
"Ayah sangat bahagia mendengarnya kabar ini Nak, kapan kau akan datangi keluarga Caca?" tanya pak Mulyadi menatap ke arah Jodi dan Caca yang terus menunduk.
"InsyaAllah besok sore aku kami akan ke sana Yah, mohon doa nya dari Ayah." Jawab Jodi dengan senyuman bahagia di wajahnya.
"Ayah akan doa kan, Nak semoga lancar dan menjadi rumah tangga bahagia nantinya." Pak Mulyadi tersenyum senang.
"Iya, Ayah Aamiin ya Allah." Timpal Jodi kembali.
"Sekarang saya mau tanya sama Caca. Bener mau sama putra saya?" menatap lekat si calon mantu.
Caca terus menunduk. Jadi salah tingkah di tanya pasien sekaligus calon mertua. Dadanya dag dig dug tak karuan, jantung berdebar tek menentu. "Em ... insyaAllah, mau," suaranya nyaris tak terdengar oleh pak Mulyadi dan Jodi.
"Apa, mau?" ulang pak Mulyadi kembali.
Lagi-lagi Caca mengangguk pelan, perasaannya makin tak menentu. Wajahnya tampak malu terus di tatap oleh pak Mulyadi terutama Jodi yang terus menatap ke arahnya.
"Akhirnya Allah mengirimkan jodoh buat putra ku, seorang wanita cantik, pintar. Perawat juga." Kepala pak Mulyadi menggeleng kagum sama sosok Caca.
"Tapi, Caca ini akan tetap merawat Ayah kok," ucap Jodi menatap sang ayah.
"Oh, tentu. Itu harus, Caca harus terus merawat Ayah. Jangan mentang mentang-mentang dah jadi istri Jodi, gak mau merawat Ayah lagi. Kecuali bekerja di luar, itu jangan dibiarkan. Tapi kalau di RS sih tidak apa-apa asal jangan seperti sekarang harus sampai nginep segala, kalau sudah punya suami ya jangan Nduk!"
Caca mengangkat wajahnya. "Iya, aku akan membatasi pekerjaan ku bila sudah bersuami nanti."
"Bagus itu, harus mengutamakan keluarga. Suami yang harus di prioritaskan," sambung pak Mulyadi sambil menyandarkan punggung nya.
"InsyaAllah," ucap Caca sambil menutup buku nya. Ia mengambil air minum dan obat pak Mulyadi.
Apa sudah memberi kabar pada keluarga Caca, kalau besok kalian mau datang?" selidik pak Mulyadi. Menatap ke arah Jodi.
"Sudah. Dan mereka sangat senang mendengarnya," sahut Jodi sambil nyeruput kopi nya.
"Oh, kalian gak usah tunangan-tunangan lah, langsung aja menikah. Pacaran setelah menikah saja." Pinta pak Mulyadi.
"Iya, Yah. Itu yang aku inginkan ya kan sayang?" Jodi menoleh ke arah Caca dengan mengedipkan sebelah matanya.
Caca tersipu malu di panggil sayang sama Jodi di hadapan calon mertua. Namun pada akhirnya ia pun mengangguk pelan.
"Wah ... sudah tak sabar ingin menimang cucu dari kalian. Dari Laras kan Ayah sudah menimangnya. Tinggal dari kalian, setelah menikah jangan di tunda-tunda ya Ca?" pak Mulyadi melirik ke arah Caca yang menyimpan gelas bekasnya minum obat barusan.
Senyum Caca merekah dan mengangguk, "InsyaAllah tidak." matanya melirik Jodi yang tengah melihat dirinya.
__ADS_1
"Asyiap ... kami tidak akan menundanya, Yah. Justru akan langsung aja." Jodi tersenyum dan melihat pada sang ayah dan Caca bergantian.
Caca langsung mendelik kan matanya pada Jodi. Ia pikir belum apa-apa omongannya sudah mengarah pada yang gituan.
"Langsung bertanding. Semoga aku menang." Akunya Jodi sambil mengepalkan tangan dan mengacungkan nya ke udara.
"Semangat, semangat 45 lima, Nak. Ha ha ha ..." pak Mulyadi terkekeh.
"Apaan sih, Mas ini?" pekik Caca dengan suara tertahan. Dengan mata membulat, namun bibir tersenyum manis.
"Ayah titip Jodi Ya Nduk ... sayangi dia, saya percaya sama kamu sih," ungkap pak Mulyadi menatap pada Caca. "Nanti kalau saya sudah sehat. Saya akan balik ke Yogyakarta."
Caca menatap sang calon mertua dan sedikit mengangguk.
Jodi terkesiap. "Loh, Ayah biarpun sudah sehat tetaplah tinggal di sini Yah ... biar terus berkumpul, di sana Ayah sendiri. Aku lebih banyak tugas di sini, kan? Adek masih kuliah."
"Tidak apa, sudah biasa Ayah sendiri di sana, lagian ada mbok Darmi yang menemani Ayah. Jangan khawatirkan Ayah, apalagi kalau Ayah sudah sehat. Kapanpun Ayah bisa ke sini. Bila kamu gak ke kampung, gitu aja kok repot Nak."
"Iya, sih." Jodi bengong. Otaknya sedang berputar memikirkan sesuatu.
"Besok, Ayah mau main ke tempat Laras . Kangen sama baby boy nya Laras, sudah berapa hari Ayah tidak bertemu," ujar pak Mulyadi.
"Oh, iya lima hari yang lalu, berasa lama banget ya?" gumamnya pak Mulyadi.
"Boleh, antar sama supir. Dan jangan terlalu sore pulangnya. Aku dan Caca mau berangkat menemui orang tua Caca, kan?"
Caca.mengangguk. Begitupun Pak Mulyadi. "Paling siang juga pulang kok. Takut aja calon pengantin nya Ayah pinjem. Ha ha ha ...."
Jodi mesem. "Bukan gitu Ayah ... kan waktunya." Elak nya. Gak mau mengakui.
"Iya-iya ngerti, Ayah cuma bercanda Nak ... gak serius."
Kemudian pak mulyadi, Caca antar ke kamarnya untuk istirahat. Kebetulan waktu sudah menunjukan pukul 21,00 malam.
"Antarkan saya ke toilet sebentar suster?" pinta pak Mulyadi.
Caca menunggu di depan pintu. Sampai pak Mulyadi mengatakan sudah selesai. Caca bengong, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Dan tak menyangka akan di lamar sama majikan, bibirnya senyum-senyum sendiri.
Siur ... siur ... suara air dari dalam toilet.
"Sudah." Suara pak Mulyadi dari balik pintu.
__ADS_1
Caca membuka pintu, lalu meraih dorongan kursi roda. Dibawanya ke dekat tempat tidur, ia bantu pak Mulyadi berdiri dan duduk di tepi tempat tidur. Kemudian berbaring, Caca menarik dan menyelimuti tubuh pak Mulyadi sampai menutupi dada.
"Sebentar saya kembali. Mau mengambil minum dulu." Caca mundur dan berbalik meninggalkan kamar tersebut.
Setelah pintu tertutup, detik kemudian terbuka kembali. Ternyata yang masuk mbok Darmi dengan jalan mengendap-ngendap menghampiri pak Mulyadi.
"Tuan, saya datang."
"Ngapain kamu ke sini?" tanya pak Mulyadi.
"Saya rindu sama Tuan, selama di sini tidak ada kesempatan untuk bersama. Anda selalu dengan Caca. pergi pun dengan Caca terus saya tugasnya apa?" dengan suara manja.
"Belum sempat pak Mulyadi mengatakan sesuatu. Derap langkah seseorang terdengar jelas mendekati tempat tersebut, mbok Darmi panik.
"Alah, aku sembunyi di mana?" ia salah tingkah. Sembunyi di balik gorden tak mungkin, tubuhnya terlalu subur.
Pak Mulyadi pun ikutan panik. Gelisah. "Sembunyi di lemari saja."
"Nggak mungkin Mas. Gak muat," langkah mbok Darmi makin salah tingkah. Sementara derap langkah itu semakin dekat. Pada akhirnya mbok Darmi bergegas masuk kamar mandi.
Pintu terbuka dan muncul Caca yang membawa nampan berisi sebotol air mineral, disimpannya di atas nakas. Agar dengan mudah pak Mulyadi mengambilnya.
Pak Mulyadi tersenyum dan menarik napas panjang. Menyembunyikan rasa gugupnya itu, berharap Caca segera keluar.
"Apa anda memerlukan sesuatu?" tanya Caca menata pak Mulyadi.
"Ti-tidak. Saya tidak perlukan apapun, makasih saya mau tidur saja. Ngantuk." Pak Mulyadi menguap beberapa kali.
"Oh, baik lah. Saya permisi dulu, nanti kalau perlu bantuan Caca panggil saja," ucap Caca mengangguk hormat, lalu memutar badan. Mendekati pintu, setelah diluar ia kemudian menutup pintu kamar pak Mulyadi.
Pak Mulyadi menarik napas lega. manik matanya menatap daun pintu yang dilintasi oleh Caca barusan. Pintu kamar mandi perlahan terbuka dan kepala mbok Darmi menyembul, setelah beberapa saat dirasa aman dan Caca tidak kembali. Mbok Darmi segera mengunci pintu dari dalam.
Mbok Darmi menghela napas dan mengusap dadanya. Perlahan menghampiri pak Mulyadi yang sedang menatapnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping pak Mulyadi yang masih berbaring.
Dengan senyum penuh arti, tangan mbok Darmi terulur menarik selimut yang dikenakan pak Mulyadi, di turunkan nya. Sampai pinggang. Pak Mulyadi bangun dan meringsut duduk, bersandar di bahu tempat tidur.
Kedua mata pak Mulyadi menatap intens ke arah mbok Darmi wanita yang sudah lama menjaganya ....
****
Hai ... apa kabar semua? semoga kabar baik ya, masih suka kan dengan cerita ini. Jangan lupa mampir juga di "Bukan Suami Harapan" semoga suka🙏
__ADS_1