja kerja Ibra.


"Makasih?" ucap Zayn pada OB tersebut.


Setelah cuma berdua, Ibra mengalihkan pandangan pada Zayn. "Gimana soal SIM Laras sudah jadi?"


"Oh, itu sebentar lagi. Mungkin besok jadi dan aku antar ke sana." Zayn meyakinkan.


"Baguslah." Ibra mengangguk setuju.


Setelah menghabiskan kopi. Zayn kembali ke ruangannya, untuk mengerjakan tugas harian.


Waktu sudah menunjukan pukul 09 lewat, pagi. Ibra bersiap pergi ke tempatnya Laras, meraih kunci mobil dan laptop pribadi yang di meja. Kemudian mengayunkan langkahnya meninggalkan kantor.


Tidak lama di jalan, mobil Ibra sudah sampai di depan rumah Laras, manik mata Ibra mendapati dua motor dan dua pemuda yang duduk di atas motor, tepat depan rumah Laras. Dengan mata mengarah ke rumah minimalis tersebut.


Netra mata Ibra bergerak melihat pemuda itu dan rumah sang istri bergantian. Pandangan nya curiga, langsung menurunkan kaca jendela dan menyapa. "Maaf, sedang apa di sana dan mau bertemu siapa?"


Dua pria itu, menoleh dan menatap heran. "Nggak, kami sedang nongkrong aja di sini."


"Emang, di sini tempat nongkrong ya? perasaan, kemarin-kemarin gak ada tuh yang nongkrong di sini!" Sambung Ibra dari dalam mobil.


"Em ... saya ..." pria itu kebingungan. "Saya cuma main?main saja."


"Kalian orang mana? bukan orang sini apa," tanya Ibra kembali.


"I-iya, kami dari kampung sebelah," sahut pria satu lagi.


"Main-main, maksudnya?" Ibra penasaran sambil menyalakan klakson agar Susi bukakan pagar.


"Main aja, kebetulan lewat. Iya lewat saja." Jawabnya.


"Terus? ngapain lihat-lihat ke arah rumah itu, apa ada yang kalian cari?" lanjut Ibra lagi.

__ADS_1


Dua pemuda itu, saling bertukar pandangan. "Em ...."


Susi muncul dari balik pintu, dan bergegas membuka pintu pagar. "Tuan, masuk?"


Ibra menoleh ke arah Susi. "Oh, ya!"


Kemudian Ibra memutar kemudi lalu masuk ke halaman Rumah Laras.


Dua pemuda itu saling pandang dan bertanya-tanya, siapa orang tersebut?


"Susi, siapa mereka? dari tadi di situ terus." Tanya Ibra sembari menutup pintu mobil.


"Entah, Tuan gak kenal," sahut Susi menatap kedua pria itu.


"Iya kah?" Ibra menautkan alisnya pada Susi. Kemudian memasuki rumah.


"Iya, Tua ... saya tidak kenal. Lagian saya di sini masih baru, kan Tuan," sahut Susi membuntuti majikannya yang mambawa tas laptop.


"Nyonya mana?" tanya Ibra setelah tidak menemukan Laras di ruang tengah dan tamu.


"Nyonya, di kamarnya. Tuan." Susi menunjuk ke arah Kamar. "Oya, Tuan. Tolong bilang sama Nyonya muda, saya mau pergi belanja dulu."


Ibra menatap ke arah Susi. "Sudah uang nya?"


"Sudah, uang nya ... sudah di kasih tadi." Jawab Susi lagi.


"Oke, hati-hati, kalau mau. Boleh bawa mobil saya."


"Wah ... Tuan, jangan ngeledek Susi. Mentang-mentang gak bisa bawa mobil di suruh bawa, caranya gimana, di dorong? Ha ha ha ...."


Ibra menggeleng. Meneruskan langkahnya ke kamar, namun kamar kosong. Langkah Ibra tertuju ke teras kamar yang langsung dari kamar. Rupanya Laras sedang berada di sana, duduk menghadap taman bunga-bunga.


Pelan-pelan, Ibra berjalan sedikit mengendap. Tadinya mau bikin Laras kaget dengan ke datangannya, namun gagal total.


Ibra terkejut sambil mencium bau badannya sendiri. Lalu tersenyum dan langsung mendekap bahu Laras dari belakang.


Assalamu'alaikum ... sayang?" cuph, mengecup pucuk kepala Laras dengan lembut.


"Wa'alaikum salam ... bukanya ke kantor, malah ke sini sih? emangnya di sini berubah jadi kantor apa?" ucap Laras melukiskan senyum terindahnya.


"Ini juga, dari kantor. Baru ke sini, kira-kira kalau iya gimana? kalau rumah ini dijadikan kantor."


"Boleh ... tapi, aku minggat," sahut Laras.


"Kok minggat sayang? jangan dong," rajuk Ibra, duduk di dekat Laras. Tangannya merangkul pinggang sang istri dan menempelkan hidung di pipi Laras. Mencium aroma dari wajahnya.


"Iya lah, buat apa juga? aku ingin keluar dari mension itu ... butuh ketenangan. Kalau sama riuh, ya percuma." Kata Laras sambil mengulum senyumnya.


"Nggak lah," gumam Ibra. Menarik wajah Laras agar berhadapan dan netra mata mereka bertemu. Bibir Ibra menyentuh ***** Laras yang merah menggoda.


Laras mendorong dada Ibra, namun Laras kalah kuat, akhirnya pasrah dan menikmati sentuhan itu. Kelopak matanya tertutup. Ibra senyum puas, melihat mata Laras terpejam, menikmati ritual barusan.


Jari Ibra mengusap lembut bibir Laras. "Masak apa buat makan siang ini?" tanya Ibra.


"Ha, Susi belum belanja." Laras tersipu malu, menundukkan pandangannya ke bawah.


"Susi, sudah berangkat belanja barusan," jelas Ibra. Meremas jemari Laras.


"Oya, aku kira belum." Gumam Laras.


"Bikinkan Abang minum ya?" titah Ibra dan mengajak Laras berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Laras menuruti langkah Ibra yang mengajaknya ke dapur. Dan membuatkan minuman manis untuknya, setelah jadi. Laras hidangkan depan Ibra yang mulai membuka laptop.

__ADS_1


"Minumnya, oya jas nya mau di buka gak? kali aja kepanasan," tanya Laras sebelum mendudukkan tubuhnya.


"Boleh," gumam Ibra sambil fokus ke layar Laptop nya.


Laras membuka jas Ibra, ia bawa ke dalam kamar.


"Mau ke mana?" tanya Ibra melirik sebentar.


Laras menoleh, memutar badannya. "Mau simpan jas ini."


"Oh, jangan lama-lama, temani aku di sini," ungkap Ibra menatap sekilas.


"Iya, tidak lama kok." Laras melanjutkan langkahnya. Sesaat kemudian kembali dan duduk tidak jauh dari Ibra yang kini duduk di ruang tengah.


Kemudian Ibra menutup laptop dan berbaring di pangkuan Laras yang terkesiap sebab dia sedang asik menonton televisi. "Eh ... kalau kerja jangan bermalas-malasan. Nanti tidak dapat gajih Pak," canda Laras sembari membelai rambut Ibra yang halus dan wangi.


"Hem ... biar saja, yang penting bisa melepas rindu. Sama baby dan Mommy nya," rayu Ibra sambil merubah posisinya.


Laras bengong, mendengar ucapan Ibra barusan. Menatap sendu ke arah wajah Ibra.


Tangannya meraba perut dan menaikan baju Laras ke atas sedikit, tampak lah kulit perut Laras yang putih. Menempelkan bibirnya di sana. "Sayang, apa kabar? lama Papi tidak mengunjungi mu, nak."


"Hem ... bukannya tiap hari, juga ketemu ya?" celetuk Laras sembari terus membelai rambut Ibra.


Ibra mendongak. "Iya sih, tapi cuma ketemu biasa," Nyengir memperlihatkan gigi putih nya.


"Ih ..." gumam Laras sambil memutar bola matanya.


Ibra beranjak dan Duduk kembali di samping Laras, bersandar dan merentangkan tangan. Laras menatap ke arah Ibra yang entah melihat kemana.


Dengan ragu, Laras menyandarkan kepalanya di dada Ibra. Netra mata Ibra bergerak melihat dan tangannya merangkul bahu Laras, mengecup pucuk kepalanya sangat lama. "Kenapa, kangen kah, hem?"


Hening!


Laras tidak menjawab, gengsi kalau harus bilang kangen atau apalah. Malu bila harus mengakui perasaannya itu, yang ingin di manja dan ingin selalu dekat dengan Ibra.


Ibra semakin mempererat pelukannya. "Ke kamar yu? Abang sudah rindu ingin menengok baby," bisik nya dengan tangan sudah mulai jalan-jalan.


Laras mendongak dengan tatapan sayu. "Bukannya ... banyak kerjaan?" dengan suara lembut dan sedikit bergetar.


Ibra melepaskan rangkulannya. "Itu, bisa di atur sayang!"


Tanpa aba-aba, Ibra menggendong tubuh Laras, dibawa ke dalam kamar.


Laras terkesiap. "Ih, ngomong dulu kek, agar aku gak kaget?" ucap Laras sambil merangkul leher Ibra dan menyusupkan kepala di lehernya.


Ibra tersenyum, makin ke sini Laras makin menunjukkan kalau dirinya menyukai perlakuannya.


Sesampainya di kamar, menutup pintu dengan kaki Ibra, lalu Laras di baringkan di atas tempat tidur. langsung mengungkungnya, menghujani dengan kecupan-kecupan kecil di semua bagian tubuh Laras. Namun cukup dahsyat sehingga kulit meremang, bulu kuduk pun berdiri, membuat timbulnya rasa gelenjaran aneh di tubuh keduanya.


Netra mata Laras bergerak ke arah pintu. "Pintu, belum di kunci," bisik nya dengan suara bergetar.


Ibra, menoleh ke arah pintu yang Laras maksud dan seraya bergumam. "Ah, ganggu aja."


"Tadi, kenapa gak kunci dulu?" timpal Laras sambil mengalungkan kedua tangan di leher Ibra.


"Tanggung, sayang ... biar aja. Lagian, kamu menyuruh ku mengunci pintu. Tapi tangan mu mengunci leherku, tak membiarkan ku pergi!"


Seketika Laras melepas rangkulan tangannya dari pundak Ibra, menggerakkan netra matanya ke lain arah. Merasa malu, wajahnya semu memerah.


Cuph, Ibra mendaratkan kecupan di pipi Laras dan segera turun untuk mengunci pintu ....


****

__ADS_1


Aduh maaf ya telat terus nih reader ku, yang seharusnya kemarin juga up. Baru bisa up sekarang, entah kenapa bawaannya ngantuk mulu nih mata, gak bisa di ajak kompromi. Selamat membaca dan jangan bosan ya🙏


__ADS_2