Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Niat mulia


__ADS_3

Laras kembali menghampiri sang suami yang tersenyum senang. Bibir Laras terus menerbitkan senyumannya.


"Sayang, buat apa sih meladeni mereka?" tanya Ibra sambil meraih kembali tangan Laras.


Laras menatap sejenak, hingga akhirnya ia berkata. "Apa laki-laki suka di goda?" mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya apa sayang?" tangan Ibra beralih merangkul pinggang sang istri. "Laki-laki itu suka di goda, apalagi sama istrinya."


"Aku paling gak suka, bukannya aku merendahkan kaum ku, bukan. Aku paling gak suka sama wanita penggoda laki-laki yang sudah ketahuan tajir hidupnya di atas angin. Padahal tahu kalau pria itu punya istri--" Laras menjeda ucapannya.


Ia menghela napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan dengan sangat panjang. "Coba kalau tahu laki-laki itu miskin tak punya apa-apa, gak mungkin mereka mau apa lagi sampai bersedia menjadi istrinya. Mereka mau kesenangan saja. Begitupun pria ketika hidupnya bergelimang harta pasti deh banyak lirik sana sini. Makanya banyak perselingkuhan atau semacamnya," ujar Laras.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Setelah semua memasang sabuk pengaman, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Jangan nyindir sayang, Sebab jalan cerita ku bukan seperti itu. Hidup aku sekarang seperti ini, sama sekali bukan meniti dari nol bersama Dian. Mutlak semuanya sudah ada sebelum menikah juga. Dan aku menikahi wanita lebih dari satu, kamu juga tahu ceritanya, kan?" Ibra menoleh sang istri yang menyandarkan kepala di bahunya.


"Itulah, sebabnya aku gak mau terlalu hidup mewah. Nanti di kira aku matre. Tidak perduli pria sudah beristri yang penting kemewahan lancar terus. Bagaimanapun aku juga sering dengar selentingan suara yang berhembus ke telinga ku. Jelas aja mau di madu orang suaminya kaya raya, jelas dong mau hamil. Orang hidupnya akan terjamin. Jadi ... jangan terlalu memanjakan aku dengan kemewahan, perlakukan aku biasa aja," ungkap Laras, tangannya menggenggam tangan Ibra dan menautkan jemarinya.


Ibra tercengang mendengar uraian kata dari sang istri. Ia menempelkan bibirnya di kening Laras. Memberikan kecupan mesra di sana. "Tapi sayang ... itu hak kamu, aku sebagai suami bertanggung jawab memberi yang aku punya. Terus buat apa dan siapa aku memiliki harta yang banyak, kalau bukan untuk keluarga? usah dengarkan kata orang sayang ... kita yang jalani hidup ini. Dan kita asli bukan hasil perselingkuhan atau apa, apalagi kamu merebut aku dari istri yang lain. Tidak sama sekali sayang, aku anggap ini takdir dari Allah yang menyatukan kita berdua." Tangan Ibra meremas jemari Laras yang lentik dan halus itu.


"Alangkah lebih baiknya, harta itu banyak-banyak di sumbangkan, ke panti atau siapa lah. Di luar sana masih banyak orang-orang yang serba kekurangan. Buat makan pun susah. Apalagi bisa makan enak, tidak punya tempat tinggal, gak mampu sekolah." Kepala Laras sedikit mendongak pada sang suami yang juga menundukkan pandangan ada dirinya.


Irfan cuma mendengarkan dari belakang kemudi. Sungguh hatinya merasa kagum sama sosok wanita yang jadi majikannya ini, di jaman sekarang masih ada wanita yang ingin hidup sederhana. Meskipun kehidupannya sang suami sangat bergelimpangan harta. Hati wanita yatim piatu itu sungguh mulia dengan pengajukan pandangannya. Atau saran yang dia berikan pada sang suami.


"Aku terlalu sibuk sayang, untuk mengurus itu. Makanya aku ingin percayakan kamu untuk mengurusnya, silakan kamu gunakan uang itu sebaik mungkin. Abang percaya kamu akan mampu mengelolanya, kamu mau pakai sumbangan ke mana terserah. Tugasku biar mengelola perusahaan saja biar berkembang dan hasilnya kamu yang atur. Oke?"


"Nggak mau ah, pusing juga kalau harus ngatur sendiri. Apalagi dengan kondisi ku yang hamil besar gini," gumamnya Laras sedikit menggeleng.


Bibir Ibra tertarik membentuk senyuman. "Sayang. Banyak orang yang dapat kamu percaya untuk menjalankan ke tempat. Cukup kamu kasih perintah saja. dan berikan uangnya, terus minta tanda bukti, beres. Kamu tinggal tunjuk sayang. Paling sesekali kita turun ke lapangan. Kamu mau membuat beasiswa untuk anak-anak yang tidak mampu namun otaknya pintar dan cerdas. Silahkan, kerjakan yang kamu mau. Sebab aku percaya niat mu bagus sayang." Lagi-lagi menempelkan bibir di kening sang istri.


Laras pejamkan mata. Kemudian mendongak menatap sang suami. "Jadi semua aku yang atur?"


"Iya sayang, semua niat baik mu lakukanlah. Gunakan uang yang akan ada di ATM milikmu, jika kurang atau memerlukan sesuatu bicaralah. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat pada istri ku yang punya niat mulia ini." Cuph mengecup punggung tangan Laras.


Sungguh perjalanan ini tidak terasa, tau-tau mobil sudah masuk ke halaman mension. kepala Laras mendongak mengamati mension yang dulu pernah ia tinggali. Waktu pertama kali ia menginjakkan kaki setelah menjadi nyonya Malik Ibrahim yang ke empat. Laras membuang napasnya kasar.


Kemudian Laras mengikuti langkah sang suami yang menarik tangannya untuk masuk. Semua penghuni rumah ini menyambut kedatangan Laras dengan gembira. Bu Rika memeluk Laras.


"Selamat datang di mension Nyonya muda?" mengangguk hormat.


"Iya, Bu Rika. Aku cuma menginap saja bukan untuk pindah kok," ucap Laras dengan senyum ramahnya.


''Oh ... tak apalah, yang jelas kami merasa senang sering melihat Nyonya tampak di mension ini." Timpal Bu Rika.


Ibra langsung mengajaknya ke kamar pribadi, Laras pun menuruti kemauan sang suami.


Kini mereka berada di kamar, Laras berdiri di depan kaca jendela yang membentang itu. Melihat pemandangan di luar dari tembusan jendela. Cuaca di luar teduh seperti mau turun hujan.


Ibra memeluk Laras dari belakang. "Rasanya kangen masa-masa dulu. Di saat istriku ini selalu melayani ku di sini."


Kepala Laras menoleh. "Emangnya di sana aku gak pernah melayani mu apa?"


"Tentu, selalu. Aku cuma bilang ... kangen suasana di sini sayang. Bukan tak pernah di perhatikan atau tak di urus." Mengecup curuk lehernya sang istri yang langsung merinding.


"Mau mandi? aku siapkan air nya ya," Laras melepas pelukan sang suami. Namun bukannya lepas malah semakin kuat.


"Iih. Lepas, aku mau mau ke kamar mandi." Gerutu Laras.


Ibra menempelkan dagunya. Di bahu sang istri, tentunya badan Ibra condong ke depan. Sebab ia lebih tinggi dari sang istri.


"Bentar lagi, masih ingin begini." Tangannya mengusap perut buncit sang istri.


"Sudah siang, kita salat dulu ya," dengan sangat lirih. Kemudian Ibra melepas pelukan dan menggandeng tangan Laras ke kamar mandi.


Setelah kembali dari kamar mandi. Keduanya langsung menunaikan salat dzuhur. Selepas itu Ibra bersih-bersih sementara Laras menyiapkan pakaian ganti Ibra, ia letakkan di atas tempat tidur. Sudah tak terhitung lagi berapa kali Laras menguap akibat kantuk yang menyerang matanya.


Akhirnya Laras membaringkan diri di tempat tidur tanpa mengenakan selimut, kedua kelopak mata Laras langsung terpejam dan meraih mimpinya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Muncullah Ibra dengan handuk yang melilit di bagian bawah perutnya. Tangan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Netra matanya mendapati sang istri tidur pulas.


"Sayang ... bobo kah?" bisik Ibra di dekat telinga sang istri.

__ADS_1


Tak ada respon sedikitpun dari sang istri, selain suara napasnya yang teratur. Ibra mendaratkan kecupan di kening dan pipi sang istri dengan gemasnya. Setelah puas menatap wajah cantik itu, barulah Ibra mengambil pakaian yang sudah disiapkan di atas tempat tidur.


Setelah mengenakan pakaian, dan wewangian. Ibra membawa langkahnya menuju ruang kerja, menenteng laptop. Sebelum pergi, Ibra menghampiri Laras yang tertidur nyenyak. Beberapa kali ia mengecup lembut kening, pipi dan berakhir di bibir orang yang tak merespon apapun. Bibir Ibra di tarik senyum, lalu melanjutkan niatnya untuk berkutat di ruang kerja.


Sore-sore, Laras baru bangun. Membuka matanya yang terasa sepet sekali rasanya lengket untuk ia buka. Memicingkan penglihatannya melihat keadaan sekitar yang begitu hening. Bayang Ibra pun tak terlihat ada di sana. "Kemana dia? tapi tadi perasaan gak bilang mau ngantor."


Laras turun perlahan mendekati pintu yang menuju balkon. Laras berdiri, cuaca gelap yang disebabkan langit sedang menangis. Rintik hujan pun menghiasi suasana di sore ini.


Kemudian Laras masuk kembali, langkah yang ia ayunkan menuju kamar mandi. Sesekali menggelengkan kepalanya yang terasa pusing dan ngantuk.


Setelah berada di dalam kamar mandi, dengan tidak membuang waktunya. Ia langsung berendam di bahthub, dengan air hangat. Dengan aroma terapi yang sangat menenangkan. Kepala Laras mendongak ke langit-langit dangan mata terpejam. Menikmati segarnya air di bahthub.


Setelah puas berendam, Laras pun membersihkan diri di bawah air shower. Meraih jubah handuknya, mengambil pakaian yang sudah tersedia wardrobe milik Ibra. Setelah mengambil satu pakaian. Laras langsung memakainya, selepas menunaikan ashar, Laras hendak mencari Ibra berada.


"Di mana ya dia? kok dari tadi tidak kelihatan batang hidungnya?" Laras berniat menelpon namun tak ayal niat itu diurungkan dan langkahnya membawa ke sebuah ruangan yang berdampingan dengan kamar pribadi Ibra.


Perlahan tangan Laras terulur dan memutar handle pintu, ia putar dan sedikit mendorong ke dalam. Tampak Ibra sedang duduk di kursi kebesarannya. Mata berkaca mata bening, menghadapi sebuah laptop. Dengan mata fokus ke layar dan jari-jari sibuk di papan keyboard begitu seriusnya.


Perlahan langkah Laras membawanya ke dekat meja Ibra, di situ tersedia beberapa botol air mineral dan makanan ringan.


Melihat kedatangan sang istri yang matanya intens melihat setiap sudut ruangan. Ibra segera menyapa. "Baru bangun sayang?"


"Hem." Laras menoleh dan duduk di kursi yang ada di depan Ibra. "Sudah 30 menit yang lalu sih. Abang sudah salat belum?" dengan lirihnya.


Ibra mengalihkan pandangannya ke jam yang melingkar di tangannya. Sudah menunjukkan pukul 16.30 wib. Seraya menggeleng. "Belum."


"Hem ... salat dulu sana, wajib lah." Titah Laras sambil mengambil botol air mineral untuknya minum.


"Iya, sayang ... bentar lagi, nanggung nih." Jawabnya Ibra dengan mata kembali ke layar laptop.


Mata Laras menatap tanpa ekspresi sang suami. "Abang ... nanti keburu habis waktunya. Tinggalkan dulu kerjaannya." Dengan sangat lembut. Namun Ibra tak merespon. Laras berdiri dan mendekat.


Dengan lembut tangan Laras meraih tangan Ibra dari papan keyboard. "Sayang ... dengar aku, kan?" suara Laras dan tatapan sangat lembut.


Rutinitas tangan Ibra terhenti. Dan terkesiap dengan panggilan dari sang istri. Netra mata Ibra bergerak melihat ke arah sang istri. Sesaat kedua pasang mata itu saling tatap dengan lembut namun bermakna.


"Salat dulu, nanti waktunya keburu habis," ulang Laras. Dengan tatapan masih intens.


Ibra keluar dari ruang kerja, menuju kamarnya dengan niat ingin menunaikan salat dan lebih dulu mengambil air wudu.


Helaan napas Laras begitu berat. Kedua netra matanya menatap kepergian sang suami. "Hem ..." sedikit menggeleng. Kemudian melihat-lihat buku yang berjejer, lalu mengambil satu sebuah buku tentang bisnis.


Beberapa waktu berlalu, Ibra pun kembali dan mendapati sang istri tengah duduk santai di sofa dengan buku di tangan. ''Nggak mau jalan-jalan sayang?"


Laras menoleh sejenak, lalu kembali tertuju ke buku. "Malas ah."


Ibra tak berbicara lagi. Ia kembali duduk di kursi kerjanya, dan berkutat lagi dengan tugasnya. Tak terasa dengan bergulirnya waktu. Terdengar sayup-sayup suara adzan magrib yang terdengar indah.


Tubuh Laras bergerak dan menutup bukunya. Menggeliat nikmat menarik tulang-tulangnya yang kaku. "Sudah magrib. Salat dulu." Gumamnya dengan mata tertuju pada sang suami.


Berdiri dan membawa langkahnya mendekati gorden dan menutupnya. Membalikkan badan kembali mendekati Ibra, tangan Laras melingkar di leher sang suami yang begitu fokus dengan layar laptop nya.


Ibra menoleh tangan yang menjuntai di lehernya, cuph mengecupnya dengan singkat. "Kenapa sayang?" matanya bergerak melihat ke arah sang istri.


"Kenapa? dah magrib. Gak dengar apa," sahut Laras sedikit memajukan bibirnya ke depan.


"Iya-iya. Sayang iya." Ibra menutup laptop nya. Kemudian berdiri dan menggandeng tangan Laras di ajaknya ke kamar.


Keduanya berjalan keluar dari ruang kerja menuju kamar pribadi Ibra yang berada di samping ruang kerja itu.


Saat ini keduanya sudah bersiap untuk melaksanakan salat bersama, dengan khusu pasangan suami istri itu berjamaah salat magrib berdua. Selepas membaca doa, Laras meraih tangan Ibra lantas di cium punggung tangannya.


Begitupun Ibra menarik kepala sang istri ia cium puncak kepalanya dengan sangat mesra. Sejenak mereka berpelukan, seakan mencurahkan rindu dan kasih sayang. Ibra meletakkan dagunya di puncak kepala sang istri yang berada dalam pelukan.


Perut Ibra sudah keroncongan dan meminta jatah makan. "Sayang, lapar nih. Makan yu?"


"Hem, iya. Aku juga sudah lapar." Laras beranjak dan bereskan bekas salatnya. Setelah itu tangan Ibra menggandeng Laras.


"Yu," keduanya berjalan memasuki lift untuk menjangkau dapur itu. Menit kemudian keduanya sudah berada di lantai yang di tuju.


Di meja sudah tersedia menu-menu kesukaan Ibra dan Laras. Semuanya komplit, bu Rika langsung menyiapkan piring untuk sang majikan.


"Bu, Rika ... biar aku aja Bu. Jangan repot-repot, biar aku mengambil sendiri," ucap Laras setelah duduk di kursi yang Ibra sediakan.

__ADS_1


"Tidak apa, Nyonya. Sekali-sekali. Sebagai tanda kami sangat senang kalau Nyonya kembali ke mension." Kekeh bu Rika.


Laras menoleh sang suami yang mengalihkan pandangan kelainan arah. "Aku cuma nginep, Bu ... bukan mau tinggal di sini lagi." Jelas Laras melihat bu Rika bergantian.


"Tidak apa, Nyonya. Yang jelas kami sangat bahagia melihat anda berada di sini.


Kemudian Ibra dan Laras memulai makan malamnya. Melahap setiap menu yang tersedia di meja.


"Oya, Mama Rahma sudah di beri tahu belum kita pulang ke sini? aku lupa kasih kabar pada mama atau Susi. Tadi siang sesampainya di sini ngantuk benget," ungkap Laras di sela mengunyah nya.


"Sudah, Abang sudah kasih kabar dari siang juga. Aku juga suruh mereka nyusul ke sini tapi--"


"Tapi apa?" tanya Laras dengan tatapan yang penuh penasaran.


"Katanya, besok aja. Rasanya lebih nyaman di sana, katanya." Sambung Ibra lalu memasukan sendok ke mulutnya.


"Oh." Laras melanjutkan makannya.


Tak ada lagi yang melanjutkan obrolan. Selain fokus dengan makan malamnya. Sesekali di selangi dengan meminum segalas air jus, Laras melihat piring Ibra yang tandas. Barulah bertanya.


"Mau tambah lagi makannya?" tanya Laras sambil mengambil piring Ibra.


"Cukup sayang. Abang dah kenyang, kamu saja makan yang banyak biar baby kita sehat." Tangan Ibra mengusap perut sang istri.


"Ini juga udah banyak, nanti badan aku tambah bulat ih," sahutnya sambil mengambil gelasnya.


"Nggak pa-pa, nanti juga normal lagi kalau sudah lahiran." Kata Ibra sambil mengelus kepala sang istri.


Selesai makan, keduanya kembali ke kamar. Sebelumnya Laras membantu membereskan piring kotor, meskipun bu Rika melarang.


Niatnya Ibra mau ke ruang kerja untuk melanjutkan tugasnya. Namun Laras merengek minta di temani istirahat. Dan Ibra mengabulkan keinginan sang istri, Setelah mereka salat isya bareng. Keduanya naik ke atas tempat tidur, Ibra duduk bersandar dan Laras berada dalam pelukan sang suami.


Di bawah sinar lampu yang temaram, keduanya mengobrol dihiasi canda dan tawa. Sebelum rasa kantuk datang menghampiri mereka berdua.


"Sayang, nanti lahiran caesar ya? jangan--"


"Aku ingin normal," suara Laras menyela perkataan Ibra.


"Tidak-tidak sayang, caesar aja. Nanti bagian inti mu berubah. caesar aja," kekeh Ibra sambil mengusap rambut Laras.


"Kenapa emangnya? kan normal, namanya juga melahirkan," selidik Laras mendongak.


"Kalau normal, aku takut nanti surgaku berubah. Dan lama lagi untuk aku pakai. Kalau caesar, kan daerah inti mu tak terganggu. Kata mama juga begitu," ungkap Ibra.


"Kan banyak juga obat, biarpun lahiran normal. Banyak obat herbal yang katanya lebih bagus dan alami," ucap Laras kurang setuju kalau nanti lahiran caesar.


"Dengar ya?" Laras bangun dan duduknya bersila di samping Ibra, tampak serius sekali.


Ibra menambah bantal di punggungnya. Sambil siap mendengar uraian dari sang istri.


"Normal ataupun caesar. Gak akan merubah bentuk daerah inti kewanitaan. Ia sangat elastis dan akan kembali ke bentuk semula. Lagian setelah lahiran bisa latihan kegel loh, justru dengan caesar banyak yang beresiko tinggi." Laras menangkupkan kedua tangannya. "Aku mohon ... biarkan aku lahiran normal aja. Kecuali--"


"Kecuali apa sayang?" tanya Ibra terkesiap dan mendudukkan dirinya dengan tegak.


"Kecuali ... aku gak sanggup normal, misalnya ada sesuatu yang memang mengharuskan caesar. Terserah, keputusan ada di tangan mu sebagai suami ku. Tapi ... kalau aku baik-baik saja dan mampu menjalani persalinan dengan normal, apa salahnya? ya. Aku mohon." Laras menatap sendu dengan masih menangkupkan tangan depan dagu.


Sesaat Ibra menatap kedua manik mata Laras yang sayu. Tangan Ibra menurunkan tangan Laras. "Baiklah. Kalau itu mau mu, tapi ... kalau memang pihak medis mewajibkan untuk memilih jalan caesar. Harus mau ya demi kebaikan mu juga."


"Makasih sayang?" ucap Laras wajahnya merona bahagia dan refleks mencium pipi kanan dan kiri Ibra, lalu memeluk tubuh sang suami kembali.


"Sama-sama sayang." Cuph memberikan kecupan singkat di puncak kepala sang istri.


"Tapi ... kalau, seandainya harus memilih salah satu diantara kami berdua. Pilih saja anak kita, selamatkan dia!"


Ibra terkejut mendengarnya. Lalu menjauhkan tubuh Laras dari pelukannya. "Kenapa bicara seperti itu? kenapa," tanya Ibra matanya mulai berembun.


Kedua netra mata Laras bergerak menatap kedua mata Ibra yang berembun itu. "Kan itu seandainya," lirihnya Laras.


Keduanya saling tatap, bekali-kali Ibra menelan saliva nya dengan susah payah. Ia tak sanggup membayangkan jika omongan Laras itu ....


****


Hai-hai ... reader ku semua. Semoga kabar baik ya, sudah baca kan? mana nih dukungannya biar aku makin semangat lagi.🙏 oya aku rekomendasikan karya ku satu lagi yang berjudul "Bukan Suami Harapanku" insya Allah reader ku suka.

__ADS_1


__ADS_2