
Kelanjutan "Mirip opa-opa" di bab "Menumpahkan rasa rindu" ya?
Ibra menatap kecewa. "Apa gak bisa nanti saja?" dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
"Tidak, tidak bisa waktunya sedikit. Takut nanti kesiangan, boleh ya? sebentar saja." Laras memelas.
"Pergilah," ketus Ibra sambil menggulingkan tubuhnya. Ke samping.
Laras turun menapaki lantai, bergegas ke kamar mandi. "Perasaan, aku bangun itu sekitar jam 00.00 lewat sedikit. Kok sekarang sudah subuh aja? gak kerasa banget." Laras bergumam dan mengambil air wudu.
Kemudian Laras kembali dengan tetesan air wudu di wajahnya. Lantas menunaikan salat subuh. Beberapa menit kemudian Laras menyimpan mukenanya.
Ibra yang telungkup di atas tempat tidur hanya sesekali memutar kepala ke kanan dan ke kiri.
Laras berdiri di tepi tempat tidur, menatap suaminya yang nampak sangat lesu. Ia naik merangkak dan mendekati Ibra ingin menyentuhnya namun ragu. "A-abang? aku sudah selesai." Suara Laras pelan namun jelas, di telinga Ibra.
"Ngantuk ah," ungkap Ibra sembari memejamkan matanya.
"Ya, sudah. Aku mau beres-beres dulu, di kamar ini dan kamar mu," ucap Laras sambil memutar badan memunggungi Ibra.
Namun tiba-tiba Ibra memeluk dari belakang. "Emangnya kamu tega membuat aku tersiksa gini hem?" suara parau Ibra. Tepat di telinga Laras.
Membuat bulu kuduk Laras meremang. Kemudian memutar kepalanya menoleh Ibra yang meletakkan dagunya di dekat telinga Laras.
"Katanya ngantuk, tidur saja. Aku mau beres-beres." Ungkap Laras memegang tangan Ibra yang memeluk perutnya.
"Mana bisa, aku tidur? kalau yang satu itu bangun terus," rajuk Ibra lesu.
Laras mengernyitkan keningnya. "Apaan tuh?" gak ngerti.
Ibra membaringkan tubuh Laras, di tatapnya penuh hasrat. Tatapan Ibra penuh damba, mendambakan sesuatu yang lama tidak di dapatkan dari diri Laras.
Laras membalas dengan tatapan sayu, dan pasrah dengan yang akan Ibra lakukan kali ini. Kemudian Ibra menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya, lalu terjadilah pergulatan yang sangat sengit di atas tempat tidur. Sampai dua jam lamanya, sebuah pertarungan yang sangat dahsyat terjadi. Tidak perduli dengan tubuh yang sudah di hujani dengan keringat.
Maklumlah, hampir seminggu ini benda pusaka Ibra tidak digunakan. Sama sekali, makanya sekarang meminta dobel alias balas dendam.
Laras sudah kelelahan. Tubuhnya lemas tak berdaya, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Begitupun Ibra, napas yang masih memburu dan berusaha mengontrolnya. Terkulai lemah di samping Tubuh Laras. Keringatnya pun membasahi tubuh, hasratnya masih menggebu, tapi tenaganya sudah habis terkuras.
Mereka berbaring, untuk memulihkan tenaganya. Karena terlalu capek, keduanya tertidur pulas. Laras tertidur di dada bidang Ibra.
Karena sudah pukul 08.00 wib. Laras dan Ibra masih belum keluar juga, bu Rika mengetuk pintu kamar Laras.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Nyonya ... sudah bangun belum? sarapan dulu," pekik bu Rika.
Lama ... di tunggu tidak ada respon, jangankan membuka pintu, nyahut aja tidak ada. "Oh. Iya, kan tuan sudah pulang dari luar Negeri. Pasti tuan berada di dalam." Gumam bu Rika bicara sendiri sambil mengulas senyumnya.
Kemudian memutar badan kembali ke dapur di sana sudah ada Mery yang mau sarapan.
"Kemana majikan mu itu?" tanya Mery melihat bu Rika yang baru datang dari kamar Laras. "Pingsan apa?"
"Sepertinya belum bangun, Nya!" sahut bu Rika, lalu mengambil sarapan untuk Mery.
__ADS_1
"Masih tidur? masa! tumben? bukannya dia istri paling rajin di mension ini ya," ungkap Mary sinis.
"Sepertinya, lagian ... nyonya Laras sedang bersama tuan." timpal bu Rika.
"Apa? bersama tuan, bukannya tuan masih di luar Negeri?" tanya Mery yang sangat terkejut mendengar Ibra sudah pulang. Bahkan sekarang bersama Laras, istri muda nya. Sementara dia sendiri tidak tahu sama sekali.
"Iya, semalam tuan pulang!" sahut bu Rika.
"Kok, aku gak tau apa-apa? aku ini istrinya juga, Kak Dian mana? dia pulang, kan?" celingukan mencari Dian. "Aku akan cari dia di kamarnya." Mery berdiri menggeser kursinya mau mencari Dian.
"Nyonya Dian, belum pulang. Mungkin besok atau lusa baru pulang, dia liburan dulu. Begitu berita yang saya dengar," ungkap bu Rika.
Mendengar penjelasan bu Rika, Mery mengurungkan niatnya dan kembali duduk melanjutkan sarapannya. "Tega banget Ibra. Gak bilang-bilang sama aku kalau sudah pulang." Gumam Mery sambil memainkan sendok di piringnya.
"Saya tidak tahu apa-apa, Nya!" sahut bu Rika.
"Saya, tidak bicara sama kamu." Mery sambil melotot ke arah bu Rika.
"Maaf, Nya!" bu Rika menunduk, kemudian pergi, malas bila harus terus melayani Mery.
"Eh. Kau Susi, buatkan saya jus buah naga." Suara Mery yang di tujukan pada Susi yang sedang sarapan di maja lain.
"Saya?" tanya Susi menunjuk hidungnya.
"Iya, kamu! saya bicara sama kamu, bukan bicara sama tembok," hardik Mery.
"Oh, kali saja bicara sama yang lain, he he he." Susi nyengir dan langsung mencari buah naga. Seperti yang Mery minta, di lemari pendingin.
"Jangan pake susu, madu saja."
"Baik, Nya ..." sahut Susi.
Susi mendengus kesal. "Iya."
"Bawakan, ke kamar saya. GPLL, alias gak pake lama-lama." Mery berdiri dan meninggalkan meja makan.
Susi mengerucutkan bibirnya. "Baik, Nya ...."
"Lama-lama saya jadi ilfil sama nyonya Mery." cibir salah seorang asisten lainnya.
Susi diam dan melihat temannya itu. "Apalagi saya. Pake banget!"
Kemudian Susi membawa segelas jus buah naga ke kamar Mery. "Aku bawakan jus dulu ya? bu singa pasti menunggu ... kalau GPLL, bisa-bisa aku kena terkam," gumam Susi sambil jalan dengan gemulai, dan jadi bahan tertawa teman-temannya.
Sesampainya depan pintu kamar Mery, yang kebetulan terbuka setengahnya. Susi mau mengetuknya, namun terdengar suara Mery sedang ngobrol di telepon. Susi berdiri di sana.
"Sayang, dia sudah pulang, dan kita akan memulai rencana kita, sesuai rencana!"
"Nyonya Mery sedang bicara sama siapa? pake sayang-sayang segala?" gumam Susi. Dengan pura-pura tidak mendengar apa-apa Susi memekik. "Nya ... jus nya sudah datang ..." suara Susi menghentikan obrolan Mery melalui sambungan telepon.
"Bawa masuk, simpan di meja!" ketus Mery.
"Baik Nyonya," Susi menyimpan di meja yang Mery suruh. "Dan saya permisi ... ya?" ucap Susi sambil berjalan dengan masih sok gemulai. Membuat Mary menggeleng.
"Kamu kenapa jalan begitu? mau jadi peragawati!" tanya Mery sambil menatap langkah Susi.
Langkah Susi berhenti. "Emang bisa ya, kalau saya jadi model seperti Nyonya Mery?"
__ADS_1
"Tidak, kamu itu cuma pembantu! jangan mimpi jadi model seperti saya." Jawab Mery penuh penekanan.
Susi menatap tajam. "Lidah Nyonya tajam banget ya, lebih tajam dari pisau dapur! tapi ... awas, Nya, terhiris sendiri, dan itu ... sama aja dengan bunuh diri."
Mery menatap Susi yang kembali berjalan dan melintasi pintu. Ia bengong memikirkan maksud perkataan Susi barusan.
****
Waktu sudah hampir siang, di kamar Laras masih sunyi. Gorden masih menutupi jendela, lampu masih menyala. Laras baru terbangun menggeliat-geliat nikmat. Melirik ke samping, Ibra masih tidur pulas. Bibir tersenyum, menatap wajah yang tampan Ibra yang sedang tidur.
Menoleh putaran jam sudah menunjukkan pukul 10.25 wib. "Ya. Allah ... sudah siang banget." Bergegas meraih pakaian yang ada di atas tempat tidur dan memakainya. Kemudian langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum berendam mengisi dulu air ke bathtub tidak lupa membubuhkan aroma terapi ke dalam bathtub.
Tidak berselang lama, Laras sudah rapi. Rambut sudah di keringkan, badan sudah wangi. Kemudian mengerjakan dua rakaat dan tidak lupa berdoa. Selepas itu Laras menghampiri Ibra yang masih juga pulas. "Hari ini gak masuk kantor kali ya?"
Ia membalikan badan untuk bersih-bersih dan membukakan gorden. Tirai terbuka sinar matahari masuk semua ke kamar Laras, membuat mata Ibra merasa silau.
"Silau," gumamnya Ibra sambil memicingkan matanya.
Laras mendekat. "Silau apaan? sudah siang nih, tidak ke kantor apa?"
"Em ... tidak. Capek, pengen istirahat di rumah saja." sahut Ibra dengan suara parau nya.
"Oh, apa mau aku siapkan air aroma terapi?" menatap Ibra yang malah memeluk guling. Mengekspos punggung nya yang terlihat bersih tanpa memakai apa pun itu.
Ibra bangun dan duduk bersandar di bahu ranjang. Manik matanya memandangi Laras yang berdiri dengan penampilan rapi. Wangi, pakaian setelan panjang, rambut di kuncir kuda di atas. "Kenapa tidak bangunkan aku, kalau mau mandi?"
"Kenapa? aku gak perlu di mandiin, bisa sendiri kok," sahut Laras.
"Iya ... bisa sendiri. Setidaknya mandi bareng." Akunya Ibra sambil memainkan matanya nakal.
Laras menggoyangkan bahunya. kemudian duduk di tepi tempat tidur.
Dengan malas, Ibra menurunkan kakinya. "Tolong dong pakaikan celana da*** ku?"
"Apa? tidak salah!" Laras bengong.
"Eh ... malah bengong, pakaikan!" Ibra menunjuk celananya.
Sebelum mengambilnya, Laras menghela napas dalam-dalam. "Sabar ... ada di rumah, sama dengan aku harus mengurus baby besar." Batin Laras.
"Anggap saja ... sebagai latihan, sebelum mengurus anak kita nanti." ucap Ibra sambil menyeringai.
Bibir Laras mencibir namun tak ayal ia mengambil celana ***** Ibra, lalu berjongkok memasukan ke kaki Ibra yang berbulu itu. Kemudian menaikannya ke atas. Mulanya benda itu di tutupi selimut. Ibra berdiri, dan Laras membuang muka ke samping, serta menutup kelopak matanya kuat-kuat. Takut melihat sesuatu.
Ibra tertawa sampai terbahak-bahak. "Ha ha ha sayang, ini milik mu, kenapa takut melihatnya segala. Bukannya kamu suka?"
Laras masih menutup matanya, sampai selesai. Dan bergidik geli-geli gimana gitu, kemudian Laras berdiri mengambil pakaian kotor Ibra, masih tidak berani melihat Ibra yang juga masih berdiri di tempat. "Mandi sana?" titah Laras sambil merapikan selimut.
"Baiklah, tuan Putri. Aku mau mandi dulu. Jangan lupa siapkan pakaianku, dan sarapan buat ku." Ibra melangkah, sampai di pintu. Ia berhenti. "Oya! bikinkan aku nasi goreng ayam suwir kecap pedas. Buatan tangan mu sendiri."
Laras tidak menjawab selain menatap punggung nya Ibra yang masuk kamar mandi. "Ada-ada saja. Asisten banyak juga." Gerutu Laras. Mendekati lemari dan menyiapkan pakaian Ibra yang ada di situ.
Setelah selesai! Laras bersiap untuk turun dan menyiapkan sarapan+makan siang kali ya? secara sudah siang begini.
Dari luar, daun pintu ada yang menggedor-gedor berkali-kali ....
*****
__ADS_1
Apa kabar semuanya? semoga ada dalam lindungan yang maha kuasa. Hanya doa yang bisa aku panjatkan atas segala kebaikan pembaca novel ku semua🤲🤲 Terima kasih banyak ya🙏sudah senantiasa menunggu tulisan ku up.