
Laras dan Jodi menoleh ke arah datangnya Ibra di tempat itu. Laras memasang wajah ramah dan menarik bibirnya senyum.
"Sudah lama?" tanya Ibra pada Jodi sambil mengernyitkan keningnya.
Jodi berdiri. "Belum, paling 5 menit," jawab Jodi. Kemudian keduanya berjabat tangan. Barulah keduanya duduk. Jodi di tempat semula dan Ibra di dekat sang istri.
"Saya ke sini, untuk mengundang kalian untuk makan malam di rumah. Kalian datang ya?" harap Jodi.
"Ada acara apa nih?" selidik Ibra, menatap penasaran.
"Tidak ada acara apapun, cuma ... ayah ingin kita saling mendekat satu sama lain aja," ungkap Jodi dengan nada santainya.
"Oh, oke nanti kami ke sana. Memenuhi undangan makan malamnya." Ibra mengangguk dan menoleh sang istri yang menatap ke arah dirinya.
"Benar? Abang mau ke sana," tanya Laras menatap lekat minta kepastian.
"Tentu, sayang. Aku akan memenuhi undangan Jodi dan paman mu, gak ada alasan ku untuk menolaknya." Jelas Ibra sambil mengelus kepala sang istri.
"Terima kasih Abang?" Laras merasa senang mendengarnya. Padahal ia sudah was-was, takut suaminya tidak mengijinkan, apalagi mau datang. Laras memeluk lengan Ibra.
"Sama-sama sayang." Cuph mendaratkan kecupan di kening Laras. Tak segan-segan Ibra memperlihatkan kemesraannya di depan Jodi.
"Oke, kami tunggu. Nanti saya kirim alamatnya," sambung Jodi.
"Eh, Nak Jodi, makan siang dulu yu?" suara bu Rahma setelah berada di ruang tamu. Diikuti oleh Susi dari belakang.
"Ya, Tante. Apa kabar?" balas Jodi sambil berdiri dan berjabat tangan dengan bu Rahma.
"Eh, ada Tuan Jodi. Lama deh kita gak jumpa?" Susi mengulas senyumnya. Dengan tangan bertaut satu sama lain.
Kepala Jodi mengangguk sopan pada Susi. "Kemarin lusa ketemu Sus."
"Eh, iya kemarin lusa baru bertemu. Susi lupa, he he he ..."
Ibra beranjak. "Oya, lapar nih, kita makan dulu yu?" ajak Ibra pada Laras dan yang lainnya.
"Iya, yu makan dulu? Nak Jodi" bu Rahma mengajak Jodi.
Laras pun menoleh ke arah Jodi. Memberi isyarat, agar Jodi ikut makan bersama. Jodi berdiri dan mengikuti langkah mereka.
Susi yang senyum-senyum, menarik kursi buat Jodi dan melayaninya dengan tulus.
"Makasih Sus!" Jodi menarik piringnya.
Bu Rahma tertawa tipis melihat tingkah Susi. Begitupun Laras. Setelah Mengambil makan buat Ibra, barulah Laras mengambil untuknya. Mereka pun makan bersama, melahap hidangan di meja.
"Oya, Om ... kemana Tante?" mata Jodi mencari pak Marwan yang tidak ia temukan sedari tadi.
"Oh, Om. Sedang ada urusan, ke luar," tutur bu Rahma di sela makannya.
"Oh, gitu. Pantas gak kelihatan dari tadi." Timpal Jodi. Melanjutkan makannya.
"Biasa. Om itu gak betah di rumah, ada aja tujuannya itu." bu Rahma tersenyum mengenang suaminya.
"Alhamdulillah, Om sehat Tante. Jadi dengan bebasnya ke manapun," sambung Jodi.
"Iya, Alhamdulillah." Gumamnya lagi bu Rahma.
"Kamu, sudah punya calon Jodi?" selidik Ibra sambil menaikan kedua tangan ke dagunya.
"Belum, belum menemukan yang tepat. Lagian belum siap juga berkomitmen," jawab Jodi memandang ke arah Ibra.
"Oya, tapi banyak dong wanita yang mengejar mu dan itu pasti." Ibra menatap yakin pada Jodi, soal wanita.
"Ha ha ha ... kurang tahu juga." Jodi menggeleng pelan.
"Termasuk mantan istriku." Batin Ibra. Menatap tajam Jodi. Kemudian mengalihkan pandangan ke piring miliknya.
"Tante sih yakin. Jodi pasti ada cewe dong yang sedang di incar." Tambah bu Rahma, sembari menarik bibirnya tersenyum.
"Semoga aja Susi yang tuan Jodi sedang incar, eh sadar kau Susi, kamu itu bukanlah level dia. Tapi, bermimpi boleh dong. Jadi atau nggak nya kan tergantung jodoh." Batin Susi meyakinkan diri.
"Itu pasti, Mah ... dia kan laki-laki normal, tampan dan tajir. Cewe mana yang sanggup menolak Jodi. Asal jangan naksir istri orang aja." Sambung Ibra.
Jodi menggeleng pelan. "Nggak lah, buat apa saya naksir istri orang." Sembari menundukkan kepalanya.
"Baguslah, wanita yang singel aja masih banyak ya?" Ibra mengangguk setuju.
Laras hanya mendengarkan pembicaraan Jodi dan Ibra. Ia masih mencium kecemburuan dari sang suami. Melihat Jodi sudah selesai makannya, Laras berkata. "Kamu, mau ngantor lagi apa mau pulang ke rumah? atau--"
"Mau ke kantor, oke. Aku mau pergi dulu, makasih atas makan siangnya? permisi semuanya." Pamit Jodi sambil berdiri, menggeser kursinya.
"Sama-sama, hati-hati." Pesan Ibra lalu berjabat tangan dan mengantar Jodi ke teras.
"Yu, La. Tante juga Susi, aku pergi dulu." Kata Jodi sambil berlalu.
Semua mengangguk dan melambaikan tangan. Jodi terus mengayunkan langkahnya bersama Ibra menuju teras.
"Aku rasa, tidak perlu lah kau menyindir ku tentang pasangan ataupun menyebut naksir istri orang. Sudah jelas kalau aku dan Lala adalah sepupu dan kau ini suami sepupu ku, jadi jangan deh ungkit-ungkit itu lagi," ungkap Jodi tanpa menoleh pada Ibra.
__ADS_1
Ibra menyunggingkan senyum sinis nya. "Ha? kamu tersindir. Buat apa tersindir kalau tidak merasa, kan lucu."
"Maksud? apa maksudmu, oke. Iya aku tersindir dan aku mengakui itu, tapi itu dulu sebelum tau kalau dia saudaraku." Mata Jodi menatap sangat tajam ke arah Ibra. Jujur ia tidak suka dengan sindiran Ibra tadi.
"Oke, aku minta maaf bila sudah menyinggung hatimu?" ucap Ibra sambil menepuk dada Jodi. "Nanti saya dan Lala mu itu akan ke datang ke rumah mu. Hati-hati."
Jodi terdiam dan hanya tatapannya yang begitu tajam. Seperti elang yang siap memangsa buruannya. Hatinya masih kesal dan marah, kemudian Ia berlalu menuju mobil kesayangannya. Tanpa menoleh lagi ia menancap gas dan melarikan diri dari tempat tersebut.
Netra mata Ibra yang mengarah ke mobil Jodi yang melesat. beralih ke arah pintu yang masih terbuka, membawa langkahnya ke dalam memasuki istana kecil.
"Sayang, aku mau kerja dulu di kamar," ucap Ibra ketika, bertemu sang istri yang sedang bersantai di sofa bersama sang mama mertua.
"Iya," balas Laras mengangguk dan menatap punggung sang suami yang berlalu ke kamarnya.
"Jadi nanti mau ke tempat Jodi, sayang?" tanya bu Rahma sambil menonton televisi.
"Iya, Mah ... lagian aku ingin tahu juga di mana tempatnya. Rasanya bagai mimpi juga bisa bertemu paman, rasanya gimana gitu? tiba-tiba bertemu paman Mulyadi. Sebab yang aku ingat hanyalah paman Rustam aja." Kenang Laras sembari menyandarkan punggungnya di bahu sofa.
"Mungkin Allah menentukan waktunya sekarang-sekarang ini kalian bertemu. Bersyukur aja masih punya keluarga yang menyayangi kamu sayang." Lirihnya bu Rahma.
"Jujur aku tidak menyangka akan bertemu mereka. Tidak mengira sama sekali kalau selama ini ada yang mencari ku," ucap Laras dengan mata berkaca-kaca.
Bu Rahma mengusap bahunya sang mantu. Dan menarik kepalanya ke dalam dekapannya.
"Aku pikir, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain paman Rustam, itu pun tidak menyayangi ku. Selama ini aku cuma di besarkan dan di biayai oleh panti." Laras terisak.
"Sudah sayang ... jangan nangis ah, yang jelas kalian sekarang sudah bertemu, Sekarang waktunya kalian bahagia." Bu Rahma terus mengusap bahu Laras dengan penuh kasih.
"Iya, Mah ...."
Bu Rahma pun, matanya berembun, terbesit kenangan silam yang mengiris hati. Sungguh membuat hatinya menangis.
"Mah, aku ke kamar ya? ngantuk nih." Laras beranjak namun sesaat tertegun merasakan mules perutnya.
Melihat itu bu Rahma khawatir. "Kenapa sayang? tidak ke napa-napa, kan?" ikut berdiri.
"Ti-tidak Mah, aku baik-baik aja kok," sahutnya sambil menggeleng pelan merasakan itu, sebentar hilang lagi.
"Ke rumah sakit ya? kita pergi sekarang," bu Rahma, wajahnya mengguratkan kecemasan melihat sang mantu meringis. "Mungkin mau melahirkan sayang." Tangan bu Rahma mengelus bokong Laras.
Laras mengusap perutnya. "Masih, jarang-jarang, Mah. Mulesnya, kata dokter juga nanti aja kalau kerasa mulesnya dah sering. Takutnya kontraksi palsu, nanti balik lagi. Berabe ah, nanti Abang panik, khawatir. Gak mau ah, Mah ...."
Perlahan, Laras mengayunkan langkahnya menuju kamar. Matanya terasa berat untuk ia buka, begitu sampai di kamar Laras langsung menempelkan kepalanya di bantal dan tidak butuh waktu lama untuk melakukan tidur siang.
Sampai-sampai Laras tak melihat, kalau suaminya berada di mana. Seperti saat ini Ibra duduk di sofa memangku laptop dan jari-jarinya sibuk di sana, matanya hanya sekilas melihat Laras masuk dan tanpa lihat kanan kiri langsung berbaring di atas tempat tidur.
Mata Ibra pun terasa lelah. Beberapa kali ia mengusap kedua sudut matanya yang berair, berkali juga ia menguap. Akhirnya menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Laptop di tutup ia simpan di samping, memejamkan kedua matanya itu.
"Ya Allah ... berat banget ini mata." gumamnya Laras sambil menyapukan pandangan ke seluruh sudut kamar.
Kemudian netra matanya mengarah pada Ibra yang lelap di sofa. Rupanya dia ketiduran di sana, tampak nyenyak banget.
Laras turun berjalan mendekati sang suami. Duduk di dekatnya, mengusap rahang Ibra yang sedikit berbulu. Bibirnya mengulas senyuman yang indah. Kemudian mendekat dan mendaratkan kecupan di pipi Ibra.
Sehingga sang empu tubuhnya bergerak dan seketika membuka mata setelah merasakan lembab di pipinya itu. Netra mata Ibra langsung menemukan wajah bantal sang istri yang tetap tampak cantik hanya beberapa senti dari dirinya. "Sayang?" gumam Ibra dengan suara khas bangun tidur.
Bibir Laras mengembang melihat Ibra langsung terbangun akibat sentuhannya. Manik mata Laras melihat jam dinding. "Sudah sore, bangun. Bersih-bersih."
"Hem ... minta mandi bareng ya?" dengan suara pelan.
Laras mengangguk pelan dengan masih menunjukkan senyuman manisnya. Netra mata keduanya saling menatap satu sama lain. Ibra menyentuh pipi Laras dengan jemari penuh kelembutan. "Oke."
Keduanya beranjak untuk bersih-bersih berdua. Setelah berada di kamar mandi dan berendam bersama. Ibra bertanya pada sang istri.
"Sayang, yakin kamu kuat? mengingat sekarang kamu sering merasakan kontraksi." Selidik Ibra sembari mengusapkan busa ke bahu Laras.
Sebelum menjawab Laras mengelus perutnya yang berada di dalam air. "InsyaAllah kuat, Aku gak pa-pa."
"Abang cuma khawatir sayang," sambung Ibra lagi.
"Kata dokter, persalinan ku sekitar satu minggu lagi. Tadi aku sudah ngobrol sama dokternya," tangan Laras mengusap dada Ibra yang bidang itu. Dada yang membuat ia selalu nyaman apabila berada di sana.
"Oya, tapi kita harus tetap waspada sayang ... kali aja dia sudah tak sabar dan ingin melihat dunia ini?"
"Nggak pa-pa, yang penting lancar dan selamat." Gumamnya Laras kembali."
"Aamiin ..." Ibra mengaminkan ucapan sang istri.
"Abang?" panggil Laras ragu.
"Hem, ada apa sayang?" Ibra menatap wajah sang istri yang menggigit bibinya, tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Em ... boleh ya? aku lahiran normal!" kemudian menunduk. Mengingat waktu itu Ibra ingin dirinya melakukan caesar.
Jari Ibra mengelus lembut pipi Laras. Dengan tatapan yang lembut pula. "Boleh sayang, kalau kamu mampu! kalau tidak. Mau tidak mau harus mengambil jalan pintas. Oke?"
Laras mengangguk. Setelah merasa cukup, ritual bersih-bersih pun selesai. Berakhir di atas sajadah salat bersama. Kali ini Ibra yang memimpin doa untuk kebaikan sang istri dan si calon baby, Laras cukup mengaminkan saja.
Selepas itu ... keduanya bersiap pergi ke alamat yang Jodi berikan. Laras sudah tampak cantik dengan tampilan kerudungnya yang simpel namun terlihat sangat anggun. Bibir Ibra terus mengembang melihat keanggunan sang istri.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum? ke sambet apaan!" selidik Laras. Ketika mendapati sang suami senyum-senyum.
"Nggak boleh gitu? aku kagum aja dengan kecantikan istri ku yang makin hari makin terpancar saja."
"Maaf ya ... gak ada receh, lembaran pun habis. Tak ada apapun yang bisa aku berikan, untuk menebus gombalan mu itu." Jelas Laras sambil menyemprotkan minyak wangi miliknya.
"Pelit amat istri ku." Keluh Ibra yang duduk di tepi tempat tidur.
Laras membalikkan badan. Mendekat pada sang suami. "Makanya jangan menggombal, sebab gak ada timpal baliknya." Mengulum senyuman.
"Bukan gombal sayang, tapi kenyataan." Ralat Ibra, meraih jam tangannya dari laci. Sekalian mengambilkan tas milik Laras.
"Makasih?" ucap Laras. Mengambil tas itu. Kemudian Ia masukan ponsel ke dalamnya.
Sesaat menghela napas dalam-dalam, langkahnya menuju gorden, buat ia tutup lebih dulu. Ngecek pintu keluar terkunci apa tidak. Kembali mengarahkan wajah ke arah sang suami.
"Berangkat sekarang gak?" tanya Laras dengan lembut.
"Baiklah, kalau sudah tak sabar ingin pergi," sahut Ibra, beranjak dari duduknya. "Mari kita pergi permaisuri ku."
Tangan Ibra menggandeng pergelangan Laras. Setelah sebelumnya menyelipkan ponsel ke saku jas nya.
"Mama mana Sus?" tanya Ibra pada Susi yang sedang menyapu di lantai ruang tengah.
"Nyonya, kayanya di kamar, Tuan." Jawab Susi. "Wah ... Nyonya muda cantik sekali. Hampir Susi pangling lihatnya.
"Tuh, kan? Susi aja bilang kamu cantik," menoleh sang istri.
Laras malah memajukan bibirnya ke depan. "Susi Papa dah pulang ya?"
"Sudah, Nya. Oya Tuan, Mas Irfan baru saja datang. Sekarang ada di dapur sedang ngopi," ungkap Susi.
"Oya?" kemudian Ibra ke dapur. Benar saja Irfan ada di sana.
Irfan langsung mengangguk hormat, ketika melihat sang majikan muncul dan berada di dapur. "Met sore Tuan. Saya baru bisa datang."
"Hem, ibumu sudah sehat?" Ibra mengernyitkan keningnya.
"Sudah, Tuan Alhamdulillah." Irfan mengangguk.
"Baguslah. Oya antar saya ke alamat Jodi." Pinta Ibra. Kebetulan sekali, pas mau berangkat. Irfan datang, ada yang nyetir pikirnya.
"Jodi yang waktu itu sama Dia--"
"Sstt ... jangan keras-keras. Iya, dia itu ternyata sepupu istri saya," sambung Ibra jarinya menempel di bibir
"Istri yang mana Tuan?" tanya Irfan kembali.
Ibra menggeleng kesal. "Ya ... istri saya yang di sini, emangnya kamu pikir Istri saya sekarang ini ada berapa?"
Irfan menyeringai. "Maaf, Tuan. Baiklah." Irfan menghabiskan kopinya, ia simpan di wastafel.
Ibra kembali pada sang istri. "Yu, ke mama dulu. Pamitan sayang." Ibra kembali menarik tangan Laras.
Begitu sampai di depan pintu, keduanya berdiri. Punggung jari Ibra mengetuk daun pintu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Ibra mengetuk seraya memanggil. "Mah ... aku dan Laras pergi dulu ya?"
"I-iya, hati-hati sayang," suara pekikan bu Rahma dari dalam kamar terdengar berat.
Ibra dan Laras saling pandang sesaat. Kemudian berjalan berbarengan keluar.
"Sus. Aku pergi dulu ya?" ucap Laras pada Susi.
"Iya Nya ... salam buat pujaan hatiku ya? hi hi hi ...."
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil duduk dengan santai dan nyaman. Sementara Irfan bersiap untuk mengemudi.
"Apa kabar, Mas? gimana kondisi ibunya," selidik Laras dari belakang.
"Alhamdulillah baik, kondisi ibu saya ... sudah membaik juga," sahutnya.
Kemudian Irfan melajukan mobil Ibra. Mundur, yang akhirnya berbalik menuju jalan raya, meninggalkan rumah kediaman Ibra dan sang istri.
Laras menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Emang Mas Irfan tahu alamat Jodi?"
"Tau, eh tahu, sudah aku beri alamatnya tadi. Iya kan Fan?" sahut Ibra sambil menggerakkan matanya melihat Irfan yang sedang menyetir.
"Iya, Tuan sudah ngasih alamatnya tadi." Akunya Irfan dibarengi mengangguk, meyakinkan Laras.
"Oh ..." membulatkan bibirnya.
Ibra mencium puncak kepala Laras yang mengelus perutnya dengan lembut. Tangan Ibra pun turut mengusap bokong sang istri ....
__ADS_1
****
Hai ... reader ku yang sangat aku sayangi. Kalau ada typo yang kurang, atau lebih, yang salah. Segera beri tahu aku dong ... agar aku segera revisi. Sebelum up aku berkali-kali revisi, tapi suka ada aja. Mohon bantuannya ya🙏 koreksi.